Dear Pak Asmarbi,

Beberapa hari yang lalu saya menyimak diskusi Jeffrie Geovani,annas urbaningrum 
dan Fadli Zon di metro tv.

Ada satu pesan dari Bang Jeffrie yangkurang lebih perkataannya "kenapa kita 
tidak terbuka benar pada setiap pasangan sehingga masyarakat bisa menilai 
dengan benar berdasarkan informasi yang diterimanya,kenapa seakan2 ada yang di 
tutupi dan khawatir dengan isu sara dan sebagainya?".

Saya teringat saat kampanye presiden di amerika,calon presiden dari partai 
republik habis2an menyerang masalah agama obama sampai huruf H pada obama 
dikatakan "husen" da masalah lainnya.

Cuma memang perlu digaris bawahi,begitu pemenang sudah ditangan dan sudah jelas 
semua wajib mendukung dan tidak boleh ada yang merasa tersakiti dan juga tidak 
boleh ada upaya pangucilan suatu golongan atau penindasan golongan yang tadinya 
tidak mendukung.

Kalau seperti ini trus pak kapan dewasanya demokrasi kita?

Kalau kita masih khawatir bahwa sikap kritisi akan ditindas jika pilihan kita 
kalah,atau daerah kita akan dikucilkan,ini masih gaya lama yang harus sama2 
kita kikis sehingga tidak ada lagi penindasan hal hal seperti ini dan ketakutan 
terhadap demokrasi.

Bukankah kita punya undang2 yang mengatur semuanya dan kita negara hukum?

Dalam 10 orang yang saya tanya tentang JK,8 menjawab gak mungkin kita orang 
luar jawa bisa menang,mau sampai kapan pola seperti ini melekat pada diri 
kita?mau sampai kapan kita jadi masyarakat kelas dua dibawah bayang2 orang jawa?

Maaf,bagi saya indonesia ini akan maju jika semakin banyak masyarakat indonesia 
yang terdidik,berpikir logic dan rasional,diakui kebebasannya,diakui hak untuk 
berbicara,hak mendapatkan pendidikannya,sehingga ketika semua itu terabaikan 
ada pertanggung jwabannya.

Sudah lebih dari 60th kita merdeka,hak pendidikan yang layak,anak2 terlantar 
yang harusnya tugas negara tidak pernah bisa selesai karena kita sebagai 
masyarakat dibuat atau dilarang untuk tidak tau dan tidak mengerti.kita seakan2 
penuh ke khawatiran akan ketakutan.

Menurut saya biarkan masyarakat yang menilai dan biarkan semua orang punya 
sikap tanpa harus dihantui rasa takut akan tekanan.

Semua isu akan terjawab diwaktunya, dan saya yakin para capres dan cawapres 
tersebut sudah memahami dinamika seperti ini,inilah mungkin arti kesiapan saat 
mereka menyatakan dekralasi.

Ambo mohon maaf kalau ado nan salah,indak ado mukasuik menggurui,ambo cuma anak 
mudo yang mencoba menatap tingginya langit.ambo pun paham akan banyaknya 
kekurangan pada diri ini.

Salam hormat 
Ronal Chandra
 


Powered by Telkomsel BlackBerry®
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke