Dear Pak Kemal, Bu Dewi dan Majelis RN Yang Mulia, 1. Cerita yg disampaikan Pak Kemal telah mengingatkan saya kembali pada cerita sejenis yang dituturkan langsung oleh sang pelaku nya kepada saya belasan tahun yang lalu. Untuk memperkaya pengalaman melalui berbagi cerita dlm mencari hikmah kehidupan, maka tolong ijinkan saya utk menceritakan nya spt di bawah ini.
2. Suatu hari pada akhir tahun 1992 Orang Tua dari salah seorang mantan mahasiswa saya meminta untuk bisa bertemu dengan saya dengan cara mengundang saya datang ke rumah mereka di salah satu kota besar di Sulawesi Selatan. Pendek cerita, setelah berdebat panjang dengan anaknya yang selalu berusaha "meyakinkan" saya bhw orang tua nya benar-benar ingin bertemu dengan saya, maka seminggu kemudian berangkatlah saya menuju Sulawesi Selatan. Semua kebutuhan perjalanan saya mereka sediakan, dan di bandara UPG pun saya dijemput bak tamu agung bagi keluarga mereka. Pendek cerita, 4 jam kemudian sampailah saya di rumah mereka yg besar, indah dan asri. Rumah seorang bangsawan dan saudagar kaya yg sangat terpandang di sana. 3. Semua orang terlihat sangat menghormati Sang Puang Haji,.... seorang laki-laki tua 74 tahun yg terlihat tegap, sehat serta sangat berwibawa yang berjalan dengan yakin menggunakan tongkat putih nya kemana-mana. Beliau bugar, sehat wal afiat, ....kecuali (maaf) buta. 4. Saat pertama bertemu dgn Sang Puang Haji, terlihat pada roman mukanya suatu kegembiraan yang sangat luar biasa, termasuk juga pada cengrakaman tangan beliau saat menyalami saya dan memegang kedua pundak saya. "Puang Ricky.....puang Ricky....alhamdulillah Tuhan mempertemukan saya dgn Puang", itulah ucapan pertama beliau sambil menggenggam erat tangan dan pundak saya. "Ini Puang Ricky yang kita tunggu-tunggu,....guru si Punding, tapi Puang bagi kita semua", itu ucapan kedua beliau di hadapan sekian banyak anggota keluarga yg ada di sana. Punding adalah nama panggilan akrab utk anaknya yg pernah menjadi mahasiswa saya. Pendek cerita, saya menjadi sangat bingung dan "salah tingkah" sendiri atas segala penyambutan sang Puang Haji beserta keluarga besarnya yg terasa sangat hangat dan meletakan saya pada posisi tersebut pada usia saya yg sangat muda ketika itu. Setelah berjalan berkeliling ke sana kemari bersama beliau selama 3 hari, maka sampailah kami pada suatu acara duduk bersama pada malam terakhir saya di sana. Banyak kisah perjalanan hidup dan adat istiadat masyarakat Bugis yg beliau ceritakan, semua yg hadir menyimak dengan tekun semua yg disampaikan sang Puang Haji,....baik keluarga dan kerabat ataupun para murid mengaji beliau. Saya ikut menyimak semua ucapan beliau, namun entah mengapa sejak awal duduk bersama di dalam hati saya selalu ada satu pertanyaan, yaitu apa penyebab beliau buta. Si Punding pernah menceritakan bhw sang Puang Haji baru saja mengalami kebutaan 3 tahun yang lalu, tanpa sakit, tidak DM ...hanya tanpa sebab. Malam telah larut, tengah malam pun telah lewat. Lingkaran duduk yg besar telah menjadi mengecil karena 1-1 telah banyak yg pamit mundur utk beristirarahat, sehingga tinggal kami bertujuh, yaitu Puang, saya, Punding, dan 4 orang murid beliau yg berusia 50 thnan. Tiba-tiba Puang Haji berkata : "Puang Ricky, ...mengapa kita simpan pertanyaan di dada?". Uppppsss,....saya terkejut dan pucat pasi atas pertanyaan itu. Belum saya sempat mengendalikan diri, sang Puang Haji kembali berkata : "Ucapkanlah Puang, ....pertanyaan Puang itu yang saya tunggu-tunggu". Pendek cerita, dengan bermacam-macam alas kata dan kalimat, maka dgn rasa gemetar saya ucapkan juga pertanyaan di dada tsb : "Maaf Puang, entah mengapa di dada saya ada pertanyaan mengapa kiranya Puang mengalami kebutaan". Mendengar pertanyaan saya tersebut sang Puang mengatur duduknya, lalu mengangkat tangannya dan berdoa. Doa yg cukup panjang, yg teridiri dari beberapa surat pendek dan ayat-ayat tertentu dalam Al-Quran, .....beberapa diantaranya yang tertangkap oleh saya adalah Al-Ikhlas, Al-Falaq, An Nas, 7 "ayat tengah" dari Al-Kahfi, Ayat Qursy, dan beberapa ayat pertama dari Surat Al-Baqarah. Selama beliau membaca doa, perasaan saya berkecamuk. Takut, bingung, khawatir, ...sambil terus mencari arah doa beliau. Selesai berdoa, beliau mengarahkan kedua tangannya pada saya dan meminta saya duduk berhadap-hadapan dengan beliau. Kami mengatur duduk, sehingga saya duduk berhadapan dgn beliau. Lalu mengalirlah ucapan2 berikut dari beliau. Puang Haji : "Puang Ricky, ...semua orang dikampung ini telah menjadi saksi hidup atas perbuatan saya 65 tahun yang lalu". "Kik, nama ku ditambah orang dengan OJANG adalah karena perbuatan ku saat itu". "Ayah ku mati dikeroyok orang karena hutang yang belum dibayar". "Badik yang tergantung itu adalah pisau yang aku gunakan untuk membunuh 8 orang yang mengeroyok ayahku" "Badanku Kik sudah pernah berjamur dalam penjara, tapi itu sdh lewat lama. Tapi hati ku Kik, telah selalu terpenjara karena perbuatan ku itu". "Kini Kik, saya mengaku bahwa pada saat akan saya hujam si Fulan dari belakang, sesungguhnya hati ku telah berkata bahwa 7 orang adalah cukup dan si Fulan adalah tidak bersalah". "Tapi Kik, saat itu si Fulan saya hujam juga,....dan dia mati". Semua kami tertegun mendengar pengakuan Puang Haji yang bercerita dgn lancar dgn aliran air mata di wajahnya. Puang Haji: "Kik, inilah yang saya simpan dan saya tunggu untuk saya ceritakan". "Tolong kita doakan saya untuk bisa tenang berjalan pulang,....dan satu permintaan saya biarlah si Punding tetap menjadi murid 'Tak dan biarlah yang lain di sini menjadikan kita Puang". Pendek cerita, lingkaran duduk itu baru berubah ketika subuh datang, dan sang Puang mendaulat saya utk menjadi imam shalat subuh bersama. Persis 100 hari kemudian, sang Puang berpulang ke rahmatullah. Salam, r.a Catatan: : Istilah KITA = KIK = 'TAK = adalah kata ganti orang kedua tunggal yang digunakan masyarakat SulSel utk menunjukan respek nya kepada lawan bicaranya. Powered by Telkomsel BlackBerry® -----Original Message----- From: Dewi Mutiara <[email protected]> Date: Mon, 11 May 2009 23:16:45 To: <[email protected]> Subject: [...@ntau-net] Re: Cerita dari Lp Anak Tulisan sdr Kemal Anas , Cerita dari LP Anak ,membuat saya sangat terharu, dlm usia menjelang 8 thn cinta seorang anak yg begitu besar kepada sang ayah,si anak berusaha membalas dendam akan kematian ayahnya ,tanpa ia sadar akibat dari perbuatannya ,yg ia tahu hanya sedih karena kehilangan sosok sang ayah. Mudah2an LP tidak merusak pribadi sang anak, dan dengan kecerdasannya semoga ia tumbuh menjadi anak yang baik. Amiiiiiinnnnn. Wassalam Dewi Mutiara --- On Tue, 5/12/09, Kemal Anas <[email protected]> wrote: From: Kemal Anas <[email protected]> Subject: [...@ntau-net] Re: Cerita dari Lp Anak To: [email protected] Date: Tuesday, May 12, 2009, 4:07 AM Dari mailis tetangga. Pengalaman dari teman2 yang melayani di LP Tangerang Terus terang, meski sudah beberapa kali mengadakan penelitian Kriminal di LP, pengalaman kali ini adalah pengalaman pertama saya ngobrol langsung dengan seseorang yang didakwa kasus pembunuhan berencana. Dengan jantung dag dig dug, pikiran saya melayang-layang mengira-ngira gambaran orang yang akan saya temui. Sudah terbayang muka keji hanibal lecter, juga penjahat-penjahat berjenggot palsu ala sinetron, dan gambaran-gambaran pembunuh berdarah dingin lain yang sering saya temui di cerita TV. Well, akhirnya setelah menunggu sekian lama berharap-harap cemas, salah satu sipir membawa seorang anak kehadapan saya.Yup, benar seorang anak berumur 8 tahun. Tingginya tidak lebih dari pinggang orang dewasa dengan wajah yang diliputi senyum malu-malu. Matanya teduh dengan gerak-gerik yang sopan. Saya pun membaca berkas kasusnya yang diserahkan oleh sipir itu. Sebelum masuk penjara ternyata ia adalah juara kelas di sekolahnya, juara menggambar, jago bermain suling, juara mengaji dan azan di tingkat kanak-kanak. Kemampuan berhitungnya lumayan menonjol. Bahkan dari balik sekolah di dalam penjara pun nilai sekolahnya tercatat kedua terbesar tingkat provinsi. Lantas kenapa ia sampai membunuh? Dengan rencana pula? Kasus ini terjadi ketika Arif sebut saja nama anak ini begitu, belum genap berusia tujuh tahun. Ayahnya yang berdagang di sebuah pasar di daerah bekasi, dihabisi kepala preman yang menguasai daerah itu. Latar belakangnya karena si ayah enggan membayar uang 'keamanan' yang begitu tinggi.. Berita ini rupanya sampai di telinga Arif. Malam esok harinya setelah ayahnya dikebumikan ia mendatangi tempat mangkal preman tersebut.. Bermodalkan pisau dapur ia menantang orang yang membunuh ayahnya. 'siapa yang bunuh ayah saya!' teriaknya kepada orang yang ada di tempat itu. 'Gue terus kenapa?' ujar kepala preman yang membunuh ayahnya sambil disambut gelak tawa di belakangnya. Tanpa banyak bicara anak kecil itu sambil melompat menghunuskan pisau ke perut si preman. Dan tepat mengenai ulu hatinya, pria berbadan besar itu jatuh tersungkur ke tanah. Arif pun langsung lari pulang ke rumah setelahnya. Akhirnya selesai sholat subuh esok paginya ia digelandang ke kantor polisi. 'Arif nih sering bikin repot petugas di Lapas!' ujar kepala lapas yang ikut menemani saya mewawancarai arif sambil tersenyum. Ternyata sejak di penjara dua tahun lalu. Anak ini sudah tiga kali melarikan diri dari selnya. Dan caranya pun menurut saya tergolong ajaib. Pelarian pertama dilakukannya dengan cara yang tak terpikirkan siapapun. Setiap pagi sampah-sampah dari Lapas itu di jemput oleh mobil kebersihan. Sadar akan hal ini, diam-diam Arif menyelinap ke dalam salah satu kantung sampah. Hasilnya 1-0 untuk Arif. Ia berhasil keluar dari penjara. Pelarian kedua lebih kreatif lagi. Anak yang doyan baca ini pernah membaca artikel tentang fermentasi makanan tape (ingat loh waktu wawancara usianya baru 8 tahun). Dari situ ia mendapat informasi bahwa tape mengandung hawa panas yang bersifat destruktif terhadap benda keras. Kebetulan pula di Lapas anak ini disediakan tape uli dua kali dalam seminggu. Setiap disediakan tape, arif selalu berpuasa karena jatah tape itu dibalurkannya ke dinding tembok sel tahanannya. Hasilnya setelah empat bulan, tembok penjara itu menjadi lunak seperti tanah liat. Satu buah lubang berhasil dibuatnya.. 2-0 untuk arif. Ia keluar penjara ke dua kalinya. Pelarian ke tiganya dilakukan ala Mission Imposible. Arif yang ditugasi membersihkan kamar mandi melihat ember sebagai sebuah solusi. Besi yang berfungsi sebagai pegangan ember itu di simpannya di dalam kamarnya. Tahu bahwa dirinya sudah diawasi sangat ketat, Arif memilih tempat persembunyian paling aman sebelum memutuskan untuk kabur. Ruang kepala Lapas menjadi pilihannya. Alasannya jelas, karena tidak pernah satu pun penjaga berani memeriksa ruangan ini. Ketika tengah malam ia menyelinap keluar dengan menggunakan besi pegangan ember untuk membuka pintu dan gembok. Jangan tanya saya bagaimana caranya, pokoknya tahu-tahu ia sudah di luar. 3-0 untuk Arif. Lantas kenapa ia bisa tertangkap lagi? Rupanya kepintaran itu masih berada di sebuah kepala bocah. Pelarian-pelarianny a didorong dari rasa kangennya terhadap ibunya. Anak ini keluar dari penjara hanya untuk ke rumah sang ibunda tercinta. Jadi dari Lapas tanggerang ia menumpang-numpang mobil omprengan dan juga berjalan kaki sekian kilometer dengan satu tujuan, pulang! Karena itu pula pada pelarian Arif yang ketiga, kepala Lapas yang juga seorang ibu ini meminta anak buahnya untuk tidak segera menjemput Arif. Hasilnya dua hari kemudian Arif kembali lagi ke lapas sambil membawa surat untuk kepala Lapas yang ditulisnya sendiri. Ibu kepala Arif minta maaf, tapi Arif kangen sama ibu Arif. Tulisnya singkat. Seorang anak cerdas yang harus terkurung dipenjara. Tapi, saya tidak lantas berpikir bahwa ia tidak benar-benar bersalah dan harus dibebaskan. Bagaimanapun juga ia telah menghilangkan nyawa seseorang. Tapi saya hanya berandai-andai jika saja, polisi bertindak cepat menangkap pembunuh si ayah (secepat polisi menangkap si Arif) pastinya saat ini anak pintar dan rajin itu tidak akan berada di tempat seperti ini. Dan kreativitasnya yang tinggi itu bisa berguna untuk hal yang lain. Sayangnya si Arif itu cuma anak pedagang sayur miskin sementara si preman yang dibunuhnya selalu setia menyetor kepada pihak berwajib setempat. Itulah yang namanya keadilan! dikutip dari the r.o.t.e.n.s --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned: - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama - DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
