Pak Nofrins,

Mumpung takana, jan lupo supayo diadokan tambahan program KA Wisata, dari Solok 
disambuang naiak bus ke kawasan wisata Danau di Ateh. Pasti yahud !

Tantu dilangkoki dulu fasilitasnyo, antaro lain olah raga aia, tilpon, dan 
sagalo nan paralu.
 
Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta; Tanjuang, Soetan Madjolelo)
"Basuku ka Ibu; banasab ka Bapak; basako ka Mamak".
Alternate e-mail address: [email protected];
[email protected]





________________________________
From: Nofend Marola <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Sunday, February 22, 2009 8:01:30 AM
Subject: [...@ntau-net] Tuuuit Tuuuit, Mak Itam Dinaiki Wartawan


Sabtu, 21 February 2009
Laporan Subandi dan Khairul Jasmi
SAWAHLUNTO- Mak Itam sudah basegeh. Gadang benar hatinya. Sebab, hari ini, 
Sabtu 21 Februari, Menteri Perhubungan dan Dirjen Pariwisata serta gubernur dan 
para wartawan akan menaikinya. Tuuiiit tuiiit, bergerak dari stasiun tua Padang 
Panjang menuju Sawahlunto, kota tambang yang bersejarah itu.
Jika roda Mak Itam bergerak dari stasiun Padang Panjang hari ini, maka sejarah 
baru mulai berjalan. Sebuah sejarah pariwisata yang akan memberi bunga indah 
sepanjang sisi Danau Singkarak.  Danau molek di jantung Ranah Minang.
Mak Itam adalah loko tua buatan Jerman tahun 1965 dan rel yang ia lintasi 
dibangun sekitar 110 tahun silam. Rel kereta yang membujur dari Padang ke 
Sawahlunto itu, adalah saksi sejarah dimulainya era industrialisasi di 
Minangkabau. Semakin nyata ketika Semen Padang dibangun sekitar 25 tahun 
kemudian. Rel yang sama adalah saksi bagi suka duka kehidupan rakyat di sini, 
ditindas, dihina. Saksi bagi kegigihan anak nagari membangun ekonominya. Juga 
cinta dan air mata! Rel itu dan keretanya, adalah insiprasi para sastrawan 
seperti Hamka, tatkala menulis novel, Tenggelemannya Kapal Van der Wijk

Hari Pers
Mak Itam “dikijok” oleh Ketua PWI Basril Basyar. “Untuk Hari Pers dan HUT PWI 
ke-63,” katanya, kemarin. Maka sejumlah wartawan pilihan akan naik rangkaian 
kereta itu bersama Menteri Perhubungan Jusman Syafei Djamal, didampingi Dirjen 
Pemasaran Departemen Pariwisata, Sapta Suhendar dan Gubernur Sumbar, Gamawan 
Fauzi beserta istri Vita Gamawan Fauzi, serta sejumlah tokoh pers lokal dan 
nasional.
Loko tua berwarna hitam legam itu, oleh orang Minang disebut ‘Mak Itam’ (mamak 
hitam) karena warnanya yang hitam. Sejarahnya di sini, sepanjang rel yang 
membentang dingin selama lebih dari seratus tahun. 
Kereta tua itu, seperti kain bugis yang tergadai. Lama di tangan orang, kini 
ditebus kembali. Maka Walikota Sawahlunto, Amran Nur, serius merawat Mak Itam 
nan manja itu.
Kebanggaan Amran kian bertambah, sebab pejabat penting mau menghabis-habiskan 
waktunya 4 jam di atas Mak Itam dari Padang Panjang menuju Sawahlunto, kota 
Adinogero, wartawan Minang paling hebat sepanjang sejarah.

Hari ini pula, ‘Mak Itam’ resmi mulai beroperasi. Loko seri E.1060 buatan 
Jerman tahun 1965, dalam beberapa waktu belakangan ‘tidur’ di Stasiun Kampung 
Teleng Sawahlunto.
Meski ada acara HPN helatnya para wartawan, tapi dapat dipastikan, Mak Itam 
akan mencuri perhatian. HPN sendiri bakal dihadiri 
sekitar 300 orang wartawan lokal maupun nasional, juga 10 orang wartawan asing 
dan 10 orang artis nasional seperti Slamat Rahardjo, Christine Hakim dan 
kawan-kawan. Mereka juga naik kereta api dari Stasiun Padang Panjang menuju 
Sawahlunto.
Mak Itam sebelumnya beroperasi sebagai transportasi  pariwisata di Ambarawa, 
Semarang Jawa Tengah. Namun sejalan dengan gencarnya pemerintah daerah  
Sawahlunto mengembangkan pariwisata di daerah ini, Wako Amran sekitar 4 tahun 
silam mempunyai gagasan agar kereta uap yang dulunya beroperasi di Sawahlunto 
itu, diboyong kembali ke Sawahlunto.

Ternyata setelah melalui perjuangan panjang melobi pemerintah pusat  terutama 
menteri perhubungan dan pihak KAI (Kereta Api Indonesia), bahkan sampai-sampai 
Wapres Jusuf Kala ikut memfasilitasi. Maka 4 Desember lalu Mak Itam diboyong ke 
Sawahlunto, melalu jalan darat dengan kendaraan beroda banyak.
Tiba di Sawahlunto 13 Desember, selama perjalanan kendaraan yang menggendong 
Mak Itam itu mengalami pecah ban sebanyak 27 kali. Bukan itu saja, buntut Mak 
Itam pulang kampung, juga menuai perotes hebat warga Ambarawa dan Kota 
Semarang, DPRD dan sejumlah wartawan melarang Mak Itam pulang kampung, seperti 
diberitakan beberapa koran. Namun berkat penjelasan pihak KAI Semarang akhirnya 
mereka menyerah.
Menurut  Wako Amran, saat berbincang dengan Singgalang di Soto Urang Awak Muaro 
Kalaban beberapa awal Desember lalu, perjuangan penjang memulangkan Mak Itam 
itu, selain wujud cinta terhadap aset wisata yang berharga itu, ke depan kata 
dia dengan pulangnya  Mak Itam akan dapat mendongkrak kunjungan wisata ke 
Sawahlunto dan Sumatra Barat pada umumnya.
Kepulangan Mak Itam didukung sepenuhnya DPRD setempat terbukti biaya kepulangan 
Mak Itam itu telan biaya Rp200 juta lebih dibebankan ke APBD. 
Kendatipun mahal, kedatangan Mak Itam telah membangkitkan kembali kebanggaan 
warga Sawahlunto dan Sumatra Barat pada umumnya, bahkan  Mak Itam seolah 
memompakan darah segar, kisah lalu dengan sejuta cerita suka maupun duka.
Di samping peluncuran Mak Itam oleh Menhub, hari ini selama sepekan bertempat 
di Gedung Pusat Kebudayaan (GPK) Sawahlunto berlangsung pameran foto yang 
bertajuk Back to old Sawahlunto Train excitement (Kembali ke masa lalu), 
bekerjasama dengan Museum Kereta Api Sawahlunto, Museum Gudang Ransum dan 
PT.KAI  Bandung.

Batubara
Sejarah perkeretaapian di Sawahlunto berawal dengan ditemukan defosit batubara 
di Sawahlunto, maka pemerintah Hindia Belanda waktu itu membangun Pelabuhan 
Teluk Bayur (Emmahaven) Padang. Pembangunan rel kereta api dimulai dari Pulau 
Aie Padang - Padang Panjang selesai 12 Juli 1891. Lalu dilanjutkan Padang - 
Bikittinggi selesai 1 November 1891 terus ke Solok selesai 1 Juli 1892, Solok - 
Muaro Kalaban bersamaan dengan selesainya pembangunan rel Padang Teluk Bayur 1 
Oktober 1892.
Menurut Masinis Mak Itam  loko E 1060 Darwanto, 54, yang sekarang berada di 
Sawahlunto dia telah menjalankan kereta wisata itu selama 10 tahun dengan jarak 
tempuh 5 KM dari Stasiun Ambarawa menuju Stasiun Jambu. Selama dia operasikan 
lancar-lancar saja.
Hal senada juga dilontarkan kepala Dipo Stasiun Ambarawa,  Pudjiono, hanya saja 
ulasnya, pihaknya dalam waktu dekat minta pimpinan Museum KAI Sawahlunto untuk 
melatih masinis dan mikanik Mak Itam di Ambarawa untuk mengatasi kebocoran 
dengan mempergunakan las logam yang perlu pelatihan khusus.**
http://www.hariansinggalang.co.id/index.php?mod=detail_berita.php&id=437

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke