Aaa, iko ciek ado artikel mangnaia Ukiran Minang dari arsip Tempo 1978.
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1978/05/13/KBD/mbm.19780513.\
KBD71725.id.html

Ayah ambo (almarhum) panah bacarito, nan bahaso dalam tahun 1926  maso
Bulando, Ukiran dari Kampuang awak lah dibawo ka pameran di Kota Paris
dan dalam pameran tu ditagakkan Rumah Gadang.  Urang Kampuang dan ayah
ambo manyabuikkan rumah Gadang tu "Rumah Gadang Koto Parih".  Kini ambo
baru dapek sumber baritano saketek.

Malin Kuning, seorang tukang ukir yang kini [MakNgah: aratinyo  31 tahun
nan lalu wakatu artikel ko dituluih] berusia 75 tahun     (ayah Abizar)
pernah dikagumi di Paris. Pemerintah Belanda     mengirimkan ukirannya
untuk menghias paviliun Hindia Belanda di     Pekan Raya Paris tahun
1926. "Paviliun yang diukir ayah saya itu     ditentukan sebagai juara
umum," kata Abizar.

Untuak nan indak dapek maakses website tu, langkoknyo dikopi dibawah ko.

Salam,
--MakNgah

Sjamsir Sjarif

Kebangkitan ukiran dan datuk Ukiran minang dikembangkan lagi sejak
gubernur sum-bar harun    zain melemparkan ide memugar istana paga
ruyung 10 thn yang    lalu. keahlian dari desa padang magek, menyebar ke
iv angkat    dan pandai sikat.(kbd) UKIRAN Minang tidak mengenal bentuk
benda kecuali bunga," ujar     Abizar Angku Mudo, seorang pengukir muda
(35 tahun) dari IV     Angkat Candung, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.
Ini menjelaskan     selisih antara gaya Minang, khususnya dalam ukiran
rumah adat,     dengan gaya daerah lain. Sekaligus memaparkan juga bahwa
seni     ukir tidaklah hanya dimonopoli Jepara dan Bali.

Memang adakalanya kita menemukan bentuk-bentuk spiral yang     memberi
asosiasi seperti pucuk bambu, kucing tidur, daun paku     atau
benda-benda lain. Tetapi menurut Abizar, itu tidak     disengaja.
Mengarah-arah memang ada. Benda-benda itu sendiri     memang ada kalanya
menjadi sumber, tetapi kemudian dikembangkan     secara bebas dengan
fantasi. "Makin kawakan pengukirnya, makin     tinggi imajinasinya,"
kata Pakiah Batuah, pengukir dari Pariaman     Tanah Datar yang sudah
berusia 65 tahun.

Falsafah hidup orang Minang tersimpul dalam ungkapan 'Alam    
terkembang jadikan guru'. Manifestasi sikap ini tidak hanya     tampak
pada kegiatan sehari-hari, tetapi juga pada nafas     ukiran. Pendekatan
pada alam jelas terlihat pada motif ukiran     seperti jala terserak,
kelelawar bergayut, sayik gelamai alias     potongan dodol. Tetapi
semuanya menolak bentuk asli.

Tidak diketahui kapan tradisi mengukir itu menyembul. Pada     mulanya
adalah Padang Magek, sebuah desa 13 km di sebelah     tenggara kota
kecil Batusangkar, ibukota Kabupaten Tanah Datar.     Itu daerah yang
jadi pusat kebudayaan Minang. Di zaman lampau     hampir semua rumah
gadang para bangsawan Minang memiliki ukiran.     Dinding, tiang, atap
yang berbentuk tanduk kerbau, disentuh oleh     para dedengkot dari
Padang Magek.

Kini di Padang Magek sendiri pengukir sulit didapatkan. Tapi     para
seniman dari IV Angkat dan Pandai Sikat menyebut daerah itu     sebagai
guru mereka. Adapun kemunduran seni ukir, juga di sini,     terutama
disebabkan oleh amukan atap seng yang menggantikan     ijuk. Apalagi
rumah gadang makin tidak disukai, karena orang     merasa lebih nyaman
dengan rumah gedung. Keahlian pun menjadi     susut karena kurang
keriaan. Sayang ya.

Tetapi 10 tahun terakhir ini, dunia ukir di situ beringas lagi.     Ini
gara-gara Gubernur Harun Zain -- sekarang Menteri Nakertrans     --
geregetan. Ia melemparkan ide untuk menegakkan kembali Istana    
Pagarruyung. Bangunan istana yang mencontoh istana asli yang    
terbakar kira-kira 50 tahun silam itu akan diselimuti ukiran.    
Sementara ini, gedung Museum Sumatera Barat di lapangan Tugu     Padang,
sudah merupakan contoh permulaan kebangkitan seni ukir.     Maka
tukang-tukang ukir itu mulai dapat pasaran lagi. Terutama     waktu
sebuah rumah gadang didirikan di Taman Mini Jakarta --     dan para
pengukir dari Candung beruntung dipaketkan ke Ibukota.

Cobalah sekarang jalan-jalan ke Padang ukiran sudah ditempelkan    
kembali di beberapa buah kantor dan rumah pribadi. Ini juga     terlihat
di daerah Solok misalnya. Abizar menyebutkan bahwa     dalam berbagai
ukiran tersebut meruap bau lain yang disebut     motif "minang baru".
Ini merubah gaya tradisionil: kelok paku     pengukir suka menempelkan
bunga-bunga dengan bentuk yang jelas.     "Itu tidak pernah dikenal
dalam ukiran Minang asli," kata     Abizar. Sementara ini dapat
dikabarkan bahwa para pengikut     aliran Candung menolak gaya tersebut,
meskipun untuk pesanan.

Tanah Kewi

Umumnya kayu yang dipakai jenis surian, yang sedikitnya mampu    
bertahan 50 tahun. Harganya membubung sekarang -- dan karena itu    
amat menguntungkan rakyat pedesaan. Sudah sejak dahulu surian    
merupakan penghuni kebun-kebun rakyat. Ia memerlukan sinar     matahari
selama 3 bulan sebelum siap diukir. Para pengukir sudah     terbiasa
membuat ukiran yang pas dengan rumah -- sehingga tidak     diperlukan
pemotongan dalam pemasangan. Untuk itu sedikitnya     diperlukan 3 bulan
untuk mempersiapkan.

Ukiran Minang mengenal warna-warni lokal. Tidak mempergunakan     cat
biasa. Ada semacam tanah liat yang disebut kewi, yang amat     langka
dan sulit didapat. "Tanah kewi tersimpan dalam bongkah     batu," kata
seorang pengukir. Mencarinya sungguh merupakan     kerjaan -- apalagi
tidak dikenal tradisi jual-beli kewi. "Kami     harus mencari sendiri.
Tidak mengenal pinjam dan meminta sesama     pemahat," kata Abizar.
Apalagi kewi itu masih harus diramu,     diproses lagi sebelum
melahirkan warna. Jadi sama sekali tidak     dipergunakan bahan-bahan
kimiawi model toko.

Juga, tidak ada tarif resmi untuk ukiran. Yang ada adalah:     "siapa
yang mengukir?" Nah, di situ sudah terbayang harganya.     Tapi sebagai
gambaran kasar, harga ukiran per meter bujur     sangkar sebenarnya bisa
ditaksir antara Rp 10 ribu sampai Rp 20     ribu. Termasuk ongkos
pasang. Ada juga yang dijual per pintu. Di     Candung, sebuah ukiran
untuk pintu bisa mencapai Rp 68 ribu. Di     Pantai Sikat bisa lebih
murah.

Yang tidak boleh dilupakan, para pengukir Minang -- sebagaimana     juga
tukang ukir Bali umumnya -- kebanyakan petani. Mereka tidak     suka
memforsir tenaga hanya untuk mengukir. Cinta mereka pada     tanah boleh
mengharukan -- sehingga meski pendapatan sebagai     petani tidak lebih
besar dari pendapatan seorang tukang ukir,     mereka tidak mau
melepaskan tanah. Dengan mudah mereka mengupah     seseorang untuk
mengerjakan tanah selama mereka mengukir. Tapi     hal tersebut tidak
dilakukan. Kenapa? "Untuk menghindari     kejenuhan dan pula untuk
mendapat inspirasi," kata Angku Mudo.     Bisa saja.

Identitas Kaum

Mereka juga tidak begitu memusingkan apakah mereka tergolong     seniman
atau tukang. "Terserah saja," kata yang muda seperti     Abizar maupun
yang tua seperti Pakiah Batu. Yang jelas ada pola     tertentu dalarn
kehidupan ukiran yang memungkinkan setiap orang     dapat mempelajarinya
asal berbakat. Pola tersebut, hampir sama     kuatnya dengan adat
Minang, tak suka dikhinati. Mereka     menganggapnya sebagai warisan
guru, sehingga mereka tidak setuju     untuk dirubah.

Malin Kuning, seorang tukang ukir yang kini berusia 75 tahun     (ayah
Abizar) pernah dikagumi di Paris. Pemerintah Belanda     mengirimkan
ukirannya untuk menghias paviliun Hindia Belanda di     Pekan Raya Paris
tahun 1926. "Paviliun yang diukir ayah saya itu     ditentukan sebagai
juara umum," kata Abizar. Tetapi Malin tidak     dapat apa-apa, karena
hadiah diberikan kepada Pemerintah     Belanda. Ia hanya mendapat piagam
penghargaan dari gubernemen     yang tak ada hubungannya dengan Pekan
Raya tersebut.

Malin sekarang masih mampu melukis, walau kesibukannya yang     utama
adalah memberi petunjuk. Ia seorang jagoan ukir yang tetap     dihormati
karena kehalusan tangannya -- satu hal yang tampaknya     ngebet hendak
diwarisi Abizar. Ini menunjukkan betapa nama     manusia di belakang
ukiran itu amat diperhitungkan -- walau tak     dicantumkan di situ. Dan
itu juga terjadi pada diri Pakiah     Batuah -- yang dalam usianya yang
ke-65 tahun juga selalu     diburu-buru kerjaan sekarang. Setiap pesanan
biasanya diberi     catatan: Pakiah Batuah yang harus mengerjakan dengan
tangan     sendiri.

Perhatian orang pada ukiran sudah tentu karena setiap orang kini    
sedang suka menggali identitas kaum. Bukan sekedar membangun     rumah
gadang, tapi membangkitkan kembali pusaka leluhur. Di     beberapa
daerah di Sumatera Barat, akan kurang terpandang satu     kaum yang
punya gelar datuk tanpa memiliki rumah gadang. Dan     rumah gadang yang
lebih menarik adalah rumah gadang yang penuh     ukiran bagus, anda
tahu.



--- In [email protected], "hambociek" <hamboc...@...> wrote:
>
>
> Samantaro mancari info tu, caliaklah Website Bukittinggi - Payokumbuah
> ko, tampak gambar Jembatan Ratapain Ibu bagai.
>
> http://www.leidenuniv.nl/fsw/nas/pub_smallTownSymbolism.htm
> Salam,
>
> --MakNgah
> --- In [email protected], "Muljadi Ali Basjah" muljadi@
> wrote:
> >
> >
> > Ass.Wr.Wb. Bapak Nofiardi , Ibu2 dan Bapak2 Padang Ekspres, ummaik
> RN di Palanta.
> >
> > Mambaco,artikel "seni ukia maukia dari Canduang 4-Angkek Kiktenggi"
> iko, takana diambo dek Paukia dari Canduang nan ditahun 50-an dibao
> Perancis mamamerkan kasantiang Baliau di pameran Kota Paris mangenai
> ukiaran jo namo/arati ukia2ran Rumah Gadang Minangkabau.
> > Koq ambo indak salah ingek, Alm. Bapak (Sutan) Sati gala Inyiak
> Sati,sifaik baliau pariang hati sangaik.
> > Apo ado eloknyo urang awak nan di (KBRI) Paris (Perancis) manyari
> barito tantang iko, sarato gambar2nyo.
> > Supayo bisa malestarikan turismus plus Seni ukia maukia, di SumBar.
> >
> > Mudah2an bahasia dan baguno, ota ambo.
> >
> > Wassalam,
> > Muljadi,German
> > -------- Original-Nachricht --------
> > > Datum: Tue, 3 Feb 2009 15:41:58 +0700
> > > Von: "Nofiardi" Nofiardi@
> > > An: [email protected]
> > > CC: "Eddi Jamar" eddijamar@, "Akmal" akmal@
> > > Betreff: [...@ntau-net] Pelestarian Seni Ukir di Candung, Tetap
> Banjir Order di Tengah Krisis
> >
> > > Pelestarian Seni Ukir di Candung, Tetap Banjir Order di Tengah
Krisis
> > >
> > >
> > > Selasa, 03 Februari 2009
> > >
> > > Tingkah bunyi palu dan pahat membelah dinginnya udara sore.



--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke