Assalamualaikum
Wr Wb
Adi Dunsanak
Palanta RN uan mulia
Dalam pulang
bertugas yang tertunda saya masih tersangkut di Kota Dumai untuk sesuatu
urusan, dikamar hotel saya mencoba menulis sebuah kisah dari berbagai
keeping-keping
kemeriahan HUT Emas SMA 1 Landbouw Bukit Tinggi. Selamat membaca semoga ada
hikmah dibalik kejadian yang saya alami ini Wass-Jepe
***
HUT EMAS ITU
Dalam Suka
ada (sedikit) Duka
By : Jepe
Jum’at, malam Sabtu itu (24 Juli) begitu meriahnya
suasana malam gembira dipanggung terbuka halaman sekolah SMA 1 Bukit Tinggi
dalam menyambut peringatan ulang tahun emasnya yang ke 50, para alumninya
bersuka ria melepaskan
kerinduan satu sama lain, bersenda gurau saling berbagi cerita penuh suka,canda
dan tawa. Tepuk gemuruh diberikan pada alumni dari Pekanbaru-Riau ketika saya
yang ikut berpatisipasi pada HUT ini bersama mereka menampilkan tari indang,
bernyanyi dan berpantun. Dibalik suka tersebut tersimpan sedikit kisah duka
yang saya alami dan kisah duka itu menimpa putri ketiga saya “my nice little
girl” Regita Putri Nabila yang
berumur 7 Tahun 5 bulan dan duduk bangku kelas 2 SDN Pekanbaru
Selesai kami menampilkan tari,
nyanyi dan pantun tersebut saya duduk di bagian depan sayap kiri panggung
bersama kakanda Nofrin dan Adinda Adek Kurnia Chalik sambil menyaksikan
beberapa rangkaian acara dan hiburan yang ditampilkan alumni. Uda Nofrin sering
beranjak dari kursinya tentunya sebagai “Mat Kodak” Ia begitu sibuk
mengabadikan setiap momen
acara tersebut dengan kamera yang digantungkan dilehernya. Sementara anak saya
yang akrab dipanggil Regi tak kalah sibuknya juga jepret sana sini dengan
“Pocket CamDig” yang
digenggamnya, apapun momen acara tersebut tidak luput dari bidikannya dengan
kamera ditangan layaknya seorang photographer cilik. Regi mondar mandir
disekitar panggung yang tingginya lebih kurang 1,5 Meter, kadang-kadang Ia maju
terlalu dekat ke bibir panggung untuk memotret berbagai acara yang ditampilkan
para alumni SMA 1. Da Nofrin menyaksikan Regi yang sibuk “tak menentu” potret
sana sini didepan
panggung sempat “nyeletuk” pada saya “Wah..anak Jepe ada bakat tuh jadi
Photographer” lalu ketika Regi menghampiri saya , Da Nofrin berkata sambil
mengusap kepala Regi “Nanti bisa seperti Om
ya”
Regi kembali dengan aksinya
dibawah panggung dengan kameranya seperti biasa jeprat jepret sana sini entah
apa yang dijepret yang
penting terlihat “sibuk” seperti Om Nofrin, tapi tiba-tiba “Ya Allah Ya
Tuhanku” Kameramen yang lagi bertugas diatas panggung tergelincir dan
kehilangan keseimbangan tak pelak lagi jatuh bersama kamera yang dipundaknya.
Kameramen yang bertubuh tegap ini jatuh peris menimpa anak saya Regi tanpa
ampun Regi tertindih dan itu saya saksikan lansung dengan mata kepala saya
bagaimana jatuhnya sang kameramen dari panggung dan menimpa anak saya. Semua
orang yang menyaksikannya menjerit. Saya, Da Nofrin dan Adek Kurnia berlari
menemui Regi.
Regi terjerembat ke tanah
sementara kamera ditangannya terpelanting, Ia menangis tersedu-sedu sebelum
saya peluk telah didirikan Regi oleh orang terdekat yang membantunya.
“Aduhh sayang..apa yang sakit
sayang..terkilir tangan dan kakimu Nak” rintihan saya ketika Regi berada
dipelukan saya. Regi tidak menjawab hanya menangis dan menangis sambil kaki dan
tangannya kesakitan, lalu saya teliti sekujur tubuhnya pada bagian siku
dan pergelangan serta telapak kaki kiri
kanannya lecet dan mulai mengeluarkan darah sepatunya copot. Regi saya gendong
dan papah dari depan panggung lalu saya dudukan “Sakit sayang..sakit tangan
Regi” saya coba membujuknya, Regi hanya bisa menangis dan menangis dalam
dekapan ibunya yang sedang repot menggendong adiknya Zidane yang tertidur.
Seorang Ibu baik hati alumni SMA 1 dan salah satu Uni (maaf lupa namanya bagian
rombongan kami yang tampil membawakan pantun dengan Pak Emi) mencoba membujuk
Regi dengan mengusap kepalanya serta membersihkan luka-luka dipergelangan dan
telapak kakinya dengan tisu). Saya hanya
bisa menyaksikan dengan sedih hati, perasaan saya galau dan buncah takut
terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada tubuhnya. Regi sudah mulai meredakan
tangisnya sambil memeluk istri saya yang duduk menggendong adiknya sambil
menenangkanya.
Hati dan perasaan saya sudah kacau, patah dan tidak bersemangat lagi
menyaksikan rangkaian acara hiburan yang masih ditampilkan.
Akhirnya saya memutuskan untuk
pulang balik ke hotel tempat kami menginap di kota Bukit Tinggi, Regi dipapah
istri saya
berjalan sambil terpincang-pincang
menahan sakit luka dikaki, sementara saya menggendong anak bungsu saya yang
tertidur ke halaman depan sekolah dimana mobil saya parkir. Dikursi belakang
mobil Regi saya tidurkan lalu meluncur meninggalkan halaman sekolah SMA 1.
Disebuah warung yang masih buka dipersimpangan jalan menuju jalan utama Bukit
Tinggi saya singgah untuk membeli obat luka bermerek Betadine. Mobil saya pacu
menuju hotel tempat kami bermalam. Sesampai dikamar hotel Regi saya baringkan.
Ia masih merintih kesakitan lalu saya periksa sekujur tubuhnya dan saya
tanyakan “ada yang sakit dalam tubuh Regi” Alhamdulillah Regi menjawab tidak
ada cuma lengan kirinya sedikit sakit mungkin terkilir lalu saya coba urut
secara perlahan lengannya yang sakit ini kakinya saya selonjorkan.
Luka lecet dipergelangan dan
tapak kakinya saya bersihkan dengan kapas kosmetik ibunya yang telah saya
basahi dengan air hangat lalu saya oleskan betadine pada bagian yang luka. Regi
sudah mulai kelihatan nyaman karena kelelahan dan capek secara”psikologis”
mengingat kejadian tersebut akhirnya Ia tertidur pulas. Saya lalu mengambil
wuduk dan menunaikan shalat Isya, diakhir sholat saya berdoa dengan khusuk
“Ya Allah, tidak ada yang mudah kecuali apa
yang Engkau mudahkan dan tidak ada yang sulit jika Engkau menghendakinya
kemudahan..Ya Allah engkau maha segalanya lindungilah dan berikanlah kemudahan
itu pada kami,pada anak kami yang tertimpa musibah yang tidak pernah kami
bayangkan, Ya Allah ampuni dosa kami jika memang kami lalai dalam menjaga
titipanMu…Ya Allah jika besok pagi menjelang tunjukanlah pada kami Regi anak
dari hambaMu yang lalai ini kembali seperti semula dengan segala keceriaannya
dan senyumnya yang menawan…maaf kami ya Allah..sembuhkan anak kami dari sakit
yang dideritanya. Sesungguhnya kami
milikMu ya Allah dan kami akan kembali kepadaMu, berilah kami pahala
atas musibah yang menimpa kami…Amin ya Rabballalamin”
Selesai shalat Isya dan berdoa
saya menghampiri Regi yang tidur dan dipeluk oleh adiknya serta Ibunya, lalu
saya usap dan belai kening serta rambutnya dengan penuh rasa sayang dan iba,
saya daratkan ciuman ke pipinya yang
menggemaskan. Lalu saya tidur disampingnya. Kami mengapit kedua anak kami yang
tertidur pulas. Paginya Regi bangun dan sudah menampakan senyumnya sambil
melihat dan meraba luka lecet dikaki sekali –kali adiknya Zidane bertanya “Napa
kaki kak Egi…luka ya
..sakit ya”…Regi hanya bisa menjawab “Iya kakak ditimpa orang Dan”.Kamar mandi
di hotel saya atur airnya biar hangat buat Regi mandi, setelah semua beres Regi
membuka baju dan celananya menuju kamar mandi dan mandi sepuasnya dengan air
hangat yang mengucur dari “shower” membelai sekujur tubuhnya.
Setelah kami semua mandi dan
berdandan rapi lalu turun kebawah untuk sarapan pagi yang disediakan hotel.
Regi cukup lahap menyamtap mie goreng dengan telor mata sapi dengan segelas teh
panas. Tuntas sudah sarapan pagi kami dengan jalan sedikit tertatih-tatih Regi
menuju mobil, lalu kami meluncur ke Kota Bukit Tinggi di pagi yang cuacanya
sangat cerah, sejenak kami keliling-keliling di Kota Bukit Tinggi yang pada
waktu itu memang sangat meriah oleh para Alumni yang sedang jalan kaki dan
berolah raga. Sabtu jam 10 pagi kami istirahat sejenak menikmatinya panorama
Ngarai Sianok. Regi sudah mulai lagi dengan keceriaannya dan mulai banyak
bicara “Pa gimana kameranya..rusak” Tanya Regi pada saya. Oh ya..Papa belum
coba, lalu saya ambil kamera yang tersimpan dalam tas jinjing istri saya,
tombol “power” saya tekan, Alhamdulillah kamera poket digital saya masih
berfungsi dengan normal, lalu sambil bercanda saya sapa Regi “Regi mau jeprat
jepret lagi” Regi hanya bisa tersenyum kecut jika mengingat kejadian semalam
“Nggak papa aja yang potret”.
Saya lalu mengambil beberapa foto
di panorama Ngarai Sianok, setelah puas mengelilingi Panorama Ngarai Sianok
sekitar jam 11 an kami bergerak ke SMA 1
dan berencana makan siang menikmati nasi kapau yang dijajakan oleh
stan-stan makanan seputar halaman belakang sekolah tersebut. Sesampainya
dihalaman belakang sekolah kami lansung menuju stan nasi kapau lalu saya pesan
dua bungkus nasi ramas, buat Regi saya pesankan menu kegemarannya yaitu ayam
goreng bumbu, buat saya..waww double “sambanyo” yaitu tunjang nan tatapak dan
dendeng balado. Kami makan dengan lahap sambil duduk dikursi kayu anak sekolah
sementara hiburan musik Kim yang dibawakan “Uwo” telah dimulai, sambil nasi
disuap kami juga menyimak nomor yang keluar dinyanyikan Uwo dan mencoret dengan
spidol pada kertas yang bertuliskan sederet angka baik mendatar maupun menurun.
Regi tak kalah antusiasnya menyimak dan mencoret angka-angka sambil sekali-kali
bertanya pada saya angka yang keluar.
Saat sholat Zuhur masuk .
permainan hiburan musik Kim istirahat sejenak dan nanti dilanjutkan lagi pada
pukul 13.30 Wib, kami tidak meneruskan lagi mengikuti acara tersebut
karena ada sesuatu hal yang menganggu.
Biasalah bemper Zidane beratnya sudah bertambah dan Ia mulai gelisah. Kami
putuskan balik ke hotel dan istirahat tidur siang dan malamnya kami ingin juga
menyaksikan acara puncak HUT Emas SMA 1 Bukit Tinggi yang diselenggarakan di
Hall
Gedung Bung Hatta yang terletak diseputar Jam Gadang. Kami siang menjelang sore
itu entah kenapa empat beranak tidur dengan pulas larut dengan mimpi
masing-masing.Ya dalam sebuah suasana suka kadang-kadang terselip juga suasana
duka, tapi duka yang saya alami tetap membuat kami bahagia karena hal yang kami
kuatirkan dengan anak tercinta kami “My Nice Little Girl” Regita Putri Nabila
tidak berujung pada situasi yang
membahayakan bagi dirinya. Hanya rasa syukur dengan memuji namaMu ya Allah yang
dapat kami persembahkan buatMu.
***
Dumai, Pulang yang tertunda, 30
Juli 2009
Akses email lebih cepat. Yahoo! menyarankan Anda meng-upgrade browser ke
Internet Explorer 8 baru yang dioptimalkan untuk Yahoo! Dapatkan di sini!
http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected]
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---