Pak JP, Noven dan dunsanak sadonyo Di nasional konstelasinyo relatif mengkhawatirkan. Dephut menjadi satu pihak yang disingguang SBY di National Summit patang. Industri kehutanan di ambang senja sahinggo nyaris tidak menjadi prioritas. Sektor iko diharapkan untuak menggenjot HTI yang aratinyo membutuhkan tanah. Salain itu tekanan sektor lain misalnyo dari perkebunan dan pertambangan cukup kuat. Apo lai terjadi pulo tumpang tindih tata ruang daerah jo kawasan hutan. Karena itu pemerintah akan mambuek Perpu soal iko. Tapi sisi kritisnyo adolah pelepasan kawasan hutan akan lebih mudah dilakukan kedepan. Semampunyo kami bausaho untuak memberikan perspektif yang berbeda pada pengambil kebijakan, tapi ditataran mikro seperti kabupaten, paralu urang cadiak pandai disinan dan di parantauan mangingekkan pemdanyo. Ampek hari nan lalu di kami di Desk Resolusi Konflik Kehutanan-Dewan Kehutanan Nasional manarimo pengaduan dari masyarakat adat saputaran Batang Hari ko yang menyampaikan tanah adatnyo tapakai tampa izin dek satu perusahaan HTI, namun sayang, pemdanyo indak nio mangakui masyarakaik ko sebagai masyarakat adat. baitulah katiko kepentingan investasi berhadapan jo masyarakaik.
Satahunko kami mensupport beberapa kawan di Padang melakukan dialog intensif jo Badan Pertanahan Nasional dan Dinas Kehutanan mengenai masalah hutan, tanah negara dan perda ulayat. Solok Selatan sato pulo terlibat didalamnyo. Ambo berharap turunan perda ulayat Sumbar di Solok Selatan akan lebih baik, tidak hanyo berperspektif hak, tapi labiah kuek perspektif lingkungannyo. Ambo berharap pemda Solsel juga melihat sensitifitas iko. Rencana kami kalau lai ado rasaki, ado pertemuan perwakilan niniak mamak sa-alam Surambi Sungai Pagu ko tahun depan. Ambo taingek, sekitar 8 atau 10 tahun nan lalu, pernah bakumpua perwakilan niniak mamak sa-Pasaman, ma agiah warning mengenai tanah ulayat, barulah keinginan itu saketek tajawek melalui perda tanah ulayat nan lahia tahun lalu. Tantu urusan-urusan mode iko indak ka salasai dek saketek urang, bak kato pepatah kito basilang kayu dalam tungku, mangko api nak nyo iduik. Kok barek samo dipikua, kok ringan samo di jinjiang. Jalan baduo jan nionyo ditangah, kok takuruang jan nionyo dilua. Ambo berharap kawan-kawan semakin gencar mempromosikan potensi wisata solsel ko, kalau bisa ecotaurism yang tergantung jo keberadaan hutan. Supayo di guguah aguang, bia tasentak urang nan rami, bahwa wisatako bisa pulo ma idui'i kabupaten baru. Salam Andiko Sutan Mancayo _________________________________________ TATA RUANG Pemerintah Menyiapkan Perppu Atasi Tumpang Tindih Lahan Selasa, 17 November 2009 Jakarta, Kompas - Pemerintah menyiapkan peraturan pemerintah pengganti undang-undang untuk mengatasi tumpang tindih tata ruang di daerah. Tumpang tindih itu termasuk ribuan hektar lahan konservasi, yang dikonservasi untuk peruntukan lain. ”Peraturan pemerintah pengganti undang-undang (perppu) dimaksudkan untuk mengatasi persoalan tumpang tindih lahan di daerah yang tidak juga selesai,” kata Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan pada paparan program 100 hari Departemen Kehutanan di Jakarta, Senin (16/11). Rencana pembuatan perppu muncul pada Rembuk Nasional (National Summit), 29-30 Oktober 2009. Contoh tumpang tindih itu, di antaranya, kawasan hutan lindung dibuka untuk kawasan perkantoran atau permukiman. Padahal belum ada izin dari pemerintah pusat atau DPR. Saat ini Departemen Kehutanan sedang mengumpulkan data kasus di seluruh Indonesia. Semua bahan akan diserahkan kepada tim pemerintah pada 16 Januari 2010. Tim terpadu akan dibentuk untuk mengkaji data-data. ”Akan dilihat kasusnya satu per satu sebelum diputuskan penyelesaiannya. Kami memetakan dulu,” kata Sekretaris Jenderal Dephut Boen Purnama. Menurut Zulkifli, anggota tim terpadu dari kalangan, birokrat, akademisi, peneliti, dan LSM. *Proporsional* Menurut data Dewan Kehutanan Nasional (DKN), luas kawasan yang menyalahi tata ruang nasional mencapai 7,8 juta hektar. Jumlah itu dikhawatirkan terus bertambah. Apabila melihat perkembangan sosial, menurut anggota DKN, Hariadi Kartodihardjo, pemutihan tata ruang diperlukan. ”Namun, hendaknya proporsional.” Apabila menyangkut kawasan hutan, mesti dilihat status hutan, materi persoalan yang menjadi obyek pelanggaran. Data DKN menyebutkan, ribuan desa berdiri dan berkembang di dalam kawasan hutan. Secara hukum, lokasinya melanggar ketentuan tata ruang. ”Kalau penyelesaiannya dengan cara-cara hukum formal, tentu akan sangat sulit dan rumit,” katanya. Pasalnya, mereka sudah bergenerasi tinggal di sana. Penanganan kasus lahan untuk permukiman hendaknya berbeda dengan kasus pelanggaran lain, misalnya pertambangan. Bagaimanapun, hak guna usaha di kawasan hutan lindung tidak diperbolehkan. Oleh karena itu, ”pemutihan” tata ruang yang hendak dilakukan semestinya tidak melupakan kasus pelanggaran hukum, yang mungkin ada di baliknya. (GSA) --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
