Kok baitu kato urang dapua ambo satuju sajo. Tapi jan lamo bana, he he. Paruik 
alah lapa ko ha.
 
Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]






________________________________
From: Aim Zein <[EMAIL PROTECTED]>
To: Dr.Saafroedin BAHAR <[EMAIL PROTECTED]>; [email protected]
Cc: [EMAIL PROTECTED]
Sent: Monday, December 8, 2008 7:26:45 AM
Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: PARIWISATA RANAH MINANGKABAU


Pak Saaf,
 
Masalah pendirian WSTB ko musti baunyai-unyai dulu. Kok indak bisa kacau beko. 
Sabab, urang nan ka talibek banyak Pak. Mangkin diunyai, mangkin rancaknyo. 
Bantuak awak mambuek kue Pak. Makan dikocok talua jo tapung tu, makin lamak 
rasonyo. Kok indah manjadi Kue Bantat nyo Pak dk kurang di unyai he…he….
 
Salam,
AZ
 
From:Dr.Saafroedin BAHAR [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Saturday, December 06, 2008 8:47 PM
To: [email protected]
Cc: Aim Zein; [EMAIL PROTECTED] Zain
Subject: Re: [EMAIL PROTECTED] Re: PARIWISATA RANAH MINANGKABAU
 
Riri, ringkas sajo. Pak Gubernur alah acok bana manyatokan bahaso pariwisata ko 
adolah pilihan lain dalam mambangun Sumbar. Hanyo nampak dek ambo, lain 
kabijakan pak gubernur lain pulo kabijakan kapalo dinas pariwisata, sarupo nan 
ambo sampaikan sabalun ko. Ambo alah babarapo kali mancubo kontak jo baliau, 
tapi jaleh bahaso pamahaman ambo alun nyambuang lai jo kabijakan baliau. Ambo 
mandorong tabantuaknyo jejaring untuk membangun efek sinergi, tapi kecek baliah 
indak baitu doh, harus 'dipilah-pilah'. Tapi indak baa doh, mano tahu kabijakan 
baliau tu nan batua.
Hanyo tantu kito indak bisa manunggu sampai kabijakan baliau sasuai jo 
pamahaman awak, apolagi alah baitu banyak kito nan manampak bahaso memang 
pariwisata ko nan dapek mambantu pangambangan ekonomi Ranah, khususnyo 
karano kaindahan alam kito nan Allahu Rabbi rancaknyo. Ambo ado juo malala 
saketek-saketek, dan makin banyak nan ambo liek, makin cinto ambo ka Ranah. 
{Walau ado kulikaik sabagian urang awak tu nan sabana cingkahak, tapi itu soal 
lain.]
Jadi ringkasnyo, kito taruih sajo mambangun pariwisata ko, apolagi MakItam alah 
ampia sampai di Sawah Lunto.
Pak Aim, dipagagehkanlah mambantuak WSTB tu. Indak usah diunyai-unyai bana lai, 
he he 
 
Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]
 
 
 

________________________________

From:Riri Chaidir <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Cc: Nuraini PRAPDANU <[EMAIL PROTECTED]>; Ir. Yulnofrins NAPILUS <[EMAIL 
PROTECTED]>
Sent: Sunday, December 7, 2008 11:01:21 AM
Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: PARIWISATA RANAH MINANGKABAU
Pak Saaf,
 
Kalau buliah ambo numpang berciloteh saketek.
 
Pertama, saya setuju bahwa tidak mungkin "bersandar" ke Pemprov. Begitu kita 
bicara pemerintahan daerah, tentunya harus lihat perundangan yang berlaku di 
bidanga otonomi daerah. DI PP 38/2007, Pariwisata merupakan "Urusan Pilihan", 
bukan "Urusan Wajib". Dari diskusi di berbagai milis selama ini, saya belum 
melihat bhw Sumbar "memilih" pariwisata. 
 
Kedua, walaupun saya belum memiliki pemahaman tentang WSTB ini, tapi bayangan 
saya ini merupakan salah satu sub Bidang kewenangan Pemprov. Jadi, jika Pemprov 
tidak membantuknya, maka ini mendukung asumsi saya bahwa Sumbar "tidak memilih 
Urusan" ini. (Saya sedikit berbeda pandangan dengan sanak Aslim. Kalau menurut 
saya, berdasarakan peraturan perundangan, a.l di PP 38/2007, Pemprov bisa saja 
menjadi Regulator sekaligus Operator. Masalah ini tepat atau tidak, ini adalah 
perangkat perundangan)
 
Ketiga, dengan tidak diprioritaskannya pariwisata (dikaitkan dengan definisi 
"Urusan Pilihan"), saya jadi berpikir, apakah memang pariwisata merupakan suatu 
"potensi" untuk masyarakat? Mungkinkah potensi ini hanya dilihat oleh pebisnis 
dan pemerhati pariwisata, tapi masyarakat dan pemerintah daerah nya sendiri 
tidak merasa? 
 
Keempat, tanpa bermaksud mengabaikan Pemerintah Provinsi, saya ingin 
mengingatkan, kenapa bukan Pemerintah Kabupaten/ Kota yang lebih didekati? 
Sekali lagi, bukan mengabaikan Provinsi, tetapi dengan melihat ke peraturan 
perundangan. Siapakah yang punya wilayah? Ya Kabupaten/ Kota, bukan Provinsi. 
Itu kata perundangan kita lho.
 
Kelima, iya saya sangat setuju kalau pengembangan pariwisata Sumbar tidak 
meng-copy & paste cara pengembangan daerah lain, misalnya Bali. Ya beda, saat 
"commencement" nya saja sudah beda. Tapi tentunya banyak hal yang harus 
dipelajari dari daerah2 lain. Kalau bagus dan cocok, ya diambil. Kalau ga 
cocok, ya jangan.
 
Ya, harus dicari yang cocok, jangan pakai iming iming "trickle-down effect" 
atau "multiplier effect" lagi lah. Sudah cukup banyak contoh nyata hasil dari 
implementasi itu. Tapi saya belum membaca kebalikannya untuk perekonomian 
negara berkembang.
 
Keenam, sepakat pak Saaf. Kepulangan Mak Itam bisa (atau dibuat menjadi bisa) 
menjadi milestone. Memang cuma kita yang punya Mak Itam, bukan hanya di 
Sumatera, tapi di Indonesia - satu2nya lokomotif uap dan bergigi yang masih 
hidup.
 
Ketujuh, sangat sepakat, jangan digunakan istilah black monster. Tadi pagi ambo 
lah manulih juo, istilah monster ko lah digunokan di tampek lain, dan nan punyo 
namo tu memang mengerikan, gambarnyo ado di 
http://www.aopt91.dsl.pipex.com/railgun/Content/Railwayguns/German/Dora%20index.htm
 
Terimasih, pak Saaf
 
 
Riri
BEkasi, L 46
 
 
 
 
 
 
 
 
 
2008/12/7 Dr.Saafroedin BAHAR <[EMAIL PROTECTED]>
Sanak Aslim dan Bung Ketut serta para sanak pegiat pariwisata,
Saya setuju, baik dengan pandangan Sanak Aslim yang menekankan agar perencanaan 
pariwisata Sumatera Barat berbasis budaya dan agar jangan terlalu bersandar 
kepada pemerintah; serta dengan Bung Ketut yang mengingatkan kita agar jangan 
khawatir bahwa pariwisata Sumatera Barat akan menjadi [duplikat] pariwisata 
Bali dan bahwa SDM pariwisata adalah kata kuncinya.
Sekedar tambahan, saya telah menghubungi Kepala Dinas Pariwisata, Seni dan 
Budaya Sumatera Barat mengenai hal ini, dan kelihatannya beliau setuju dengan 
pandangan Sanak Aslim, bahwa WSTB biar menjadi lembaga yang independen saja dan 
tumbuh menjadi mitra pemerintah.. Beliau menyatakan secara 
eksplisit bahwa dinas yang beliau pimpin tidak usah terlibat dalam WSTB ini. 
Itu baik juga, walaupun tentunya kita dapat -- dan harus -- terus mengadakan 
kontak langsung dengan komponen regulator pariwisata, khususnya dengan 
Departemen Pariwisata, Seni, dan Budaya, dengan Gubernur Provinsi Sumatera 
Barat, dengan pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Sumatera Barat, 
Kabupaten dan Kota,  dan dengan kepala-kepala dinas pariwisata tingkat 
kabupaten dan kota yang berada langsung di lapangan. Sudah tentu jangan lupa 
berhubungan dengan para stakeholders, yaitu tokoh-tokoh masyarakat, mulai dari 
tingkat provinsi, kabupaten dan kota dan pada tingkat nagari.
Dengan kepulangan MakItam, saya harapkan ada 'loncatan besar' dalam kegiatan 
kepariwisataan di Sumatera Barat. Kan hanya kita di Sumatera yang mempunyai 
MakItam yang gagah ini ? [P..S. tolong jangan diterjemahkan 'MakItam' jadi 
'Black Monster'. Kesannya benar-benar tak nyaman.]
Maju terus, pak Aim.
 
Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]
 
 
 

________________________________

From:"[EMAIL PROTECTED]" <[EMAIL PROTECTED]>
To: "[EMAIL PROTECTED]" <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Saturday, December 6, 2008 11:07:32 PM
Subject: Re: PARIWISATA RANAH MINANGKABAU

Jangan takut Pariwisata Ranah Minang  tidak akan pernah menjadi Pariwisata
Bali dan Pariwisata Bali tidak akan mungkin meniru Pariwisata Ranah
Minang, tetapi dimanapun SDM yang baik dan dikelola secara profesional
adalah modal yang paling utama bagi Tourism Industry dan "Raw Material"
Pariwisata tidak akan pernah habis.

To be honest, saya kagum dengan keindahan alam Sumatera Barat..........

Salam
Ketut



----- Original Message -----
From: Aslim Nurhasan
To: [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED]
Sent: Saturday, December 06, 2008 4:17 PM
Subject: PARIWISATA RANAH MINANGKABAU


Sebagai POTENSI TERBESAR RANAH MINANGKABAU (Sumatera Barat); Pariwisata
harus dirancang dan dioperasionalisasikan untuk kemaslahatan ANAK NAGARI,
dan pasti akan menjadi bagian integral dari Pembangunan RANAH MINANGKABAU;

Ketika ke-PARIWISATA-an RANAH MINANGKABAU, dipersepsikan sama dengan
pariwisata Bali, sebaiknya SEGERA BUBARKAN FORUM INI;

West Sumatera Tourism Board; seharusnya mengawali pemikiran dari Wisata
Budaya yang menjadi bagian utuh dari Eco Tourism; banyak PROSESI KEHIDUPAN
ANAK NAGARI yang sangat menarik untuk dijadikan objek dan/atau atraksi
wisata; banyak produk budaya (tengible dan intengible);

WSTB seharusnya tidak berfikir untuk membangun infrastruktur (Hotel, jalan
harus dilebarin dan/atau dibuat baru, Bus Wisata harus dibeli baru, dll
yang membutuhkan investasi gadang dan susah untuak diwujudkan); Wisata
Nagari sebagai BASIS KONSEP dan PROGRAM WSTB; mengoptimalkan SELURUH
POTENSI NAGARI; SURAU, RUMAH GADANG, sarato Rumah2 nan indak dihuni bisa
dijadikan sarana akomodasi.

Sekolah2 ke-pariwisata-an di Sumatera Barat bisa diadikan partner untuk
mendidik dan mengembangkan SDM ke-PARIWISATA-an RANAH MINANGKABAU;

Jan bapikia untuk basanda abih ka pemerintah, sahinggo akan bisa bajalan
kalau ado dana pemerintah; tapi, tantu sajo pemerintah harus dijadikan
partner, karano fungsinyo memang sebagai regulator dan fasilitator,
sekalian WSTB maingekkan kalau PEMERINTAH bukanlah OPERATOR.

Mudah2an, baguno;
Konsep Utuh WISATA NAGARI, bisa ambo sampikan dilain wakatu dan bisa pulo
qto diskusikan.
-- 
Aslim Nurhasan; +62811103234, +622195777925



--------------------------------------------------------------------------------


No virus found in this incoming message.
Checked by AVG.
Version: 7.5.552 / Virus Database: 270.9.15/1833 - Release Date: 12/5/2008
7:08 PM


WEST SUMATRA TOURISM BOARD NETWORK
----------------------------------
You are registered as a member of WSTB Network

If you wish to unsubscribe, write an empty email to this address: [EMAIL 
PROTECTED] Fill in the subject with: Stop email please

If you want to register new email addresses and links, send an email contains 
the addresses to the [EMAIL PROTECTED] Fill in the subject with: Register please

more info: call 0811669988 - Aim Zein

Thank you 
let's go west sumatra

links:

www.akssb.org
www.pronewsfm.com
www.mpkas.west-sumatra.com
www.mappas.west-sumatra.com
www.nofrins.west-sumatra.com
www.phrisumbar.com




No virus found in this incoming message.
Checked by AVG - http://www.avg.com
Version: 8.0.176 / Virus Database: 270.9.15/1834 - Release Date: 12/6/2008 4:55 
PM

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke