Memang seorang pejabat yang juga menyandang "kemasan" politikus harus punya 
nyali. Dia harus siap ditanya oleh publiknya karena dia mempunyai publik. 
Begitu pula diapun siap ditanya oleh yang menganugerahkan jabatan yang sekarang 
disandangnya. Namun disamping itu, dia pun punya pemimpin yang menghendaki 
keloyalannya. Inilah resiko yang dihadapi petinggi paling atas Sumatera Barat 
kini. Apakah dia mampu melayani berbagai pertanyaan tersebut? Jawaban tentu 
tidak akan sama, karena jawaban individu belum tentu jawaban publik. Karena 
publik bermulti kehendak, karena berasal dari rumpun yang bermacam ragam. 
Bagaikan ayah yang mempunyai anak yang banyak. Tentu tidak sama dalam 
menyikapinya, walau sperma dan ovum yang berasal dari orang yang sama. Semoga 
karir GF tidak tersandung ke depan, dan tetap menjadi pemimpin yang bijaksana. 

Wassalam,
Tan Lembang (L,52+)
Lembang, Bandung




________________________________
From: Nofiardi <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Monday, June 1, 2009 9:50:07 AM
Subject: [...@ntau-net] Kolom: Etika dalam Dialektika Gamawan Fauzi

 
Kolom: Etika dalam
Dialektika Gamawan Fauzi
PadangKini.com| Sabtu, 30/05/2009, 7:29 WIB
Oleh: empi Muslion Jb
SEBUAH etalase politik yang membatin dalam roh masyarakat Indonesia saat
pendeklarasian SBY-Boediono di gedung Sabuga Bandung beberapa hari yang lalu.

Di Sumatera Barat dan komunitas urang awak (ras Minangkabau) pada umumnya,
moment pendeklarasian SBY-Boediono ini meninggalkan sejumput dialektika akan
keberadaan Gawaman Fauzi (terlepas dari kapasitasnya apakah mewakili baju
pribadi atau atas nama pakaian Gubernur Sumatera Barat).

Dari peristiwa Gamawan Fauzi (GF) sebagai deklarator tersebut, secara garis
besar ada dua arus debat lapau yang muncul di warung-warung kopi di Sumatera
Barat.

Arus pertama, keberadaan GF di panggung deklarasi SBY-Boediono dengan irama
suara yang tegas dan jelas membacakan kesepakatan koalisi anak bangsa mendukung
SBY-Boediono, banyak komentar mendukung yang keluar, ada komentar yang berbau
primodial, emosional, maupun rasional.

Namun sebaliknya, arus kedua juga memunculkan perdebatan yang mengalirkan
lontaran-lontaran pemikiran yang berbau sinisme terhadap GF, tidak netral,
ambisius, dan inobjektifisme.

Saya coba merangkai dua arus dari debat lapau yang muncul atas GF yang menjadi
deklarator tersebut. GF mengatakan kehadirannya di panggung deklarasi tersebut
adalah atas permintaan SBY dalam kapasitas pribadi. Menurutnya ini adalah
apresiasi SBY atas kinerja GF yang selama ini telah mendapat label sebagai
kepala daerah yang konsen memerangi korupsi dan reformasi birokrasi.

Jika dilihat alasan yang dikemukakan oleh GF ini dan apresiasi SBY terhadapnya,
adalah sebuah kehormatan dan kebanggaan bagi GF khususnya dan Sumatera Barat 
umumnya.
Tapi rupanya latar belakang ini juga memunculkan sisi-sisi lain yang
memunculkan diskusi di mata dan kepala publik. 

Keberadaan deklataror GF, bagaimanapun terlepas sebagai kapasitas pribadi, di
dalam diri GF tentunya juga sulit untuk melepaskannya dari baju Gubernur
Sumatera Barat yang mengharuskannya atau mewajibkannya untuk MEMPERLAKUKAN SAMA
semua masyarakat, profesi, golongan, partai, dsb.

Maka di sinilah akar perdebatan tersebut yang memunculkan kembali pertanyaan
yang selalu berulang ini, "bagaimana membedakan dalam diri seorang pejabat
publik antara keberadaannya sebagai kapasitas pribadi, dinas, dan keberadaannya
dalam kapasitas politik?

Untuk masalah ini, kalau kita mau mendapatkan jawabannya yang hitam di atas
putih tentu hanya hukum yang akan mengaturnya. Tetapi sampai saat ini aturan
inipun masih belum ada mengaturnya secara tegas. Berarti secara hukum kita bisa
membenarkan GF selaku pejabat publik hadir sebagai deklator SBY-Boediono yang
merupakan aktifitas politik.

Bagaimana dengan etika birokrasi, etika pemerintahan, dan etika politik yang
juga ketiga etika tersebut harus melekat pada diri GF? Dimana GF juga sebagai
pembina tertinggi birokrasi dan pemerintahan di Sumatera Barat ? GF sebagai
gubernur yang keberadaannya untuk bisa menjadi gubernur juga melalui proses
politik dimana GF diusung oleh partai politik yakni PDIP dan PBB ?

Mungkin di sinilah sebenarnya yang menjadikan peristiwa GF menjadi deklarator
SBY-Berbudi tersebut menjadi panjang dan tak akan berkesudahan karena memang 
belum
ada pisau pengadilnya.

Karena ini masalah ETIKA, maka jawabannya BISA SESUAI ETIKAtetapi juga TIDAK 
BERETIKA.. Etika adalah masalah BAIK-BURUK, etika sendiri tentu tidak bisa
dikenai hukum formal, etika hanya bisa dihukum secara normatif, sanksi sosial,
dan persepsi yang terdapat dalam kepala dan hati pendiskusi masing masing..

Ujung dialektika yang akan menjadi sekelumit catatan sejarah yang
dipertontonkan oleh GF dalam pendeklarasian SBY-Berbudi (slogan yang diusulkan
GF) yang diusung oleh Partai Demokrat beserta koalisinya ini, akhirnya hanya
berpulang kepada persepsi dan pandangan kita masing-masing kepada Gamawan
Fauzi..

Apakah kita bisa menerima penampilan GF di panggung deklarasi politik itu
sesuai Etika Diatasatau Tidak Beretika, tergantung kita sendiri untuk menilai 
Gamawan Fauzi.

Dari tampilan GF yang menjadi deklarator SBY-Boediono yang merupakan aktifitas
politik (bukan aktifitas kenegaraan dan pemerintahan), sebenarnya sorotan ini
juga dapat dipertanyakan ke diri SBY selaku Capres ataupun selaku Presiden RI
saat ini ; mengapa SBY meminta atau melibatkan GF yang saat ini juga sedang
memangku jabatan publik (Gubernur yang harus menempatkannya memberikan
perlakuan sama kepada semua golongan atau partai di daerahnya) masuk kearena
kegiatan politik yang unsur politisnya sangat tinggi?

Tentu juga tidak fair jika kehadiran GF sebagai deklarator SBY-Boediono hanya
ditumpangkan ke GF semata. GF hadir tentu juga ada yang meminta. Walau mungkin
hal ini akan memunculkan perdebatan yang panjang lagi, seperti, "Mengapa
GF tak bisa menolak dengan memberikan argumen yang tidak atau merusak apresiasi
yang diberikan SB?", "apakah tokoh Minang tidak ada lagi yang
memiliki idealisme, integritas diri, dan komitmen semacam Muhammad Hatta, Sutan
Syahrir, atau Ahmad Husein yang berani mengatakan TIDAK jika itu akan menjadi
perdebatan masyarakat dan merusak integritas diri yang sudah
dibangunnya?", dan berbagai persepsi lainnya.

Akhirnya, semua itu, hanya bisa kita pulangkan kembali kepada pandangan kita
terhadap kapasitas dan integritas seorang Gamawan Fauzi atas dialektika yang
telah dipertontonkannya tersebut....

)* Empi Muslion, Master
Riset "Ville et Société" Université Lyon 2 et ENTPE Lyon -France dan
kini pegawai Pemkab Tanahdatar, Sumatera Barat.
http://www.padangkini.com/berita/single.php?id=5161
 
 
The above message is for the intended recipient only and may contain 
confidential information and/or may be subject to legal privilege. If you are 
not the intended recipient, you are hereby notified that any dissemination, 
distribution, or copying of this message, or any attachment, is strictly 
prohibited. If it has reached you in error please inform us immediately by 
reply e-mail or telephone, reversing the charge if necessary. Please delete the 
message and the reply (if it contains the original message) thereafter. Thank 
you. 


      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke