Bahasa Jawa Mati di Jawa
<file:///C:\Documents%20and%20Settings\user\Local%20Settings\Temp\Rar$EX
00.969\bahasa-jawa-mati-di-jawa.html>  


 
Ada yang ironis di Jawa Timur. Sebagian besar pelajar sekarang sudah
tidak bisa berbahasa Jawa dengan baik dan benar. Jangankah bahasa halus
(krama), bahasa Jawa sehari-hari (ngaka) pun para pelajar itu gagap. 

''Saya tidak melebih-lebihkan karena ini pengalaman saya di lapangan.
Pelajar SMA itu pasti kesulitan kalau diajak berbahasa Jawa,'' kata
Sukrisno, guru SMAN 2 Sidoarjo, dalam sebuah sarasehan bahasa Jawa di
Surabaya.

Sukrisno, yang nota bene guru bahasa Inggris, fasih berbahasa Inggris,
mengaku sangat prihatin dengan keadaan ini. Jika pengembangan bahasa
Jawa tidak ada, generasi muda semakin gagap berbahasa Jawa, bukan tak
mungkin bahasa Jawa akan punah jsutru di Tanah Jawa. 

Pelajar SLTA di Jawa Timur [umumnya] saja sudah susah, apalagi siswa
SLTP dan SD. Sukrisno memastikan, dalam 10 hingga 20 tahun ke depan
bahasa Jawa semakin jarang dipakai masyarakat. Warga, yang saat ini
berusia di bawah 17 tahun, dipastikan sulit mengajar anak-anaknya untuk
berbahasa Jawa. 

''Bagaimana bisa ngajar, wong dia sendiri nggak bisa bahasa Jawa?'' kata
Sukrisno dalam nada tinggi.

Kenapa anak-anak makin gagap, bahkan tidak bisa, berbahasa Jawa? 

Sukrisno menyebut, ini tak lepas dari perkembangan masyarakat, sekaligus
pengaruh teknologi informasi, termasuk televisi. Sejak awal 1980-an para
orang tua tidak lagi membiasakan anak-anaknya berbahasa Jawa di rumah.
Sejak balita anak-anak dirangsang untuk berbahasa Indonesia. Bahasa
Jawa, apalagi krama inggil, praktis tidak dibiasakan di rumah.

Karena prihatin, Sukrisno akhir-akhir ini banyak terlibat dalam
acara-acara seni budaya khas Jawa. Sukrisno pun kerap tampil sebagai
pemandu acara pernikahan ala Jawa. ''Saya sendiri waktu Lebaran di Solo
nggak bisa apa-apa. Mirip orang bisu, karena nggak bisa bahasa Jawa
halus. Bahasa Jawa saya, ya, kayak anak muda di Sidoarjo itulah,'' kata
Darmaji, pelajar sebuah SMA swasta di Sidoarjo, kepada saya.

Aming Aminoedin, ketua paguyuban pengarang bahasa Jawa, mengaku tidak
terkejut dengan banyaknya anak muda Sidoarjo yang tidak bisa berbahasa
Jawa. Menurut Aming, gejala ini tak hanya terjadi di Sidoarjo atau
Surabaya, tapi hampir di semua kota di Pulau Jawa. 

Anak-anak muda di kawasan pedesaan masih lumayan, karena lingkungan
masyarakatnya memungkinkan mereka untuk menguasai bahasa Jawa.

Celakanya lagi, kata Aming, pelajaran bahasa Jawa hendak dihapus [bahkan
sudah dihapus] dari kurikulum sekolah dasar. Jika benar-benar dihapus,
maka nasib bahasa 
Jawa akan semakin merana. Terpinggirkan dari masyarakat Jawa sendiri. 

Karena itu, Aming dan kawan-kawan terus berjuang agar pelajaran bahasa
Jawa tidak dihapus dari sekolah.

''Kalau di rumah sudah tidak berbahasa Jawa, di sekolah pelajaran tidak
ada, di masyarakat tidak berbahasa Jawa, lalu bagaimana?'' keluh Aming
Aminoedin. 

Di sela sarasehan beberapa pelajar SMA ngomong sendiri. 

Saya kutip kata-katanya: "Ih, ngapain sih ngomong Jawa? Sorry... plis
deh, itu kan kagak jamannya lagi. Ngapain sih nguruin bahasa Jawa.
Emangnya kita-kita ini anak jadul... Now, I want to speak English...
biar gaul, biar gak katro... gicu lho." 

Tikus mati di lumbung padi. Bahasa Jawa mati di Jawa Timur. 

Hehehehe... Sialan!

 

Sumber : http://hurek.blogspot.com/2007/06/bahasa-jawa-mati-di-jawa.html







 


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

<<inline: image002.gif>>

Kirim email ke