Assalamualaikum w.w. para sanak sa palanta, Artikel Kompas tentang bahaya keserakahan di bawah ini sangat menarik, karena ditulis oleh seorang cendekiawan Kristen, salah satu agama Samawi yang -- bersama dengan agama Yahudi -- amat mendalam mempengaruhi sistem nilai kebudayaan Barat yang kini menguasai dunia, baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial budaya, maupun militer. Dapat kita pertanyakan: sampai berapa jauhkah kemampuan para fungsionaris agama Kristen -- dan Yahudi -- mengendalikan kecenderungan keserakahan sistemik dan melembaga yang berkembang dalam umatnya ? Apakah beliau-beliau juga telah kehilangan kendali terhadap perkembangan umat dan jemaahnya sejak dianutnya asas 'separation of Church and the State' sekitar abad ke 18 dahulu ? Bukankah liberalisme, kapitalisme, imperialisme, dan juga marxisme-leninisme, yang pernah dan sedang mengobrak-abrik dunia, seluruhnya merupakan produk kebudayaan Barat ?
Tapi jangan puas dahulu. Walau agama kita, Islam, mengajarkan jalan tengah dan menolak keserakahan, tidakkah kita juga melihat gejala yang sama di tengah kita umat Islam, yang tampil bukan sebagai ideologi, tetapi sebagai sikap, perilaku, dan perbuatan: korupsi, kolusi, dan nepotisme ? Bisakah para alim ulama kita membina umatnya tanpa pamrih dengan standar moral yang lebih tinggi ? Bukankah sebagian besar koruptor di Indonesia ini adalah umat Islam ? Bagaimana kalau justru [sebagian] alim ulama kita itu sendiri yang serakah dengan uang dan kekuasaan, seperti terlihat dari berlomba-lombanya mereka -- setidak-tidaknya dahulu, dan mungkin juga kini -- menjadi capres/cawapres, cagub/cabup,cawali atau caleg, dan tak puas dengan 'hanya' menjadi pembimbing rohani umat ? Wallahualambissawab. Wassalam, Saafroedin Bahar (L, masuk 72 th, Jakarta) Alternate e-mail address: [email protected]; [email protected] Merajalelanya Keserakahan Kompas, Selasa, 30 Desember 2008 | 01:02 WIB Oleh Daniel Adipranata Keserakahan manusia akan menjatuhkan dunia – Paus Benediktus XVI Dunia kembali dikejutkan oleh skandal penipuan keuangan terbesar dalam sejarah manusia. Bernard Madoff, mantan Ketua Nasdaq, melalui perusahaan bernama Madoff Investment Securities, melakukan penipuan senilai 50 miliar dollar AS di Wall Street. Dalam jangka waktu 10 tahun, dunia berturut-turut telah mengalami empat kali skandal penipuan keuangan besar: skandal Long Term Capital Management, Enron (2001), Lehman Brothers (September 2008), dan Madoff (Kompas, 17/12). Intensitas skandal yang terjadi ini semakin menunjukkan bahwa permasalahan utama bukan hanya masalah kecelakaan bisnis atau penipuan akuntansi yang sistemik, tetapi karena keserakahan manusia yang tidak terkendali. Para penanam modal menginginkan keuntungan berlipat ganda dalam waktu secepat-cepatnya. Pengelola investasi memanfaatkan keserakahan itu dengan merekayasa bisnis ”sim salabim” untuk meraup keuntungan sebanyak mungkin. Anatomi keserakahan Leo Tolstoy menulis sebuah cerita pendek tentang seorang petani kaya yang tak puas dengan tanah pertanian yang dimilikinya. Suatu hari ia menerima tawaran untuk memperoleh tanah seluas apa pun dengan syarat hanya satu: ia berjalan sejak pagi hari dan harus kembali sebelum matahari terbenam. Seluruh tanah yang bisa dijalaninya menjadi miliknya. Namun, jika ia tak kembali sebelum matahari terbenam, ia tak memperoleh apa pun. Didorong hasrat untuk memiliki lebih, petani itu terus berjalan dan menggunakan tenaga terakhirnya untuk kembali ke titik awal sebelum matahari terbenam. Ia sadar bahwa ia begitu letih, tetapi ia terus menggunakan tenaga sampai akhirnya ia berhasil kembali. Namun, pada saat itu ia terjatuh, mulutnya mengeluarkan banyak darah, lalu ia mati. ”How Much Land Does a Man Need?” demikian judul cerpen Tolstoy yang dijawab pada akhir kisah ini: cukup untuk mengubur seorang manusia yang serakah, 1 x 2 meter persegi. Kita hidup di tengah lingkungan yang penuh teladan keserakahan. Nilai seorang manusia diukur dari kuantitas harta ataupun status sosialnya, tanpa memedulikan cara mendapatkannya. Teladan keserakahan menyebarkan pola berpikir jangka pendek yang hanya sekadar meraup keuntungan sebanyak mungkin tanpa memperhitungkan kerugian yang dihasilkan. Orang yang menderita penyakit keserakahan ini pada umumnya tidak merasakan gejala apa-apa, tetapi orang lain yang berinteraksi dengannya menjadi korban keserakahannya. Keserakahan sebenarnya bukan sekadar kerakusan untuk mengambil lebih dengan memanfaatkan segala celah sistem akuntansi dan kelemahan pengawasan lembaga. Keserakahan mengandung persoalan lebih dalam karena menggeser pusat hidup manusia dari hidup-bagi-yang lain (sesama) menjadi hidup-bagi-aku dan bahkan sesama-bagi-aku. Tata moral dunia baru Pergeseran ini menyebabkan manusia mengeksploitasi sesamanya dan alam sekitarnya. Padahal, Mahatma Gandhi pernah berwejang, ”Earth is enough to satisfy every man’s need, but not every man’s greed.” Di tengah merajalelanya keserakahan manusia, dunia membutuhkan bukan hanya pengaturan sistem pengawasan ekonomi (tata ekonomi) dunia baru, melainkan peletakan ulang tata moral dunia baru. Tugas etika tidaklah cukup dengan hanya mengajarkan jalan yang harus ditempuh manusia bila ia mau menemukan eksistensi yang bermakna. Etika tidaklah memadai lagi kalau hanya menegaskan agar kita bertindak dengan baik, jujur, dan adil atau agar kita mendasarkan diri pada prinsip universalisasi Kant atau mengusahakan the greater happiness for the greatest numbers. Ada tugas yang lebih besar dan progresif dari etika. Etika harus mampu membatasi keserakahan manusia atas sesama dan alam sekitarnya. Levinas adalah filosof pertama yang memperlihatkan bahwa keharusan mutlak untuk bersikap baik merupakan evidensi intuitif tak terbantah yang selalu sudah disadari secara langsung, yaitu dalam setiap pertemuan dengan sesama (Magnis-Suseno, Pijar Filsafat). Sesama dan alam bukanlah obyek eksploitasi atau sumber keuntungan sesaat. Daniel Adipranata Sekjen Perkantas, Dosen Agama Kristen, Aktivis Lingkar Muda Indonesia function fbs_click() {u=location.href;t=document.title;window.open('http://www.facebook.com/sharer.php?u='+encodeURIComponent(u)+'&t='+encodeURIComponent(t),'sharer','toolbar=0,status=0,width=626,height=436');return false;} html .fb_share_link { padding:0px 0 0 20px; margin-top:5px; height:16px; background:url(http://static.ak.fbcdn.net/images/share/facebook_share_icon.gif?2:26981) no-repeat top left; font:normal 11px arial; } Share on Facebook --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned: - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama - DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
