Assalamu'alaikum Wr Wb. Bung Zulkarnain,

Pilihan "HENTIKAN" tentunya juga salah satu dari alternatif solusi
yang dinyatakan secara sangat  tegas dengan penggunaan huruf capital
sebagai penekanan. Jadi alternatif solusi sekarang menjadi 4 buah.

Yang mengagetkan saya adalah kata  "NEVER" apalagi dengan huruf
capital pula yang berarti tidak akan pernah (nggak bakalanlah......,
kata orang Betawi), dengan cara apapun, kapanpun, oleh
siapapun.......
Saya yakin tentunya bung Zulkarnain punya serentetan pengalaman atau
pengamatan yang mendasarkan hujjah atau argumentasinya untuk
menyimpulkan bahwa "kapan kita pernah//mampu menetapkan sejumlah
aturan main dan kebijaksanaan yang tepat// dan mematuhinya dengan
taat.
Kalimat diantara 2 tanda // adalah kalimat saya, tapi saya tidak bisa
mengomentarinya karena yang "menetapkan" dan "mematuhi" itu bukan
saya, tapi Pemda setempat, peternak ikan, dan masyarakat setempat.
Benarkah mereka separah itu, saya tidak tahu.

Pengamatan saya selama ini tidaklah demikian. Sebagai orang Minang
saya bangga karena menurut saya orang Minang di ranah Minang termasuk
yang patuh (bukan atas dasar takut, tapi kesadaran) atas sejumlah
aturan-aturan main yang ditetapkan, dibandingkan dengan masyarakat di
tempat-tempat lain di negara ini. (jangan bandingkan dengan Singapur
dan negara luar lainnya).
Perusakan lingkungan di wilayah Sumbar termasuk minim dibandingkan
dengan di tempat lain. Kalaupun ada perusakan, pelaku adalah orang non
Minang atau orang Minang yang telah termakan ajakan orang lain.
Kalau adab di jalan raya sering dikatakan mencerminkan watak
masyarakat setempat, saya melihat bahwa lalu lintas di seantero Sumbar
masih tergolong tertib, dan pak Polantas sangat jarang berdiri di
perempatan jalan. Pengguna jalan cukup patuh dengan rambu yang ada.
Ini secara umum, dan sekali lagi jika dibandingkan dengan daerah lain
di Indonesia....

Pilihan antara ikan karamba dan pariwisata ini secara sederhana bagi
saya adalah sebagaimana kata pepatah Minang : "Harokkan  anggang/
bangau tabang tinggi, punai/pipit di tangan dilapehkan...". Atau
pepatah luar : "one bird in hand is better than five birds in the
bush"....
"Punai/pipit/one bird" ini adalah berupa 6.000an peternak, anggota
keluarga, karyawan, orang warung, penjual pelet, plastik, pengusaha
angkutan, pengemudi, rumah makan, pedagang, dll yang sekarang ini
sudah exist. Mereka sudah punya ilmunya, sistim pemeliharaan, dan
jaringan pasar yang sudah menembus sampai ke Sumatera Utara, Riau,
Jambi, dan Bengkulu. Ini adalah sebuah fakta yang tidak dapat
dinafikan begitu saja. Ada sejumlah "intangible benfits" diantara yang
"tangible" yang kasat mata.

Yang kurang adalah pemahaman dan penataan lebih lanjut, peraturan dan
kebijaksanaan yang tegas, dan penerapan peraturan yang konsisten (law
enforcement).
Masih banyak yang bisa diatur dan ditata ulang.
Danau yang memiliki luas hampir 100 km2 ini memiliki kedalaman hampir
200 meter, dengan volume air sebesar 10 juta m3, dan panjang pantai
sekitar 50 km. Pantai sekeliling danau ini sudah memiliki jalan, yang
setahu saya 2 tahunan yang lalu berada dalam kondisi baik.
Dengan danau seluas 10.000 Ha, pantai sepanjang 50 km tersebut,
penataan zoning masih mudah untuk dilakukan. Lokasi wisata, dengan
lokasi karamba masih bisa dipisahkan secara leluasa. Jika penelitian
menunjukkan bahwa pembilasan air memang tidak memadai, lokasi karamba
dapat dikonsentrasikan relatif dekat dengan outlet Maninjau (Antokan).
Petunjuk kepada peternak untuk selalu memantau keasaman air (pH)
sebagai indikator air yang utama dapat dilakukan dengan mudah. Harga
alat pH meter digital hanya sekitar Rp 500.000.
Konstruksi karamba rasanya masih bisa diperkuat,  yang memungkinkan
langkah inovasi penggeseran letak karamba dalam kondisi emergency.
Karamba bila perlu dipindahkan dari lokasi air yang pHnya umpamanya
4.5 ke lokasi yang pH masih sekitar 6-7.

Terkesan para peternak adalah pihak yang paliang kareh kapalo dan
indak jaran-jaran. Di mata saya para peternak ini adalah contoh khas
entrepreneur. Mereka ibarat mengikuti perlombaan memanjat pohon
pinang. Kalau 5-6 kali berhasil menggaet hadiah diatas pohon,
tidaklah  masalah kalau kemudian maluncua agak sakali. Inilah
"calculated risk" entrepreneur seperti ini. Mada ? Cukup banyak
pengusaha dari semua kelas yang akan melanggar peraturan, kalau
pengawasan dan ketegasan sangat longgar.
Ada lagi yang mengatakan bahwa ikan danau yang lain ikut punah. Kalau
menurut saya ikan danau ini menikmati sisa pakan yang berlimpah-limpah
yang mampu membuat mereka berkembang biak dengan baik. Keracunan ?
Begitu pH berubah mereka akan segera menghindar mencari tempat yang
pHnya sesuai bagi mereka. Habitat mereka luasnya sekitar 10.000 Ha itu
tadi.

Saya heran, apa artinya semua upaya dari semua pihak untuk kebangkitan
Minang kalau kita sendiri pesimis dengan kemampuan pemerintah dan
masyarakat Minang untuk "mengubah nasibnya sendiri".
"Batang tarandam" mana yang bisa dibangkitkan kalau kita sendiri tidak
saling percaya dengan kemampuan satu dengan lainnya.

Itu tadi cerita "pipit", bagaimana dengan  "Anggang/Bangau" nya
sendiri ?
Ini belum tampak, yang tampak sejak lama baru "potensi luar biasa"
bahwa "Anggang/Bangau" itu ada, atau pernah tampak terbang melintas
tapi sekarang sudah  hilang pula di balik awan.........
Maaf & Wassalam.



On 23 Jan, 00:30, Zulkarnain Kahar <[email protected]> wrote:
> Sanak,
>  
> Kapan kita pernah
> //mampu menetapkan sejumlah aturan main dan
> kebijaksanaan yang tepat//
>  
> dan mematuhinya  dengan taat. dari jauh akan saya jawab NEVER.,
> jalan terbaik bagi kita adalah HENTIKAN  sampai kita mengerti apa manfaat 
> aturan.
>  
> Wassalam
> Zulkarnain Kahar
>

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke