Assalamualaikum Wr Wb Pak Saaf dan Dunsanak Palanta RN yang mulia
Jum’at sore ketika saya bersantai sejenak di lobi sebuah Hotel di Dumai sambil membaca koran RIAU MANDIRI mata saya tertumbuk pada sebuah berita dan foto. Foto dan berita tersebut digambarkan Pak Saaf berada disamping JK setelah saya baca tuntas berita tersebut pada intinya perantau minang di Jakarta mendukung sepenuhnya majunya urang Sumando kita ini Jusuf Kalla (JK) menjadi Capres 2009-2014 yang berpasangan dengan Wiranto. Pak Saaf dalam berita yang ditulis wartawan RM kapasitasnya mewakili Pituo Minang yang merantau di Jakarta dan secara resmi disematkan PIN JK-Win kepada Pak Saaf oleh JK. Tentunya setelah saya membaca berita ini pikiran saya lansung melayang kepada Pak Saaf orang tua kita di Rantau Net ini ”Wah Pak Saaf rupanya pendukung atau taroklah bagian Tim Sukses atau Jurkam pemenangan JK_WIN nih” itu syah saja ya Pak dugaan awal saya, tapi setelah Pak Saaf mengklarifikasi semua itu terhadap postingan Pak Nizhamul dan Ibu Dewi ternyata (intinya) ”Bukan Jurkam JK-Win, tetap mengambil posisi sebagai pemilih indenpendent, masih ada dua Capres yang ditimang-timang yaitu JK-Win dan SBY-Boediano sedangkan yang satu lagi sudah Bapak Drop, lebih jelasnya kalau saya pertegas Mega-Pro bukan pilihannya (sama kalau begitu dengan saya Pak) lalu ditutup dengan pernyataan bersedia disematkan Pin kampanye JK-Win alasan Pak Saaf capres ini masuk daftar nominasinya. Lalu Pak Saaf juga punya pandangan dipostingannya di RN seandainya SBY-JK akan bersatu lagi dalam Pilpres kali ini tentu dalam satu putaran akan selesai artinya mereka akan melanjutkan kembali menjadi Presiden dan Wa Pres untuk periode kedua, saya termasuk yang setuju pendapat tersebut, tapi sangat sulit bersatunya pasangan yang kita dambakan ini Pak. Situasi dan kondisi terutama dalam ranah politik tentu sangat jauh berbeda ketika mereka berdua berpasangan pada Pilpres 2004, jika kita coba tarik mundur ke Tahun 2004 Golkar menjadi pemenang Pemilu ketika itu melalui Konvensi yang dilakukan Golkar ditetapkan Wiranto dan pasangan Salahuddin maju menjadi Ca dan Cawa Pres dan hasilnya gagal total diputaran pertama. Sementara SBY dengan partai Demokratnya cukup cerdik memilih pasangan yaitu JK (Golkar) dengan harapan terpecahnya suara pemilih Golkar pada Pilpres tersebut walau diatas kertas pada putaran kedua Mega didukung secara resmi oleh Golkar (Ketua Umum Akbar Tanjung) jika suara pemilih Golkar memang bersatu kepeda Mega-Hasyim maka tak pelak lagi maka Mega akan menjadi Presiden kala itu. Akhirnya (faktanya) memang suara pemilih Golkar pecah ke SBY dan akhirnya SBY dan JK menjadi pemenang. Nah situasi sekarang tentu berbeda ya Pak, dimana Demokrat menjadi pemenang diikuti oleh Golkar dan PDI P menurut saya yang awam tentunya Golkar tidak mau terulang lagi seperti tahun 2004 ketika mengadakan Konvensi (bisa terbuka jadi Presiden diluar partai Golkar atau calon non partai) kalau ”pakem” nya memang ketua umum atau pembina partai atau yang membidani berdirinya partai (seperti SBY Amin Rais, Gus Dur misalnya)yang maju jadi Presiden jika suaranya cukup signifikan dan itulah kondisi sekarang. Saya setuju dengan pendapat bahwa karir puncak dari seorang politikus (partai) jika tingkat Nasional adalah mengincar jabatan Presiden atau duduk di Legislatif begitu juga di daerah mengincar Gubernur dan Legislatif (DPRD). Jika memang pernyataan Bapak masih menimang2 kedua orang tersebut itu artinya sama dengan posisi saya dan kita masih ada waktu menentukan pilihan pada hari H nya kemana kita sebagai warga negara yang punya Satu Suara ini menjatuhkan pilihan, mungkin kita sependapat juga atau bagaimana menurut analisa Bapak apakah akan terjadi dua putaran Pilpres kali ini. Jika kita asumsikan dua putaran nantinya ”tidak jadi masalah” bagi kita nantinya jika pada putaran kedua itu akan bertarung JK-Win dengan Mega Pro pastinya kita memilih JK seandainya SBY-Boedi dengan Mega Pro tentunya kita pilih SBY dengan asumsi diatas Mega-Pro telah kita Drop, menjadi rumit kembali kita menimang2 jika pada putaran kedua bertarung SBY dengan JK. Bagi saya sekarang sangat sulit menentukan pilihan antara JK dan SBY bahkan jikapun saya pada hari H masih saja kesulitan menentukan pilihan bisa jadi saya sebelum pergi ke TPS secara acak saya ambil kemeja dilemari saya untuk dipakai, lalu di bilik TPS saya akan mengurut buah baju dari atas sampai ke bawah JK-SBY-JK-SBY sampai buah baju paling bawah jatuhnya siapa he..he..he atau begini Pak perlu kiranya saya bawa-bawa tokek ke TPS ketika dia berbunyi Tokek SBY...Tokek JK..Tokek SBY dan seterusnya sampai tokek tidak berbunyi lagi maka suara terakhir jatuh pada siapa itulah yang saya pilih, permasalahan jadi rumit jika membawa-bawa tokek ke TPS ini Sang Tokek ini berbunyi satu jam lebih tak henti-hentinya di TPS aha..tentu saya akan ditangkap Hansip TPS, kok lama sekali dalam TPS sementara orang telah antri (Becanda sedikit Pak..kalau saya lihat Joke2 segar dalam politik sungguh asyik dan membuat kita tersenyum serta ketawa) Nah sekarang jika saya boleh mendapatkan hasil ”timang-timang” Bapak tersebut kelebihan dan kekurangan diantara kedua yang membikin kita belum menjatuhkan pilihan pada hari H silahkan disampaikan secara terbuka dan objektiv Pak tanpa terpengaruh PIN yang disematkan JK, sehingga paling tidak saya bisa menentukan pilihan secara pas dan tepat tanpa mengurut buah baju kemeja saya atau bawa-bawa Tokek ke TPS. Jika berdasarkan pernyataan Bapak kita telah Drop Meg-Pro (bukan pilihan kita) tentunya jika terjadi dua putaran yang maju adalah SBY dan JK dengan pasangan masing-masing, paling tidak jikapun kalah pilihan saya dalam putaran kedua tersebut walau nanti hanya berdasarkan ”buah baju dan Tokek” saya cukup senang juga karena itu tadi mereka berdualah yang membikin kita ”Timang-Timang”..bagaimana menurut Bapak Saaf Terima kasih sebelumnya atas tanggapan dan jawaban Pak Saaf yang sangat saya tunggu sehingga bisa menambah cakrawala saya yang ”berdiri di satelit (Satelite View) dalam menentukan dua Capres yang kita timang2 ini sebelum hari H. Wass-Jepe (44, Pku) Catatan : Faktanya dilapangan terutama orang2 terdekat dan teman saya (orang Minang yang merantau di Pekanbaru) suaranya memang terpecah ke kubu SBY dan JK, mungkin tidak jauh beda yang saya amati dunsanak di Palanta RN ini kecendrungannya memang dua pilihan tersebut, disinilah pintarnya orang Minang yang tidak POKOKE tapi jika mereka memilih Mega-Pro ya bukan berdasarkan POKOKE saya pikir..he..he --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned: - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama - DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
