Assalamu'alaikum Wr,Wb Selama 4 hari pergi ke Jogja dan Semarang membuat Uni gak pernah baca2 RN , gimana sekarang Regi sdh lebih baik , apapun namanya jenis musibah tetap merupakan suatu lecutan buat kita , begitu juga Uni setiap ada musibah Uni sering bertanya pada diri sendiri ,ada apa dengan saya ya ALLAH ,semoga setiap musibah atau cobaan yang ALLAH berikan pada kita selalu ada hikmah yang baik buat kita .Amin Semoga kejadian2 ini tidak mengurangi kegembiraan dalam berlibur.
Wassalam Dewi Mutiara,suku Sikumbang --- On Thu, 7/30/09, jupardi andi <[email protected]> wrote: From: jupardi andi <[email protected]> Subject: [...@ntau-net] HUT EMAS ITU- Dalam Suka ada (sedikit) Duka by : Jepe To: "rantaunet rantaunet" <[email protected]> Date: Thursday, July 30, 2009, 10:36 AM Assalamualaikum Wr Wb Adi Dunsanak Palanta RN uan mulia Dalam pulang bertugas yang tertunda saya masih tersangkut di Kota Dumai untuk sesuatu urusan, dikamar hotel saya mencoba menulis sebuah kisah dari berbagai keeping-keping kemeriahan HUT Emas SMA 1 Landbouw Bukit Tinggi. Selamat membaca semoga ada hikmah dibalik kejadian yang saya alami ini Wass-Jepe *** HUT EMAS ITU Dalam Suka ada (sedikit) Duka By : Jepe Jum’at, malam Sabtu itu (24 Juli) begitu meriahnya suasana malam gembira dipanggung terbuka halaman sekolah SMA 1 Bukit Tinggi dalam menyambut peringatan ulang tahun emasnya yang ke 50, para alumninya bersuka ria melepaskan kerinduan satu sama lain, bersenda gurau saling berbagi cerita penuh suka,canda dan tawa. Tepuk gemuruh diberikan pada alumni dari Pekanbaru-Riau ketika saya yang ikut berpatisipasi pada HUT ini bersama mereka menampilkan tari indang, bernyanyi dan berpantun. Dibalik suka tersebut tersimpan sedikit kisah duka yang saya alami dan kisah duka itu menimpa putri ketiga saya “my nice little girl” Regita Putri Nabila yang berumur 7 Tahun 5 bulan dan duduk bangku kelas 2 SDN Pekanbaru Selesai kami menampilkan tari, nyanyi dan pantun tersebut saya duduk di bagian depan sayap kiri panggung bersama kakanda Nofrin dan Adinda Adek Kurnia Chalik sambil menyaksikan beberapa rangkaian acara dan hiburan yang ditampilkan alumni. Uda Nofrin sering beranjak dari kursinya tentunya sebagai “Mat Kodak” Ia begitu sibuk mengabadikan setiap momen acara tersebut dengan kamera yang digantungkan dilehernya. Sementara anak saya yang akrab dipanggil Regi tak kalah sibuknya juga jepret sana sini dengan “Pocket CamDig” yang digenggamnya, apapun momen acara tersebut tidak luput dari bidikannya dengan kamera ditangan layaknya seorang photographer cilik. Regi mondar mandir disekitar panggung yang tingginya lebih kurang 1,5 Meter, kadang-kadang Ia maju terlalu dekat ke bibir panggung untuk memotret berbagai acara yang ditampilkan para alumni SMA 1. Da Nofrin menyaksikan Regi yang sibuk “tak menentu” potret sana sini didepan panggung sempat “nyeletuk” pada saya “Wah..anak Jepe ada bakat tuh jadi Photographer” lalu ketika Regi menghampiri saya , Da Nofrin berkata sambil mengusap kepala Regi “Nanti bisa seperti Om ya” Regi kembali dengan aksinya dibawah panggung dengan kameranya seperti biasa jeprat jepret sana sini entah apa yang dijepret yang penting terlihat “sibuk” seperti Om Nofrin, tapi tiba-tiba “Ya Allah Ya Tuhanku” Kameramen yang lagi bertugas diatas panggung tergelincir dan kehilangan keseimbangan tak pelak lagi jatuh bersama kamera yang dipundaknya. Kameramen yang bertubuh tegap ini jatuh peris menimpa anak saya Regi tanpa ampun Regi tertindih dan itu saya saksikan lansung dengan mata kepala saya bagaimana jatuhnya sang kameramen dari panggung dan menimpa anak saya. Semua orang yang menyaksikannya menjerit. Saya, Da Nofrin dan Adek Kurnia berlari menemui Regi. Regi terjerembat ke tanah sementara kamera ditangannya terpelanting, Ia menangis tersedu-sedu sebelum saya peluk telah didirikan Regi oleh orang terdekat yang membantunya. “Aduhh sayang..apa yang sakit sayang..terkilir tangan dan kakimu Nak” rintihan saya ketika Regi berada dipelukan saya. Regi tidak menjawab hanya menangis dan menangis sambil kaki dan tangannya kesakitan, lalu saya teliti sekujur tubuhnya pada bagian siku dan pergelangan serta telapak kaki kiri kanannya lecet dan mulai mengeluarkan darah sepatunya copot. Regi saya gendong dan papah dari depan panggung lalu saya dudukan “Sakit sayang..sakit tangan Regi” saya coba membujuknya, Regi hanya bisa menangis dan menangis dalam dekapan ibunya yang sedang repot menggendong adiknya Zidane yang tertidur. Seorang Ibu baik hati alumni SMA 1 dan salah satu Uni (maaf lupa namanya bagian rombongan kami yang tampil membawakan pantun dengan Pak Emi) mencoba membujuk Regi dengan mengusap kepalanya serta membersihkan luka-luka dipergelangan dan telapak kakinya dengan tisu). Saya hanya bisa menyaksikan dengan sedih hati, perasaan saya galau dan buncah takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada tubuhnya. Regi sudah mulai meredakan tangisnya sambil memeluk istri saya yang duduk menggendong adiknya sambil menenangkanya. Hati dan perasaan saya sudah kacau, patah dan tidak bersemangat lagi menyaksikan rangkaian acara hiburan yang masih ditampilkan. Akhirnya saya memutuskan untuk pulang balik ke hotel tempat kami menginap di kota Bukit Tinggi, Regi dipapah istri saya berjalan sambil terpincang-pincang menahan sakit luka dikaki, sementara saya menggendong anak bungsu saya yang tertidur ke halaman depan sekolah dimana mobil saya parkir. Dikursi belakang mobil Regi saya tidurkan lalu meluncur meninggalkan halaman sekolah SMA 1. Disebuah warung yang masih buka dipersimpangan jalan menuju jalan utama Bukit Tinggi saya singgah untuk membeli obat luka bermerek Betadine. Mobil saya pacu menuju hotel tempat kami bermalam. Sesampai dikamar hotel Regi saya baringkan. Ia masih merintih kesakitan lalu saya periksa sekujur tubuhnya dan saya tanyakan “ada yang sakit dalam tubuh Regi” Alhamdulillah Regi menjawab tidak ada cuma lengan kirinya sedikit sakit mungkin terkilir lalu saya coba urut secara perlahan lengannya yang sakit ini kakinya saya selonjorkan.. Luka lecet dipergelangan dan tapak kakinya saya bersihkan dengan kapas kosmetik ibunya yang telah saya basahi dengan air hangat lalu saya oleskan betadine pada bagian yang luka. Regi sudah mulai kelihatan nyaman karena kelelahan dan capek secara”psikologis” mengingat kejadian tersebut akhirnya Ia tertidur pulas. Saya lalu mengambil wuduk dan menunaikan shalat Isya, diakhir sholat saya berdoa dengan khusuk “Ya Allah, tidak ada yang mudah kecuali apa yang Engkau mudahkan dan tidak ada yang sulit jika Engkau menghendakinya kemudahan..Ya Allah engkau maha segalanya lindungilah dan berikanlah kemudahan itu pada kami,pada anak kami yang tertimpa musibah yang tidak pernah kami bayangkan, Ya Allah ampuni dosa kami jika memang kami lalai dalam menjaga titipanMu…Ya Allah jika besok pagi menjelang tunjukanlah pada kami Regi anak dari hambaMu yang lalai ini kembali seperti semula dengan segala keceriaannya dan senyumnya yang menawan…maaf kami ya Allah..sembuhkan anak kami dari sakit yang dideritanya. Sesungguhnya kami milikMu ya Allah dan kami akan kembali kepadaMu, berilah kami pahala atas musibah yang menimpa kami…Amin ya Rabballalamin” Selesai shalat Isya dan berdoa saya menghampiri Regi yang tidur dan dipeluk oleh adiknya serta Ibunya, lalu saya usap dan belai kening serta rambutnya dengan penuh rasa sayang dan iba, saya daratkan ciuman ke pipinya yang menggemaskan. Lalu saya tidur disampingnya. Kami mengapit kedua anak kami yang tertidur pulas. Paginya Regi bangun dan sudah menampakan senyumnya sambil melihat dan meraba luka lecet dikaki sekali –kali adiknya Zidane bertanya “ Napa kaki kak Egi…luka ya ..sakit ya”…Regi hanya bisa menjawab “Iya kakak ditimpa orang Dan”.Kamar mandi di hotel saya atur airnya biar hangat buat Regi mandi, setelah semua beres Regi membuka baju dan celananya menuju kamar mandi dan mandi sepuasnya dengan air hangat yang mengucur dari “shower” membelai sekujur tubuhnya. Setelah kami semua mandi dan berdandan rapi lalu turun kebawah untuk sarapan pagi yang disediakan hotel. Regi cukup lahap menyamtap mie goreng dengan telor mata sapi dengan segelas teh panas. Tuntas sudah sarapan pagi kami dengan jalan sedikit tertatih-tatih Regi menuju mobil, lalu kami meluncur ke Kota Bukit Tinggi di pagi yang cuacanya sangat cerah, sejenak kami keliling-keliling di Kota Bukit Tinggi yang pada waktu itu memang sangat meriah oleh para Alumni yang sedang jalan kaki dan berolah raga. Sabtu jam 10 pagi kami istirahat sejenak menikmatinya panorama Ngarai Sianok. Regi sudah mulai lagi dengan keceriaannya dan mulai banyak bicara “Pa gimana kameranya..rusak” Tanya Regi pada saya. Oh ya..Papa belum coba, lalu saya ambil kamera yang tersimpan dalam tas jinjing istri saya, tombol “power” saya tekan, Alhamdulillah kamera poket digital saya masih berfungsi dengan normal, lalu sambil bercanda saya sapa Regi “Regi mau jeprat jepret lagi” Regi hanya bisa tersenyum kecut jika mengingat kejadian semalam “Nggak papa aja yang potret”. Saya lalu mengambil beberapa foto di panorama Ngarai Sianok, setelah puas mengelilingi Panorama Ngarai Sianok sekitar jam 11 an kami bergerak ke SMA 1 dan berencana makan siang menikmati nasi kapau yang dijajakan oleh stan-stan makanan seputar halaman belakang sekolah tersebut. Sesampainya dihalaman belakang sekolah kami lansung menuju stan nasi kapau lalu saya pesan dua bungkus nasi ramas, buat Regi saya pesankan menu kegemarannya yaitu ayam goreng bumbu, buat saya..waww double “sambanyo” yaitu tunjang nan tatapak dan dendeng balado. Kami makan dengan lahap sambil duduk dikursi kayu anak sekolah sementara hiburan musik Kim yang dibawakan “Uwo” telah dimulai, sambil nasi disuap kami juga menyimak nomor yang keluar dinyanyikan Uwo dan mencoret dengan spidol pada kertas yang bertuliskan sederet angka baik mendatar maupun menurun. Regi tak kalah antusiasnya menyimak dan mencoret angka-angka sambil sekali-kali bertanya pada saya angka yang keluar. Saat sholat Zuhur masuk . permainan hiburan musik Kim istirahat sejenak dan nanti dilanjutkan lagi pada pukul 13.30 Wib, kami tidak meneruskan lagi mengikuti acara tersebut karena ada sesuatu hal yang menganggu. Biasalah bemper Zidane beratnya sudah bertambah dan Ia mulai gelisah. Kami putuskan balik ke hotel dan istirahat tidur siang dan malamnya kami ingin juga menyaksikan acara puncak HUT Emas SMA 1 Bukit Tinggi yang diselenggarakan di Hall Gedung Bung Hatta yang terletak diseputar Jam Gadang. Kami siang menjelang sore itu entah kenapa empat beranak tidur dengan pulas larut dengan mimpi masing-masing.Ya dalam sebuah suasana suka kadang-kadang terselip juga suasana duka, tapi duka yang saya alami tetap membuat kami bahagia karena hal yang kami kuatirkan dengan anak tercinta kami “My Nice Little Girl” Regita Putri Nabila tidak berujung pada situasi yang membahayakan bagi dirinya. Hanya rasa syukur dengan memuji namaMu ya Allah yang dapat kami persembahkan buatMu. *** Dumai, Pulang yang tertunda, 30 Juli 2009 Menambah banyak teman sangatlah mudah dan cepat. Undang teman dari Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger sekarang --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
