Dear Inyiak Lako, Rangkayo Hanifah dan Dunsanak RN Yang Mulia, 1. Tarimo kasih banyak ateh pencerahan yang Inyiak sampaikan. Alhamdulillah, rasonyo lai indak babedo doch jo apo yang ambo dapek daulu.
2. Hingga saat ini saya masih belum mengerti di mana "ketertarikan" Rangkayo Hanifah dalam bertanya pada saya atas beberapa perspektif yang pernah saya sampaikan sebagai bahan berbagi cerita di RN ini Di satu sisi, dengan cara yang saya dapat tsb saya merasa kekurangan pengetahuan ttg adat dan agama,.....sehingga merasa "GANJIA SORANG AJO AWAK DIBUEK NYO" (merasa janggal pd diri sendiri di tengah pola yang umum dipakai), .....tapi di sisi lain (untuk diri sendiri tentunya ) saya merasa lebih mudah memahami persoalan adat dan agama itu. Jika secara pribadi boleh berkesimpulan, ....nampaknya cara yang dipakai oleh nenek dan kakek serta datuak2 saya dahulu adalah guna menuntun saya untuk menjembatani kias dan makna tersembunyi di dalam adat dan makna tersirat di dalam agama untuk bisa dilisankan dengan baik dan benar sesuai keadaaan alam pemikiran "anak jaman sekarang" yang maunya serba instan.....shg pesan bisa sampai dengan baik dan benar tanpa membuat orang sesat ....dan tanpa membuka rahasia sesuatu yang memang harus dirahasiakan. 3. Jika boleh berbagai cerita dan pengalaman atas tuntunan yang diberikan oleh kakek dan nenek (dari pihak ibu) serta datuak-datuak (saudara laki-2 nenek yang kebetulan memang Pengulu), maka dalam tuntunan yang beliau berikan pada saya pada masa kecil itu adalah dgn cara MEMPERAGAKAN. Suatu hari Datuak Uwo (saudara laki2 paling tua dari nenek) MENGGENDONG cucu beliau (anak dari anak perempuan beliau) DI TANGAN KANAN, dan MEMBIMBING saya di tangan kiri. Dengan posisi seperti itu beliau membawa kami memutari BALAI OKOAK (Pasar Sumaniak di hari Minngu). Masih teringat jelas betapa susah payahnya beliau saat itu membawa kami berdua,......namun di sisi lain beliau seperti merasa "sangat berbahagia dan bangga" pada kami berdua. Semasa kecil, dgn peragaan seperti itu.....maka saya menangkap bahwa pesan yang beliau ingin tunjukan adalah bahwa menjadi seorang laki-laki minang HARUSLAH KUAT (dalam segala hal),......karena BANYAK DAN BERAT TANGGUNG JAWAB nya. Satu hal lucu yang juga masih teringat saat ini,....dan masih terus saya coba kunyah untuk mencari maknanya adalah ketika kami berkeinginan untuk membeli sesuatu. Cucu beliau yang dalam gendongan (kebetulan usianya memang 5 tahun lebih kecik dari saya), .....sepertinya selalu mendapat kesempatan untuk MENUNJUK sesuatu yang kami inginkan (yg paling favorit adalah TABU BAKAREK),.....tetapi kemudian dalam proses selanjutnya saya lah yang selalu yang lebih dahulu mendapatkan apa yang kami inginkan itu. Dalam hal memaknai posisi (digendong dan dibimbing),....maka rasanya mudah saya pahami bahwa tentu sang penjual (yg dalam posisi berdagang dengan cara duduk) lebih mudah memberikan sesuatu yang kami tunjuk itu pada saya (yang memang berposisi berdiri) daripada kepada cucu beliau yang dalam posisi di gendong. Tapi dalam makna lain,...barangkali itulah "versi keadilan" beliau atas anak dan kemanakan. Dalam mengunyah kenangan masa kecil tersebut,....sampai saat ini saya masih belum menemukan makna mengapa beliau meletakan posisi cucunya di dalam gendongan tangan kanan, sedangkan saya di bimbing di tangan kiri. 5. Dalam kondisi sakit,....sebelum beliau wafat, Datuak Uwo (gelar Dt. Tunaro Bagindo) sengaja meminta dan "memaksa" anak-anak nya untuk bisa ke Jakarta. Ketika di Jakarta, beliau sengaja menemui ibu saya dan berbicara khusus berdua (kebetulan Ibu saya adalah kemanakan beliau tertua). Saat itu, beliau juga berbicara khusus pada saya (kebetulan saya adalah cucu paling tua pula),....diantara beberapa pesan beliau saat itu, maka yang berkaitan dengan anak dan kemanakan adalah : "lai takana dek Ricky wakatu datuak bao ka Balai Okoak,..........kana dan simpan elok-elok itu yo nak,.....dan pagadang itu menjadi ALIF-LAM-LAM-HA ALIF-KAF-BA-RA yo sayang". 4. Mudah2an kisah masa kecil saya tersebut (yg digelitik oleh pertanyaan-pertanyaan Rangkayo Hanifah) bisa menjadi sumber inspirasi bagi saya pribadi (dan kita semua, barangkali) untuk lebih mencintai dan menghormati orang tua serta nenek moyang, adat istiadat dan agama kita. Salam, r.a --- On Sat, 3/28/09, julius datuk <[email protected]> wrote: From: julius datuk <[email protected]> Subject: Bls: [...@ntau-net] SIMALAKAMA Re: PESAN DATUKNYA BUNG RICKY AVENZORA (RA) To: [email protected] Date: Saturday, March 28, 2009, 5:19 PM --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned: - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama - DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
