Assalamu'alaikum warrahmatullahi wa barrakatuh, Sayapun ingin juga ikut rembug dalam hal pernyataan-pernyataan politikus akhir-akhir ini. Taruhlah ini kita sebagai umat yang berada di tengah. Dalam arti kata tidak sebagai pemain. Kita akan memilih para kandidat kalau hal yang dilakukan atau yang digembar-gemborkan para kandidat dan tim suksesnya adalah benar-benar yang kita harapkan. Dalam konteks ini kita tidak melihat partai apa yang disandang oleh para pelaku. Memang, dalam satu komonitas kita perlu menyamakan persepsi atau istilah lain "berkomitmen" dengan komonitas kita. Tapi apakah suatu hal yang dibenarkan kalau kita harus menjerumuskan diri kita masuk ke area yang salah gara-gara kita mengikuti "imam" yang tidak benar? Atau kita harus Taqlid, pada hal kita memahami akan jalan yang benar? Contohnya banyak undang-undang yang sudah diyakini oleh kita bahwa hal itu benar, namun kadang-kadang kita masih "ragu-ragu" dalam menerapkannya dikarenakan kita hidup di alam prularisme? Mari kita jujur dalam menyikapi ini. SBY dan JK beserta jajarannya saat ini sudah bekerja keras dalam membangun bangsa ini. Boedionopun demikian pula tidak jauh berbeda dengan Presiden dan Wakil Presidennya, segala pengetahuannya sudah disumbangkan untuk negeri ini dengan segudang pengalaman yang disandangnya. Wirantopun demikian, tidak mungkinlah ia akan dipilih Soeharto kalau hanya kemampuannya yang terbatas, walau di media massa dinyatakan bahwa apa yang dikemukakan oleh Wiranto standar-standar saja (acara di Metro bersama budayawan). Tak kalah pula serunya pernyataan-pernyataan yang muncul dari seorang Megawati dengan segudang pengalamannya. Prabowo yang benar-benar yakin akan "ekonomi-kerakyatannya" yang mungkin bisa menjadikan manusia Indonesia tidak sebagai peminta-minta, dsb, dsbnya. Kini, berpulang kepada kita. Mari kita renung sedikit pernyataan politikus-politikus yang menyatakan jangan memasukkan unsur syara' dalam kampanye, dalam arti kata agama jangan disangkut pautkan. Nah, inilah kunci dari segala-segalanya. Kalau sudah kita mulai dari pernyataan demikian, kapan kita akan menjadi seorang MUSLIM SEJATI yang dicintai Allah? Seperti halnya dalam menyikapi berbagai aktivitas kita sehari-hari, apakah kita perlu memilah-milah bahwa uang yang kita peroleh dari sumber yang tidak halal bisa kita gunakan untuk kegiatan yang tidak bersinggungan dengan ibadah padahal setiap tarikan nafas adalah ibadah? Ada yang menyatakan bahwa, uang itu jangan dipakai untuk ibadah haji karena hajinya tidak mabrur. Naumun, untuk pembeli kendaraan tidak apa-apa. Apakah demikian? Andailah kita bisa bermain cantik saat ini, tentu peraturan-peraturan yang kita "imani" tentu bisa dapat diterapkan di kemudian hari. Kita tidak perlu "bengong", apakah undang-undang PORNOGRAFI dapat kita terapkan, andai kita sudah berjalan pada jalan yang benar yang memiliki landasan yang kuat. Walau issue budaya selalu menjadi penghambat dalam penerapannya. Mari kita bertanya pada diri kita yang mungkin masih menyandang jabatan PENGANUT MUSLIM SEJATI, apakah yang kita lakukan benar-benar bersumber kepada yang HAQ? JANGAN KITA MENJADI SEORANG YANG MUNAFIQ. Mulailah dengan membaca BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM, agar negara kita menjadi NEGARA yang sejahtera dan selalu diridhai oleh ALLah swt. Amin.
Wassalam, Tan Lembang (L,52+) Lembang, Bandung ________________________________ From: rajoalam <[email protected]> To: [email protected] Sent: Wednesday, June 3, 2009 7:35:03 AM Subject: [...@ntau-net] Re: PKS, Jilbab, dan Kekuasaan Kalau boleh berpendapat, sepertinya Isu ini memang sengaja diangkat jadi komoditas politik yang tidak rasional lagi, alasan saya adalah: 1) SBY-JK sudah sejak 5 tahun lalu memerintah, selama masa itu tidak pernah ada yang protes atau mempermasalahkan istri-istri beliau tentang hal Jilbab ini, 2) Neoliberalisme, padahal Budiono sejak dulu dipercaya sebagai ahli ekonomi yang menjabat berbagai posisi penting di bidangnya termasuk posisi Gubernur BI yang diseleksi ketat oleh DPR dan menunjukan prestasi yang tiada cacat dari pemberitaan yang selama ini saya dengar Saya jadi heran, kenapa tiba-tiba umat islam logikanya dibelokan (dibikin akut) dengan isu seperti ini?. Sudah saatnya umat islam berfikir bebas berdasarkan ilmu agama yang baik dan logika yang sehat. Wassalam, 2009/6/2 Puarman <[email protected]> eramuslim.com PKS, Jilbab, dan KekuasaanSenin, 01/06/2009 10:20 WIB Bayanat DPP PKS tentang pilpres yang dikeluarkan tanggal 25 Mei 2009, yang lalu, antara lain, tertera lima butir pokok, bahwa ‘Terkait dengan pribadi Boediono, beliau adalah muslim, dan tidak berpandangan neo-liberal (Neolib). http://pk-sejahtera.org/v2/index.php?op=isi&id=7424 Kemudian, atas keputusan Majelis Syuro PKS ke XI, dan tercapainya kesepakatan dengan Presiden SBY dan Partai Demokrat, maka diwajibkan (fardu ‘ain) kepada seluruh kader memperjuangkan pasangan SBY-Boediono untuk kemaslahatan (masholih) dakwah, umat, bangsa dan negara’. Namun, dalam kesempatan lainnya, capres SBY meminta tim suksesnya agar tidak kampanye politik simbol dan SARA. Pernyataan SBY itu disampaikan didepan 2.500 tim suksesnya di Arena Pekan Raya Jakarta (PRJ), Kemayoran, Jakarta Pusat, Sabtu (30/5/2009). “Akan tak baik demokrasi kita, kalau diajukan politik simbol, politik SARA”, ucap SBY. Pernyataan SBY ini, sebagai akibat polemik dikalangan masyarakat luas, tentang perbandingan istri JK-Win, yaitu Ny. Mufidah dan Ny.Uga, yang keduanya menggunakan jilbab (kerudung), dibandingkan dengan istri SBY-Boediono, yaitu Ny.Kristiani dan Ny.Herawati, yang keduanya tidak menggunakan jilbab. Lebih lanjut, Presiden SBY, menambahkan ‘Kalau kampanye itu hanya menjual simbol atau SARA, justru merugikan diri sendiri. Malah, penggunaan politik simbol dan SARA membuat konflik yang seharusnya tidak perlu. Idoelogi nasional sudah jelas, yaitu Pancasila dan UUD’45’. Selanjutnya, SBY menegaskan, “Jelas bahwa Pancasila sebagai ideologi. Kalau kembali konflik, jelas kita akan mundur kembali”, tegasnya. (Republika, 31/5/2009). Di bagian lain, Presiden PKS, Ir. Tifatul Sembiring, mengatakan, ‘Sebagian kader PKS beralih pilihannya kepada JK-Win, lantaran melihat Mufidah Kalla dan Uga Wiranto berjilbab. Kedua istri JK-Win itu lebih Islami dibandingkan dengan Ani Yudhono dan Herawati Boediono yang tidak menggunakan jilbab. Hal senada, juga dikemukakan, Wakil Ketua Fraksi PKS, menyatakan, ‘Ya, elektabilitas suara JK-Win terus meroket. Salah satunya berkat pesona jilbab ‘loro’ (dua) dari Mufidah Kalla dan Uga Wiranto. Lebih lanjut, Zul menambahkannya, ‘Sebagian kader PKS kepincut JK-Win,karena pesona jilbab muslimah dua ibu calon RI-3 dan RI-4 itu, tambahnya. Sementara itu, JK merasa gembira, karena dia kaget menerima hasil survei dua surat kabar nasional yang menunjukkan dukungan kepadanya mencapai 50 persen, bahkan bukan hanya survei media massa nasional, tapi juga survei internal PKS, yang menunjukkan tingkat dukungan kepada JK-Win terus naik, sementara itu, dukungan terhadap SBY-Boediono menurun. Namun, faktanya, soal jilbab ini, secara tegas dari Partai Demokrat, Ahmad Mubarok, menolak. “Keberagamaan itu sifatnya bathiniah, jadi kalau sekarang pakai jilbab hanya untuk kampanye, itu malah menunjukkan ketidak ikhlasannya”, ucap Mubarok. Ditambahnya, “ Akhirnya, lagi, Presiden PKS, Ir.Tifatul Sembiring, memberikan komentar lebih keras dari Mubarok, Biarkan beliau memutuskan sendiri, apakah akan memakai jilbab atau tidak. Jangan memakai jilbab itu,karena menurut keinginan orang. Kesannya jadi pura-pura, jadi biarkan saja begitu”, tambah Mubarok.'Apa kalau istrinya berjilbab masalah ekonomi selesai? Apa pendidikan, kesehatan, jadi lebih baik', tukas Tifatul. (Tempo, 7/6/2009) JK yang istrinya Mufidah menggunakan jilbab, menolak dikaitkan dengan isu SARA, dan ia mengecam dan mempertanyakan tudingan politisasi agama. Memang, sejak sebelum pilpres pun, istri JK-Win sudah menggunakan jilbab. Jadi, tidak ada kaitannya dengan politisasi agama. Dalam kesempatan lain, JK menanggapi pernyataan Anas Urbaningrum, yang menyatakan, agar tidak ada politisasi agama dalam kampanye pilpres. “Berarti, ada fihak yang meminta istri saya dan istri Pak Wiranto agar membuka jilbab. Kalau memang ada yang mau begitu, bilang saja. Itu harus dicurigai, mau apa”, kecam JK. Lebih lanjut, “Masak istri saya dan Pak Wiranto dibilang salah mengenakan jilbab”, tambah JK, disertai nada yang tinggi. Menanggapi polemik sekitar masalah jilbab yang sekarang ini berkembang luas itu, dan adanya sebagian kader PKS, yang condong memilih pasangan JK-Win, kemudian Dr. Idris Abdul Shomad, anggota DSP (Dewan Syariah Pusat) PKS, memberikan pandangannya yang disampaikan melalui pesan singkatnya (SMS), mengatakan, ‘Hisab individu itu di akhirat berdasarkan komitment dan tanggungjawab di dunia, jika dia komitment dengan PKS mesti ikut sebagai bentuk tanggungjawabnya dihadapan Allah, atau dia melepas dengan PKS, sebelum pilpres. Islam itu tidak hanya diukur dengan jilbab yang bersifat pribadi, tapi masholih mursalah bagi dakwah yang harus dikedepankan’, ujar Dr. Idris. Isi dari SMS ini mirip atau merujuk pada tulisan taujih syar'i di website DPP PKS. http://pk-sejahtera.org/v2/?op=isi&id=7427 Terlepas dari berbagai polemik yang sekarang berkembang dikalangan masyarakat luas, soal jilbab ini, maka perlu dipahami perintah Allah Ta’ala di dalam al-Qur’anul Karim : "Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung (jilbab) ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mreka miliki, atau para pelayan tua, yang tidak memiliki keinginan (terhadap perempuan), atau anak-anak yang belum mengerti aurat perempuan. Dan, janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan, bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang beriman, supaya kamu beruntung”. (An-Nur : 31). **** Demikianlah para pembaca. Kami sajikan rubrik dialog baru, dan semoga bermanfaat dan membuka wawasan. Kami mengucapkan banyak terima kasih atas perhatian, dan tanggapannya di rubrik sebelumnya. Dengan demikian rubrik sebelumnya kami tutup. Redaksi. PUARMAN - (L41-Bekasi) Telp : (021) 9232 4141 Mobile : 0856 8809 666 YM : puarman e-mail : [email protected] www.puarman.blogspot.com --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned: - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama - DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
