Mak Ngah, He he, Mak Ngah. tadi garah ambo tu nyo. Maso pulo urang kasalapauannyo--ko lapau gadang ko--ka Mak Ngah balian lo buku tu. Tapi rancak dibaco Mak Ngah. Pendekatan Jeffrey iyo agak lain dari nan biaso. Sanjungan "unusual" dek Amazon tu bukan balabiahan, ambo kiro. Eh...kok Mak Ngah terjemahan buku tu baa? Sambia duduak terjemahan gak salai sahari. Iko alamat email jeffrey Hadler di Berkeley: [email protected]. Yth. Pak Saaf, cari2lah dana jo penerjemah. Ambo kiro buku ko rancak pulo diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Apolai sadang angek, co bika baru kalua dari parapian. Terbitnyo buku ko manunjuak'an bahaso budaya dan sistem kekeluargaan (kinship) Minangkabau tetap menarik pagi peneliti (asing). Jeffrey adolah generasi baru Indonesianis yang tertarik jo Minangkabau, mengikuti para seniornyo—P.E. de Josselin de Jong, Franz von Benda-Beckmann, Els Postel-Coster, Christine Dobbin, Elizabeth E. Graves, Joel S. Kahn, Tsuyoshi Kato, Jane A. Drakard, Joke van Reenen, Peggy Reeves Sanday, Marcell Vellinga, untuk sekedar menabuik babarapo namo. Ambo yakin akan ado generasi baru nan tertarik untuak manaliti Minangkabau nantik. Wassalam, Suryadi Wassalam, Suryadi
--- Pada Jum, 13/2/09, hambociek <[email protected]> menulis: Dari: hambociek <[email protected]> Topik: [...@ntau-net] Re: Informasi snek,mudah2an lai ka bamanfaaik dek urang banyak Kepada: [email protected] Tanggal: Jumat, 13 Februari, 2009, 6:12 PM Ado di Amazon, sakaranjang lo haragonyo; dicari di library nanti. --MakNgah Muslims and Matriarchs By Jeffrey Alan Hadler Buy this book Amazon.com Barnes&Noble.com - $39.95 Books-A-Million Borders - $39.95 IndieBound Google Product Search Borrow this book Find this book in a library Muslims and Matriarchs is a history of an unusual, probably heretical, and ultimately resilient cultural system. The Minangkabau culture of West Sumatra, Indonesia, is well known as the world's largest matrilineal culture; Minangkabau people are also Muslim and famous for their piety. In this book, Jeffrey Hadler examines the changing ideas of home and family in Minangkabau from the late eighteenth century to the 1930s. Minangkabau has experienced a sustained and sometimes violent debate between Muslim reformists and preservers of indigenous culture. During a protracted and bloody civil war of the early nineteenth century, neo-Wahhabi reformists sought to replace the matriarchate with a society modeled on that of the Prophet Muhammad. In capitulating, the reformists formulated an uneasy truce that sought to find a balance between Islamic law and local custom. With the incorporation of highland West Sumatra into the Dutch empire in the aftermath of this war, the colonial state entered an ongoing conversation. These existing tensions between colonial ideas of progress, Islamic reformism, and local custom ultimately strengthened the matriarchate. The ferment generated by the trinity of oppositions created social conditions that account for the disproportionately large number of Minangkabau leaders in Indonesian politics across the twentieth century. The endurance of the matriarchate is testimony to the fortitude of local tradition, the unexpected flexibility of reformist Islam, and the ultimate weakness of colonialism. Muslims and Matriarchs is particularly timely in that it describes a society that experienced a neo-Wahhabi jihad and an extended period of Western occupation but remained intellectually and theologically flexible and diverse. More details Muslims and Matriarchs: Cultural Resilience in Indonesia Through Jihad and Colonialism By Jeffrey Alan Hadler Edition: illustrated Published by Cornell University Press, 2008 ISBN 080144697X, 9780801446979 248 pages Add to my shared library Write review About Google Book Search - Book Search Blog - Information for Publishers - Provide Feedback - Google Home ©2009 Google --- In [email protected], Lies Suryadi <niadil...@...> wrote: > > > Sekedar informasi ka Dunsanak di 'lapau', > > Baru terbit buku MUSLIMS AND MATRIARCHS: CULTURAL RESILIENCE IN INDONESIA THROUGH JIHAD AND COLONIALISM (MUSLIM DAN MASYARAKAT MATRIARKAL: KELENTURAN BUDAYA DI INDONESIA MELALUI JIHAD DAN KOLONIALISME) oleh Jeffrey Hadler (Cornell University Press, 2008). Buku ini adalah rekam jejak historis yang penting yang menggambarkan bagaimana resistensi sistem matriarkat Minangkabau melawan gempuran dua ideologi asing yang ingin cencederainya di abad2 yang lalu: Islam dan kolonialisme Belanda. > > Ruang lingkup bahasan buku ini adakah perubahan sosial-budaya dan politik Minangkabau pada akhir abad ke-18 sampai tahun 1930-an ketika sistem matriarkat Minangkabau digojlok habis2an oleh dua ideologi besar yang datang dari luar tersebut. > > Jeffrey memotret dengan sangat jeli bagaimana ideologi Islam dan kolonialisme yang patriarkal mencoba mempengaruhi dan mengintervensi ranah publik dan domestik masyarakat Minangkabau (maaf, jangan lagi ditulis 'Minang Kabau', malu awak) yang membuat konseptualisasi rumah (house) dan keluarga (family) terus-menerus menjadi pokok perdebatan di kalangan intelektual Minangkabau pada sepanjang paruh kedua abad ke-19 sampai awal abad ke-20. > > Saya baru tahu bahwa pada zaman Belanda pernah dikeluarkan kebijakan kepada penduduk di darek agar membuat tungku rumah di luar rumah gadang. Masalahnya, Pemerintah Kolonial sering mendapatkan banyak rumah gadang terbakar habis karena ulah tungku yang ada dalam rumah gadang itu yang percikan apinya sering menimbulkan kebakaran (rumah kadang kalau tabaka badaruak dimakan api). Kadang2 kebakaran terjadi pada malam hari karena seluruh api di tungku lupa dipadamkan. Inilah antara lain bentuk intervensi kolonialisme, kata Jeffrey, ke wilayah domestik keluarga Minangkabau. Tentu banyak aspek lain yang menunjukkan intervensi kolonialisme ke dalam ranah publik dan domestik masyarakat Minangkabau yang dibahas Jeffrey dalam buku ini. > > Jeffrey banyak menggunakan sumber2 bribumi--koran2 tua, majalah, pamflet, dan....teks2 schoolschriften yang ditulis oleh mantan siswa2 Sekolah Radja di Fort de Kock yang kini tersimpan rapi di Perpustakaan Universtas Leiden yang sebelum ini jarang dijamah dan digunakan oleh para peneliti lain. > > Mak Ngah jo Ajo Duta, cubolah cari buku tu di toko buku salabah rumah. Baco dek Mak Ngah jo Ajo Duta, caritoan ka kami di lapau ko, nak batambah2 lo pangatahuan kami. Kalau indak, kiriman kami ciek sorang buku tu, he he. Dek buku tu tabik di Negeri paman Obama, tantu mudah dek Mak Ngah jo Ajo Duta mandapek'annyo. > > Insya Allah resensi buku ko ka kalua di Kompas, supayo kito basamo dapek mangatahui isinyo salinteh. Kito tunggu sajo (biasonyo di Kompas Akaik). > > > Wassalam, > Suryadi > Pemerintahan yang jujur & bersih? Mungkin nggak ya? Temukan jawabannya di Yahoo! Answers! http://id.answers.yahoo.com --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned: - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama - DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
