Saya pernah menjalani sebuah laku. Di tahun 2003, saya pernah memutuskan cuti 
selama satu bulan dari kantor.  Lalu dompet lengkap dengan segala kartunya saya 
tinggalkan ke pacar.  Setelah itu saya mengarahkan perjalanan menuju timur.  
Tujuan saya adalah Jogja atau Solo. Sebuah tempat yang diyakini oleh Sultan 
Agung adalah area pusat kosmik tanah jawa. Tempat pertemuan kekuatan gunung dan 
laut.  Uang di kantong waktu itu hanya lima ribu rupiah.  Alhamdulillah, saya 
sampai juga di Jogja.  Bertahan selama 24 hari.  Apa dan bagaimana detailnya 
perjalanan ini, biarlah saya dan yang Maha Di Atas yang tahu.

Saat ini banyak sekali beredar rumor tentang Boediono yang katanya adalah 
seorang islam abangan alias kejawen. Konon katanya baru hari-hari ini, Boediono 
ditemui wartawan menunaikan Shalat Jumat. Banyak yang curiga, ini lebih kepada 
pemolesan citra belaka. Kejawenan Boediono banyak digugat. Dan dijadikan celah 
untuk menyerang yang bersangkutan.

Menjadi kejawen buat saya bukanlah sebuah kesalahan. Laku spiritual adalah hak 
setiap individu. Harus kita hormati preferensi seseorang dalam proses penyucian 
batin. Umar Kayam pernah membahas dalam Novel Para Priyayinya, tentang seorang 
kakek yang menganggap puasa ngarab itu cemen. Kurang banyak tantangannya. Si 
kakek lebih memilih puasa yang lebih berat. Mungkin disitulah ia menemui puncak 
spiritualitasnya dalam berhubungan dengan Sang Pencipta. Ketika lapar dan letih 
itu pada puncaknya.

Menurut saya, kalau memang Boediono seorang kejawen, ia tak perlu bersusah 
payah menunjukkan sisi sebaliknya. Lawan politiknya juga tidak perlu menjadi 
kejawenan ini sebagai sebuah celah yang harus terus diserang. Lihatlah ia 
sebagai seorang makhluk Tuhan dalam hubungannya dengan manusia lain. 
Habluminannas. Kejawenan tidak pernah mengajarkan kepada orang lain aturan 
semisal: dilarang mengganggu isteri orang, kecual suka sama suka. Kejawen juga 
tidak mengajarkan untuk mencuri kecuali terpaksa. Jadi, orang yang berlaku 
kejawen tak perlu kita jadi bahan penjatuhan karakter.

Mari kita kritisi Boediono dalam rekam jejaknya terhadap umat manusia warga 
negara Indonesia. Semisal kiprahnya dalam aturan BLBI. Atau, soal privatisasi 
dan kebijakan subsidinya. Kejawen atau tidak, bukanlah sebuah soal.

Wassalam,

MS/30/Sijunjung/Kampai/Jakarta



      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke