Ass.Wr.Wb. Bapak Nofiardi , Ibu2 dan Bapak2 Padang Ekspres, ummaik RN di Palanta.
Mambaco,artikel "seni ukia maukia dari Canduang 4-Angkek Kiktenggi" iko, takana diambo dek Paukia dari Canduang nan ditahun 50-an dibao Perancis mamamerkan kasantiang Baliau di pameran Kota Paris mangenai ukiaran jo namo/arati ukia2ran Rumah Gadang Minangkabau. Koq ambo indak salah ingek, Alm. Bapak (Sutan) Sati gala Inyiak Sati,sifaik baliau pariang hati sangaik. Apo ado eloknyo urang awak nan di (KBRI) Paris (Perancis) manyari barito tantang iko, sarato gambar2nyo. Supayo bisa malestarikan turismus plus Seni ukia maukia, di SumBar. Mudah2an bahasia dan baguno, ota ambo. Wassalam, Muljadi,German -------- Original-Nachricht -------- > Datum: Tue, 3 Feb 2009 15:41:58 +0700 > Von: "Nofiardi" <[email protected]> > An: [email protected] > CC: "Eddi Jamar" <[email protected]>, "Akmal" <[email protected]> > Betreff: [...@ntau-net] Pelestarian Seni Ukir di Candung, Tetap Banjir Order > di Tengah Krisis > Pelestarian Seni Ukir di Candung, Tetap Banjir Order di Tengah Krisis > > > > Selasa, 03 Februari 2009 > > Tingkah bunyi palu dan pahat membelah dinginnya udara sore. Empat pemuda > dengan perlahan namun pasti mengubah batangan kayu kasar menjadi ukiran > halus yang menarik. Ini usaha mempertahankan seni pahat dari generasi ke > generasi. Dengan keahlian, para pemahat yang berasal dari Candung Koto > Laweh, Agam ini, mampu bertahan dari hempasan krisis ekonomi global dan > Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang menghancurkan impian ribuan pekerja > di luar sana. > > > > Amrizal, 28, salah satu pemahat yang telah menghabiskan 12 tahun > bergelut dengan profesi seni ukir ini, mengaku betah karena selain hobi > juga mampu mendapatkan penghasilan layak dari pekerjaan yang ditekuninya > itu. Hanya dengan modal pahat, palu dan daya imajinasi serta kreasi, > Amrizal mampu menghasilkan uang Rp3 juta per bulan dari karyanya. > > > > Membuka usaha di tempat yang boleh dibilang kurang strategis (di pelosok > Candung), Amrizal tak pernah kehabisan order. Bahkan dirinya mengaku > terpaksa menunda permintaan untuk ukiran beberapa pihak apabila > pekerjaannya mulai menumpuk dan kekurangan tenaga untuk membantu. > > > > "Kalau terlalu banyak, terpaksa beberapa orderan ditunda bahkan tolak. > Mau bagaimana lagi?" ujarnya sambil terus mengayunkan palu menembus kayu > di hadapannya sehingga mengikuti pola yang telah tersedia. > > > > Amrizal tetap setia meneruskan usaha yang telah diwariskan almarhum > ayahnya ini mengaku untuk tiap permintaan, jenis ukiran cenderung > berbeda-beda. Saat ditemui, ia dan tiga rekannya sedang mengukir pola > ukiran Siriah Gadang yang dipesan pihak Pagaruyung, Batusangkar. > > > > "Ukiran ini untuk bandua yang biasanya dipasang di bawah jendela," > ujarnya. > > Lain waktu, Amrizal akan sibuk dengan ukiran jenis lain dan untuk > peruntukan yang lain pula. > > > > "Pokoknya untuk bermacam-macam ukiran kami biasanya akan sesuaikan > dengan selera pesananm," tuturnya. Berhubung karena permintaan ukiran > untuk rumah gadang rumah sudah mulai berkurang, Amrizal dan rekannya > juga menerima pesananuntuk ukiran pintu dan jendela. Kenapa masih > bertahan dengan usaha yang digeluti dua generasi ini? Amrizal dengan > tersenyum mengatakan semuanya dilatarbelakangi keinginannya melestarikan > seni ukir yang diperolehnya dari mendiang orang tuanya. > > > > "Sudah jarang ada yang mau, lagi pula saya juga tidak melanjutkan > pendidikan ke bangku kuliah. Saya ingin membantu orangtua dan > menghasilkan uang sendiri dari keahlian yang saya punya," ujarnya > mantap. > > > > Tak selalu mulus memang, kalau kita ingin merintis dan memilih eksis di > satu jalur usaha. Tak jarang, Amrizal sering terkendala dengan > permasalahan kayu yang sangat terbatas jumlahnya. Pernah, Amrizal dan > rekannya yang lain terhenti pekerjaannya hanya gara-gara tak ada kayu > untuk diukir. > > > > "Kayu sekarang sangat langka. Harganya pun mahal," ungkap Amrizal.Meski > begitu, ia dan rekannya yang lain tak pernah patah semangat selalu > mencari alternatif tempat lain apabila sawmil atau toko bangunan > tempatnya berlangganan kehabisan stok kayu yang dibutuhkan. > > > > "Kalau perlu dengan perjuangan keras dan menunggu berhari-hari. Kayu > yang kami butuhkan biasanya jenis Surian dan Meranti," lanjutnya. > > > > Ketika ditanya tentang cita-cita dan rencananya ke depan, Amrizal dengan > spontan mengatakan Ingin membuka sanggar seni ukir di rumahnya. Namun > sayang, karena kekurangan modal, cita-citanya tersebut terpaksa tertunda > hingga entah berapa lama. > > "Kalau saya punya modal cukup, pemuda-pemuda yang ada disini akan saya > ajak untuk belajar mengukir. Pendapatannya lumayan dari pada > menganggur," imbuhnya terbahak. (cr3) > > > > http://www.padangekspres.co.id/content/view/29711/106/ -- Psssst! Schon vom neuen GMX MultiMessenger gehört? Der kann`s mit allen: http://www.gmx.net/de/go/multimessenger01 --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned: - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama - DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
