Tulisan ini diterbitkan di Rubrik Teras Utama, halalman depan, Padang
Ekspres kemarin, 20 Januari 2009. Silahkan dikomentari, jika berkenan,
sesuai maksud isinya. Terima kasih. Wass,

Andrinof A Chaniago



Danau Maninjau dan Cara Berpikir Kita

Oleh Andrinof A Chaniago

Pengamat kebijakan publik dan aktifis sosial di Jakarta



Saya sungguh prihatin dengan wacana tunggal yang berkembang dalam melihat
dan memberi solusi atas "musibah" matinya ribuan ton ikan keramba di Danau
Maninjau pada bulan Januari 2009 ini. Wacana tunggal itu jelas mengarah pada
pemulihan usaha budi daya ikan keramba semata dan tidak membuka wacana yang
melihat kepentingan yang lebih besar atau perhitungan agregat dari berbagai
sisi. Dari sudut pandang ekonomi mikro dan teknik perikanan, analisis yang
dikemukakan pakar perikanan, pejabat Dinas Perikanan dan politisi itu memang
tidak keliru. Tetapi, mencarikan solusi semata-mata dari sudut pendang
ekonomi mikro dan teknik perikanan atas "musibah" matinya ribuan ton ikan
itu, jelas menunjukkan bahwa sebagian besar tokoh-tokoh kunci kita masih
terkungkung dalam pola pikir sektoral dan parsial.

Diukur dari kepentingan pemodal yang menjadi pemilik usaha budi daya ikan
keramba di sekeliling Danau Maninjau itu dan dari sudut pandang sektor
perikanan, kerugian akibat matinya ribuan ton ikan keramba pada Januari 2009
ini memang relatif besar. Media memberitakan bahwa kerugian untuk peristiwa
Januari 2009 ini mencapai Rp150 miliar.

Tetapi, kematian massal ikan keramba Danau Maninjau yang terjadi Januari
tahun 2009 bukanlah yang pertama. Pada tahun 1997, sekitar 950 ton ikan
mati, dengan kerugian mencapai miliaran rupiah. Berikutnya terjadi pada
tahun 2004 dengan kerugian yang tentu lebih besar dari kejadian tahun 1997.
Dengan terulangnya peristiwa pada Januari 2009 ini, maka peristiwa ini bukan
lagi tergolong musibah. Sebab, sudah jelas ini karena kesalahan manusia yang
tidak mau berpikir atau menggunakan akal, seperti yang diperintahkan
berulang-ulang dalam Alqur'an.

Lalu, bagaimana semestinya jalan keluar yang harus diambil setelah ini?
Ditinjau dari sisi mikro ekonomi saja, berulangnya siklus kematian massal
ikan keramba ini menunjukkan bahwa usaha ini tidak *sustainable*. Apalagi
kalau kita mau jernih melihat dengan pandangan menyeluruh untuk kepentingan
yang lebih besar.

Tidak perlu lagi bertanya kepada ahli lingkungan untuk mengetahui bagaimana
aktifitas budi daya perikanan keramba telah mengakibatkan perubahan warna
air danau. Bagi mereka yang senang berulang berkunjung dan memperhatikan
kondisi air danau dalam sepuluh tahun terakhir, jelas sekali terlihat
perubahan kejernihan air danau yang dulu di tahun 1990-an sangat bening kini
menjadi hijau pekat. Ini jelas salah satu indikator bahwa ekosistem danau
ini telah mengalami kerusakan akibat usaha budi daya ikan keramba, yang
secara ekonomi mikro juga sudah terlihat tidak *sustanable*.

Ternyata, pencemaran lingkungan ini bukan hanya telah mengurangi kenyamanan
hubungan manusia dengan perairan danau ini, tetapi terbukti berbalik
merugikan usaha sektoral perikanan itu sendiri. Analisis beberapa ahli
lingkungan telah mengatakan bahwa salah satu sumber penyebab kematian ribuan
ton ikan keramba Danau Maninjau ini adalah makanan ikan yang tidak semua
masuk perut ikan, melainkan sebagian mengendap di dasar danau. setelah
melalui suatu proses pelet yang mengendap di dasar danau dan mencapai
konsentrasi tertentu, pelet tadi lama kelamaan berubah sebagai racun bagi
belasan ribu ton ikan-ikan keramba itu.

Besarnya volume limbah dari pakan ikan keramba ini cukup menjelaskan
hubungannya dengan peristiwa matinya ribuan ton ikan keramba untuk kesekian
kalinya. Rata-rata sekitar 292,88 ton pakan yang ditebar di danau setiap
tahunnya yang bersumber dari tiga kali pemberian makan ikan setiap hari.
Sebagian besar pakan menjadi limbah organik yang menjadi sedimen ataupun
larutan. Selain itu keramba juga menimbun danau dengan nitrogen sebanyak
146,68 ton per tahun dan urea sekitar 310 ton per tahun. Inilah sumber dari
kerusakan ekosistem yang akhirnya memukul balik usaha budi daya ikan keramba
ini.

Melihat sifat tidak berkelanjutan dari pertumbuhan ikan yang bisa
dimanfaatkan secara ekonomi tadi, jelas tidak ada salahnya kita berpikir
kalau untuk selanjutnya usaha keramba ini digantikan dengan usaha lain yang
terkait dengan jasa pariwisata, seperti rekreasi air, rumah makan, hotel
atau penginapan khas, dan sebagainya. Sebab, kita hanya berpikir untuk
memulihkan usaha budi daya ikan keramba ini, berarti kita tidak mau keluar
dari beberapa masalah yang makin membesar selama ini. Di dalam masalah yang
terus membesar itu, yang terjadi bukan hanya konflik sektoral antara usaha
ternak keramba dan pengembangan pariwisata, tetapi juga kerusakan ekosistem,
penurunan kualitas lingkungan dan kerugian nonmateriil yang tidak tampak
langsung, seperti hilangnya kebanggaan masyarakat Sumbar atas keindahan
Danau Maninjau.

Saya yakin, ada konsep ekonomi alternatif untuk mengelola kawasan Salingka
Maninjau secara terpadu antarsektor ekonomi dan antara kepentingan ekonomi
dengan lungkungan dan keindahan. Kawasan ekonomi Salingka Maninjau bisa
meletakkan sektor Pariwisata sebagai sektor unggulan yang terintegrasi
dengan sektor agribisnis, industri makanan, industri kerajinan dan
industri-industri kreatif lainnya. Meletakkan sektor pariwisata ini sebagai
sektor unggulan dikarenakan masih tersedianya potensi pengunjung yang cukup
besar. Potensi itu sudah memperhitungkan penutupan ruang bagi wisatawan
porno aksi seperti yang terdapat di Bali. Sebab, dari potensi wisatawan
rombongan dari Asia Timur (Jepang, Korea, Taiwan, Hongkong) saja, peluang
yang tampak masih cukup besar.

Dari potensi wisatawan rombongan ini kita bisa menjadikan Maninjau dan
Sumbar berbeda dengan Bali. Kalau Bali pengunjung terbesarnya adalah para
ABG dari Australia yang menyukai tempat-tempat dugem dan kehidupan bebas,
pariwisata Danau Maninjau sangat memungkinkan diarahkan menjadi tempat
ekowisata, wisata budaya dan wisata pendidikan dengan ciri pengunjung
rombongan keluarga, rombongan kelompok pencinta alam, rombongan karyawan
perusahaan, rombongan organisasi profesi, rombongan lansia atau pensiunan,
dan sebagainya. Belum lagi kita bicara potensi wisatawan domestik.

Kalau model perekonomian Salingka Maninjau dengan komoditi andalan perikanan
keramba ini sudah jelas mengandung konflik antarsektor, terutama antara
perikanan dan pariwisata, secara makroekonomi pun kawasan ini akan sulit
berkembang. Padahal, dari sisi mikro ekonomi, juga sudah terlihat usaha budi
daya ikan keramba ini tidak akan *sustainable*. Belum lagi kita berbicara
tentang kelestarian ekosistem, kelestarian keindahan alami Danau Maninjau,
dan sebagainya.

Kalau dalam melihat Danau Maninjau ini kita gunakan lagi cara berpikir
sistemik dan agregatif, maka pihak Pemda dan DPRD, baik Kabupaten Agam
maupun Provinsi Sumbar, harus mengambil sikap tegas untuk mengubah model
ekonomi Salingka Maninjau saat ini. Mencoba menjadi pahlawan dengan mendesak
Pemda mengeluarkan anggaran APBD untuk cepat memulihkan usaha keramba dengan
modelnya yang sekarang, sebetulnya adalah langkah sesat yang merugikan
kepentingan yang lebih besar. Sebab, selain usaha ini sendiri tidak mungkin
akan berkelanjutan secara ekonomi mikro, ada yang namanya eksternalitas
ekonomi yang harus ditanggung oleh masyarakat dan generasi yang akan datang.
Kerugian itu ada yang terlihat langsung, seperti mandegnya sektor
pariwisata, dan ada yang kurang terlihat langsung, seperti kerusakan
ekosistem, berkurangnya nilai estetika alami Danau Maninjau yang menjadi
kebanggaan orang Minang, dan beberapa kerugian lainnya.

Kalau kita mau konsisten berpikir logis saja, maka semua bentuk kerugian
seharusnya masuk dalam daftar target untuk dihindari. Kalau kita sudah tahu
bahwa dengan mengandalkan usaha budi daya ikan keramba ini banyak kerugian
dan biaya lain yang harus kita tanggung dengan mengeluarkan anggaran publik
(APBD), mestinya pikiran kita tidak hanya tertuju pada pemulihan usaha budi
daya keramba paska kematian massa ikan keramba Januari 2009 ini. Kita harus
memikirkan sektor usaha mana yang patut dikembangkan karena sifatnya tidak
menghambat pertumbuhan sektor lain. Kita juga harus memikirkan bagaimana
menyelamatkan ekosistem Danau Maninjau dari sektor usaha yang bersifat
merusak ekosistem danau tersebut. Dan kita juga harus memikirkan bagaimana
agar kita tidak kehilangan sebuah sumber kebanggaan kita sebagai orang
Sumatera Barat, yakni keindahan Danau Maninjau sebagai salah satu danau
terindah di dunia.

Seharusnya kita mengambil hikmah dari peristiwa Januari 2009 ini untuk
mengubah pola pikir yang selama ini terkungkung dengan ego sektoral dan
parsial. Misalnya, pihak pejabat Dinas Perikanan jangan lagi hanya berpikir
bagaimana memiliki laporan akhir tahun yang berisi peningkatan produksi ikan
yang membuat ia hanya berpikir bagaimana memulihkan secepatnya usaha budi
daya ikan keramba paska peristiwa Januari 2009. Sementara, akibat
mementingkan laporan kemajuan sektoral tadi kita menutupi informasi tentang
rendahnya nilai manfaat usaha ini secara makroekonomi dan adanya kerugian
lain yang harus ditanggung oleh masyarakat luas. Bahkan, kita lupa, bahwa
usaha tersebut menggunakan permukaan danau, yang berstatus barang publik
murni, seperti laut dan sungai, yang tidak boleh dikuasai secara ekslusif
dan menghalangi orang lain untuk menikmatinya. Sekaligus, kita harus
mengingatkan para politisi di Sumbar agar tidak ceroboh memanfaatkan isu ini
untuk menaikkan popularitas. Demikian juga bagi para ahli, sebaiknya
membicarakan masalah ini dari perspektif lintasdisiplin, bukan hanya melihat
dari sudut pandang ilmu teknik perikanan semata.

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke