Assalamualaikum ww.
 
Maaf Angku Ricky Avenzora dan Ibu Hanifah , sato ambo sakaki dalam diskusi ko, 
mudah2an baguno dikito nan basamo . Ado 2 hal nan manariak hati ambo yaitu : 
Istilah datuak dan pepatah anak dipangku kamanakan dibimbiang, mudah2an indak 
batantangan jo palajajaran nan ditarimo dari kakeknyo angku RA .
Datuak bisa dilihat dari dua sudut : Datuak sebagai gala adolah fungsi dan 
tugas seseorang ditengah masyarakat khususnyo didalam kaumnyo . Nan kaduo Datuk 
dilihat dari struktur kepemimpinan didalam Suku , maka datuak itu adolah 
pangkat dan jabatan tertinggi didalam kaum minimal sebagai Pimpinan Jurai . 
Struktur kepemimpinan dalam Suku adolah ; Datuk, Sutan , Pakiah dan Malin ( 
Urang Nan 4 Jinih ) . Ingat : Suku babuah Paruik , Dalam Paruik ado ba Jurai , 
dalam Jurai ba Pariuak , artinya Suku terdiri dari beberapa Paruik, Paruik 
terdiri dari beberapa Jurai dan Jurai terdiri dari beberapa Pariuak .Unit 
terkecil yang dipimpin seorang Pangulu adolah Jurai . Semua orang yang bergelar 
Datuak , adalah orang pilihan terbaik, yang dituakan , nan Gadangnyo karano 
diamba, nan Tingginyo karano dianjuang , dipilih dan diangkat secara demokrasi 
murni ala Minangkabau . Maka masyarakat terbiasa mamanggil urang nan dituokan 
tu Datuak , baitu juo mamanggie kakek dengan
 datuak .
Anak dipangku kamanakan dibimbiang , ambo katokan sebagai dwi Fungsi setiap 
laki-laki di Minangkabau . Fungsi partamo sebagi Rang Sumando dirumah 
istrinya ( Kepala Keluarga ), tugasnya bertanggung jawab sepenuhnya atas nafkah 
dan pendidikan anaknya , fungsi kedua sebagai Mamak dirumah ibunya , membimbing 
kemenakan sebagai satu cara membuat Tabungan dihari tua , bagi setiap laki-laki 
. Lalu bagaimana caranya melaksanakan kedua fungsi itu ; Hari nan 7 dibagi duo 
: 5 hari pamangku anak , 2 hari pambimbiang kamanakan, menurut keyakinan 
saya tidak akan bertentangan dengan syariat Islam maupun tata kehidupan moderen 
orang beradab .
 
Sekian ulasan ambo atas materi nan didiskusikan angku RA dan Ibu Hanifah , 
mungkin indak basuo dinagari angku , sabab lain guru lain curahnyo, ambo baguru 
dinagari ambo di Baso dizaman kami ijok ka Desa dalam Agresi Belanda ke-2 tahun 
1948 - 1950. Apo nan ambo palajari didesa tu alah ambo bukukan dengan judul ; 
MAMBANGKIK BATANG TARANDAM , kini lah dijual ditoko buku Gunuang Agung dan 
Gramedia Jl. Kuwitang Jakarta . Kurang labiahnyo mohon dimaafkan .
 
Wassalam dari Inyiak Lako .
L -  73 thn. Suku Malayu , dari Baso , kini di Depok.
Duduak surang , basampik-sampik
Duduak basamo balapang-lapang
Kok singkek uleh mauleh
Kok kurang tukuak-manukuak

 
 

--- Pada Jum, 27/3/09, ricky avenzora <[email protected]> menulis:


Dari: ricky avenzora <[email protected]>
Topik: [...@ntau-net] SIMALAKAMA Re: PESAN DATUKNYA BUNG RICKY AVENZORA (RA)
Kepada: [email protected]
Tanggal: Jumat, 27 Maret, 2009, 5:27 PM






Dear Rangkayo Hanifah da Dunsanak RN Yang Mulia,

1. Terima kasih banyak atas perspektif Rankayo ka ambo. Bialah hamdalah ambo 
ucapkan dalam hati sajo, dan mohon ijinkan saya utk berbagi pesan ibu saya pada 
puluhan tahun lalu yang berbunyi "sabanyak urang sanang ka awak, mako ingeklah 
bahasonyo sabanyak itu pula urang nan indak suko". Setelah puluhan tahun 
mengunyah pesan itu, maka saat ini pada anak dan kemanakan pesan tersebut saya 
lengkapi menjadi " sebanyak orang suka pada kita, maka ingatlah bahwa saat itu 
sebanyak itu pula orang tidak suka pada kita,.....sehingga jangan bangga pada 
saat di puja dan jangan merasa terhina pada saat di hina,.....kalau merasa 
bangga akan sombong,....kalau merasa terhina akan timbul amarah,.......jika 
sombong dan marah maka akan lupa diri,....kalau lupa diri maka binasa".

2. Seperti yang pernah saya tuliskan pada posting terdahulu, ....dalam 
perjalanan saya "disuruh" dan "mencoba" mengunyah adat, maka saya telah 
berkesimpulan bahwa setiap pepatah minang ternyata ibarat PISAU BERMATA 
SEMBILAN. Sampainya saya pada kesimpulan tersebut (untuk diri pribadi tentunya) 
saya fikir sangat dipengaruhi oleh cara DATUAK saya (memang seorang PENGULU)  
dalam memperkenalkan adat kepada saya sejak kecil. Jika boleh saya sarikan, 
maka nampaknya sejak masih kecil beliau telah menuntun saya utk mengenal MAKNA 
dan RASA dari setiap elemen adat, .......termasuk kehebatan  PEPATAH 
.........yang secara pribadi saya simpulkan  sebagai PENGGANTI BUDAYA TULISAN. 

Saya yakin nenek moyang kita zaman dahulu bukan nya "bodoh" karena tidak 
mempunyai "budaya" tulisan,.....tetapi mereka secara sengaja untuk meninggalkan 
bekal pada anak cucunya dalam bentuk pepatah,.....sungguh suatu strategi 
pertahanan yang sangat cerdas.....ibarat bahasa sandi dalam era modern ini.. 
Jika dalam era modern orang memakai bahasa sandi secara tersembunyi, maka nenek 
moyang orang minang memakai bahasa sandi secara terbuka,.........mereka tidak 
takut sandi mereka diketahui oleh musuh karena mereka sangat yakin bahwa hanya 
"darah" yang mengalir di dalam badan anak cucu nya saja lah yang betul-betul 
akan mengetahui secara pasti apa strategi yang tersimpan di dalam sandi. 
Sungguh suatu kecerdasan yang luar biasa bukan? 

Dari hal ini lah kemudian KEKAGUMAN saya pada ADAT MINANG semakin tumbuh dan 
tumbuh,......sungguh luar biasa cerdasnya nenek moyang orang minang dalam 
menyiapkan anak cucu dan keturunan nya dalam menghadapi segala ancaman 
kehidupan yang terjadi sesuai perubahan jaman.  Dalam konteks kepentingan 
TERITORI KOMUNAL  (bukan kepentingan pribadi dan kelompok kecil) .........yg 
dlm tulisan terdahulu saya sebut sebagai kepentingan berbangsa dan 
bernegara............maka saya sangat yakin untuk mengatakan bahwa TIDAK ADA 
yang menandingi Adat Minang di dunia saat ini.....demikian juga dlm hal 
komprehensifitas aspek dan elemen kehidupan yang ditata......juga belum ada 
tandingannya.....teliti....rapi.....berlapis.......kuat dan saling menguatkan.

3. Berkaitan dengan permintaan Rangkayo ttg perspektif saya thd pepatah "anak 
dipangku kemanakan dibimbiang", maka saya merasa seperti mendapat buah 
SIMALAKAMA. Terlepas dari serius atau tidaknya Rangkayo meminta itu pada saya 
(krn saya merasa tidak dlm posisi dan tidak merasa pantas utk bercerita lebih 
panjang ttg hal di atas pada milis ini),......permintaan Rangkayo adalah 
simalakama....... jika tidak saya penuhi maka ibaratnya saya MENOLAK 
HAJAT,....sdgkan jika saya penuhi maka milis ini akan menjadi terlalu serius 
nantinya.....yaitu karena "tidak bisa" sepotong-sepotong. Kalau kita bercerita 
ttg adat sepotong-sepotong,....maka BISA SESAT orang dibuatnya.....nanti kulit 
buah bisa disangka biji,....sedangkan biji buah bisa disangka hanya tangkai 
busuk yang harus dibuang. Silahkan Rangkayo maknai dan nilai sendiri berbagai 
cara dan pola pemakaian pepatah oleh orang-orang selama ini. 

4. Jika memang ada ketertarikan Rangkayo ttg pengalamann pribadi saya tersebut 
dalam mengunyah adat dan agama,....maka barangkali kita bisa berbagi melalui 
jalur pribadi saja. Jika cara itupun yang Rangkayo akan tempuh, maka saya 
berharap kita bisa sepakat bhw : bermula dari kawan maka minimal harus berakhir 
sebagai kawan (berarti kita menjunjung tinggi silaturahim),........ tidak ada 
istilah guru dan murid (berarti kita sederajad), .......dan tidak boleh sakit 
hati (sebagai bukti sama-sama berputih hati dalam diskusi).  Dan, .....karena 
Rangkayo telah berkeluarga, maka tentunya proses berbagi "cara mengunyah" adat 
dan agama tersebut hendaknya atas sepengetahuan dan izin suami tercinta. 

5. Mudah-mudahan Rangkayo tidak berkecil hati, dan semoga segera pulih.

Salam hormat dan kenal untuk semua anggota keluarga.

Salam,
r.a.


--- On Fri, 3/27/09, hanifah daman <[email protected]> wrote:

From: hanifah daman <[email protected]>
Subject: [...@ntau-net] Re: PESAN DATUKNYA BUNG RICKY AVENZORA (RA)
To: "[email protected]" <[email protected]>
Cc: "[email protected]" <[email protected]>
Date: Friday, March 27, 2009, 5:43 AM


Assalammualaikum WR WB bung RA dan dunsanak sapalanta yth. Bung RA, biar sama
ttg istilah panggilan datuk. Di bengkulu dan di beberapa daerah lain di ranah
DATUK adalah panggilan untukkakek atau kakek2. Di daerah kami DATUK adalah
panggilan untuk penghulu kalau ndak salah. Berarti DATUK nya bung RA adalah
penghulu nampaknya. Tulisan bung RA telah menyentak banyak orang walau tdk
kelihatan di permukaan. Kelihatan tiga tungku sejarangan menyatu jadi satu pd
bung RA sehingga bung RA sudah bisa merasakan keindahan jangka pendek dan jangka
panjang adat minang. Mungkin cara yang mudah dulu petatah petitih yang diketahui
para pemangku adat di coba di maknai dan di kaitkan dengan ayat2 Alquran. Contoh
yang sederhana ttg petatah .. Anak di pangku kamanakan di bimbiang ... Kan
banyak orang ketika sudah mengurus negara, yang kecil seperti
 ngurus RT sudah
nggak mau lagi. Kami ingin tau kupasan pepatah tersebut di tangan bung RA. Wass.
Hanifah







      Terhubung langsung dengan banyak teman di blog dan situs pribadi Anda? 
Buat Pingbox terbaru Anda sekarang! http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke