Ass.Wr.Wb, Pak Doktor Saafroedin Bahar, serta ummat RN di Palanta! Sedikit tambahan dari saya Pak Doktor Saafroedin Bahar, setentangan berangsur kurang, menurut pengalaman, pengamatan serta pembicaraan saya dengan beberapa pengusaha Travel Bueros diGerman & diBelanda. Demikian juga dari beberapa echo2 dari obrolan2 beberapa kerabat2 dan kaum pelancong2 sanasini yang saya simpulkan. Penyebab kekurang angka pelancong2 ke Bali/Indonesia, selain yang ditulis didalam „Detik.com. Jumat, 30/01/2009 15:40 WIB“, yang terlampir dibawah ini, dikarenakan oleh kurang banyaknya Promosi seperti Brochure2 / Flyer2 , seandainya ada itupun sudah tahunan umurnya. Dari siaran2 TV diGerman ini, tetap filem2 yang berbau Iklan dan Promosi yang bernada langsung ataupun tidak lansung, ditayangkan pada jam2 siaran yang empuk serta beberapa waktu yang „pass“, sebelum masa2 liburan tiba. Selain dari itu tourist2 yang ke/di Bali kebanyakan kaum muda mudi yang ber-hura2 (umumnya dari Australia biaya relativ murah , menang lokasi dekat), ribut2 diwaktu malam dipenginapan2. Pelayan hotel kurang direspekti oleh muda mudi tersebut (penyebabnya, takut dgn tamu2??), menyebabkan pengunjung hotel lainnya merasa terganggu liburannya, dimana saat2 istrahat malam, diatas jam 21:00 masih bunyi tawa ria bercampur musik2 muda mudi masa kini, dengan tempo yang monotonal serta volume keras yang mengganggu pelancong2 yang ingin tidur. Selain kumuh (kantong2 plastik, botol2, sampah2 dll dibelakang Pura) areal wisatanya, juga ethika pengemudi2 taxi/penjaja, begitu juga keamanan tidak terjamin (Polisi??). Selain itu, mungkin ada akibat ketiadaannya penerbangan Garuda keEropa. Disisi lain (kabarnya) kerjasama (berbentuk apa, saya kurang jelas) Garuda dengan MAS, yang total general keuntungan akhir, baik untuk Garuda maupun lokasi pelancongan di Indonesia, itu perlu dikaji ulang dengan seksama. Dipihak lain izin lintas terbang diwawasan per-udaraan Eropa, dari segi standarisasi teknik EC yang berlaku itu parameter yang penting sekali untuk kalkulasi Garuda. Karena logisnya jalur serta waktu penerbangan, dari arah Eropa (tanpa Garuda) jurusan Asia tenggara, tentu lebih dekat ke China, Thailand, Vietnam, Kamboja, M’Sia dan S’Pore dibanding Indonesia/Bali. Pesaing dengan, harga yang bersaing, berkat promosi yang gencar dan momentum yang tepat, disertai faktor2 kebersihan, kemacetan, keamanan, ethika serta unsur2 negativ dll, tentu saja memilih tujuan bukan Bali/Indonesia. Mungkin saja, gema suasana politik Negara kita yang mayoritas beragama Islam tambahan akibat penebangan2 kayu hutan2 tropis yang sering disiarkan disini (Orang Utan). Point2 ini agak disorot negativ disini, baik dari media massa, maupun dari sekelompok orang2. Summa summarum, itulah penyebab berangsur kurangnya angka Wisatawan ke Bali/Indonesia yang tersimpul dari pengamatan saya Pak Doktor Saafroedin Bahar. Moga2 bisa bermanfaat,
Wassalam, Muljadi, German -------- Original-Nachricht -------- > Datum: Fri, 30 Jan 2009 01:36:57 -0800 (PST) > Von: "Dr.Saafroedin BAHAR" <[email protected]> > An: Rantau Net <[email protected]>, WEST SUMATRA TOURISM BOARD > <[email protected]> > CC: "Ir. Indra ARINAL" <[email protected]>, Ridwan TULUS > <[email protected]>, aim ZEIN <[email protected]>, Nuraini Prapdanu > <[email protected]>, Zarnifa ASMARA <[email protected]>, "Drs. Syarief > ALI" <[email protected]>, Yulnofrins Napilus <[email protected]> > Betreff: [...@ntau-net] LAMPU KUNING UNTUK PARIWISATA PULAU BALI ..... [DAN > SUMBAR ?] > Assalamualaikum w.w. para pegiat, pencinta, dan peminat pariwisata Sumbar, > > Saya tayangkan berita di Detik.com hari Jum'at tanggal 30 Januari 2009 > ini sekedar sebagai masukan dan perbandingan, bahwa kepariwisataan harus > dikelola secara dinamis. Tidak boleh berpuas diri. > > Untuk Sumbar tentu harus dilaksanakan dalam konteks ABS SBK. > > Sekali lagi, melalui RN ini saya mengajak seluruh potensi pariwisata di > Sumatera Barat -- Pemerintah Daerah, baik di tingkat provinsi maupun tingkat > kabupaten dan kota, sebagai regulator; PHRI dan ASITA sebagai operator; > dan MPKAS-MAPPAS sebagai pemeduli perlu segera duduk bersama untuk membentuk > dan mengoperasikan WSTB sebagai wahana mengoordinasikan seluruh potensi > yang ada. [Sekarang ini WSTB baru berupa wacana belaka.] > > Padahal sudah lama dicanangkan bahwa pariwisata merupakan salah satu > sektor andalan untuk memajukan perekonomian Sumbar, yang selain langka sumber > daya alam juga sarat dengan pengangguran. > > Saya merasa bahwa gerak kita -- mohon maaf sebesar-besarnya -- terlalu > lamban. > > PS: mohon ada di antara para sanak yang dapat memberikan data statistik > tentang sumbangan sektor pariwisata kepada PRDB Sumatera Barat, dan berapa > laju pertumbuhan PRDB itu sendiri ? > > Mudah-mudahan sudah yahud; jika demikian Alhamdulillah. Tinggal memelihara > dan merancang masa depan dalam suasana yang semakin kompetitif. > > Jika belum, pagagehkanlah saketek ! > > Wassalam, > Saafroedin Bahar > (L, masuk 72 th, Jakarta) > Alternate e-mail address: [email protected]; > [email protected] > > > Detik.com. Jumat, 30/01/2009 15:40 WIB > > Bali Terancam Dilupakan Wisatawan > Gede Suardana - detikNews > > > > Denpasar - Pulau dewata terkenal sebagai surga terakhir di dunia. Namun, > julukan itu dikhawatirkan akan hilang karena Bali terancam ditinggalkan oleh > wisatawan mancanegara. > > Kehawatiran tersebut disampaikan mantan Menteri Perekonomian Prof Dr > Dorodjatun Kuntjoro-Jakti pada saat berbicara pada semiloka Bali Tourism > Friends > di hotel Kartika Plaza, Kuta, Jumat (30/1/2009). Pembicara lainnya adalah > mantan hakim Makamah Konstitusi Dewa Gede Palguna. > > "Selepas tahun 2010, jika tidak diantisipasi tepat pada waktunya, dengan > tindakan terprogram, maka Bali akan berhadapan dengan masalah, yaitu nilai > oleh pasar dunia sebagai "the destination of yesterday" (daerah wisata yang > mulai dilupakan)," kata Dorodjatun. > > Ia menilai bahwa kekhawatiran tersebut bakal terjadi jika Bali tidak mampu > lagi mengelola daerahnya dengan baik sedangkan muncul pesaing baru dari > kawasan wisata negara lain di sepanjang garis katulistiwa. > > Permasalahan besar yang kini dihadapi industri pariwisata Bali adalah > kerusakan tata ruang pulau Bali, ketidakmampuan Bali untuk bergerak ke > kegiatan > berniali tambah tinggi, munculnya pesaing baru di Indonesia dan kawasan > ASEAN, dan keterlambatan dalam pemodernisasian prasarana dan sarana di Bali. > > Menurut Dorodjatun, Bali telah tidak dipandang unik lagi karena hilangnya > bangunan berarsitektur Bali dengan merebaknya bangunan bergaya barat, > kemacetan, kotor, serta sulit menemukan budaya Bali di pulau dewata. > Ia menambahkan perkembangan pariwisata di Bali telah mencapai ambang > batas. Dimana, sumbangan sektor pariwisata kepada produk domestik regional > bruto > (PDRB) sejak 2004-2007 tidak berubah dari 30 persen padahal laju > pertumbuhannya sangat cepat di atas PDRB. > > "Jika tidak ditangani secara tepat maka pertumbuhannya akan stagnan," > katanya. > > Untuk mengantisipasi kemungkinan buruk itu, Dorodjatun berharap agar semua > kebijakan perkembangan pariwisata Bali ditujukan secara aktif serta > motivasi kuat untuk melawan gejala yang menuju terjadinya Bali dilupakan > wisatawan. > > Sementara itu, pembicara lainnya, mantan anggota Makamah Kontitusi Dewa > Gede Palguna mengajak komponen pariwisata dan pemerintah provinsi, > kabupaten/kota melakukan manajemen destinasi satu pintu, yaitu pengelolaan > pariwisata > secara bersama untuk menghasilkan destinasi yang atraktif, bisa > dipasarkan, berkelanjutan, serta memiliki kualitas pelayanan yang tinggi. > > "Provinsi, kabupaten/kota harus rela menyerahkan sebagian kewenangan > mereka kepada satu badan yang otonom untuk mendesain perencanaan manajemen > destinasi Bali," kata Palguna. (gds/djo) > -- NUR NOCH BIS 31.01.! GMX FreeDSL - Telefonanschluss + DSL für nur 16,37 EURO/mtl.!* http://dsl.gmx.de/?ac=OM.AD.PD003K11308T4569a --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned: - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama - DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
