Ini sih sama aja dg cerita berantai yang disampaikan ke setiap orang secara bisik-bisik: "Eeh, jgn bilang2 ya kalau dia nyuri ketimun di kebun tetangga... Tapi sebetulnya dia baik lho...". Mohon maaf sebelumnya, sukses buat semua...;))
Salam, Nofrins/49/Jkt ________________________________ From: Mantari Sutan <[email protected]> To: [email protected] Sent: Monday, May 25, 2009 10:38:51 PM Subject: [...@ntau-net] Boediono dan Laku Spiritual Saya pernah menjalani sebuah laku. Di tahun 2003, saya pernah memutuskan cuti selama satu bulan dari kantor. Lalu dompet lengkap dengan segala kartunya saya tinggalkan ke pacar. Setelah itu saya mengarahkan perjalanan menuju timur. Tujuan saya adalah Jogja atau Solo. Sebuah tempat yang diyakini oleh Sultan Agung adalah area pusat kosmik tanah jawa. Tempat pertemuan kekuatan gunung dan laut. Uang di kantong waktu itu hanya lima ribu rupiah. Alhamdulillah, saya sampai juga di Jogja. Bertahan selama 24 hari. Apa dan bagaimana detailnya perjalanan ini, biarlah saya dan yang Maha Di Atas yang tahu. Saat ini banyak sekali beredar rumor tentang Boediono yang katanya adalah seorang islam abangan alias kejawen. Konon katanya baru hari-hari ini, Boediono ditemui wartawan menunaikan Shalat Jumat. Banyak yang curiga, ini lebih kepada pemolesan citra belaka. Kejawenan Boediono banyak digugat. Dan dijadikan celah untuk menyerang yang bersangkutan. Menjadi kejawen buat saya bukanlah sebuah kesalahan. Laku spiritual adalah hak setiap individu. Harus kita hormati preferensi seseorang dalam proses penyucian batin. Umar Kayam pernah membahas dalam Novel Para Priyayinya, tentang seorang kakek yang menganggap puasa ngarab itu cemen. Kurang banyak tantangannya. Si kakek lebih memilih puasa yang lebih berat. Mungkin disitulah ia menemui puncak spiritualitasnya dalam berhubungan dengan Sang Pencipta. Ketika lapar dan letih itu pada puncaknya. Menurut saya, kalau memang Boediono seorang kejawen, ia tak perlu bersusah payah menunjukkan sisi sebaliknya. Lawan politiknya juga tidak perlu menjadi kejawenan ini sebagai sebuah celah yang harus terus diserang. Lihatlah ia sebagai seorang makhluk Tuhan dalam hubungannya dengan manusia lain. Habluminannas. Kejawenan tidak pernah mengajarkan kepada orang lain aturan semisal: dilarang mengganggu isteri orang, kecual suka sama suka. Kejawen juga tidak mengajarkan untuk mencuri kecuali terpaksa. Jadi, orang yang berlaku kejawen tak perlu kita jadi bahan penjatuhan karakter. Mari kita kritisi Boediono dalam rekam jejaknya terhadap umat manusia warga negara Indonesia. Semisal kiprahnya dalam aturan BLBI. Atau, soal privatisasi dan kebijakan subsidinya. Kejawen atau tidak, bukanlah sebuah soal. Wassalam, MS/30/Sijunjung/Kampai/Jakarta --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned: - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama - DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
