hmmmmmm suatu ide yang bagus.....kalau menurut letak geografisnya sih udah 
pas.....
cuman kiniko apakah pemerintah mau memindahkan ibukota ke sana.....yang mana 
semua elemen pemerintahan adalah orang jawa.........

wassalam

Hafis
27+m/pyk-pdg


--- On Tue, 12/16/08, Lies Suryadi <[email protected]> wrote:
From: Lies Suryadi <[email protected]>
Subject: [...@ntau-net] Pindahkan Ibu Kota RI ke Kalimantan
To: [email protected]
Date: Tuesday, December 16, 2008, 4:04 PM

Alun manyubarang takana buayo. Katakan bahwa dengan memindahkan ibukota ke luar 
Jawa, maka peran Jawa sebagai centre of excellence akan surut. Kenapa tidak 
membahas wacana ini secara lebih mendalam: soal penghayatan mengenai 
sation-state, soal model pembangunan yang mengenal pusat dan pinggiran. Soal 
ingatan sejarah bahwa Majapahit yang menyatukan Nusantara itu berpusat di Jawa. 
Bangsa yang terus ragu, yang tak berpikir dalam jangka panjang, untuk anak cucu 
dan piutnya (kecuali untuk soal uang dan harta korupsi). Itu sebabnya semua 
dihabiskan sekarng juga: hutan, tanah, sumber daya hayati, dll. Jelas tidak ada 
birokrat yang suka kemewahan hotel2.mobil mewah, dan jalan2 licin itu mau 
pindah ke sebuah tempat baru dengan fasilitas yang terbatas. Bisa-bisa para
 bapati seluruh Indonesia yang lebih suka bepergian ke Jakarta (untuk urusan 
kantor, katanya) daripada duduk di kantornya itu akan shock bila kemudian 
mereka harus terbang ke pedalaman Kalimantan sana. Coba lihat kantor2 kita: 
mana ada pegawai yang tahan duduk sendiri menekuni pekerjaannya sampai jam 
istirahat makan siang selesai. Ngobrol...merokok...dan abunya masuk ke dalam 
laci meja (ini saya lihat waktu berurusan di beberapa kantor). URANG MYANMAR 
SAJO SANGGUP MEMINDAHKAN IBUKOTANYA (dan itu dilakukan diam2, ndak bakoar2 
bana). Harus ada studi banding ke Naypyidauw, Ibukota Myanmar yang baru. 
Tapi.............siapa yang mau pergi studi banding ke sana? Lebih enak ke 
Tokyo, London, New York, Amsterdam, dan Paris.....
 
Suryadi
 

 




Dari: Andrinof A Chaniago <[email protected]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Selasa, 16 Desember, 2008 09:08:13
Topik: [...@ntau-net] Re: AC di KOMPAS : Pindahkan Ibu Kota RI ke Kalimantan

Maaf.alun sempat mambuek jawaban khusus untuk dunsanak yang mangomentari usulan 
pindahkan ibu kota ka Kalimantan. Samantaro, amb ambiak sajo penjelasan tentang 
sebuah pernyataan di dalam VISI INDONESIA 2033 di milis lain, barupo nan di 
bawah ko. Iko soal transmigrasi yang kami katokan proyek sio-sio.Mudah-mudahan 
ado nan nio mambaco dengan cermat.
Salam,

Andrinof A Chaniago


jinkan kami memberikan klarifikasi singkat saja dulu soal kalimat di dalam VISI 
INDONESIA 2033 yang mengatakan bahwa program transmigrasi dan program
 percepatan pembangunan daerah tertinggal hanya sia-sia. Pernyataannya ini 
berangkat dari perhitungan biaya-manfaat dan opportunity cost. Dengan biaya 
yang dikeluarkan yang terus naik secara nominal dari tahun ke tahun, sementara 
jumlah keluarga yang ditransmigrasikan makin menurun dari tahun ke tahun sejak 
awal 1990-an, program transmigrasi sudah selayaknya ditinjau. Ditambah lagi, 
dengan arus kedatangan penduduk ke Jawa dari luar Jawa yang terus meningkat, 
maka sudah sejak lama seharusnya program transmigrasi dihilangkan dan diganti 
dengan program lain dengan tujuan yang sama (tapi lebih efektif). 
Pernyataan itu tentu tidak ada maksud mengingkari para transmigran yang sukses 
karena mereka bertransmigrasi pada tahun 1960-an dan 1970-an.. Bahkan, dalam 
jumlah tertentu, mereka yang bertransmigrasi di era tahun 1980-an dan 1990-an 
juga ada yang sukses. Tetapi, karena kita sedang mengukur manfaat penggunaan 
anggaran publik, tidak relevan kita berbicara
 tentang kasus-kasus keluarga transmigran tahun 1980-an dan 1990-an yang 
sukses. Yang harus kita ukur adalah manfaat total atau agregat. Arus migrasi 
dari Lampung ke Jawa sejak pertengahan tahun 1980-an sudah berbalik menjadi net 
migrasi keluar dari Lampung menuju Jawa. Sebelumnya, masih sebaliknya sebagai 
tanda berhasilnya program transmigrasi. Dari Kalimantan tentu juga demikian 
pola yang terjadi sejak tahun 1980-an. 

Tren yang digerakkan oleh magnet tunggal raksasa yang bernama Jabodetabek jelas 
menjadi penyebab tidak mungkinnya kita melanjutkan program transmigrasi kalau 
tujuannya untuk menyebarkan penduduk ke luar Jawa dan menggerakkan pembangunan 
ekonomi di luar Jawa. Dengan hirarki kota dengan satu kota yang superdominan 
(Jakarta), tanpa mengubahnya menjadi hirarki multipolar, cita-cita pemerataan 
pembangunan antarwilayah akan sia-sia. Bahkan program-program pengembangan 
pendidikan di luar Jawa juga tidak akan jalan. Saya yakin, fakultas
 kedokteran di Universitas Tanjungpura, Pontianak, akan sulit berkembang, 
karena umumnya dosen-dosen bermutu di bidang kedokteran enggan berkarir di 
sana. Tahun lalu, saya dengar fakultas yang baru didirikan ini sudah tercatat 
punya utang sekitar Rp 1 miliar. Sementara Pemda Provinsi mulai seret 
mengeluarkan dana. Ini adalah contoh lain proyek sambisius yang sia-sia karena 
hambatan struktural yang tidak pernah dipersoalkan. Contoh lain adalah sebuah 
program studi di Universitas Mulawarman, Samarinda, yang jumlah staf 
pengajarnya akhirnya lebih banyak dari mahasiswa. Dengan maksud mengembangkan 
prigramn studi tersebut, pemerintah mengangkat tenaga pengajar baru. Tetapi, 
tanpa diperhitungkan, lulusan-lulusan SMA  di Kaltim berpikir lebih realistis 
sehingga mereka lebih suka pergi melanjutkan kuliah di Surabaya, Yogyakarta, 
Bandung, Jakarta atau Semarang.
Marilah kita periksa semua data dan kita analisis dengan komnprehensif. 
Sejumlah kesia-siaan
 akan ditemukan. 
Sementara cukup untuk satu poin itu saja dulu. Sekedar informasi, VISI 
INDONESIA 2033 kami rumuskan berdasarkan hasil riset dari berbagai aspek.Bukan 
rumusan khayalan yang tidak berdasar, dan bukan hasil common sense. Bedanya 
dengan VISI 2030 yang pernah diluncurkan Yayasan Indoensia Forum (ISEI), kami 
tidak punya pengusaha atau perusahaan atau pejabat pemerintah yang memberi 
dukungan dana. Kami cuma punya keprihatinan akan terulangnya konflik sosial 
massif di Jawa seperti tahun 1997-1998, hancurnya ekosistem Jawa, makin 
berkurangnya lahan pertanian produktif di Jawa, dan sebagainya. Sementara pada 
saat yang sama segregasi dan polarisasi sosial akan terus menajam dan menyimpan 
bahaya laten. Dugaan kami mungkin berlebihan. Tetapi marilah kita berargumen 
dengan sehat, mengesampingkan sikap apriori, skeptis, nihilis, reaksioner, dan 
sebagainya.
Salam hormat,

Andrinof A Chaniago
Ahmad Erani Yustika
+ Tim Asistensi VISI
 INDONESIA 2033



2008/12/12 Riri Chaidir <[email protected]>


Waalaikumsalam wr.wb.
 

        Nama baru untuk Anda!  

Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail.. 

Cepat sebelum diambil orang lain!







      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke