Pak Saaf, Lah acok bana ambo manarimo imel kosong dari Pak Saaf, saroman nan di bawah ko. Cubo suruah pareso di dotor kompor Pak Saaf, apo lah maandok lo ulek di dalamnyo.
mak Sati (L. 71+9+25)
Tabiang
----- Original Message -----
From: Dr.Saafroedin BAHAR
To: [email protected]
Sent: Saturday, December 27, 2008 4:54 AM
Subject: [...@ntau-net] Re: Anak Gadis Mencari Jodoh
Waalaikumsalam w.w. Reny dan para sanak sa palanta,
Saya bisa mengerti pembelaan Reny ini, yang secara lugas menulis: Jodoh
seseorg sdh diatur oleh allah swt, dgn siapa?, kapan? Dgn cara apa? Cuma tuhan
yg tau, jika memang ada seseorg menemukannya dgn cara kotak jdh apa salahnya?
Salah apa krn dia seorg gadis minang? Reni malah merasa si gadis tsb
melakukannya krn sdh sampai pd titik keputus asaan? Siapa yg salah? Si gadis?
Belum tentu! Yg salah kemukinan keadaan, keadaan yg mana sekarang susahnya
menemukan jodoh yg benar2 tepat!
Lantas bagaimana penyelesaian masalah sulitnya mencari jodoh yang
tepat, khususnya bagi seorang gadis Minang yang sudah saatnya berumah tangga ?
Atau bagi seorang jejaka Minang yang sudah ingin berumah tangga tapi juga
merasa susah mendapatkan jodoh yang tepat ? Mengapa menjelang mendapatkan jodoh
yang tepat tidak diadakan saja semacam kursus pembekalan bagi para calon suami
dan calon isteri, yang memungkinkan gadis dan bujang yang memerlukan jodoh ini
dapat saling kenal satu sama lain ? Apa belum waktunya dilembagakan kegiatan
guidance and counseling dalam kegiatan perjodohan ini, yang dikelola oleh para
sesepuh Minangkabau sendiri, dibantu oleh sebuah staf yang profesional ?
Bukankah di dalam adat Minangkabau sendiri pernah dikenal apa yang namanya
'telangkai', yang di Jawa disebut sebagai 'mak comblang' ? [ Bukankah itu yang
sekarang dilakukan oleh rubrik 'Kontak Jodoh' di harian Kompas? ]
Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: [email protected];
[email protected]
--- On Sat, 12/27/08, Reni Sisri Yanti <[email protected]> wrote:
From: Reni Sisri Yanti <[email protected]>
Subject: [...@ntau-net] Re: Anak Gadis Mencari Jodoh
To: "[email protected]" <[email protected]>
Cc: "[email protected]" <[email protected]>
Date: Saturday, December 27, 2008, 4:15 AM
assalammualaikum.
Maaf ikut komentar .
Jodoh seseorg sdh diatur oleh allah swt, dgn siapa?, kapan? Dgn cara
apa? Cuma tuhan yg tau, jika memang ada seseorg menemukannya dgn cara kotak jdh
apa salahnya? Salah apa krn dia seorg gadis minang? Reni malah merasa si gadis
tsb melakukannya krn sdh sampai pd titik keputus asaan? Siapa yg salah? Si
gadis? Belum tentu! Yg salah kemukinan keadaan, keadaan yg mana sekarang
susahnya menemukan jodoh yg benar2 tepat! Bukan krn pihak ortu atau mamak tdk
mau mencarikan tp di jaman skr menjamin seseorg itu benar2 tepat dan baik itu
susah, bertanggung jawab pd masa depan hidup seseorg gadis nantinya, membuat
ortu dan mamak takut utk menjodohkan seorg anak atau ponakannya pd seseorg
itulah masalahnya, dan satu hal lg, apa benar si gadis tsb yg mendaftarkan
diri? Bisa jd ortu, mamak bs jg temannya yg memasukan data diri pd kotak jdh
tsb? So jgn terlalu menyalahkan si gadis .
Wassalam
renny,31 ancol
aku cuma membela kaumku, senasibku tp insyaallah aku tdk seputus asa
spt diatas, thanks ma, pa yg tetap sabar dan mendoakan utk terus menjadi yg
terbaik utk mendapatkan yg terbaik, amin...
Pak mode, maaf kalau ada yg salah daku buat email ini dr hp, takut
ada yg salah
Riri Chaidir wrote:
> Buya,
>
> Tarimokasih pencerahan nan ambo dapek dari Buya.
>
> Jadi ado semacam pergeseran "gaya" perempuan.
>
> Nah, nan ambo ingin tau, apo reaksi kaum adat terhadap pergeseran
ini. Jadi ambo "mengamini" statement Buya, mungkin LKAAM nan harusnyo menjawab.
Tidak perlu di milis ini, tapi ambo berharap LKAAM tanggap terhadap berbagai
praktek yang - setidak2nya untuak sebagian urang - menjadi pertanyaan, ini adat
Minang atau bukan?
>
> Riri
> Bekasi, L 46
>
>
> 2008/12/24 Abraham Ilyas < [email protected] >
> Dinda Riri dan Dunsanak ka sadonyo nan ambo hormati.
> Untuk menjawab "Whats wrong" ini ambo cubo jawab melalui kutipan
dari buku
>
> Antologi Esai Sastra Bandingan dalam Sastra Indonesia Modern
terbitan th. 2002 oleh Pusat Bahasa, Depdiknas.
> Untuak itu ambo scan 4 halaman dari karangan nan bajudul: "Profil
Wanita di dalam Novel-Novel Indonesia Modern Warna Lokal Minangkabau Sebelum
dan Sesudah Perang", yang ditulis oleh Hasanuddin W.S (hal.. 117 – 132 dengan
16 buku rujukan/daftar pustaka).
> Novel sebelum perang adalah, Sitti Nurbaya karangan Marah Rusli
dan Salah Asuhan karangan Abdul Muis. Novel sesudah perang adalah Kemarau
karangan A.A. Navis dan Warisan karangan Karangan Chairul Harun.
>
> Karya Sastra sebagai Cermin Masyarakat (hal. 118)
> Novel sebagai hasil cipta sastra, dari satu sisi dapat berfungsi
sebagai cermin dari masyarakatnya. Novel dapat dianggap sebagai alat perekam
kehidupan masyarakat pada suatu waktu, pada suatu tempat. Anggapan ini dapat
dibenarkan karena sebagai karya sastra, sesungguhnya novel tidak hanya
berlandaskan kepada imajinasi pengarang belaka.
> Imajinasi pengarang tidak mungkin berkembang jika pengarang tidak
mempunyai pengetahuan yang baik tentang realitas objektif (semesta). Scholes
(dalam 4 Junus, 1983: 1) mengungkapkan bahwa setiap kali orang berhadapan
dengan suatu realitas, maka realitas tersebut akan mengundang orang untuk
berimajinasi; dan orang tidak mungkin dapat berimajinasi tanpa memiliki
pengetahuan tentang suatu realitas.
> Dengan demikian, karya sastra novel tidaklah sekadar merupakan
hasil ekspresi pikiran dan perasaan pengarang belaka.
> Tokoh Wanita dan Pandangan Hidup (hal. 122) Wanita-wanita
Minangkabau sebelum perang, menurut data yang diinventarisasi dari sampel
penelitian, dideskripsikan sebagai wanita yang memiliki pandangan hidup yang
berorientasi pada pencapaian nilai budaya ideal. Orientasi ini menurut Kluckhon
(dalam Muhardi, 1984: 19) adalah pandangan hidup; yang memandang bahwa hidup
hari ini buruk, sehingga berusaha untuk mewujudkan hidup itu menjadi lebih baik
pada masa mendatang. Karena pandangannya ini, mereka kemudian berbuat,
bertindak, untuk memperbaiki hidup yang dianggapnya tidak mengenakkan itu.
> Keadaan yang paling mengungkung wanita Minangkabau pada saat itu
sebagaimana didapatkan dari data sampel, adalah ketidakbebasan memilih pasangan
hidup. Pandangan hidup wanita pada masa itu ternyata tidak sejalan dengan
konvensi yang hidup ketika itu. Menurut konvensi pada waktu itu wanita yang
dinilai baik adalah wanita yang patuh, menerima.
> Tokoh Wanita dan Tanggung Jawab (hal. 126) Dari sisi kemanusiaan,
tokoh-tokoh wanita pada masa sesudah perang kelihatan lebih lugas. Tidak
munafik dalam banyak hal, termasuk pengungkapan hal yang sebelumnya dianggap
tabu, misalnya persoalan seksualitas.
> Dari sisi keagamaan, tindakan, sikap, dan perilaku mereka
memberikan kesan bahwa mereka kurang bertanggung jawab. Hubungan seksual
sebelum menikah, menyeleweng dari suami, atau berkhianat pada kekasih bukan hal
yang aneh bagi mereka. Tokoh-tokoh seperti Arneti, Maimunah, Farida, Sitti
Baniar, dan lainnya merupakan wakil dari contoh yang dapat menunjang data
tentang hal ini. Oleh sebab itu, jika mereka hamil di luar nikah, atau hal
lainnya yang terjadi pada diri mereka, mereka tidak terlalu panik meminta
pertanggung jawab pada diri mereka sendiri.
> Kesemua ini disebabkan oleh keadaan bahwa mereka lebih mengejar
kesenangan sesaat dan yang lebih bersifat material.
> Tokoh Wanita dan Penderitaan (hal. 128) Tokoh-tokoh wanita sesudah
perang memperlihatkan bahwa diri mereka adalah wanita-wanita yang kurang tabah
di dalam menjalani hambatan-hambatan hidupnya.
> Penderitaan bagi tokoh-tokoh wanita, merupakan sesuatu yang
dianggap menyulitkan hidupnya. Jarang tokoh-tokoh wanita pada masa ini
beranggapan bahwa penderitaan itu adalah cobaan yang harus dijalani secara
tawakal dan tabah. Jika ada, itu hanya ucapan belaka, karena ketika mereka
mengalaminya, tindakan mereka menunjukkan bahwa mereka tergolong orang yang
tidak tabah dan tidak tawakal.
> Ketidaktabahan para tokoh menghadapi penderitaan di dalam hidupnya,
disebabkan oleh tidak tahannya mereka terhadap berbagai godaan di dalam hidup.
Godaan-godaan cenderung tidak dapat dihindari oleh para tokoh. Para tokoh cepat
hanyut dalam kesenangan keduniawian sehingga penderitaan yang dialami dirasakan
sebagai sesuatu yang menyiksa.
> Wanita-wanita Minangkabau sesudah perang ini selalu terlihat
berusaha menghindari penderitaan. Jika tidak dapat dihindari, mereka berusaha
melibatkan orang lain.. Dengan ikut menderitanya orang lain, mereka merasakan
penderitaannya akan berkurang, karena ada yang senasib dengannya.
> Jika mereka tetap harus mengalami penderitaan, mereka cenderung
mudah frustrasi dan putus asa. Cara apapun akan mereka cari untuk lepas dari
penderitaan itu, termasuk jalan pintas. Risiko yang bakal muncul menjadi
perhitungan kedua.
> Catatan ambo :
> Tahu di diri salah satu elemen dari tahu di nan Ampek (ref:
http://www.nanampek.nagari.org/c11.html )
> Para sastrawan telah membedah diri perempuan-wanita Minang sebelum
dan sesudah perang.
> Iko pandapek ambo pribadi, profil nan dicaritokan oleh novel-novel
sebelum perang itu adalah perempuan-perempuan Minangkabau, sedangkan nan
sesudah perang ialah wanita Indonesia nan mengaku sebagai orang Minang,
termasuk yang beriklan mencari laki di Kompas Minggu.
> Apakah pengakuannya di Kompas itu, bahwa dirinya sebagai orang
Minangkabau akan kita terima saja ?, mungkin yang lebih mampu menjawabnya
adalah mamak kito mamak LKAAM !
> Atau sarupo nan ambo lakukan pribadi (tangguang jawab pribadi)
mangirim email ka biro jodoh korantu untuak indak manulihkan identitas suku
Minangkabau untuak anggota-anggotanya nan maminta. Mudah-mudahan disetujui oleh
pengsuh.
>
> Kok disebut sebagai perempuan tentulah kita perlu mengacungkan
empu jari atau jempol kepadanya; suatu bahasa tubuh yang dipahami oleh semua
manusia.
> Kemampuan serta keterampilan mereka setara dengan kemampuan empu
Gandring, mpu Sindok, mpu Tantular dst. cuma bidang kerjanya saja yang berbeda.
> Bicara tentang kata wanita, bermacam-macam kata sambungannya yang
bisa digandengkan seperti, wanita pekerja ..., wanita pengusaha, wanita Jawa,
Tenaga Kerja Wanita, wanita Papua, wanita Barat, wanita karir dsb.
> Wa Allohu 'aklam bi as showab
> Wassalam
> Abraham Ilyas 63 th. admin./webmaster www.nagari.org
www.nagari.or.id
>
>
----------------------------------------------------------------------------
No virus found in this incoming message.
Checked by AVG - http://www.avg.com
Version: 8.0.176 / Virus Database: 270.10.0/1865 - Release Date: 12/26/2008
1:01 PM
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected]
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
<<inline: clip_image002.jpg>>
