Jumat, 12 Desember 2008         

PADANG - “Ondeh mak,,... jadi juo anak amak jadi PNS” (Mak,  jadi juga anak
amak jadi PNS), teriak Dian saat mengetahui dari koran ia lulus CPNS
kemarin. Riang hati tak terkira, seandainya tiang rumah yang ia pegang saat
itu berdaun, habis berguguranlah daun-daun itu karena ia guncang.  Sujud
syukur spontan ia lakukakan, hatinya berbunga-bunga, mimpi-mimpinya langsung
melayang tinggi. Begitulah yang dirasakan Dian. Saat ini tenang sudah
hatinya, tinggal menunggu hari, baju dinas PNS resmi ia sandang dengan nama
yang sudah punya angka-angka alias Nomor Induk Pegawai (NIP) di bawahnya

“Semalam saya tidak bisa tidur menunggu pengumuman itu, tapi Alhamdulillah,
lulus juga,” tutur Dian yang lulus di Kabupaten Pasaman itu kepada
Singgalang kamarin (11/12).

Kisah Dian itu baru secuil dibanding ratus ribuan pelamar CPNS lainnya.
Mungkin ada yang lebih girang dari Dian, dan mungkin sebaliknya, ada yang
stres karena belum juga lulus. 

Kemarin denyut jantung mereka seolah berhenti seketika, saat membolak-balik
halaman koran yang memuat pengumuman kelulusan seleksi CPNS itu. Satu demi
satu, deret nama yang tertera di halaman koran itu mereka telusuri. Tak puas
satu kali, berulang kali mereka melihatnya. Tak puas dengan satu koran, tiga
koran mereka beli, demi melihat namanya ada tertera atau tidak. Pentingnya
melihat koran kemarin bagi peserta ujian CPNS seolah menjadi nafas yang
menyelamatkan hidup mereka. 

Selesai melihat, ada wajah yang berbinar, ada pula wajah yang kusut sambil
berserapah mencampakkan koran. 

Mereka yang berwajah ceria dan bersorak tandanya lulus. Bagi yang bermuram
tanda rezeki untuk jadi PNS masih tertunda. Tahun ini saja, puluhan ribu
yang mendaftar tapi hanya ribuan yang diterima. Sisanya, silahkan bersabar,
untung-untung tahun depan lulus. 

Momen penerimaan CPNS menjadi hal yang sangat penting dan ditunggu
masyarakat Indonesia. Seolah tak ada lagi pekerjaan yang lebih bagus selain
menjadi PNS. Miris memang kita melihat ulah generasi muda bangsa kita, lulus
sekolah tidak ada pemikiran lain kecuali menjadi PNS. 

Ketua Kadin Sumatra Barat, Asnawi Bahar tidak memungkiri hal itu. Katanya,
persoalan yang dihadapi sekarang itu ulah lapangan kerja itu benar yang
susah. Sementara masyarakat sendiri malas berusaha, selalu ingin yang mudah
tanpa mau berkorban. Akhirnya mengambil langkah instan lagi mudah, yakni
jadi PNS. Selain itu dipengaruhi mindset yang telah mendarah daging di
masyarakat, bahwa dengan menjadi PNS masa depan terjamin.

“Menurut saya yang jadi PNS sekarang itu daripada tidak menganggur saja,”
katanya. 

Sebab, ingin bekerja pada sektor lain tidak ada peluang. Investasi di daerah
sedikit, lapangan kerja sempit dan skill yang dimiliki juga rendah.
Istilahnya, tamat pendidikan untuk terjun langusung ke dunia kerja itu belum
bisa. 

“Dalam hal ini, termasuk kesalahan dunia pendidikan yang begitu gampangnya
meluluskan peserta didiknya,” ujarnya. 

Ia mencontohkan, betapa mudahnya sekarang mendirikan perguruan tinggi.
Dipelosok pun bisa mendirikan perguruan tinggi, tanpa melihat kelayakannya.
Akhirnya para lulusannya hanya sebatas mendapat gelar. Sehingga out put
lulusan itu tidak seimbang dengan peluang kerja yang ada. Dan kualitas
lulusan itupun tidak seberapa yang siap pakai. Akhirnya pihak perusahaan
tidak ada yang mau menerima kerja, larinya ke PNS juga. 

Sementara itu, salah seorang Pengusaha sukses asal Sumbar, Basrizal Koto,
mengatakan, kejadian berduyun-duyun ingin jadi PNS itu akibat reformasi.
Pejabat memakai fasilitas negara dengan sesuka hati untuk keperluan sesuka
hati pula yang notabenenya luar biasa. Sehingga dengan melihat pejabat itu,
para generasi muda terpengaruh dan beranggapan bahwa jadi PNS itu mudah tapi
bertaraf.

Pejabat sekarang banyak yang berlebihan. Pola hidup seolah tidak ada lagi
orang yang lebih kaya daripada mereka. Padahal fasilitas itu serba
pemerintah. Semua berlagak serba mewah, serba eksekutif. Padahal yang
dipakai itu miliknya negara. 

“Asumsinya, semua fasilitas yang dimiliki itu jika tidakpunya negara adalah
hasil korupsi,” cetusnya. 

Untuk itu katanya, perlu penekaan lebih dalam lagi terhadap generasi muda,
terutama sejak usia dini. Menjadi PNS itu baik, tapi menjadi pengusaha akan
lebih baik.

“Pendidikan itu penting, tapi bukan berarti pendidikan itu hanya untuk
menjadi PNS,” tukasnya. 

Kemudian sudah saatnya pemerintah sekarang merubah pola, Tidak usah terlalu
berlebihan lagaknya. Agar generasi muda itu bisa menilai, jadi PNS atau
pengusaha. 

“Jadi PNS sekarang itu susah lo.., sedikit saja yang berubah dalam
penampilan kehidupan sehari-hari sudah kena periksa, terus kalu demikian apa
yang bisa diharapkan jadi PNS” tuturnya.305 

No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG. 
Version: 7.5.552 / Virus Database: 270.9.17/1844 - Release Date: 11-Des-2008
20:58
 


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke