Maaf.alun sempat mambuek jawaban khusus untuk dunsanak yang mangomentari
usulan pindahkan ibu kota ka Kalimantan. Samantaro, amb ambiak sajo
penjelasan tentang sebuah pernyataan di dalam VISI INDONESIA 2033 di milis
lain, barupo nan di bawah ko. Iko soal transmigrasi yang kami katokan proyek
sio-sio.Mudah-mudahan ado nan nio mambaco dengan cermat.
Salam,

Andrinof A Chaniago


jinkan kami memberikan klarifikasi singkat saja dulu soal kalimat di dalam
VISI INDONESIA 2033 yang mengatakan bahwa program transmigrasi dan program
percepatan pembangunan daerah tertinggal hanya sia-sia. Pernyataannya ini
berangkat dari perhitungan biaya-manfaat dan opportunity cost. Dengan biaya
yang dikeluarkan yang terus naik secara nominal dari tahun ke tahun,
sementara jumlah keluarga yang ditransmigrasikan makin menurun dari tahun ke
tahun sejak awal 1990-an, program transmigrasi sudah selayaknya ditinjau.
Ditambah lagi, dengan arus kedatangan penduduk ke Jawa dari luar Jawa yang
terus meningkat, maka sudah sejak lama seharusnya program transmigrasi
dihilangkan dan diganti dengan program lain dengan tujuan yang sama (tapi
lebih efektif).
Pernyataan itu tentu tidak ada maksud mengingkari para transmigran yang
sukses karena mereka bertransmigrasi pada tahun 1960-an dan 1970-an. Bahkan,
dalam jumlah tertentu, mereka yang bertransmigrasi di era tahun 1980-an dan
1990-an juga ada yang sukses. Tetapi, karena kita sedang mengukur manfaat
penggunaan anggaran publik, tidak relevan kita berbicara tentang kasus-kasus
keluarga transmigran tahun 1980-an dan 1990-an yang sukses. Yang harus kita
ukur adalah manfaat total atau agregat. Arus migrasi dari Lampung ke Jawa
sejak pertengahan tahun 1980-an sudah berbalik menjadi net migrasi keluar
dari Lampung menuju Jawa. Sebelumnya, masih sebaliknya sebagai tanda
berhasilnya program transmigrasi. Dari Kalimantan tentu juga demikian pola
yang terjadi sejak tahun 1980-an.

Tren yang digerakkan oleh magnet tunggal raksasa yang bernama Jabodetabek
jelas menjadi penyebab tidak mungkinnya kita melanjutkan program
transmigrasi kalau tujuannya untuk menyebarkan penduduk ke luar Jawa dan
menggerakkan pembangunan ekonomi di luar Jawa. Dengan hirarki kota dengan
satu kota yang superdominan (Jakarta), tanpa mengubahnya menjadi hirarki
multipolar, cita-cita pemerataan pembangunan antarwilayah akan sia-sia.
Bahkan program-program pengembangan pendidikan di luar Jawa juga tidak akan
jalan. Saya yakin, fakultas kedokteran di Universitas Tanjungpura,
Pontianak, akan sulit berkembang, karena umumnya dosen-dosen bermutu di
bidang kedokteran enggan berkarir di sana. Tahun lalu, saya dengar fakultas
yang baru didirikan ini sudah tercatat punya utang sekitar Rp 1 miliar.
Sementara Pemda Provinsi mulai seret mengeluarkan dana. Ini adalah contoh
lain proyek sambisius yang sia-sia karena hambatan struktural yang tidak
pernah dipersoalkan. Contoh lain adalah sebuah program studi di Universitas
Mulawarman, Samarinda, yang jumlah staf pengajarnya akhirnya lebih banyak
dari mahasiswa. Dengan maksud mengembangkan prigramn studi tersebut,
pemerintah mengangkat tenaga pengajar baru. Tetapi, tanpa diperhitungkan,
lulusan-lulusan SMA  di Kaltim berpikir lebih realistis sehingga mereka
lebih suka pergi melanjutkan kuliah di Surabaya, Yogyakarta, Bandung,
Jakarta atau Semarang.
Marilah kita periksa semua data dan kita analisis dengan komnprehensif.
Sejumlah kesia-siaan akan ditemukan.
Sementara cukup untuk satu poin itu saja dulu. Sekedar informasi, VISI
INDONESIA 2033 kami rumuskan berdasarkan hasil riset dari berbagai
aspek.Bukan rumusan khayalan yang tidak berdasar, dan bukan hasil common
sense. Bedanya dengan VISI 2030 yang pernah diluncurkan Yayasan Indoensia
Forum (ISEI), kami tidak punya pengusaha atau perusahaan atau pejabat
pemerintah yang memberi dukungan dana. Kami cuma punya keprihatinan akan
terulangnya konflik sosial massif di Jawa seperti tahun 1997-1998, hancurnya
ekosistem Jawa, makin berkurangnya lahan pertanian produktif di Jawa, dan
sebagainya. Sementara pada saat yang sama segregasi dan polarisasi sosial
akan terus menajam dan menyimpan bahaya laten. Dugaan kami mungkin
berlebihan. Tetapi marilah kita berargumen dengan sehat, mengesampingkan
sikap apriori, skeptis, nihilis, reaksioner, dan sebagainya.
Salam hormat,

Andrinof A Chaniago
Ahmad Erani Yustika
+ Tim Asistensi VISI INDONESIA 2033


2008/12/12 Riri Chaidir <[email protected]>

> Waalaikumsalam wr.wb.
>
> Saya rasa, dengan membaca posting sanak Muljadi ini seharusnya sudah cukup
> untuk membuat kita berpikir bahwa pemindahan ibukota ke kalimantan, atau
> kemana lah, itu bukan ide yang "membumi"
>
> Ada dua point penting yang saya tangkap dari posting beliau ini:
>
> Pertama, pengalaman Jerman memindahkan ibukotanya harusnya cukup memberi
> pelajaran bahwa biayanya sangat-sangat besar. *(Saya tidak tahu bagaimana
> 50T diposting sebelumnya itu dihitung, tapi mungkin itu hanya biaya
> pemindahan secara fisik - itu juga kalau sudah kehitung semua)*.
> Pengalaman awak sendiri dengan pemekaran dan relokasi ibukota kabupaten
> seharusnya juga menjadi pelajaran berharga.
>
> Kedua, ini point yang lebih penting. "Otonomi nan adil" (meniru istilah
> sanak Mulyadi). Kalau otonomi sudah berjalan dengan baik, tentunya orang2
> tidak lagi berebut di satu tempat. Misalnya perijinan yang efisien di suatu
> kabupaten akan membuat orang tertarik buka pabrik baru di sana dst dst...
> Jangankan perusahaan-perusahaan, orang2 pribadipun sudah banyak yang "back
> to region" karena melihat ide otonomi ini bagus.
>
> Kan dari kemaren2 bangsa ini memulai era otonomi daerah tujuannya ini.
> Kalaupun sampai sekarang otonomi daerah ternyata masih belum mulus jalannya,
> ya itu yang secara kontinyu diperbaiki. Kalau otonomi berjalan baik, orang2
> akan ke daerah, lalu jakarta akan sepi. Itu adalah konsep yang lebih masuk
> akal, dan semua kita mengarah ke situ.'
>
> Jadi tidak perlu tampil beda dengan pemikiran "pembubaran jakarta". kecuali
> kalau awak bakarajo di percetakan kop surek kantua atau pembuatan papan nama
> kantua
>
> Riri
> Bekasi, L 46
>
>
>
> 2008/12/12 Muljadi Ali Basjah <[email protected]>
>
>>
>> Ass.Wr.Wb bapak Datuak Arifz jo ummaik RN diPalanta!
>>
>> Indak dapek aka ambo do! Bia lah ASBUN sajo ambo manulih ota ambo ikoa.
>>
>> Bara ka abih pitih Rakyaik, maindahan ibukota dr Jkt ka Baliakpapan?
>>
>> Kejam bana impian/angan2 nan mamapunyoi agak2 coiko!
>>
>> Bara abih pitih rakyaik German mamindahan Ibukota Bonn ka Berlin!
>>
>> Tapi indak  banyak dihiruakkan dek massa media, dek sensor jo lobby juo.
>>
>> Agakilah dek Dibapak2, seandainyo Bapak Datuak Arifz yang mamindahkan
>> Istana Bapak, dari Jakerte,
>>
>> contoh ka Padang, bautang banyak, anak cucu/cicit Bapak beko nan mamabaia.
>>
>> Iyo na ka lamak diawak sen!!!!!!!
>>
>> Urang buek, awak tiru sen, modal awak apo, moral awak apo.
>>
>> Buek sajo otonomi nan adil, supayo indak monopol di JKT , lah baliak
>> bumiputra kanagari asanyo
>>
>> (baliak kaPropinsi). Indak basalingkik di Jakarta (Rawa2).
>>
>> Efeknyo....biayo labiah ringan, salero nyak korupsi juo kurang, dek
>> kamalantuang suku/bumiputra sendiri, ummaik indak ba-ondoh2 KEJAKARTE
>> (Urbanisasi).
>>
>> Tapi kalau  Bapak mamakai pakai argument, hak aden, kamangecek, bak nyano
>> den.
>>
>>
>>
>>
>
>
> >
>

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke