Dunsanak di palanta nan ambo hormati. Ketek indak disabuikkan namo, gadang indak dipanggiakan gala.
Kutiko mambaco postingan Bapak Mochtar Naim tentang budaya Jawa, mako ambo ingek jo kota Jogyakarta, *pusat kebudayaan Jawa*. Tahun 1964 – 1966, tahun-tahun nan penuh pergolakan/baparang (!) jo kekuasaan rejim Soekarno di pusat kebudayaan Jawa, kota Jogyakarta (*rantau*). Sebagai mahasiswa tentunya kito tidak bisa tinggal diam saat ibu pertiwi sedang hamil tua (istilah PKI ketika akan melakukan kudeta) Perang tanpa badia ini berupa demonstrasi-demonstrasi, diskusi-diskusi (sebagai kelanjutan kekalahan bertempur di kampuang (*luhak*) nan dilakukan oleh datuk-datuk, bapak-bapak/uda-uda kita tahun 1961 di kampuang, lihat kisahnya di: http://www.nagari.or.id/?moda=menang/) Menurut pandapek ambo budaya Jawa yang baik, santun, *hormat kepada rajo/penguasa* diformat oleh cerita-cerita wayang yang sangat disukai oleh masyarakatnyo (kini, antahlah !). Sebagai urang Minang nan barasa dari luhak, mako keyakinan ambo bahwa: *Luhak bapangulu, rantau barajo*; adalah benar adanya. Saat itu ada upaya untuk menghubungkan peristiwa pemberontakan gestapu/pki dengan cerita wayang, dalam bentuk kisah perang Barata Yudha, tapi ini tidak begitu berhasil. Mungkin karano kepatuhan kepado rajo Soekarno (nama wayangnya: Karna) sangat kuat (kredonya: pejah gesang nderek Bung Karno. Kini praktek yang serupa juga pernah dilakukan dengan cap jempol darah). Kutiko itu ambo lagi senangnyo senangnya mambaco carito wayang, mancubo manyusun penggalan-penggalan kisah peperangan antara raja-raja/perwira dalam bentuk syair. Kini ambo manamukan sebagian naskah syair tersebut di dalam tumpukan catatan buku kuliah lamo, dan ingin membaginyo jo dunsanak-dunsanak karano mambaco postingan Bapak Mochtar Naim nan menuliskan tentang budaya J dan M). Karano naskah aslinyo dalam tulisan tangan, mako paralu diketik kembali/tambahan dan akan ambo sampaikan sesudah diketik lembar per lembar (alun baitu banyak nan dibuek jadi syair). Iko lembar nan partamo: *Kisah Mahabarata * Inilah kisah Mahabarata Cerita berasal dari tanah India Sudah memasyarakat di pulau Jawa Dalam cerita wayang tentu saja Kisah dimulai dari Keluarga *Pandawa* Punya kerajaan bernama Astina Disebut pula negeri Astinapura Oleh *Kurawa* akan diambil paksa Pandawa segera menegakkan yang hak Melawan Kurawa yang sangat tamak Kurawa melupakan ikatan dunsanak Pikirannya dikuasai duri dan onak Terjadilah perang yang sangat besar Dari subuh hingga waktu asyar Banyak korban mati terkapar Yang luka menggelepar-gelepar Perang besar bernama *Barata Yudha* Mengambil tempat di medan Kurusetra Padang yang luas tiada batasnya Ibarat hati dan perasaan manusia Banyak tokoh yang diceritakan Untuk contoh anak kemenakan Yang baik-baik dijadikan teladan Sedangkan yang buruk supaya dihindarkan Kita ambil suri tauladan Agar selamat jiwa dan badan Dari godaan Jin dan Setan Yang mengintai di setiap kesempatan *Silsilah keluarga kelompok Astina* Pandudewanata raja negeri Astina Bapaknya bernama Bagawan Abyasa Pandu memiliki lima putera Semuanya disebut Pandawa Lima Putera Pandu dengan Dewi Kunti *Puntadewa, Bima* dan *Arjuna* yang sakti Lalu Madrim diperisteri lagi *Nakula* dan *Sadewa* anaknya kini Suatu waktu Pandu membuat keliru Di hutan rimba ketika berburu Memanah Kijang yang sedang bercumbu Kijang itu, pendeta yang menyaru Akibatnya Dewa sangatlah murka Karena Pandu membunuh pendeta Badan kasarnya diambil dewata Dewi Madrim ikut pula Padawa lima kehilangan Bapak Menjadi yatim bukanlah kehendak Takdir dewata tak bisa ditolak Begitu ucapan orang bijak Kini Pandawa dipelihara Kunti Diasuh petang dan pagi Diberi makan nasi dan roti Serta makanan yang cukup gizi Bila diare diberi oralit Pertolongan mencret yang tak sulit Obat manjur tidak pahit Cara meminumnya sedikit sedikit Tidak lupa diberi imunisasi Agar Pandawa kebal piradan besi Jauh penyakit yang ditakuti Semisal tetanus dan diphteri Ketika Pandu tak lagi di dunia Pimpinan diserahkan kepada Destarata Kakak kandung yang matanya buta Juga anak dari Bagawan Abyasa Anak Destarata ada seratus Ada yang cantik dan bagus Banyak pula seperti seperti bulus Kalau berkumpul seperti anai-anai bubus Nanti disambung lagi ......dengan judul *Kelahiran keluarga Kurawa* Salam. Abraham Ilyas 64 th. Webmaster/admin www.nagari.org --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
