Dinda IJP jo dunsanak sapalanta, Setelah tigo kali ambo ulang2 mambaco ko, ado duo hal nan ingin ambo komentari, duo hal nan sangaik berhubungan dan kebetulan paragraph no pun bairiangan. Yaitu ado wacana Presiden mangaluakan Perpu capres tunggal jo suaro Golkar indak mencukupi 20% untuak bisa mencalonkan presiden. Wacana Perpu ko kalau indak salah timbua kalau indak ado calon lain nan bisa memenuhi syarat 20% atau menghadapi kemungkinan adono wacana ancaman boikot partai2 nan kesulitan mancapai 20% dengan tidak mencalonkan presiden mereka. Sementara UU Pilpres menyebutkan calon presiden ko minimum 2 calon. Para pakar politik pun mulai badiskusi dan urun rembug, kalau situasi ko terjadi, salah satu jalan keluar dan untuk menghindarkan terjadinya kekosongan dalam pemerintahan adalah Perpu Mungkin masih takana diawak nan dipalanta ko bahwa syarat untuak calon presiden ko waktu pembahasan RUU Pilpres di DPR sendiri cukup hangat dan alot. PDIP mengusulkan syarat minimum 30%, Golkar 25%, sementara partai kecil lainnya yang punya kursi dibawah 10% sangat keberatan dengan usul PDIP dan Golkar yang sangat kelihatan untuk membatasi kemungkinan partai2 kecil itu untuak bisa mencalonkan presiden sendiri dan kalau mereka berkoalisi pun hampir tidak mungkin. Setelah lobi2 nan panjang akhirnya ada kesepakatan anggota DPR dan disyahkanlah syarat ko menjadi 20%, itu pun sebenarnya buat partai2 kecil masih sangat memberatkan
Dengan salasaino pemilu legislatif yang hasilnya awak lah samo2 tau, bisa kita bayangkan kalau usul PDIP nan 30% atau usul Golkar nan 25% itu nan masuak UU Pilpres tentu effect nya terhadap PDIP dan Golkar sendiri jadi labiah barek dari pado apo nan tajadi kini, bisa dipastikan hanya dua calon presiden yang bisa muncul. Jadi kesimpulan ambo, banyak UU Pemilu dan Pilpres nan di olah, dibahas dan disahkan DPR periode 2004-2009 hasilnya mambuek partai nan mayoritas di DPR tu kalimpasiangan dan masuak parangkok surang dek komposisi DPR 2009-2014 lah barubah drastis Keputusan2 yang berdasarkan kepentingan sesaat itu lah nan manjadi pangka bala, situasi berubah lah pasti pulo kepentingan pun jadi berubah, dan ini harus jadi pelajaran bagi partai politik dalam berdemokrasi di negara awakko, utamakanlah kepentingan rakyat dan negara, untuak kepentingan partai tantu paralu juo tapi ijan lah mancolok bana. Itu nan nampak di ambo sebagai pengamat amatir nan taruih mambuek catatan2 pribadi tiok ado perkembangan ko. Talabiah takurang ambo mohon ma'af Wassalam Tan Ameh (50 + 8bln) Ma'af indak ba potong, dek indak bisa Sent from my BlackBerry® powered by Sinyal Kuat INDOSAT -----Original Message----- From: Indra Jaya Piliang <[email protected]> Date: Sun, 12 Jul 2009 11:01:11 To: <[email protected]> Subject: [...@ntau-net] Indra J. Piliang: Pak Wiranto yang Saya Kenal Indra J. Piliang: Pak Wiranto yang Saya Kenal Sebagai aktivis mahasiswa, sejak masuk UI tahun 1991, saya mengenal Wiranto sudah lama. Ya, hanya mengenal. Ketika menjadi wartawan kampus, Majalah Suara Mahasiswa UI, kami sempat mewawancarai Hendro Priyono, Pangdam Jaya. Waktu Wiranto menjadi Kasdam. Kalau saya tidak salah ingat, Wiranto waktu itu berdiri di belakang Hendro. Di kalangan aktivis mahasiswa waktu itu berkembang dua versi tentara. Satu kelompok adalah tentara merah putih dengan Wiranto sebagai dedengkot. Satu lagi adalah tentara hijau yang didedengkoti oleh Hartono. Pada waktu gerakan mahasiswa 1998, kelompok Wiranto di mata mahasiswa berhadapan dengan kelompok Prabowo Subianto. Yang banyak berhubungan dengan para jenderal ini adalah Fadli Zon. Dia teman baik saya di kampus. Tetapi, ketika dia bergabung dengan Hartono dan Prabowo membuat sebuah lembaga think tank, kami tidak pernah lagi berhubungan. Lebih dari lima tahun. Saya baru bertemu Fadli lagi ketika menikah tahun 2002. Sebagai aktivis, saya ikut dengan berbagai aktivitas, baik di kampus, atau di jalanan. Di jalanan, ada banyak demonstrasi yang kami lakukan, misalnya soal buruh Ganda Guna Indonesia, tentang Palestina, Libya, Chechnya, pembreidelan pers, kasus 27 Juli, sampai terakhir bermuara dengan aksi-aksi mahasiswa 1998 yang sebetulnya tidak seperti yang dibayangkan banyak orang. Suatu hari, catatan harian saya akan terbit soal ini. Terus terang, saya tidak menyukai Wiranto atau lebih-lebih lagi tentara, dibandingkan dengan penghargaan saya kepada kelompok intelektual. Bukan karena “benci” atau sejenisnya, melainkan karena didikan ayah saya. Ayah saya tidak menyukai anak-anaknya menjadi tentara atau pegawai negeri sipil. Setelah saya pelajari dengan baik, itu disebabkan oleh satu fakta dalam sejarah Minangkabau. Kerajaan Pagaruyung tidak mengenal tentara. Tentara, kurang lebih di mata ayah saya, adalah orang yang dirampas hak hidupnya oleh negara, lebih menyerupai kelas masyarakat bayaran. Tetapi, saya membaca buku-buku militer, sejarah militer, kisah para jenderal, sejak zaman Romawi sampai zaman Indonesia. Tidak banyak yang menarik perhatian saya. Dan hampir saya tidak mengingat banyak hal, termasuk buku-buku yang ditulis oleh almarhum AH Nasution, dllnya. Kalau dosen-dosen sejarah militer masuk kelas, biasanya saya tidak antusias untuk berdiskusi. Karena itu juga, saya bermasalah dengan sosok tentara di partai politik, termasuk dengan tentara-tentara yang masuk PAN, partai yang sempat saya masuki selama 3 tahun lebih. Ketika memutuskan masuk Partai Golkar, Juli 2008, Wiranto dan Prabowo sudah keluar. Itu saya katakan secara terbuka di media massa. Ketika kemudian Pak JK memutuskan menggandeng Pak Wiranto menjadi pasangannya, saya begitu gelisah. Keputusan itu diambil dengan banyak alasan. Pertama, SBY sedang mewacanakan capres tunggal lewat Perpu. Ini adalah keadaan yang jauh lebih berbahaya, mirip dengan Dekrit Presiden Soekarno 5 Juli 1959. Kalau ini yang terjadi, maka demokrasi tidak akan bisa diselamatkan lagi. Hal ini harus dicegah. Sayang sekali, tidak ada para ahli yang mempersoalkan ini, karena terpengaruh dengan bombardir pemberitaan bahwa Partai Golkar kalah, dan Partai Demokrat menang. Kedua, PG tidak memiliki kursi yang memenuhi syarat 20% di DPR RI hasil pemilu 2009. suara pemilihnya lebih kecil lagi. Mau tidak mau, PG hanya punya tiga pilihan: (1) Bergabung dengan Partai Demokrat; (2) Bergabung dengan PDI Perjuangan atau (3) Bergabung dengan Partai Hanura atau Partai Gerindra. Tiga kali Pak JK bertanya ke Pak SBY soal pilihan (1), tetapi tidak ada jawaban. Karena itu, dengan pertimbangan harus ada capres alternatif dan belum pastinya pencapresan Megawati, maka pilihan bergabung dengan Hanura menjadi realistik. Ketiga, Pak Wiranto bersedia untuk menurunkan tawarannya dengan menerima posisi sebagai cawapres, bukan sebagai Capres. Padahal, dalam pilpres 2004, Pak Wiranto muncul sebagai capres. Karena itu pula, tentu saya tidak ingin menjadi egois, apalagi suara saya di partai tidak ada. Keputusan diambil oleh Pak JK dan fungsionaris Partai Golkar. Saya mulai belajar untuk menerima kompromi dalam dunia politik, karena hukum besi pileg yang memang tidak memungkinkan PG maju sendirian. Karena itu pula saya belajar tentang Pak Wiranto. Saya berhubungan lagi dengan teman-teman di Partai Hanura yang dalam debat partai dalam pileg adalah “musuh” saya. Saya juga menegur Pak Wiranto, berusaha untuk mendebatnya, juga kalau perlu membuat dia ingat tentang saya. Kalau saya ada dalam posisi Pak Wir, tentu saya akan berpikir: “Ini nih, anak muda PG dan punya banyak kawan di LSM dan kaum intelektual yang selalu mengajukan penolakan atas saya.” Agak lama memang saya mencoba mencairkan diri dengan Pak Wir. Kesempatan mencairkan diri itu datang juga, justru ketika ada acara live di Metro TV dan TV One. Di ruang tamu Metro, saya mencoba mendiskusikan sejumlah hal dengannya, termasuk soal hati nurani, budaya Jawa, bahasa Jawa, dan lain-lain. Di acara TV One, yang disiarkan secara live, saya bicara BUKAN SEBAGAI TIMSES, tetapi sebagai aktivis yang ada di jalanan pada Mei 1998. Saya katakan kesaksian saya betapa sedikit sekali tentara di Universitas Trisaksi pada tanggal 13 Mei, ketika saya ada di sana, lalu melihat kerusuhan merangkak di Jakarta. Pak Wir tidak bisa menutupi kekecewaannya atas saya. Usai acara, kami duduk di meja. Lalu, terjadilah dialog kecil. Pak Wir : “Kenapa kamu masih tanyakan soal itu?” IJP : “Saya ingin Bpk bercerita apa adanya?” Pak Wir : “Tapi kan terlalu jauh di belakang. Kan sebaiknya bicara soal pertahanan, militer, jumlah tentara, dllnya?” IJP : “Justru itu maksud saya, karena itu bidang Bpk.” Pak Wir terlihat masih kesal. Sayapun tidak tahan lagi. IJP : “Pak, Bpk tahu saya ada di jalanan. Terus terang, Pak, saya kehilangan banyak sekali sahabat, ketika saya mendukung Bpk.” Pak Wir melunak, “Ya, saya tahu itu.” Pak Wir seperti tercenung. Untunglah, beberapa temannya di sekolah dasar dulu datang bergabung. Suasanapun mencair. Ya, saya kehilangan banyak sekali sahabat, termasuk yang dulu sama-sama saya di jalanan pada 1998. Mereka mengirimkan sms yang intinya menyayangkan kenapa saya mendukung JK-Wiranto. Perdebatan via sms itu berlangsung dengan beberapa orang. Kalaupun saya jelaskan bahwa PG tidak cukup kursi maju sendirian, lalu sebagai partai nomor urut 2 dalam pileg harus memajukan capres, sebagai konvensi politik ke depan, tetap saja mereka tidak mau mengerti. Sejak dialog itu, hubungan saya dengan Pak Wir menjadi cair. Sayapun mensmsnya beberapa kali. Namun, praktis selama kampanye, saya tidak bersamanya, sebagaimana juga saya jarang bersama dengan Pak JK. Hanya di Tugu Proklamasi kami bertemu, di Padang, lalu dalam beberapa kali rapat dengan begitu banyak orang. Sayapun kembali mempelajari budaya Jawa. Saya pelajari ucapan-ucapan Pak Wir atas Pak JK. Saya pelajari body languagenya ketika bersama Pak JK: begitu dekat, begitu intim dan begitu tulus. Saya pelajari keluarganya. Saya jumpai orang-orang terdekatnya sekarang, sejumlah anak-anak muda seusia saya. Saya sadari: Pak Wir benar-benar sudah menjadi manusia biasa, memiliki kebijakan, serta berusaha untuk masuk ke kehidupan politik, dengan maksud untuk membiasakan diri dengan demokrasi. Dunia dan masyarakat terlalu keras kepadanya. Termasuk saya, salah satunya. Dalam peristiwa Timor Leste, kita tahu bahwa pasukan TNI diperbantukan kepada pasukan PBB yang didominasi oleh tentara Australia, Portugal, dan sejumlah negara lain, untuk menjaga keamanan pas jajak pendapat. Timor Leste, ketika jajak pendapat digelar, adalah daerah PBB, bukan daerah Indonesia yang bisa dikontrol penuh oleh aparat sipil dan militer. Kini Timor Leste sudah menjadi sebuah negara sahabat, serta mendapatkan bantuan yang layak dari Indonesia. Sejumlah tentara sudah masuk ke penjara, karena ditetapkan bersalah oleh pengadilan, atas peristiwa HAM di sana. Saya sadar, betapa kita lebih baik dalam memahami Amerika Serikat, ketimbang negara kita sendiri. Saya tidak pernah dapat catatan, bahwa ada Panglima Tinggi Pasukan Gabungan Amerika Serikat yang dituduh bersalah dalam peristiwa HAM, ketika banyak penduduk sipil mati dibunuh di dalam perang Korea, perang Vietnam, perang Irak, dan perang-perang kaum cowboys itu di banyak negara. Anak-anak muda Indonesia begitu fasih bicara tentang kejahatan HAM di dalam negeri, tetapi tidak memiliki sikap kritis atas masalah HAM di negara lain yang dilakukan oleh tentara-tentara Amerika Serikat. Begitu banyak dana digelontorkan dari Amerika Serikat ke Indonesia, untuk digunakan bagi advokasi HAM orang-orang Indonesia. Iran, Thailand dan China kini berhadapan dengan tuduhan pelanggaran HAM serupa. Pemberitaannya muncul dari lembaga-lembaga yang berdiri di negara-negara yang dulunya adalah negara-negara kolonial yang hampir seluruhnya pernah menjajah Indonesia. di negara-negara itu, banyak sekali artefak-artefak budaya Indonesia, kekayaan kerajaan-kerajaan Indonesia dulu, disimpan dalam museum-museum dan rumah-rumah pejabatnya. Saya tidak akan membela Pak Wir. Tetapi bagi saya, dia telah banyak berpikir tentang Indonesia yang lebih baik. Dalam sepuluh tahun terakhir ini, dia juga bekerja untuk bangsa ini, sesuai dengan kapasitasnya. Dia menolak mengambil alih kekuasaan pada 1998, ketika anak buahnya (yang kini sangat terkenal), memberikan usulan itu. Dia mencabut status Daerah Operasi Militer terhadap Aceh. Dia mendirikan partai politik. Di Amerika Latin, sikap ini dihargai, tetapi di Indonesia, tidak ada penghargaan besar. Saya mendukung JK-Wiranto, karena Pak Wir merasa dirinya sebagai kelas ksatria dalam budaya Jawa. Ksatria hanya tunduk kepada kelas Brahmana. Saya tahu, tanpa perlu dia menyebut, bahwa di matanya Pak JK telah masuk kategori kelas Brahmana itu. Saya mendukung JK-Wiranto, karena JK bukanlah berasal dari kalangan militer atau mantan militer. Dari dulu, saya berjuang dengan pena agar supremasi sipil ditegakkan. Ketika Pak Wir mau menjadi wakil Pak JK, dalam realitas konkrit, “supremasi sipil atas militer” itu sudah sesuai dengan yang saya harapkan. Saya tahu, jauh lebih berbahaya bagi sosok militer berbaju sipil seperti yang kita dulu lihat dalam diri Soeharto, karena bisa melanggengkan kekuasaan selama mungkin dengan korban yang tidak sedikit di kalangan kawulo alit. Begitu juga, berbahaya juga sosol sipil berbaju militer, sebagaimana kita lihat dalam pakaian kebasaran Soekarno pasca Dekrit 5 Juli 1959. Kalau karena sikap itu saya dianggap teman-teman saya sebagai: “turut berduka cita atas matinya Indra J Piliang!” atau “kembalikan Indra J Piliangku!”, dalam pesan-pesan yang mereka kirim, saya anggap itulah resiko dari sebuah sikap. Minimal, saya sudah menjelaskan. Dan saya tidak menyesalinya. Jakarta, 12 Jul 2009. --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
