Iyo bana, Uda. Spt nan ambo tulih sabalunnyo. Pak Edi di Tandikek nan 
kahilangan 3 anak, 1 bini jo 1 mintuo, tantu mamikiekan hujatan2 tu, apolai nan 
datang via sms, dll. Pandai bana urang2 tu. 

Intinyo, dari ustad2 nan alah mangirim pandapeknyo, penomoran ayat jo surek 
bukan termasuk Wahyu Illahi, tapi para penyusunnyo nan mambuek. 

Wassalam

"Beranilah beda, beranilah benar, beranilah pulang! Maka, demokrasi akan sehat, 
oligarki akan punah, hubungan batin akan sumringah..."

-----Original Message-----
From: Lies Suryadi <[email protected]>
Date: Sun, 11 Oct 2009 05:26:15 
To: <[email protected]>
Subject: [...@ntau-net] Kita bertakwa kepada Alllah SWT, kita belajar dari masa
 lalu.


Yth. Sanak di palanta,
 
Nan gampo di nagari kito ko indak sakali ko sajo tajadi, alah baratuih kali, 
gampo gadang dan ketek, sajak zaman dahulu. Kito yakin iko takdir dari Allah. 
Tapi kito juo harus tahu bahaso iko juo disebabkan dek kondisi alam kito.Dek 
karano tu, jan sampai kito umbar2 bana bahasa iko azab Allah SWT sahinggo 
masyarakaik kito nan sadang trauma ko makin kacuik hatinyo,makin kuncun mereka, 
bantuak kuciang nampak lidih. Dengan menyebutkan bahwa Allah SWT sudah MARAH 
BESAR kepada kita, mereka bisa mengalami trauma besar.Jan2 hilang sumangaik 
iduik masyarakat kito beko, dan satiok manggarik bumi Minang ko dek gampo, lah 
banyak nan maratok dalam rumah sae lai, atau malah bunuah diri karena takut, 
putus asa, dan selalu menganggap ini azab Allah SWT. Tugas kito sabagai 
pamimpin juo untuak mengembalikan atau selalu mendorong rasa optimis di 
kalangan masyarakat kito. 
 
Iko saketek ambo kutipkan CARITO GAMPO DI PIAMAN DAN PADANG pado BULAN 
NOVEEMBER 1833, kiro2 176 tahun nan lalu, dialami sendiri oleh komandan militer 
Ulando di Pariaman, Letnan 1 Infanteri J.C. Boelhouwer, dan dicatatnyo dalam 
bukunyo: Herrinneringen van mijn verbliejf op Sumatra Westkust gedurerende 
jaren 1831-1834 (Kenangan-kenangan di Sumatra Barat dalam tahun-tahun 
1831-1834) ('s Gravenhage [atau Den Haag]: De Erven Doorman, 1841). Boehouwer 
mencatat (terjemahan Suryadi):
 
"Saya tidak lupa menyebutkan terjadinya gempa bumi yang kami rasakan di akhir 
November [1833]. 
Pada malam harinya kami mengalami ketakutan hebat yang membuat kami khawatir 
akan hidup kami. Bahkan orang pribumi yang paling tua pun tidak pernah 
mengingat hal seperti itu pernah terjadi. Saya dan orang lain tidak dapat 
tinggal lebih lama di dalam rumah dan bahkan kami tidak dapat berdiri di 
halaman. Seluruh alam terasa dalam huru-hara, segala sesuatunya terguncang dan 
jatuh berpecahan. Tidak ada satupun di atas meja atau kursi yang tetap tinggal 
pada tempatnya. Di beberapa tempat tanah terbelah selebar dua kaki atau lebih. 
Laut bergolak dan terus bergolak makin dahsyat. Tidak ada perahu di pelabuhan 
Pariaman yang tetap tertambat di dermaga. Semuanya terhanyut jauh dan  esok 
paginya kami menemukan perahu-perahu itu terpencar dimana-mana. Beberapa hari 
kemudian, masih terasa beberapa gempa lagi, walau dengan goncangan yang lebih 
kecil. Di Padang sejumlah rumah batu, termasuk gereja, rusak parah. Gereja 
malah tak tak bisa dipakai lagi. Dalam perjalanan
 saya ke Padang , saya menemukan beberapa parit perlindungan yang rusak berat 
di pantai. 
Di Bengkulu, sebagaimana kami dengar kemudian, seluruh dermaga hancur, kecuali 
kantor bea cukai." 
  
Dari penuturan Boelhouwer itu, saya kira gempa yang terjadi pada waktu itu 
tidak kurang dahsyatnya dari yang terjadi minggu lalu. Malah gempa pada bulan 
November 1833 itu tampaknya telah menimbulkan tsunami, sehingga perahu2 nelayan 
di sepanjang pantai Pariaman dan Padang hancur lebur, terlepas dari tambatannya 
dan berserak ke sana sini karena gelombang besar dari Samudera Indonesia. 
Rumah2 penduduk dan bangunan2 pemerintah serta rumah ibadat, seperti dilaporkan 
oleh Boelhouwer, juga banyak yang hancur.  
  
Tampaknya sebelum itu telah terjadi pula gempa, tapi dengan skala getaran yg 
lebih kecil. Waktu itu Boelhouwer belum lama berada di Sumatra Barat. Ia 
menulis:
 
"Pada suatu malam ketika saya bertamu  [waktu itu Boelhouwer sedang berada di 
rumah seorang pejabat Belanda di Padang; Suyadi] terasalah gempa yang 
menyebabkan seorang nona yang duduk di atas bangku-bangku akan meluncur ke 
bahagian lain seandainya tidak lekas dipegang oleh beberapa pemuda. Ada yang 
cepat memegang lampu dan ada yang memegang gelas-gelas di atas meja. Gempa itu 
berulang beberapa kali. Itulah gempa yang pertama kali saya alami, seolah-olah 
kita dibuaikan. Kata orang yang telah mengalami gempa, gempa kali ini adalah 
musuh yang kuat selama saya berada di Sumatra." 
 
Kesimpulan: Sumatra Barat ini, atau pantai barat Sumatra secara umum, sudah 
sejak dulu menjadi LANGGANAN GEMPA. Hanya kita saja yang tidak pernah belajar 
dari sejarah. Di bulan Februari 1861 terjadi lagi gempa hebat, kali ini 
episentrumnya agak ke utara, di sekitar  lepas pantai Natal, dekat pulau Nias. 
Pasar Singkil dan daerah sekitarnya habis disapu gelombang tsunami, orang2 di 
sekitar situ pada mengungsi ke Ujung Lembing. Demikian laporannya pandangan 
mata yang ditulis oleh Muhammad Saleh Datuak Urang Kayo Basa, pedagang terkaya 
Pariaman pada abad ke-19, dalam momoirnya, Riwajat hidoep dan perasaian saja 
(Tulisan Jawi) (1914). Muhammad Saleh pada waktu itu baru saja berlayar dari 
Sibolga menuju Pariaman. Kapal2 dagangnya berlayar hingga ke Susoh di Aceh 
Barat.
 
 
Pada tahun 1926 gempa besar menghantam Sumatra Barat lagi. Kali ini daerah2 
pedalaman, seperti Padang Panjang dan Barusangkar hancur total dibuatnya. 
Kalangan ulama tradisional pada waktu itu (seperti dicatat Hadler 2008) 
menganggap bahwa itu 'hukuman' Allah SWT terhadap masyarakat Minang yang makin 
menerima ide kemajuan barat dan juga ide2 komunisme, yang lupa kepada adatnya 
sendiri. Hujatan seperti ini selalu muncul jika bencana alam seperti gempa 
menghantam sebuah negeri, sejak dulu hingga sekarang, seperti kita baca di 
media, termasuk milis rantau net ini.
 
Tentu saja dalam setiap kejadian seperti itu MANUSIA YANG TERBATAS AKAL DAN 
KEMAMPUANNYA INI selalu ingat kepada kebesaran ALLAH SWT. Tapi apakah setiap 
kali gempa terjadi di negeri kita ini lalu kita menghujat bahwa masyarakat 
kita: bahwa mereka telah dimurkai ALLAH SWT? Saya kita pikiran2 kita seperti 
ini berefek negatif dan  kurang mendidik. 
 
Jadi, menurut saya, sebaiknya sebagai manusia yg hidup di bumi, kita terus 
memperbaiki diri kita, melakukan hal2 yang baik untuk diri dan masyarakat kita, 
apakah dia pemimpin atau rakyat biasa. Dan kita tahu bumi Nusantara ini adalah 
bagian kulit bumi yang paling labil. Malah ada yang berteori bahwa Indonesia 
ini adalah bagian dari benua yang hilang dulunya. 
 
Mungkin saja ini peringatan dari Allah SWT. Tapi sebaiknya kita jangan terus 
menghujat masyarakat kita. Sebagai manusia yang hidup di dunia, kita harus 
tetap optimis; dan sebagai umat yang beragama, kita serahkan nasib kita kepada 
Allah SWT.
 
Semoga masyarakat Minangkabau tetap optimis, tetap takwa kepada ALLAH SWT, dan 
tetap ingat (sambil tetap belajar sejarah) bahwa--meminjam kata2 Mak Sjamsir 
Sjarif--bahwa mereka hidup di kawasan THE RING OF FIRE.
 
Wassalam,
Suryadi
Leiden


 


      &quot;Coba Yahoo! Mail baru yang LEBIH CEPAT. Rasakan bedanya sekarang! 
http://id.mail.yahoo.com&quot;



--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Anda menerima pesan ini karena berlangganan Grup "RantauNet" dari Grup Google.
 Untuk mengeposkan ke grup ini, kirimkan email ke [email protected]
 Untuk keluar dari grup ini, kirim email ke 
[email protected]
 Untuk opsi lainnya, kunjungi grup ini di 
http://groups.google.com/group/rantaunet?hl=id
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke