Tulisan sdr Kemal Anas , Cerita dari LP Anak ,membuat saya sangat terharu, dlm 
usia menjelang 8 thn cinta seorang anak yg begitu besar kepada sang ayah,si 
anak berusaha membalas dendam akan kematian ayahnya ,tanpa ia sadar akibat dari 
perbuatannya ,yg ia tahu hanya sedih karena kehilangan sosok sang ayah. 
Mudah2an LP tidak merusak pribadi sang anak, dan dengan kecerdasannya semoga ia 
tumbuh menjadi anak yang baik.  Amiiiiiinnnnn.

Wassalam
Dewi Mutiara

--- On Tue, 5/12/09, Kemal Anas <[email protected]> wrote:

From: Kemal Anas <[email protected]>
Subject: [...@ntau-net] Re: Cerita dari Lp Anak
To: [email protected]
Date: Tuesday, May 12, 2009, 4:07 AM


Dari mailis tetangga.

Pengalaman dari teman2 yang melayani di LP Tangerang

Terus
terang, meski sudah beberapa kali mengadakan penelitian Kriminal di LP,
pengalaman kali ini adalah pengalaman pertama saya ngobrol langsung
dengan seseorang yang didakwa kasus
pembunuhan berencana. Dengan jantung dag dig dug, pikiran saya
melayang-layang
mengira-ngira gambaran orang yang akan saya temui. Sudah terbayang muka
keji hanibal lecter, juga penjahat-penjahat berjenggot palsu ala
sinetron, dan gambaran-gambaran pembunuh berdarah dingin lain yang
sering saya temui di cerita TV.

Well, akhirnya setelah menunggu
sekian lama berharap-harap cemas, salah satu sipir membawa seorang anak
kehadapan saya.Yup, benar seorang anak berumur 8 tahun.
Tingginya
tidak lebih dari pinggang orang dewasa dengan wajah yang diliputi
senyum malu-malu. Matanya teduh dengan gerak-gerik yang sopan.

Saya
pun membaca berkas kasusnya yang diserahkan oleh sipir itu. Sebelum
masuk penjara ternyata ia adalah juara kelas di sekolahnya, juara
menggambar, jago bermain suling, juara mengaji dan azan di tingkat
kanak-kanak. Kemampuan berhitungnya lumayan menonjol. Bahkan dari balik
sekolah di dalam penjara pun nilai sekolahnya tercatat kedua terbesar
tingkat provinsi. Lantas kenapa ia sampai membunuh? Dengan rencana pula?

Kasus ini terjadi ketika Arif sebut saja nama anak ini begitu, belum
genap
berusia tujuh tahun. Ayahnya yang berdagang di sebuah pasar di daerah
bekasi, dihabisi kepala preman yang menguasai daerah itu. Latar
belakangnya karena si ayah enggan membayar uang 'keamanan' yang begitu
tinggi.. Berita ini rupanya sampai di telinga Arif. Malam esok harinya
setelah ayahnya dikebumikan
ia mendatangi tempat mangkal preman tersebut.. Bermodalkan pisau dapur ia 
menantang orang yang membunuh ayahnya.

'siapa yang bunuh ayah saya!' teriaknya kepada
 orang
yang ada di tempat itu.

'Gue terus kenapa?' ujar kepala preman yang membunuh ayahnya
sambil disambut gelak tawa di belakangnya.

Tanpa
banyak bicara anak kecil itu sambil melompat menghunuskan pisau ke
perut si preman. Dan tepat mengenai ulu hatinya, pria berbadan besar
itu jatuh tersungkur ke tanah. Arif pun langsung lari pulang ke rumah
setelahnya. Akhirnya selesai sholat subuh esok paginya ia digelandang
ke kantor polisi.

'Arif nih sering bikin repot petugas di Lapas!' ujar kepala lapas yang
ikut
menemani saya mewawancarai arif sambil tersenyum. Ternyata sejak di
penjara dua tahun lalu. Anak ini sudah tiga kali melarikan diri dari
selnya. Dan caranya pun menurut saya tergolong ajaib.

Pelarian
pertama dilakukannya dengan cara yang tak terpikirkan siapapun. Setiap
pagi sampah-sampah dari Lapas itu di jemput oleh mobil kebersihan.
Sadar akan hal ini, diam-diam Arif menyelinap ke dalam salah satu
kantung sampah. Hasilnya 1-0 untuk Arif. Ia berhasil keluar dari
penjara.

Pelarian
kedua lebih kreatif lagi. Anak yang doyan baca ini pernah membaca
artikel tentang fermentasi makanan tape (ingat loh waktu wawancara
usianya baru 8 tahun). Dari situ ia mendapat informasi bahwa tape
mengandung hawa panas yang bersifat destruktif terhadap benda keras.
Kebetulan pula di Lapas anak ini disediakan
tape uli dua kali dalam seminggu. Setiap disediakan tape, arif
selalu
berpuasa karena jatah tape itu dibalurkannya ke dinding tembok sel
tahanannya. Hasilnya setelah empat bulan, tembok penjara itu menjadi
lunak seperti tanah liat. Satu buah lubang berhasil dibuatnya.. 2-0 untuk arif. 
Ia keluar penjara ke dua
kalinya.

Pelarian ke tiganya dilakukan ala Mission Imposible. Arif yang ditugasi 
membersihkan kamar mandi
melihat ember sebagai sebuah solusi. Besi yang berfungsi sebagai
pegangan ember itu di simpannya di dalam kamarnya. Tahu bahwa dirinya
sudah
diawasi sangat ketat, Arif memilih tempat persembunyian paling
aman sebelum memutuskan untuk kabur. Ruang kepala Lapas menjadi
pilihannya. Alasannya jelas, karena tidak pernah satu pun penjaga
berani memeriksa ruangan ini.
Ketika tengah malam ia menyelinap
keluar dengan menggunakan besi pegangan ember untuk membuka pintu dan
gembok. Jangan tanya saya bagaimana caranya, pokoknya tahu-tahu ia
sudah di luar. 3-0 untuk Arif.

Lantas kenapa ia bisa tertangkap lagi?
Rupanya kepintaran itu masih berada di sebuah kepala bocah.
Pelarian-pelarianny
a didorong dari rasa kangennya terhadap ibunya. Anak ini keluar dari
penjara hanya untuk ke rumah sang ibunda tercinta. Jadi dari Lapas
tanggerang ia menumpang-numpang mobil omprengan dan juga berjalan kaki
sekian
kilometer dengan satu tujuan, pulang!

Karena itu pula pada pelarian Arif yang ketiga, kepala Lapas yang juga seorang 
ibu ini meminta anak buahnya untuk tidak segera
menjemput
Arif. Hasilnya dua hari kemudian Arif kembali lagi ke lapas sambil
membawa surat untuk kepala Lapas yang ditulisnya sendiri.

Ibu kepala Arif minta maaf, tapi Arif kangen sama ibu Arif. Tulisnya singkat.

Seorang anak cerdas yang harus terkurung dipenjara.
Tapi,
saya tidak lantas berpikir bahwa ia tidak benar-benar bersalah dan
harus dibebaskan. Bagaimanapun juga ia telah menghilangkan nyawa
seseorang. Tapi saya hanya berandai-andai jika saja, polisi bertindak
cepat menangkap pembunuh si ayah (secepat polisi menangkap si Arif)
pastinya saat ini anak pintar dan
rajin
itu tidak akan berada di tempat seperti ini. Dan kreativitasnya yang
tinggi itu bisa berguna untuk hal yang lain. Sayangnya si Arif itu cuma
anak pedagang sayur miskin sementara si preman yang dibunuhnya selalu
setia menyetor kepada pihak berwajib setempat. Itulah yang namanya
keadilan!
 
dikutip  dari the r.o.t.e.n.s
 














      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke