Adinda IJP, ASSALAMU'ALAIKUM WW Salamaik dan tarimokasih ateh Usaho dan kagiatan adinda di kampuang kiniko, semoga ALLAH SWT menyertai setiap langkah adinda.
Kito di Minang memang indak punyo LEADER dan kakurangan Leadership dalam manajemen darurat sarupo iko. Taruihkan IJP, kalau bisa IJP langsuang terjun untuak jadi SUMBAR 2, diawali dengan langkah dalam penanganan musibah gampo ko. Nagari awak memerlukan "Real Leader" nan Indak Munafik dan Indak gadang Ota, indak 'Ujub, indak suko angkek talua dan indak suko mangapik daun kunyik. Wassalamu'alaikum WW Erinos Bagindo Rajo (52) ________________________________ --- On Sat, 10/3/09, Indra J Piliang <[email protected]> wrote: > From: Indra J Piliang <[email protected]> > Subject: [...@ntau-net] Laporan Hari ke3 > To: "RantauNet" <[email protected]>, "Forahmi" > <[email protected]>, "FPK" <[email protected]> > Date: Saturday, October 3, 2009, 3:05 AM > Karena baru datang hari ini, laporan > ini dinamakan Laporan Hari ke3. > > Sebelumnya, saya sedikit "membela" Pemda Sumbar dlm acara > SUN TV pd Kamis mlm. Dan saya cabut kembali pernyataan itu. > Memang, setahun lalu saya dengar Gamawan Fauzi bicara dlm > acara SSM tentang antisipasi gempa, tsunami, dll. Fauzi > Bahar juga sudah mengadakan simulasi gempa dan tsunami. > > Kenyataannya tdklah begitu. Pas pesawat kami landing di > BIM, tdk ada posko gempa di BIM. Tdk terlihat Sumbar adalah > wilayah gempa terbesar, 7,9 skala ritcher. Yg ada adalah > sopir2 taxy menawarkan diri. Saya beruntung krn rata2 mereka > sudah kenal dgn wajah sy, hingga mrk hanya mengajak > bersalaman. > > Kargo kami dibongkar di anggar kargo. Ada pasukan TNI di > sana dan relawan gempa dari Jepang. Saya juga bertemu > relawan PMI dan sempat bersalaman dgn Marie Muhammad. Terus > terang, saya "kasihan" kpd Ketua PMI itu, tapi juga trenyuh > dgn ketidakmauannya utk mempercayakan tugas2 berat PMI kpd > org2 yg lbh muda dan segar. Kargo kami, dari Sahabat Muda -- > dlm pilpres adalah relawan JK-Wiranto, dari pihak keluarga-- > ada dua truk sedang bak terbuka. Tanda terima dgn petugas > bandara dibuat di dgn tulisan tangan. Satu tenda darurat > HIPMI, terangkut oleh PMI, krn memang tdk dititipkan ke sy. > > > Ada bbrp dokter, konseling, dan relawan yg di pesawat. Mrk > tdk tahu harus kemana. Sebagian akan langsung lapotr ke > Sarkotlak Bencana. Sebagian mau ikut sy, tapi sy mengatakan > tdk tahu juga info lapangan. Sempat jumpa dan ngobrol dgn > Gubernur Alex Noerdin dan Kapolda Sumsel, sebelum mrk pergi. > > > Sy bergerak dgn 2 mbl truk dan 1 mbl APV, langsung menuju > Kampung Dalam. Rencananya mau dibongkat dulu di Padang, krn > ada satu gudang yg sudah disiapkan tim sy di lapangan. Tapi > truk sudah mengarah ke Pariaman, jadinya saya ikuti. Sy > singgah di Buayan yg dulu pernah jadi posko cabang IJP 09 > Center. Dapurnya roboh, tetapi scr umum desa Buayan, kec > Batang Anai, selamat. > > Bergerak ke Lubuk Alung. Kabarnya pasarnya rusak berat. > Tapi bangunan ruko2 baru di jln by pass utuh dan bagus. > mungkin pas dibangun diawasi langsung oleh pemiliknya. > > Lewat Kec Sintuk Toboh Gadang, Kec Nan Sabaris, Ulakan > Tapakis, dll. Sudah mulai byk rumah2 rusak, dari ringan, > sedang, berat, sampai rata dgn tanah. Ada tulisan2 di jalan: > posko bencana, tapi tdk ada org. > > Lewat Pasar Kurai Taji yg rusak berat, serta rumah2 yg > rusak dan runtuh. Inilah kawasan Pariaman Selatan. Termasuk > parah. Mau lewat by pass di pariaman tengah, macet, krn > antre bbm di pom bensin. Balik, lewat kantor walikota baru > yg rusak berat atau sedang, lalu ke pariaman tengah. Kondisi > juga rusak: ringan sampai berat. > > Pariaman Utara lebh baik. Tdk byk kerusakan berarti. > Kecuali Naras. Masuk ke Simpang 4 Toboh arah Kampung Dalam, > pemandangan gempa mulai merata: air yg mengalir melewati > rumah, tenda2 darurat, rmh rubuh dan rusak berat, posko2 di > sepanjang jln. Pemandangan ini tdk berhenti di seluruh > kawasan Kec V Koto Kampung Dalam: Campago, Pasar Pariaman, > Tandikat, Padang Manis. Di sini, satu truk berhenti. > Logistik masuk ke sebuah kamar, lalu dikunci. Kunci dipegang > Muhardi, tmnku waktu SMA. Besok mau didistribusikan, setelah > dimasukkan ke kantong2 plastik. Pesannya 1: berikan ke > sebanyak mungkin org atau kepala rumah tangga, walau hanya > mendapat 1 buah susu Ultra. > > sempat bicara dgn bbrp org, minum, ditraktir malam sama yg > bawa mobil. 90 persen rumah rusak, dlm arti hanya 10 persen > yg bisa dihuni. > > Satu truk pergi ke kawasan tempat tinggal saya, seberang > sungai yang menguning -- dulu jernih --. Lalu, ditaruh di > Pos Pemuda. Disiplin berlaku disini: semua rumah harus > dapat. Akhirnya dibagikan, tanpa harus pakai kupon, krn org > saling kenal mengenal. Bbrp "pejabat" sy lihat agak masam > mukanya, krn cara distribusi itu tdk lwt mrk. > > Truk2 itu sempat distop, tmsk oleh tentara. Tapi krn mrk > mengenal siapa yg di dlm mbl, tdk jadi distop atau dipaksa > utk membongkar sembarangan, apalagi dijarah. Satu kardus yg > jatuh, malah diantar naik motor oleh org. > > Rmh ayah dan ibu sy rusak berat, oleng, tdk bisa > ditinggali. Rmh2 yg lain rata dgn tanah atau rusak berat. > Hanya satu rumah baru tetangga sy yg utuh: disanalah kami > makan siang, eh, sore, dgn membawa ikan yg dibeli di sebuah > kedai. Kami tentu menyeberangi sungai. Kaki sy sudah > terbiasa "melihat" dlm air dan gelap, hingga tahu mana air > dlm, mana air dangkal, walau warna air kuning atau jlnan > gelap mlm2. > > Usai sholat, kami langsung bergerak lagi ke seberang, > kembali ke arah semula, pergi ke sungai janiah, basung, > kampung tanjung, tigo jerong, kampung pauah, kampuang apar, > dll. Di beberapa titik, turun, berdiskusi dgn byk org, > kadang dgn nada marah. Sy terpaksa turun berkali2, krn tdk > enak hati, pas org2 melihat ada sy di mbl. > > Di Talau, bertemu dgn 3 wali korong, melihat lokasi > longsor. Masih ada 2 mayat tertimbun. Mrk butuh mesin > raksasa pengeruk batu dan lumpur, butun sinsaw utk memotong > pohon2 kelapa, dll, agar bisa menemukan ke2 mayat itu. Tokoh > masyarakatnya menangis minta tolong, krn yg tertimbun > saudaranya. Spt biasa, mrk menggunakan bahasa kelas tinggi > ke saya: "Ponakan tentu paham apa yg ada di perut Mamak. > Mamak tdk perlu keluarkan, karena malu. Kami sudah bekerja, > tapi apa daya, kami tdk bisa memindahkan bukit yg longsor > itu dgn tangan." Dll. Dll. > > Di titik2 pemberhentian itu, sy lohat ibu2 sedang memasak, > krn sudah mlm. Mrk menghuni tenda2 darurat. Dgn bermodal > suara, sy jg datangi rmh2 pakai lilin yg keluarga2nya duduk > di teras, krn rmh sudh hancur. Ada yg sedang makan, ada yg > sedang menerima dunsanak2 yg sudah tiba dari arah Pekanbaru > dan Jambi. > > Juga sempat jumpa wali nagari dan satu anggota DPRD. Mrk > sibuk dgn catatan di tangan. Terlihat sekali ketegangan. Di > Marunggi, Pariaman Selatan, jumpa dgn kepala desanya, serta > ibu2 yg sudah mulai tidur di teras atau halaman rumah. Gelap > gulita, bermodal lilin dan bintang2 di langit. > > Sebelumnya makan pecel ayam di rumah makan dpn ktr > walikota. 1 dari 2 rmh makan yg buka pakai genset. Rata2 yg > makan keluarga2 berpunya, mungkin orang rantau, atau > relawan2 pakai seragam. Juga ada wartawan Metro TV. > > Sempat juga jadi polisi lalu lintas di simpang 4 toboh, krn > mbl macet di pom bensin. Kedua bahu jln dimasukin di satu > jalur. Bbrp org sopir bersalaman, krn kenal, juga yg membawa > motor. Ada yg tertawa dan berteriak2 memanggil. "Pejabat" > nagari yg naik mtr, lalu datangi sy, malah ngajak ngobrol, > ngomong pileg, pilpres, pilkada, munas, dll. Tipe yg tdk sy > sukai: "Saya tdk paham semua itu. Lbh baik mikirin gempa > ini," kata sy. > > Bbrp titik kemacetan lagi bertemu. Pas masuk kota padang, > pom bensin sudah mulai sepi. Isi bensin jam 00.30. Listrik > menunggu di Padang. Semula dikira genset oleh yg punya mbl > dan sekalogus sopir kami dan sekaligus yg punya toko grosir > yg sama kami sejak mendarat. Nyatanya: listrik PLN. > Alhamdulillah. > > Kami tidur di rmh saudaranya. Ketika sy menulis ini, > nyamuk2 menghirup darah sy di tangan dan kaki. Nyamuk2 yg > lapar krn gempa juga, mungkin. > > Yg jelas, dari yg sy lihat, dengar, amati: gempa ini > dahsyat. Dahsyat daya rusaknya. Dahsyat dlm menunjukkan > kinerja manusia. Dahsyat dlm penyajian lwt TV: yg masih > fokus ke satu dan dua titik saja. Dahsyat dlm kesemrawutan > dan kebingungan. > > Mudah2an, besok gempa bumi ini dahsyat dlm hal kepedulian: > peri kemanusiaan dan peri keadilan. > > Selamat mlm. Sy minum sebutir decolsin sblm menulis ini. > > Padang, 3 Oktober, pukul 3 pagi. > > > Berani beda, berani benar, berani pulang! > > > ___________________________________________________________________________ Nama baru untuk Anda! Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail. Cepat sebelum diambil orang lain! http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/ --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
