Ajo, sanang mambaco tulisan ajo ko. Ambo setuju sekali, kito memang 
harus bausaho untuak mengenali kondisi Minangkabau yang memang rawan 
gempa, sahinggo membutuhkan perencanaan pemukiman dan infrastruktur yang 
lebih baik dan sesui jo kondisinyo. Kedepan tantu diperlukan upaya-upaya 
yang dapat meminimalkan korban jiko terjadi gempa kembali. Sa ayun jo 
upayo itu tantu sairiang do'a jo tawakkal ka  Allah SWT .

Salam

Andiko Sutan Mancayo

Lies Suryadi wrote:
> Yth. Sanak di palanta,
>  
> Nan gampo di nagari kito ko indak sakali ko sajo tajadi, alah baratuih 
> kali, gampo gadang dan ketek, sajak zaman dahulu. Kito yakin iko 
> takdir dari Allah. Tapi kito juo harus tahu bahaso iko juo disebabkan 
> dek kondisi alam kito.Dek karano tu, jan sampai kito umbar2 bana 
> bahasa iko azab Allah SWT sahinggo masyarakaik kito nan sadang trauma 
> ko makin kacuik hatinyo,makin kuncun mereka, bantuak kuciang nampak 
> lidih. Dengan menyebutkan bahwa Allah SWT sudah MARAH BESAR kepada 
> kita, mereka bisa mengalami trauma besar.Jan2 hilang sumangaik iduik 
> masyarakat kito beko, dan satiok manggarik bumi Minang ko dek gampo, 
> lah banyak nan maratok dalam rumah sae lai, atau malah bunuah diri 
> karena takut, putus asa, dan selalu menganggap ini azab Allah SWT. 
> Tugas kito sabagai pamimpin juo untuak mengembalikan atau selalu 
> mendorong rasa optimis di kalangan masyarakat kito.
>  
> Iko saketek ambo kutipkan CARITO GAMPO DI PIAMAN DAN PADANG pado BULAN 
> NOVEEMBER 1833, kiro2 176 tahun nan lalu, dialami sendiri oleh 
> komandan militer Ulando di Pariaman, Letnan 1 Infanteri J.C. 
> Boelhouwer, dan dicatatnyo dalam bukunyo: /Herrinneringen van mijn 
> verbliejf op Sumatra Westkust gedurerende jaren 1831-1834 
> /(/Kenangan-kenangan di Sumatra Barat dalam tahun-tahun 1831-1834/) 
> ('s Gravenhage [atau Den Haag]: De Erven Doorman, 1841). Boehouwer 
> mencatat (terjemahan Suryadi):
>  
>
> *"Saya tidak lupa menyebutkan terjadinya gempa bumi yang kami rasakan 
> di akhir November [1833]. *
>
> *Pada malam harinya kami mengalami ketakutan hebat yang membuat kami 
> khawatir akan hidup kami. Bahkan orang pribumi yang paling tua pun 
> tidak pernah mengingat hal seperti itu pernah terjadi. Saya dan orang 
> lain tidak dapat tinggal lebih lama di dalam rumah dan bahkan kami 
> tidak dapat berdiri di halaman. Seluruh alam terasa dalam huru-hara, 
> segala sesuatunya terguncang dan jatuh berpecahan. Tidak ada satupun 
> di atas meja atau kursi yang tetap tinggal pada tempatnya. Di beberapa 
> tempat tanah terbelah selebar dua kaki atau lebih. Laut bergolak dan 
> terus bergolak makin dahsyat. Tidak ada perahu di pelabuhan Pariaman 
> yang tetap tertambat di dermaga. Semuanya terhanyut jauh dan  esok 
> paginya kami menemukan perahu-perahu itu terpencar dimana-mana. 
> Beberapa hari kemudian, masih terasa beberapa gempa lagi, walau dengan 
> goncangan yang lebih kecil. Di Padang sejumlah rumah batu, termasuk 
> gereja, rusak parah. Gereja malah tak tak bisa dipakai lagi. Dalam 
> perjalanan saya ke Padang , saya menemukan beberapa parit perlindungan 
> yang rusak berat di pantai. *
>
> *Di Bengkulu, sebagaimana kami dengar kemudian, seluruh dermaga 
> hancur, kecuali kantor bea cukai."*
>
>  
>
> Dari penuturan Boelhouwer itu, saya kira gempa yang terjadi pada waktu 
> itu tidak kurang dahsyatnya dari yang terjadi minggu lalu. Malah 
> gempa pada bulan November 1833 itu tampaknya telah menimbulkan 
> tsunami, sehingga perahu2 nelayan di sepanjang pantai Pariaman dan 
> Padang hancur lebur, terlepas dari tambatannya dan berserak ke sana 
> sini karena gelombang besar dari Samudera Indonesia. Rumah2 penduduk 
> dan bangunan2 pemerintah serta rumah ibadat, seperti dilaporkan oleh 
> Boelhouwer, juga banyak yang hancur. 
>
>  
>
> Tampaknya sebelum itu telah terjadi pula gempa, tapi dengan skala 
> getaran yg lebih kecil. Waktu itu Boelhouwer belum lama berada di 
> Sumatra Barat. Ia menulis:
>  
> "*Pada suatu malam ketika saya bertamu  *[waktu itu Boelhouwer sedang 
> berada di rumah seorang pejabat Belanda di Padang; Suyadi]* terasalah 
> gempa yang menyebabkan seorang nona yang duduk di atas bangku-bangku 
> akan meluncur ke bahagian lain seandainya tidak lekas dipegang oleh 
> beberapa pemuda. Ada yang cepat memegang lampu dan ada yang memegang 
> gelas-gelas di atas meja. Gempa itu berulang beberapa kali. Itulah 
> gempa yang pertama kali saya alami, seolah-olah kita dibuaikan. Kata 
> orang yang telah mengalami gempa, gempa kali ini adalah musuh yang 
> kuat selama saya berada di Sumatra." *
>  
> Kesimpulan: Sumatra Barat ini, atau pantai barat Sumatra secara umum, 
> sudah sejak dulu menjadi LANGGANAN GEMPA. Hanya kita saja yang tidak 
> pernah belajar dari sejarah. Di bulan Februari 1861 terjadi lagi gempa 
> hebat, kali ini episentrumnya agak ke utara, di sekitar  lepas pantai 
> Natal, dekat pulau Nias. Pasar Singkil dan daerah sekitarnya habis 
> disapu gelombang tsunami, orang2 di sekitar situ pada mengungsi ke 
> Ujung Lembing. Demikian laporannya pandangan mata yang ditulis 
> oleh Muhammad Saleh Datuak Urang Kayo Basa, pedagang terkaya Pariaman 
> pada abad ke-19, dalam momoirnya, /Riwajat hidoep dan perasaian saja/ 
> (Tulisan Jawi) (1914). Muhammad Saleh pada waktu itu baru saja 
> berlayar dari Sibolga menuju Pariaman. Kapal2 dagangnya berlayar 
> hingga ke Susoh di Aceh Barat.
>  
>  
> Pada tahun 1926 gempa besar menghantam Sumatra Barat lagi. Kali ini 
> daerah2 pedalaman, seperti Padang Panjang dan Barusangkar hancur total 
> dibuatnya. Kalangan ulama tradisional pada waktu itu (seperti dicatat 
> Hadler 2008) menganggap bahwa itu 'hukuman' Allah SWT terhadap 
> masyarakat Minang yang makin menerima ide kemajuan barat dan juga ide2 
> komunisme, yang lupa kepada adatnya sendiri. Hujatan seperti ini 
> selalu muncul jika bencana alam seperti gempa menghantam sebuah 
> negeri, sejak dulu hingga sekarang, seperti kita baca di media, 
> termasuk milis rantau net ini.
>  
> Tentu saja dalam setiap kejadian seperti itu MANUSIA YANG TERBATAS 
> AKAL DAN KEMAMPUANNYA INI selalu ingat kepada kebesaran ALLAH SWT. 
> Tapi apakah setiap kali gempa terjadi di negeri kita ini lalu kita 
> menghujat bahwa masyarakat kita: bahwa mereka telah dimurkai ALLAH 
> SWT? Saya kita pikiran2 kita seperti ini berefek negatif dan 
>  kurang mendidik.
>  
> Jadi, menurut saya, sebaiknya sebagai manusia yg hidup di bumi, kita 
> terus memperbaiki diri kita, melakukan hal2 yang baik untuk diri dan 
> masyarakat kita, apakah dia pemimpin atau rakyat biasa. Dan kita tahu 
> bumi Nusantara ini adalah bagian kulit bumi yang paling labil. Malah 
> ada yang berteori bahwa Indonesia ini adalah bagian dari benua yang 
> hilang dulunya.
>  
> Mungkin saja ini peringatan dari Allah SWT. Tapi sebaiknya kita jangan 
> terus menghujat masyarakat kita. Sebagai manusia yang hidup di dunia, 
> kita harus tetap optimis; dan sebagai umat yang beragama, kita 
> serahkan nasib kita kepada Allah SWT.
>  
> Semoga masyarakat Minangkabau tetap optimis, tetap takwa kepada ALLAH 
> SWT, dan tetap ingat (sambil tetap belajar sejarah) bahwa--meminjam 
> kata2 Mak Sjamsir Sjarif--bahwa mereka hidup di kawasan THE RING OF FIRE.
>  
> Wassalam,
> Suryadi
> Leiden
>
>
>  
>
>
> ------------------------------------------------------------------------
> Yahoo! Mail Kini Lebih Cepat dan Lebih Bersih. Rasakan bedanya 
> sekarang! <http://id.mail.yahoo.com>
> >


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke