Pelestarian Seni Ukir di Candung, Tetap Banjir Order di Tengah Krisis

 

Selasa, 03 Februari 2009

Tingkah bunyi palu dan pahat membelah dinginnya udara sore. Empat pemuda
dengan perlahan namun pasti mengubah batangan kayu kasar menjadi ukiran
halus yang menarik. Ini usaha mempertahankan seni pahat dari generasi ke
generasi. Dengan keahlian, para pemahat yang berasal dari Candung Koto
Laweh, Agam ini, mampu bertahan dari hempasan krisis ekonomi global dan
Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang menghancurkan impian ribuan pekerja
di luar sana.

 

Amrizal, 28, salah satu pemahat yang telah menghabiskan 12 tahun
bergelut dengan profesi seni ukir ini, mengaku betah karena selain hobi
juga mampu mendapatkan penghasilan layak dari pekerjaan yang ditekuninya
itu. Hanya dengan modal pahat, palu dan daya imajinasi serta kreasi,
Amrizal mampu menghasilkan uang Rp3 juta per bulan dari karyanya.

 

Membuka usaha di tempat yang boleh dibilang kurang strategis (di pelosok
Candung), Amrizal tak pernah kehabisan order. Bahkan dirinya mengaku
terpaksa menunda permintaan untuk ukiran beberapa pihak apabila
pekerjaannya mulai menumpuk dan kekurangan tenaga untuk membantu.

 

"Kalau terlalu banyak, terpaksa beberapa orderan ditunda bahkan tolak.
Mau bagaimana lagi?" ujarnya sambil terus mengayunkan palu menembus kayu
di hadapannya sehingga mengikuti pola yang telah tersedia.

 

Amrizal tetap setia meneruskan usaha yang telah diwariskan almarhum
ayahnya ini mengaku untuk tiap permintaan, jenis ukiran cenderung
berbeda-beda. Saat ditemui, ia dan tiga rekannya sedang mengukir pola
ukiran Siriah Gadang yang dipesan pihak Pagaruyung, Batusangkar.

 

"Ukiran ini untuk bandua yang biasanya dipasang di bawah jendela,"
ujarnya.

Lain waktu, Amrizal akan sibuk dengan ukiran jenis lain dan untuk
peruntukan yang lain pula.

 

"Pokoknya untuk bermacam-macam ukiran kami biasanya akan sesuaikan
dengan selera pesananm," tuturnya. Berhubung karena permintaan ukiran
untuk rumah gadang rumah sudah mulai berkurang, Amrizal dan rekannya
juga menerima pesananuntuk ukiran pintu dan jendela. Kenapa masih
bertahan dengan usaha yang digeluti dua generasi ini? Amrizal dengan
tersenyum mengatakan semuanya dilatarbelakangi keinginannya melestarikan
seni ukir yang diperolehnya dari mendiang orang tuanya.

 

"Sudah jarang ada yang mau, lagi pula saya juga tidak melanjutkan
pendidikan ke bangku kuliah. Saya ingin membantu orangtua dan
menghasilkan uang sendiri dari keahlian yang saya punya," ujarnya
mantap.

 

Tak selalu mulus memang, kalau kita ingin merintis dan memilih eksis di
satu jalur usaha. Tak jarang, Amrizal sering terkendala dengan
permasalahan kayu yang sangat terbatas jumlahnya. Pernah, Amrizal dan
rekannya yang lain terhenti pekerjaannya hanya gara-gara tak ada kayu
untuk diukir.

 

"Kayu sekarang sangat langka. Harganya pun mahal," ungkap Amrizal.Meski
begitu, ia dan rekannya yang lain tak pernah patah semangat selalu
mencari alternatif tempat lain apabila sawmil atau toko bangunan
tempatnya berlangganan kehabisan stok kayu yang dibutuhkan.

 

"Kalau perlu dengan perjuangan keras dan menunggu berhari-hari. Kayu
yang kami butuhkan biasanya jenis Surian dan Meranti," lanjutnya.

 

Ketika ditanya tentang cita-cita dan rencananya ke depan, Amrizal dengan
spontan mengatakan Ingin membuka sanggar seni ukir di rumahnya. Namun
sayang, karena kekurangan modal, cita-citanya tersebut terpaksa tertunda
hingga entah berapa lama.

"Kalau saya punya modal cukup, pemuda-pemuda yang ada disini akan saya
ajak untuk belajar mengukir. Pendapatannya lumayan dari pada
menganggur," imbuhnya terbahak. (cr3)

 

http://www.padangekspres.co.id/content/view/29711/106/

 


The above message is for the intended recipient only and may contain 
confidential information and/or may be subject to legal privilege. If you are 
not the intended recipient, you are hereby notified that any dissemination, 
distribution, or copying of this message, or any attachment, is strictly 
prohibited. If it has reached you in error please inform us immediately by 
reply e-mail or telephone, reversing the charge if necessary. Please delete the 
message and the reply (if it contains the original message) thereafter. Thank 
you.

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke