Manuruik pandapek ambo, penggunaan alat berat yang jumlahnya yang terbatas dalam evakuasi korban, sangat tidak mungkin dapat diatur dengan uang. Semua akan bekerja dibawah koordinasi. Mungkin saja ini respon iseng dari petugas atau pihak yang pura-pura sebagai petugas menawarkan jasa untuk menipu korban.
Salam, Zulidamel st.Malin Maradjo lk 46 Jkt ----- Original Message ----- From: Harman To: [email protected] Sent: Tuesday, October 06, 2009 4:11 PM Subject: [...@ntau-net] Re: Aksi pencurian marak pascagempa di Padang --> KALAKUAN "orang yang mengaku petugas penyelamat dan mengoperasikan alat berat itu meminta bayaran Rp 300-500 ribu. "Kalau tidak mau, tidak diladeni. Kalau mau bayar, baru digali," nampak nyo alah tajadi pak plus pemerasan kepihak korban ... wassalam, harman Harian Komentar 5 Oktober 2009 Aksi pencurian marak pascagempa di Padang Korban Mengaku Diminta Bayar Petugas Penyelamat Padang, KOMENTAR Benar-benar keterlaluan. Aksi kejahatan dilaporkan mening-kat pascagempa di Kota Pa-dang. Jubir Polda Sumatera Barat, Ajun Komisaris Besar Kawedar mengatakan, penja-rahan terjadi di pusat grosir Sentral Pasar Raya, Padang dan di sebuah biro perjalanan di depan Matahari Department Store. Semua peralatan biro perjalanan itu dijarah. Polda Sumatera Barat kini meningkatkan penjagaan de-ngan menempatkan beberapa personel di setiap tempat eva-kuasi, pertokoan dan mall. Ka-wedar mengatakan polisi telah menangkap lima pencuri dan penjarah di sejumlah tempat di Kota Padang. "Kami memper-ketat penjagaan dengan mema-sang police line, karena ada pencuri pura-pura menjadi pe-tugas evakuasi, tapi kemudian mengambil AC," kata dia. Sementara beberapa warga keturunan Tionghoa korban gempa di Kota Padang juga mengaku diperas orang yang mengaku petugas penyelamat. "Mereka minta bayaran kalau mau rumahnya ditolong," kata Mariana, mahasiswi ketu-runan Tionghoa asal Padang. Mariana mendapat kabar itu dari kerabatnya yang menjadi korban pemerasan di Padang. Keluarganya yang masih ter-timbun puing-puing rumah belum bisa dievakuasi karena minimnya bantuan. "Saya belum bisa kontak keluarga di Padang," ujarnya di Jakarta. Menurut dia, pemerasan terhadap warga Tionghoa ke-rap terjadi, termasuk ketika gempa Nias. "Teman saya (warga keturunan Tionghoa) juga diminta bayaran kalau rumahnya mau dibongkar," ujarnya. Mariana mengaku tak bisa berbuat apa-apa. "Bi-ngung, mau minta tolong siapa lagi?" kata dia, yang mengaku tak tahu satuan asal petugas penyelamatan itu. Sedangkan Jin, warga ketu-runan Tionghoa di Padang, mengatakan, untuk mem-bongkar puing-puing rumah-nya, orang yang mengaku petugas penyelamat dan mengoperasikan alat berat itu meminta bayaran Rp 300-500 ribu. "Kalau tidak mau, tidak diladeni. Kalau mau bayar, baru digali," ujar Jin melalui sambungan telepon. "Kami tidak bisa berbuat apa-apa," ujar warga kawasan Pondok, Padang, ini. --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
