Waalaikumsalam w.w. Sanak Augi, Tentu saja Swiss - yang sudah lama membangun -- mempunyai sarana yang jauh lebih lengkap. Namun, dengan pembangunan infrastrukturnya secara terencana, tidak usah terlalu mewah, kawasan wisata Danau di Atas bisa merupakan Genevanya Sumatera Barat, atau samacam 'Shangri-La' untuk 'lari' dari kehidupan kota yang sudah demikian terpolusi dan hiruk pikuk..
Saya baru saja mencari jenis pesawat penumpang amfibi yang bisa mendarat di danau ini. Bertemu antara lain pesawat Be-200 buatan Rusia, dengan dua mesin jet, yang juga dapat digunakan untuk pemadam kebakaran. Silakan dilihat di YouTube. Hebat sekali. Dengan mempergunakan pesawat ini, kelihatannya mungkin dapat diadakan penerbangan langsung antara Changi - Danau di Atas, dan Bandara Sukarno Hatta ke Danau di Atas. Dalam tempo satu setengah jam sudah sampai di 'surga dunia' ini. Wassalam, Saafroedin Bahar (L, masuk 72 th, Jakarta; Tanjuang, Soetan Madjolelo) "Basuku ka Ibu; banasab ka Bapak; basako ka Mamak". Alternate e-mail address: [email protected]; [email protected] ________________________________ From: Augi Jusri Djalaluddin <[email protected]> To: [email protected] Sent: Thursday, February 12, 2009 10:40:05 AM Subject: [...@ntau-net] Re: Kawasan Wisata Danau di Atas, Genevanya Sumatera Barat Waalaikum Salam W.W. Saya perhatikan Infrastruktur di Swiss sudah lengkap; Listrik, jalan dan drainasenya, kereta listrik dan aliran darah ekonomi perbankan. Perbankan yang cocok di Sumbar, Perbankan Syariah yang bebas interest, riba. Ekonomi dan Pariwisata saling bertaut menjadi wilayah yang makmur. Danau Atas dan Dibawah apabila dihubungkan dengan terowongan akan berpotensi menghasilkan energi listrik, PLTA dengan turbin pelton, turbin dengan head tinggi. Water is energy, halaman 70-75 http://www.enbw.com/content/en/group/_media/_pdf/water_is_energy.pdf Semoga Berguna. Wallahu Alam B. Wassalamu Alaikum W.W. A U G I JD augispot.blogspot.com 2009/2/12 Dr.Saafroedin BAHAR <[email protected]>: > Assalamualaikum w.w. para sanak sa palanta, > > Sudah lama saya ingin mengunjungi daerah sebelah selatan Solok, yang saya > dengar sangat indah, khususnya tentang danau kembar Danau di Atas dan Danau > di Bawah, Demikianlah, kesempatan datang sewaktu Bupati Solok Selatan > Syafrizal mengundang saya sebagai penceramah pada Seminar "Pemerintah > Darurat Republik Indonesia (PDRI) dan Posisi Solok Selatan dalam Pentas > Sejarah Mempertahankan Kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia" yang > diadakan di ibu kota kabupaten, Padang Aro, pada tanggal 10-11 Februari > 2009. > > Tentu saja saya senang sekali menerima undangan tersebut, oleh karena secara > pribadi saya memang lumayan intensif terlibat dalam kajian mengenai PDRI > ini, baik dalam rangka mempersiapkan disertasi saya (1996, UGM), maupun > sebagai ketua umum "Perhimpunan Kekerabatan Nusantara" (PKN) yaitu paguyuban > kaum keluarga tokoh-tokoh PDRI. Dalam posisi itu saya telah mendorong tiga > sejarawan -- Amrin Imran, Saleh D Djamhari, dan J.R.. Chaniago -- untuk > menulis buku tentang PDRI, menerbitkannya, serta meluncurkannya di Istana > Wakil Presiden pada tahun 2003. Berikut ini kisah ringan perjalanan saya > selama dua hari itu, khususnya mengenai lokasi wisata di pinggir Danau di > Atas, serta kunjungan saya ke lokasi bangunan-bangunan bersejarah PDRI di > Bidar Alam. > > Sungguh, saya amat terpesona oleh kawasan wisata di Danau di Atas, hanya 65 > km dari Padang dan dapat dicapai dalam dua jam saja dari bandara BIM. Tak > lebih lama jika kita berkenderaan dari bandara BIM ke Bukit Tinggi. Seperti > biasa, pemandangan sepanjang jalan ke lokasi ini sungguh indah,benar-benar > ijau royo-royo. Saya melihat demikian banyak hutan, bukit dan jurang, kebun > lobak, kebun teh, rangkaian kios penjual buah markisa, rumah-rumah rakyat > yang terlihat bersih dan rapi, serta kota kecil Muaro Labuah dan Alahan > Panjang. Bukan main. > > Kawasan wisata Danau di Atas ini dibangun semasa Bupati Gamawan Fauzi, dan > dikelola oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Solok. Kawasan ini > terdiri sebuah convention hall yang bisa memuat 1.500 orang, yang sewanya > relatif murah, yaitu antara Rp 150.000,- sehari untuk keperluan sosial dan > Rp 300.000 - Rp 400.000,- untuk keperluan komersial. Untuk akomodasi ada dua > unit villa yang cantik dengan tarif Rp 255.000,- per malam per unit atau Rp > 75.000 per kamar per malam; lima unit cottages yang terbuat dari batu > tembok; dua unit cottages yang terbuat dari kayu; dan satu unit penginapan > dengan enam kamar. Seluruh kamar mempunyai tarif yang sama, yaitu Rp. > 75.000,- per kamar -- benar, tujuh puluh lima ribu rupiah -- per malam, > dengan fasilitas tempat tidur dua bed, air panas, televisi, lemari pakaian, > dan tentu saja kamar mandi dan toilet. Seluruhnya terawat baik. Menurut > pengelolanya, seluruhnya bisa menampung 100 orang. > > Sudah tentu saya tercengang dengan keterangan tentang penginapan ini: jika > convention hall-nya bisa memuat 1.500 orang, tetapi penginapannya hanya bisa > memuat 100 orang saja, dimana yang 1.400 orang lainnya itu akan menginap? > Apa akan diantar jemput ke Padang, atau Solok ?. Tapi jika dipikir-pikir, > ini juga peluang bisnis baru, untuk PHRI dan ASITA. Bagaimana pak Aim dan > bung Ridwan? > > Seluruh kawasan ini didukung oleh sebuah gedung kafetaria yang lumayan bagus > [walau agak kurang terawat], sebuah mushalla yang cantik, dermaga, serta > sebuah gazebo. > > Namun yang naudzubillah cantiknya adalah pemandangan alam danaunya, yang > langsung mengingatkan saya pada danau di Geneva: luas, tenang, bersih, > banyak pohon pinus, dengan suhu udara 20 derajat celcius (!). Ini kan sama > dengan iklim sub tropis di Eropa Barat, atau di Amerika Serikat. Tidak > puas-puasnya saya melihat dan memotret pemandangan yang menyakjubkan itu. > Hanya sayangnya, yang ada di kawasan wisata itu memang hanya bangunan dan > pemandangan alam saja. Tidak acara, tidak ada perahu, tidak ada jetsky, > tidak ada pemandu wisata, tidak ada restoran Sate Syukur, restoran Mak dan > Aia Badarun, tidak ada fasilitas internet, tapi -- baiknya -- juga tidak ada > preman. Alhamdulillah. > > Terkesan dengan keindahan alam tersebut, sewaktu berbicara liwat tilpon > dengan Bp H. Azaly Djohan S.H. Ketua Umum Sekretariat Nasional Masyarakat > Hukum Adat (Setnas MHA) dan Bp Achmadsyah Harrofie SH MH dari Lembaga Adat > Rumpun Melayu se Sumatera (LARMS), saya menyarankan agar rapat Setnas MHA > dan LARMS berikutnya diadakan di lokasi wisata Danau di Atas ini. Pada > prinsipnya beliau-beliau setuju, setelah rapat yang akan datang, yang sudah > diputuskan diadakan di Palembang, Sumatera Selatan. Sekali lagi, > Alhamdulillah. > > Disana saya mengkhayal: alangkah yahudnya bila Pemerintah Kabupaten Solok -- > atau investor -- membeli dan menyewakan beberapa buah jetsky untuk menarik > para wisatawan datang ke lokasi ini. Harga jetsky tak mahal-mahal amat. Kan > ada hukum ekonomi yang berbunyi : supply creates its own demand ? Saya > diberi tahu oleh bung Masril S.Sos -- HP nomor 0813 7404 3740 -- yang > mengelola kawasan ini bahwa seorang wisatawan pernah membawa sendiri > jetsky-nya ke danau ini, yang kemudian dibawanya kembali. [Saya bertanya > dalam hati, mengapa tak disumbangkannya saja -- atau disewakannya -- kepada > Pemerintah Daerah Solok ?]. > > Lebih dari itu, saya juga mengkhayal adanya air shuttle service dengan > pesawat amfibi antara bandara BIM dengan lokasi wisata ini, yang saya yakin > tidak akan begitu jauh jika ditarik garis langsung. Saya pernah membaca > iklan pelayanan sejenis di pulau Bali. Atau penerbangan langsung dengan > pesawat amfibi dari Singapura ke Danau di Atas ini.[Ha, ini peluang bisnis > baru untuk Sumatera Barat]. Lokasi wisata ini bisa dilengkapi dengan golf > course atau health spa, atau semacam perkampungan untuk orang-orang tua > pensiunan. [Saya pernah melihat perkampungan seperti di Meadows Lake, dekat > kampus saya dulu di Princeton University, Princeton, N.J. USA.]. > > Sampai di sini dulu, nanti kepanjangan. Cerita tentang monumen-monumen PDRI > di Bidar Alam menyusul. > > Wassalam, > Saafroedin Bahar > (L, masuk 72 th, Jakarta; Tanjuang, Soetan Madjolelo) > "Basuku ka Ibu; banasab ka Bapak; basako ka Mamak". > Alternate e-mail address: [email protected]; > [email protected] > > > --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned: - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama - DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
