Kolom: Etika dalam Dialektika Gamawan Fauzi PadangKini.com | Sabtu, 30/05/2009, 7:29 WIB
Oleh: empi Muslion Jb SEBUAH etalase politik yang membatin dalam roh masyarakat Indonesia saat pendeklarasian SBY-Boediono di gedung Sabuga Bandung beberapa hari yang lalu. Di Sumatera Barat dan komunitas urang awak (ras Minangkabau) pada umumnya, moment pendeklarasian SBY-Boediono ini meninggalkan sejumput dialektika akan keberadaan Gawaman Fauzi (terlepas dari kapasitasnya apakah mewakili baju pribadi atau atas nama pakaian Gubernur Sumatera Barat). Dari peristiwa Gamawan Fauzi (GF) sebagai deklarator tersebut, secara garis besar ada dua arus debat lapau yang muncul di warung-warung kopi di Sumatera Barat. Arus pertama, keberadaan GF di panggung deklarasi SBY-Boediono dengan irama suara yang tegas dan jelas membacakan kesepakatan koalisi anak bangsa mendukung SBY-Boediono, banyak komentar mendukung yang keluar, ada komentar yang berbau primodial, emosional, maupun rasional. Namun sebaliknya, arus kedua juga memunculkan perdebatan yang mengalirkan lontaran-lontaran pemikiran yang berbau sinisme terhadap GF, tidak netral, ambisius, dan inobjektifisme. Saya coba merangkai dua arus dari debat lapau yang muncul atas GF yang menjadi deklarator tersebut. GF mengatakan kehadirannya di panggung deklarasi tersebut adalah atas permintaan SBY dalam kapasitas pribadi. Menurutnya ini adalah apresiasi SBY atas kinerja GF yang selama ini telah mendapat label sebagai kepala daerah yang konsen memerangi korupsi dan reformasi birokrasi. Jika dilihat alasan yang dikemukakan oleh GF ini dan apresiasi SBY terhadapnya, adalah sebuah kehormatan dan kebanggaan bagi GF khususnya dan Sumatera Barat umumnya. Tapi rupanya latar belakang ini juga memunculkan sisi-sisi lain yang memunculkan diskusi di mata dan kepala publik. Keberadaan deklataror GF, bagaimanapun terlepas sebagai kapasitas pribadi, di dalam diri GF tentunya juga sulit untuk melepaskannya dari baju Gubernur Sumatera Barat yang mengharuskannya atau mewajibkannya untuk MEMPERLAKUKAN SAMA semua masyarakat, profesi, golongan, partai, dsb. Maka di sinilah akar perdebatan tersebut yang memunculkan kembali pertanyaan yang selalu berulang ini, "bagaimana membedakan dalam diri seorang pejabat publik antara keberadaannya sebagai kapasitas pribadi, dinas, dan keberadaannya dalam kapasitas politik? Untuk masalah ini, kalau kita mau mendapatkan jawabannya yang hitam di atas putih tentu hanya hukum yang akan mengaturnya. Tetapi sampai saat ini aturan inipun masih belum ada mengaturnya secara tegas. Berarti secara hukum kita bisa membenarkan GF selaku pejabat publik hadir sebagai deklator SBY-Boediono yang merupakan aktifitas politik. Bagaimana dengan etika birokrasi, etika pemerintahan, dan etika politik yang juga ketiga etika tersebut harus melekat pada diri GF? Dimana GF juga sebagai pembina tertinggi birokrasi dan pemerintahan di Sumatera Barat ? GF sebagai gubernur yang keberadaannya untuk bisa menjadi gubernur juga melalui proses politik dimana GF diusung oleh partai politik yakni PDIP dan PBB ? Mungkin di sinilah sebenarnya yang menjadikan peristiwa GF menjadi deklarator SBY-Berbudi tersebut menjadi panjang dan tak akan berkesudahan karena memang belum ada pisau pengadilnya. Karena ini masalah ETIKA, maka jawabannya BISA SESUAI ETIKA tetapi juga TIDAK BERETIKA.. Etika adalah masalah BAIK-BURUK, etika sendiri tentu tidak bisa dikenai hukum formal, etika hanya bisa dihukum secara normatif, sanksi sosial, dan persepsi yang terdapat dalam kepala dan hati pendiskusi masing masing.. Ujung dialektika yang akan menjadi sekelumit catatan sejarah yang dipertontonkan oleh GF dalam pendeklarasian SBY-Berbudi (slogan yang diusulkan GF) yang diusung oleh Partai Demokrat beserta koalisinya ini, akhirnya hanya berpulang kepada persepsi dan pandangan kita masing-masing kepada Gamawan Fauzi.. Apakah kita bisa menerima penampilan GF di panggung deklarasi politik itu sesuai Etika Diatas atau Tidak Beretika, tergantung kita sendiri untuk menilai Gamawan Fauzi. Dari tampilan GF yang menjadi deklarator SBY-Boediono yang merupakan aktifitas politik (bukan aktifitas kenegaraan dan pemerintahan), sebenarnya sorotan ini juga dapat dipertanyakan ke diri SBY selaku Capres ataupun selaku Presiden RI saat ini ; mengapa SBY meminta atau melibatkan GF yang saat ini juga sedang memangku jabatan publik (Gubernur yang harus menempatkannya memberikan perlakuan sama kepada semua golongan atau partai di daerahnya) masuk kearena kegiatan politik yang unsur politisnya sangat tinggi? Tentu juga tidak fair jika kehadiran GF sebagai deklarator SBY-Boediono hanya ditumpangkan ke GF semata. GF hadir tentu juga ada yang meminta. Walau mungkin hal ini akan memunculkan perdebatan yang panjang lagi, seperti, "Mengapa GF tak bisa menolak dengan memberikan argumen yang tidak atau merusak apresiasi yang diberikan SB?", "apakah tokoh Minang tidak ada lagi yang memiliki idealisme, integritas diri, dan komitmen semacam Muhammad Hatta, Sutan Syahrir, atau Ahmad Husein yang berani mengatakan TIDAK jika itu akan menjadi perdebatan masyarakat dan merusak integritas diri yang sudah dibangunnya?", dan berbagai persepsi lainnya. Akhirnya, semua itu, hanya bisa kita pulangkan kembali kepada pandangan kita terhadap kapasitas dan integritas seorang Gamawan Fauzi atas dialektika yang telah dipertontonkannya tersebut.... )* Empi Muslion, Master Riset "Ville et Société" Université Lyon 2 et ENTPE Lyon -France dan kini pegawai Pemkab Tanahdatar, Sumatera Barat. http://www.padangkini.com/berita/single.php?id=5161 The above message is for the intended recipient only and may contain confidential information and/or may be subject to legal privilege. If you are not the intended recipient, you are hereby notified that any dissemination, distribution, or copying of this message, or any attachment, is strictly prohibited. If it has reached you in error please inform us immediately by reply e-mail or telephone, reversing the charge if necessary. Please delete the message and the reply (if it contains the original message) thereafter. Thank you. --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned: - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama - DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
