May 28, 2009

PKS di Bawah Bayang-bayang Jilbab
<http://blog.liputan6.com/2009/05/28/pks-di-bawah-bayang-bayang-jilbab/>



Filed under: Politik <http://blog.liputan6.com/category/politik/>  -
syamsul @ 3:42 am 

 

Moh Samsul Arifin

Mencemaskan sekali cara berpolitik tokoh dan aktivis partai di negeri
ini. Selain disetir pragmatisme, simbol-simbol agama masih saja
dieksploitasi. Yang terakhir jilbab. Kain penutup kepala perempuan
Muslim itu masuk panggung politik. Jilbab dikaitkan dengan politik
karena dianggapkan bakal menggiring pendukung parpol atau massa Islam
untuk mencontreng pasangan calon tertentu dalam pemilihan presiden/wakil
presiden. 

Kendatipun bukan melekat pada kontestan, jilbab dipandang akan menyetir
ke mana arah suara pendukung Partai Keadilan Sejahtera [PKS] yang memang
relatif "fanatis" terhadap simbol-simbol agama.

Dan inilah pernyataan yang mengejutkan itu. "Kalau mau jujur sebagian
kader PKS hatinya masih mengarah pada JK-Wiranto karena alasan istri
dari kedua pasangan ini sangat sederhana dan berjiblab," ujar
Zulkieflimansyah. Inilah yang masih kata Zulkieflimansyah-merujuk pada
survei internal PKS-telah membuat tingkat keterpilihan SBY-Boediono dan
JK-Wiranto hanya berselisih 10 persen. Dengan kata lain politisi yang
pernah membidik kursi Gubernur Banten ini ingin mengatakan di mata
pendukung PKS, tingkat keterpilihan SBY menurun dan JK merambat naik. 

Lebih jauh kolega Zul, Mahfudz Siddiq berujar, "Memang (penampilan)
istri JK dan Wiranto bagus (baca: menggunakan jilbab). PKS bisa saja
menyarankan Ibu Ani dan istri Boediono memakai kerudung," ujarnya
seperti dikutip Indo.Pos (27 Mei 2009). Cara ini dinilai akan
mengarahkan kader dan simpatisan PKS untuk mencontreng SBY-Boediono, 8
Juli mendatang.

Saya tak tahu apa kepentingan PKS mewacana jilbab jelang Pilpres ini.
Publik menerka PKS sedang menghitung ulang dukungannya pada
SBY-Boediono, melakukan bargaining terhadap incumbent atau sekadar
meneruskan kegelisahan massa pendukungnya. Yang jelas ada yang
kontradiktif di sini. Pertama, bagi perempuan Muslim jilbab adalah hal
yang substantif. Bentuk ketaatan pada sang Khalik untuk menjaga
kehormatan di muka umum. Dan kedua PKS adalah partai berideologi Islam
yang seharusnya menjauhi politik citra yang superfisial. Sayangnya
partai tarbiyah ini terperangkap pada simbol. Sangat beralasan jika
pihak-pihak kritis terhadap PKS menyebut praktik politik ini sebagai
upaya PKS memformalkan agama. 

Dalam kerangka politik modern penggunaan simbol-simbol agama untuk
menarik simpati calon pemilih sesungguhnya tidak mencerdaskan. Ini bisa
menyeret publik pada stigmatisasi yang tak perlu terhadap pihak-pihak
yang jadi korban atau dikorbankan. Seorang perempuan Muslim disebut baik
atau saleh tak bisa disederhanakan dengan jilbab atau kerudung dalam
tradisi Muslim moderat ala NU dan Muhammadiyah. 

Perdebatan soal ini akan sampai pada wilayah teologis, karena umat Islam
berbeda pandangan tentang jilbab ini. Sebagian kalangan menyebut jilbab
adalah budaya atau merupakan tafsir atas teks Al Quran. Tapi sebagian
lagi menerima jilbab sebagai perangkat yang sudah jadi. Artinya turun
dari teks suci dan berlaku wajib bagi perempuan Muslim. Bagi perspektif
ini tak memakai jilbab [ini pun masih debatable bentuk seperti apa yang
diperintahkan teks itu?] berarti melanggar perintah agama.

Menurut Nasaruddin Umar [2002], jilbab berasal dari akar kata jalaba,
berarti menghimpun dan membawa. Jilbab pada masa Nabi Muhammad SAW ialah
pakaian luar yang menutupi segenap anggota badan dari kepala hingga kaki
perempuan dewasa.

Jilbab dalam arti penutup kepala hanya dikenal di Indonesia. Di beberapa
negara Islam, pakaian sejenis jilbab dikenal dengan beberapa istilah,
seperti chador di Iran, pardeh di India dan Pakistan, milayat di Libya,
abaya di Irak, charshaf di Turki, hijab di beberapa negara Arab-Afrika
seperti di Mesir, Sudan, dan Yaman. Hijab Hanya saja pergeseran makna
hijab dari semula berarti tabir, berubah makna menjadi pakaian penutup
aurat perempuan semenjak abad ke-4 H.

Sebelum fenomena jilbab menyeruak tahun 1990-an silam, perempuan Muslim
di Indonesia lebih banyak menggunakan kerudung untuk menutupi aurat
sebagai tafsir atas perintah Al Quran. Berkerudung sudah dianggap cukup
bagi kalangan perempuan Muslim NU dan Muhammadiyah. Namun jilbab
belakangan kian menggantikan kerudung karena perbedaan tafsir atas apa
yang disebut aurat bagi perempuan Muslim.

Begitulah...saking dahsyatnya fenomena jilbab. Budayawan Emha Ainun
Nadjib pernah mengabadikannya dalam pentas bernama "Lautan Jilbab" yang
digelar di Yogyakarta, Surabaya, Makassar dan lain-lain pada 1990. Cak
Nun pun bersyair:

"Jilbab adalah keberanian di tengah hari-hari sangat menakutkan. Jilbab
adalah percikan cahaya di tengah-tengah kegelapan. Jilbab adalah
kejujuran di tengah kelicikan. Jilbab adalah kelembutan di tengah
kekasaran dan kebrutalan. Jilbab adalah kebersahajaan di tengah
kemunafikan. Jillbab adalah perlindungan di tengah sergapan-sergapan".

Ini menjadi semacam deklarasi dukungannya atas keputusan perempuan
Muslim memilih untuk menutup auratnya. Begitu pun, Cak Nun tak menjadi
fanatik. Nakhoda Kiai Kanjeng ini bahkan tak mewajibkan perempuan yang
lantas diperistrinya [Novia Kolopaking] untuk berjilbab. Ia menyerahkan
hal tersebut pada sang istri. Cak Nun, sebagaimana juga Nurcholish
Madjid dan Abdurrahman Wahid ingin mengajarkan pada Muslim Indonesia
bahwa beragama harus substantif. Sesuatu yang formal tidak pasti yang
menjadi substansi dari perintah agama. 

Buat saya sebagai mesin elektoral PKS telah membuktikan sebagai parpol
yang menjanjikan. Terbukti raihan suaranya meningkat dari Pemilu 1999
hingga 2009. Tapi PKS kini "turun pangkat" karena kembali menonjolkan
sisi-sisi simbolik agama. Dan ini membuat saya cemas. Jangan-jangan poin
yang ditonjolkan dalam buku "Ilusi Negara Islam: Ekspansi Gerakan Islam
Transnasional di Indonesia" [2009] benar adanya? Dalam buku tersebut
diudar misi terselubung partai ini untuk mendirikan negara Islam di
tanah air.

Ihwal ini segala sesuatunya telah terang. Perdebatan negara Islam tidak
relevan lagi, baik dikaitkan dengan NKRI atau tata kelola negara modern.
Syariat Islam wajib memandu dan karenanya berlaku bagi setiap Muslim di
tataran privat. Suatu yang publik seperti negara [state] tidak ikut
serta. Baiklah saya kutip dokumen keputusan PBNU saat menyelenggarakan
forum Bahtsul Masa'il, November 2007. Salah satunya menegaskan, "tidak
ada nash [teks] dalam Al Quran yang mendasari gagasan tentang negara
Islam atau perlunya mendirikan negara Islam. Negara Islam atau Khilafah
Islamiyah sepenuhnya adalah ijtihadiyah atau interpretasi Islam". 

Saya berharap hasrat-hasrat seperti itu dapat digugurkan. Karena saya
tak pernah bermimpi Indonesia akan jadi negeri mirip Afganistan di masa
Taliban yang diceritakan Khaled Hosseini dalam The Kite Runner.

http://blog.liputan6.com/2009/05/28/pks-di-bawah-bayang-bayang-jilbab/#m
ore-292

 

 

________________________________

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On
Behalf Of [email protected]
Sent: Wednesday, June 03, 2009 11:08 AM
To: [email protected]
Subject: [...@ntau-net] Re: Perkataan tifatul tentang jilbab

 

Istigfar pun sudah mulai disalahkan,semoga allah mempercepat
ditunjukinya jalan yang benar amin.saya ingat dahulu waktu pak mentri
agama munawir sajali yang mengatakan "jilbab ini simbol keislamam jadi
kalau orang sudah tau kita islam gak perlu lagi jilbab".

Kalau terulang lagi beneran sebuah kemunduran.harusnya isu jilbab yang
diangkat sudah tidak relevan karena sby 2004 menang istrinya pun tanpa
jilbab,lalu kenapa harus panik?

Jilbab cuma selembar kain? Jutaan umat islam bersimbah darah sejak jaman
jahiliyah hingga sekarang.


salam hormat 
Ronal chandra
Jilbab tidak ada hubungannya dengan politik,berpolitiklah tanpa harus
menyakiti umat islam.











The above message is for the intended recipient only and may contain 
confidential information and/or may be subject to legal privilege. If you are 
not the intended recipient, you are hereby notified that any dissemination, 
distribution, or copying of this message, or any attachment, is strictly 
prohibited. If it has reached you in error please inform us immediately by 
reply e-mail or telephone, reversing the charge if necessary. Please delete the 
message and the reply (if it contains the original message) thereafter. Thank 
you.

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

<<inline: image001.jpg>>

Kirim email ke