IJP,

Mokasi, penjelasannyo.
anda sangaik ambo support dan tunggu2
salamo Kampanye dan muncul live di duo stasiun TV tu...
Ambo sangaik suko caro dan teknik IJP dalam berargumen dll.

Yumetra Fidel Amir
> 
> 
> 
> Indra J. Piliang: Pak Wiranto yang Saya Kenal 
> 
> Sebagai aktivis mahasiswa, sejak masuk UI tahun 1991, saya
> mengenal Wiranto sudah lama. Ya, hanya mengenal. Ketika
> menjadi wartawan kampus, Majalah Suara Mahasiswa UI, kami
> sempat mewawancarai Hendro Priyono, Pangdam Jaya. Waktu
> Wiranto menjadi Kasdam. Kalau saya tidak salah ingat,
> Wiranto waktu itu berdiri di belakang Hendro. 
> 
> Di kalangan aktivis mahasiswa waktu itu berkembang dua
> versi tentara. Satu kelompok adalah tentara merah putih
> dengan Wiranto sebagai dedengkot. Satu lagi adalah tentara
> hijau yang didedengkoti oleh Hartono. Pada waktu gerakan
> mahasiswa 1998, kelompok Wiranto di mata mahasiswa
> berhadapan dengan kelompok Prabowo Subianto. 
> 
> Yang banyak berhubungan dengan para jenderal ini adalah
> Fadli Zon. Dia teman baik saya di kampus. Tetapi, ketika dia
> bergabung dengan Hartono dan Prabowo membuat sebuah lembaga
> think tank, kami tidak pernah lagi berhubungan. Lebih dari
> lima tahun. Saya baru bertemu Fadli lagi ketika menikah
> tahun 2002. 
> 
> Sebagai aktivis, saya ikut dengan berbagai aktivitas, baik
> di kampus, atau di jalanan. Di jalanan, ada banyak
> demonstrasi yang kami lakukan, misalnya soal buruh Ganda
> Guna Indonesia, tentang Palestina, Libya, Chechnya,
> pembreidelan pers, kasus 27 Juli, sampai terakhir bermuara
> dengan aksi-aksi mahasiswa 1998 yang sebetulnya tidak
> seperti yang dibayangkan banyak orang. Suatu hari, catatan
> harian saya akan terbit soal ini. 
> 
> Terus terang, saya tidak menyukai Wiranto atau lebih-lebih
> lagi tentara, dibandingkan dengan penghargaan saya kepada
> kelompok intelektual. Bukan karena “benci” atau
> sejenisnya, melainkan karena didikan ayah saya. Ayah saya
> tidak menyukai anak-anaknya menjadi tentara atau pegawai
> negeri sipil. Setelah saya pelajari dengan baik, itu
> disebabkan oleh satu fakta dalam sejarah Minangkabau.
> Kerajaan Pagaruyung tidak mengenal tentara. Tentara, kurang
> lebih di mata ayah saya, adalah orang yang dirampas hak
> hidupnya oleh negara, lebih menyerupai kelas masyarakat
> bayaran. 
> 
> Tetapi, saya membaca buku-buku militer, sejarah militer,
> kisah para jenderal, sejak zaman Romawi sampai zaman
> Indonesia. Tidak banyak yang menarik perhatian saya. Dan
> hampir saya tidak mengingat banyak hal, termasuk buku-buku
> yang ditulis oleh almarhum AH Nasution, dllnya. Kalau
> dosen-dosen sejarah militer masuk kelas, biasanya saya tidak
> antusias untuk berdiskusi. 
> 
> Karena itu juga, saya bermasalah dengan sosok tentara di
> partai politik, termasuk dengan tentara-tentara yang masuk
> PAN, partai yang sempat saya masuki selama 3 tahun lebih.
> Ketika memutuskan masuk Partai Golkar, Juli 2008, Wiranto
> dan Prabowo sudah keluar. Itu saya katakan secara terbuka di
> media massa. 
> 
> Ketika kemudian Pak JK memutuskan menggandeng Pak Wiranto
> menjadi pasangannya, saya begitu gelisah. Keputusan itu
> diambil dengan banyak alasan. 
> 
> Pertama, SBY sedang mewacanakan capres tunggal lewat Perpu.
> Ini adalah keadaan yang jauh lebih berbahaya, mirip dengan
> Dekrit Presiden Soekarno 5 Juli 1959. Kalau ini yang
> terjadi, maka demokrasi tidak akan bisa diselamatkan lagi.
> Hal ini harus dicegah. Sayang sekali, tidak ada para ahli
> yang mempersoalkan ini, karena terpengaruh dengan bombardir
> pemberitaan bahwa Partai Golkar kalah, dan Partai Demokrat
> menang. 
> 
> Kedua, PG tidak memiliki kursi yang memenuhi syarat 20% di
> DPR RI hasil pemilu 2009. suara pemilihnya lebih kecil lagi.
> Mau tidak mau, PG hanya punya tiga pilihan: (1) Bergabung
> dengan Partai Demokrat; (2) Bergabung dengan PDI Perjuangan
> atau (3) Bergabung dengan Partai Hanura atau Partai
> Gerindra. Tiga kali Pak JK bertanya ke Pak SBY soal pilihan
> (1), tetapi tidak ada jawaban. Karena itu, dengan
> pertimbangan harus ada capres alternatif dan belum pastinya
> pencapresan Megawati, maka pilihan bergabung dengan Hanura
> menjadi realistik. 
> 
> Ketiga, Pak Wiranto bersedia untuk menurunkan tawarannya
> dengan menerima posisi sebagai cawapres, bukan sebagai
> Capres. Padahal, dalam pilpres 2004, Pak Wiranto muncul
> sebagai capres. Karena itu pula, tentu saya tidak ingin
> menjadi egois, apalagi suara saya di partai tidak ada.
> Keputusan diambil oleh Pak JK dan fungsionaris Partai
> Golkar. Saya mulai belajar untuk menerima kompromi dalam
> dunia politik, karena hukum besi pileg yang memang tidak
> memungkinkan PG maju sendirian. 
> 
> Karena itu pula saya belajar tentang Pak Wiranto. Saya
> berhubungan lagi dengan teman-teman di Partai Hanura yang
> dalam debat partai dalam pileg adalah “musuh” saya. Saya
> juga menegur Pak Wiranto, berusaha untuk mendebatnya, juga
> kalau perlu membuat dia ingat tentang saya. Kalau saya ada
> dalam posisi Pak Wir, tentu saya akan berpikir: “Ini nih,
> anak muda PG dan punya banyak kawan di LSM dan kaum
> intelektual yang selalu mengajukan penolakan atas saya.”
> Agak lama memang saya mencoba mencairkan diri dengan Pak
> Wir. 
> 
> Kesempatan mencairkan diri itu datang juga, justru ketika
> ada acara live di Metro TV dan TV One. Di ruang tamu Metro,
> saya mencoba mendiskusikan sejumlah hal dengannya, termasuk
> soal hati nurani, budaya Jawa, bahasa Jawa, dan lain-lain.
> Di acara TV One, yang disiarkan secara live, saya bicara
> BUKAN SEBAGAI TIMSES, tetapi sebagai aktivis yang ada di
> jalanan pada Mei 1998. Saya katakan kesaksian saya betapa
> sedikit sekali tentara di Universitas Trisaksi pada tanggal
> 13 Mei, ketika saya ada di sana, lalu melihat kerusuhan
> merangkak di Jakarta. 
> 
> Pak Wir tidak bisa menutupi kekecewaannya atas saya. Usai
> acara, kami duduk di meja. Lalu, terjadilah dialog kecil. 
> 
> Pak Wir : “Kenapa kamu masih tanyakan soal itu?”
> IJP : “Saya ingin Bpk bercerita apa adanya?” 
> Pak Wir : “Tapi kan terlalu jauh di belakang. Kan
> sebaiknya bicara soal pertahanan, militer, jumlah tentara,
> dllnya?”
> IJP : “Justru itu maksud saya, karena itu bidang Bpk.”
> 
> Pak Wir terlihat masih kesal. Sayapun tidak tahan lagi. 
> 
> IJP : “Pak, Bpk tahu saya ada di jalanan. Terus terang,
> Pak, saya kehilangan banyak sekali sahabat, ketika saya
> mendukung Bpk.” 
> 
> Pak Wir melunak, “Ya, saya tahu itu.” Pak Wir seperti
> tercenung. Untunglah, beberapa temannya di sekolah dasar
> dulu datang bergabung. Suasanapun mencair. 
> 
> Ya, saya kehilangan banyak sekali sahabat, termasuk yang
> dulu sama-sama saya di jalanan pada 1998. Mereka mengirimkan
> sms yang intinya menyayangkan kenapa saya mendukung
> JK-Wiranto. Perdebatan via sms itu berlangsung dengan
> beberapa orang. Kalaupun saya jelaskan bahwa PG tidak cukup
> kursi maju sendirian, lalu sebagai partai nomor urut 2 dalam
> pileg harus memajukan capres, sebagai konvensi politik ke
> depan, tetap saja mereka tidak mau mengerti. 
> 
> Sejak dialog itu, hubungan saya dengan Pak Wir menjadi
> cair. Sayapun mensmsnya beberapa kali. Namun, praktis selama
> kampanye, saya tidak bersamanya, sebagaimana juga saya
> jarang bersama dengan Pak JK. Hanya di Tugu Proklamasi kami
> bertemu, di Padang, lalu dalam beberapa kali rapat dengan
> begitu banyak orang. 
> 
> Sayapun kembali mempelajari budaya Jawa. Saya pelajari
> ucapan-ucapan Pak Wir atas Pak JK. Saya pelajari body
> languagenya ketika bersama Pak JK: begitu dekat, begitu
> intim dan begitu tulus. Saya pelajari keluarganya. Saya
> jumpai orang-orang terdekatnya sekarang, sejumlah anak-anak
> muda seusia saya. Saya sadari: Pak Wir benar-benar sudah
> menjadi manusia biasa, memiliki kebijakan, serta berusaha
> untuk masuk ke kehidupan politik, dengan maksud untuk
> membiasakan diri dengan demokrasi. 
> 
> Dunia dan masyarakat terlalu keras kepadanya. Termasuk
> saya, salah satunya. Dalam peristiwa Timor Leste, kita tahu
> bahwa pasukan TNI diperbantukan kepada pasukan PBB yang
> didominasi oleh tentara Australia, Portugal, dan sejumlah
> negara lain, untuk menjaga keamanan pas jajak pendapat.
> Timor Leste, ketika jajak pendapat digelar, adalah daerah
> PBB, bukan daerah Indonesia yang bisa dikontrol penuh oleh
> aparat sipil dan militer. Kini Timor Leste sudah menjadi
> sebuah negara sahabat, serta mendapatkan bantuan yang layak
> dari Indonesia. Sejumlah tentara sudah masuk ke penjara,
> karena ditetapkan bersalah oleh pengadilan, atas peristiwa
> HAM di sana. 
> 
> Saya sadar, betapa kita lebih baik dalam memahami Amerika
> Serikat, ketimbang negara kita sendiri. Saya tidak pernah
> dapat catatan, bahwa ada Panglima Tinggi Pasukan Gabungan
> Amerika Serikat yang dituduh bersalah dalam peristiwa HAM,
> ketika banyak penduduk sipil mati dibunuh di dalam perang
> Korea, perang Vietnam, perang Irak, dan perang-perang kaum
> cowboys itu di banyak negara. Anak-anak muda Indonesia
> begitu fasih bicara tentang kejahatan HAM di dalam negeri,
> tetapi tidak memiliki sikap kritis atas masalah HAM di
> negara lain yang dilakukan oleh tentara-tentara Amerika
> Serikat. Begitu banyak dana digelontorkan dari Amerika
> Serikat ke Indonesia, untuk digunakan bagi advokasi HAM
> orang-orang Indonesia. 
> 
> Iran, Thailand dan China kini berhadapan dengan tuduhan
> pelanggaran HAM serupa. Pemberitaannya muncul dari
> lembaga-lembaga yang berdiri di negara-negara yang dulunya
> adalah negara-negara kolonial yang hampir seluruhnya pernah
> menjajah Indonesia. di negara-negara itu, banyak sekali
> artefak-artefak budaya Indonesia, kekayaan kerajaan-kerajaan
> Indonesia dulu, disimpan dalam museum-museum dan rumah-rumah
> pejabatnya. 
> 
> Saya tidak akan membela Pak Wir. Tetapi bagi saya, dia
> telah banyak berpikir tentang Indonesia yang lebih baik.
> Dalam sepuluh tahun terakhir ini, dia juga bekerja untuk
> bangsa ini, sesuai dengan kapasitasnya. Dia menolak
> mengambil alih kekuasaan pada 1998, ketika anak buahnya
> (yang kini sangat terkenal), memberikan usulan itu. Dia
> mencabut status Daerah Operasi Militer terhadap Aceh. Dia
> mendirikan partai politik. Di Amerika Latin, sikap ini
> dihargai, tetapi di Indonesia, tidak ada penghargaan besar.
> 
> 
> Saya mendukung JK-Wiranto, karena Pak Wir merasa dirinya
> sebagai kelas ksatria dalam budaya Jawa. Ksatria hanya
> tunduk kepada kelas Brahmana. Saya tahu, tanpa perlu dia
> menyebut, bahwa di matanya Pak JK telah masuk kategori kelas
> Brahmana itu. 
> 
> Saya mendukung JK-Wiranto, karena JK bukanlah berasal dari
> kalangan militer atau mantan militer. Dari dulu, saya
> berjuang dengan pena agar supremasi sipil ditegakkan. Ketika
> Pak Wir mau menjadi wakil Pak JK, dalam realitas konkrit,
> “supremasi sipil atas militer” itu sudah sesuai dengan
> yang saya harapkan. Saya tahu, jauh lebih berbahaya bagi
> sosok militer berbaju sipil seperti yang kita dulu lihat
> dalam diri Soeharto, karena bisa melanggengkan kekuasaan
> selama mungkin dengan korban yang tidak sedikit di kalangan
> kawulo alit. Begitu juga, berbahaya juga sosol sipil berbaju
> militer, sebagaimana kita lihat dalam pakaian kebasaran
> Soekarno pasca Dekrit 5 Juli 1959. 
> 
> Kalau karena sikap itu saya dianggap teman-teman saya
> sebagai: “turut berduka cita atas matinya Indra J
> Piliang!” atau “kembalikan Indra J Piliangku!”, dalam
> pesan-pesan yang mereka kirim, saya anggap itulah resiko
> dari sebuah sikap. Minimal, saya sudah menjelaskan. Dan saya
> tidak menyesalinya.
> 
> Jakarta, 12 Jul 2009. 
> 
> 
> 
>       
> 
> 
> 
> > 
> 


      
___________________________________________________________________________
Nama baru untuk Anda! 
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail. 
Cepat sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke