"Ujian Negara" untuak SMP ko ambo raso muloi angkatan kami tahu 1950-51. Waktu 
itu kito baru selesai Perjuangan Nasional persis sesudah Agressi ke-2. 

Pertanyaan-pertanyaan yang kami hadapi waktu itu, banyak yang tidak ada 
hubungannya dengan pengetahuan sekolah. Sampai kini ambo takana, dan sakik 
hati,  salah satu pertanyaan ujian wakatu itu: "Apakah nama makanan Italia yang 
terkenal?"

Apo guno dan nilai pertanyaan saroman itu untuak anak sikola SMP wakatu itu? 
Seluruh angkatan kami di Bukittinggi dalam ujian tidak dapat menjawabnya. Sia 
urang Bukittinggi nan ka tahu jawabnyo wakatu itu? Guru-guru pun tidak tahu. 
Kami baru mengetahuinya kemudian sesudah Guru kami memberi tahukan dari "kunci 
jawaban" pemeriksa ujian: "spageti". Aaa nan ka tantu dek Urang Awak spageti 
tu?  Kebanyakan kami harus mengulang kelas tigo SATAHUN lai, tamasuak ambo  ...

Salam,
-- MakNgah
Sjamsir Sjarif

--- In [email protected], Riri Chaidir <riri.chai...@...> wrote:
>
> Dari dulu ambo maraso sistem ujian di Indonesia (bukan hanya UAN) ini
> "lucu". Sepertinya sistem ini menunjukkan rasa "saling tidak percaya"
> diantara sesama sub-sib sitem pendidikan".
> 
> Sehari2 murid2 dididik dengan kurikulum dari diknas, menggunakan literatur
> yang ditentukan diknas, dan dengan guru2 yang kualifikasinya sudah diakui
> oleh diknas.
> 
> Kemudian ada ujian semester. Kemudian ada lagi ujian akhir (UAN dan UAS).
> Setelah lulus dari SMA, untuk masuk perguruan tinggi negeri pun harus ada
> ujian lagi.
> 
> Nah, kalau misalnya seseorang telah lulus ulangan2 harian, ujian semester,
> tetapi dia tidak lulus UAN. Yang bodoh itu si murid atau sistemnya?
> 
> Riri
> Bekasi, L, t7
> 
> 
> 
> 2009/6/7 Hambo Ciek <hamboc...@...>
> 
> >   *
> > DPR: Hapus Ujian Nasional*
> > Dok SP - Cyprianus Aoer
> >
> > [JAKARTA] Ujian nasional (UN) bukan tolok ukur kecerdasan siswa. Sebab,
> > mereka yang meraih nilai tinggi dan lulus di UN belum tentu mampu secara
> > akademik. Karena itu, DPR mendesak pemerintah menghapus UN.
> >
> > "Jangan korbankan siswa. Lulus UN bukan patokan kecerdasan siswa," kata
> > Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Seto Mulyadi kepada SP,
> > di Jakarta, Jumat (5/6).
> >
> > Seto mengatakan, sistem UN perlu dievaluasi secara menyeluruh dan
> > komprehensif. "Evaluasi penting untuk mengetahui kendala di lapangan yang
> > menjadi penyebab terjadinya kemerosotan kelulusan anak didik di tingkat SMP
> > maupun SMU," ujarnya.
> >
> > ....dst.... Lihat di:Suara Pembaruan Minggu 7 Juni 2009:
> >
> > http://www.suarapembaruan.com/index.php?detail=News&id=8434
> >
> > --MakNgah



--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke