Yth. Sanak di palanta,
Nan gampo di nagari kito ko indak sakali ko sajo tajadi, alah baratuih kali,
gampo gadang dan ketek, sajak zaman dahulu. Kito yakin iko takdir dari Allah.
Tapi kito juo harus tahu bahaso iko juo disebabkan dek kondisi alam kito.Dek
karano tu, jan sampai kito umbar2 bana bahasa iko azab Allah SWT sahinggo
masyarakaik kito nan sadang trauma ko makin kacuik hatinyo,makin kuncun mereka,
bantuak kuciang nampak lidih. Dengan menyebutkan bahwa Allah SWT sudah MARAH
BESAR kepada kita, mereka bisa mengalami trauma besar.Jan2 hilang sumangaik
iduik masyarakat kito beko, dan satiok manggarik bumi Minang ko dek gampo, lah
banyak nan maratok dalam rumah sae lai, atau malah bunuah diri karena takut,
putus asa, dan selalu menganggap ini azab Allah SWT. Tugas kito sabagai
pamimpin juo untuak mengembalikan atau selalu mendorong rasa optimis di
kalangan masyarakat kito.
Iko saketek ambo kutipkan CARITO GAMPO DI PIAMAN DAN PADANG pado BULAN
NOVEEMBER 1833, kiro2 176 tahun nan lalu, dialami sendiri oleh komandan militer
Ulando di Pariaman, Letnan 1 Infanteri J.C. Boelhouwer, dan dicatatnyo dalam
bukunyo: Herrinneringen van mijn verbliejf op Sumatra Westkust gedurerende
jaren 1831-1834 (Kenangan-kenangan di Sumatra Barat dalam tahun-tahun
1831-1834) ('s Gravenhage [atau Den Haag]: De Erven Doorman, 1841). Boehouwer
mencatat (terjemahan Suryadi):
"Saya tidak lupa menyebutkan terjadinya gempa bumi yang kami rasakan di akhir
November [1833].
Pada malam harinya kami mengalami ketakutan hebat yang membuat kami khawatir
akan hidup kami. Bahkan orang pribumi yang paling tua pun tidak pernah
mengingat hal seperti itu pernah terjadi. Saya dan orang lain tidak dapat
tinggal lebih lama di dalam rumah dan bahkan kami tidak dapat berdiri di
halaman. Seluruh alam terasa dalam huru-hara, segala sesuatunya terguncang dan
jatuh berpecahan. Tidak ada satupun di atas meja atau kursi yang tetap tinggal
pada tempatnya. Di beberapa tempat tanah terbelah selebar dua kaki atau lebih.
Laut bergolak dan terus bergolak makin dahsyat. Tidak ada perahu di pelabuhan
Pariaman yang tetap tertambat di dermaga. Semuanya terhanyut jauh dan esok
paginya kami menemukan perahu-perahu itu terpencar dimana-mana. Beberapa hari
kemudian, masih terasa beberapa gempa lagi, walau dengan goncangan yang lebih
kecil. Di Padang sejumlah rumah batu, termasuk gereja, rusak parah. Gereja
malah tak tak bisa dipakai lagi. Dalam perjalanan
saya ke Padang , saya menemukan beberapa parit perlindungan yang rusak berat
di pantai.
Di Bengkulu, sebagaimana kami dengar kemudian, seluruh dermaga hancur, kecuali
kantor bea cukai."
Dari penuturan Boelhouwer itu, saya kira gempa yang terjadi pada waktu itu
tidak kurang dahsyatnya dari yang terjadi minggu lalu. Malah gempa pada bulan
November 1833 itu tampaknya telah menimbulkan tsunami, sehingga perahu2 nelayan
di sepanjang pantai Pariaman dan Padang hancur lebur, terlepas dari tambatannya
dan berserak ke sana sini karena gelombang besar dari Samudera Indonesia.
Rumah2 penduduk dan bangunan2 pemerintah serta rumah ibadat, seperti dilaporkan
oleh Boelhouwer, juga banyak yang hancur.
Tampaknya sebelum itu telah terjadi pula gempa, tapi dengan skala getaran yg
lebih kecil. Waktu itu Boelhouwer belum lama berada di Sumatra Barat. Ia
menulis:
"Pada suatu malam ketika saya bertamu [waktu itu Boelhouwer sedang berada di
rumah seorang pejabat Belanda di Padang; Suyadi] terasalah gempa yang
menyebabkan seorang nona yang duduk di atas bangku-bangku akan meluncur ke
bahagian lain seandainya tidak lekas dipegang oleh beberapa pemuda. Ada yang
cepat memegang lampu dan ada yang memegang gelas-gelas di atas meja. Gempa itu
berulang beberapa kali. Itulah gempa yang pertama kali saya alami, seolah-olah
kita dibuaikan. Kata orang yang telah mengalami gempa, gempa kali ini adalah
musuh yang kuat selama saya berada di Sumatra."
Kesimpulan: Sumatra Barat ini, atau pantai barat Sumatra secara umum, sudah
sejak dulu menjadi LANGGANAN GEMPA. Hanya kita saja yang tidak pernah belajar
dari sejarah. Di bulan Februari 1861 terjadi lagi gempa hebat, kali ini
episentrumnya agak ke utara, di sekitar lepas pantai Natal, dekat pulau Nias.
Pasar Singkil dan daerah sekitarnya habis disapu gelombang tsunami, orang2 di
sekitar situ pada mengungsi ke Ujung Lembing. Demikian laporannya pandangan
mata yang ditulis oleh Muhammad Saleh Datuak Urang Kayo Basa, pedagang terkaya
Pariaman pada abad ke-19, dalam momoirnya, Riwajat hidoep dan perasaian saja
(Tulisan Jawi) (1914). Muhammad Saleh pada waktu itu baru saja berlayar dari
Sibolga menuju Pariaman. Kapal2 dagangnya berlayar hingga ke Susoh di Aceh
Barat.
Pada tahun 1926 gempa besar menghantam Sumatra Barat lagi. Kali ini daerah2
pedalaman, seperti Padang Panjang dan Barusangkar hancur total dibuatnya.
Kalangan ulama tradisional pada waktu itu (seperti dicatat Hadler 2008)
menganggap bahwa itu 'hukuman' Allah SWT terhadap masyarakat Minang yang makin
menerima ide kemajuan barat dan juga ide2 komunisme, yang lupa kepada adatnya
sendiri. Hujatan seperti ini selalu muncul jika bencana alam seperti gempa
menghantam sebuah negeri, sejak dulu hingga sekarang, seperti kita baca di
media, termasuk milis rantau net ini.
Tentu saja dalam setiap kejadian seperti itu MANUSIA YANG TERBATAS AKAL DAN
KEMAMPUANNYA INI selalu ingat kepada kebesaran ALLAH SWT. Tapi apakah setiap
kali gempa terjadi di negeri kita ini lalu kita menghujat bahwa masyarakat
kita: bahwa mereka telah dimurkai ALLAH SWT? Saya kita pikiran2 kita seperti
ini berefek negatif dan kurang mendidik.
Jadi, menurut saya, sebaiknya sebagai manusia yg hidup di bumi, kita terus
memperbaiki diri kita, melakukan hal2 yang baik untuk diri dan masyarakat kita,
apakah dia pemimpin atau rakyat biasa. Dan kita tahu bumi Nusantara ini adalah
bagian kulit bumi yang paling labil. Malah ada yang berteori bahwa Indonesia
ini adalah bagian dari benua yang hilang dulunya.
Mungkin saja ini peringatan dari Allah SWT. Tapi sebaiknya kita jangan terus
menghujat masyarakat kita. Sebagai manusia yang hidup di dunia, kita harus
tetap optimis; dan sebagai umat yang beragama, kita serahkan nasib kita kepada
Allah SWT.
Semoga masyarakat Minangkabau tetap optimis, tetap takwa kepada ALLAH SWT, dan
tetap ingat (sambil tetap belajar sejarah) bahwa--meminjam kata2 Mak Sjamsir
Sjarif--bahwa mereka hidup di kawasan THE RING OF FIRE.
Wassalam,
Suryadi
Leiden
"Coba Yahoo! Mail baru yang LEBIH CEPAT. Rasakan bedanya sekarang!
http://id.mail.yahoo.com"
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected]
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---