Dunsanak di palanta nan ambo hormati.Ketek indak disabuikkan namo, gadang
indak dipanggiakan gala.

Khususnyo Pak Sjaaf. Memang kito paralu memahami budaya J iko. Manuruik
pandapek Tan Malaka, sia nan mengusai Jawa, dialah nan menguasai nusantara

Sarupo nan ambo infokan sebelumnyo, syair (konsep) Mahabrata iko, ambo tulih
sekitar tahun 1966 di Jogyakarta kutiko perjuangan melawan rejim orde lama
(kediktatoran Soekarno).

Ada upaya untuk menyamokan kondisi ibu pertiwi saat itu dengan cerita perang
Barata Yuda antara Pandawa dengan Kurawa.
Kalau tak salah ada *dua tokoh Kurawa* yang berhasil dilekatkan namanya oleh
masyarakat kepada pejabat orde lama yaitu sebagai *Durna* dan *Aswatama*.

Tentunya sulit bagi kita untuk memahami cerita Mahabrata (sangat bagus,
buktinya kini banyak urang awak maambiak namo Jawa !) dari pertunjukan
wayang karena menggunakan bahasa Jawa kuno.

Karena itulah konsep syair iko ambo tulih dulunya, tapi tak pernah
diselesaikan apalagi dipublikasikan.

Iko lembar no 2 tentang:


*Lahirnya keluarga Kurawa*

Bapak Kurawa bernama *Destarata
*Orang tua yang matanya buta
Sebagai *tamsil *di dalam cerita
*Untuk orang yang tak acuh fakta*

Kelahiran Kurawa seperti peri
Ibu bernama dewi *Gandari
*Dia hamil enam ratus hari
Darah beku ke luar dari diri

Darah disimpan di dalam tabung
Dari pangkal sampai ke ujung
Sepuluh hari darah dikurung
Lahirlah Kurawa sambung bersambung

Banyak rumah ditiup badai
Hewan berlaga tak bisa dilerai
Serigala meraung sangatlah ramai
Beruk berlompatan seperti Tupai

Ini semua tanda bencana
Ketika Kurawa lahir ke dunia
Anak tertua bernama *Suyudana
*Usianya sama dengan sang *Bima*

Raja Suyudana sangat sakti
Disiram tala ketika bayi
Pangkal paha tertutup daun keladi
Di sinilah terletak kelemahan diri

Sifatnya bingik sangat pengiri
Orang lain tak boleh melebihi diri
Tindakan angkuh tinggi hati
Kalau bicara memuji diri

Anak kedua bernama *Dursasana
*Sejak kecil dimanjakan bunda
Ketika dewasa sesuka hatinya
Bicaranya kasar sambil tertawa

*Citraksa, Citraksi* anak yang lain
Sehari hari kerjanya bermain
Sikapnya congkak tak bisa dipimpin
Berbuat baik sudah tak mungkin

*Durmagati*, kurawa yang perempuan
Dia pesolek ingin menawan
Ucapan kata bak racun cendawan
Betina tak bisa dijadikan kawan

*Kartamarma* pemimpin serdadu prajurit
Dari Kurawa yang tidak sedikit
Ketika bertempur lari terbirit birit
Sifat buruk walau hanya semenit

Itulah kelompok kaum Kurawa
Dari yang kecil sampai dewasa
Mereka semua cucu *Abyasa
*Atau anak dari prabu *Destarata*

Ketika Pandu telah tiada
Meninggalkan dunia yang fana
Pandawa diasuh oleh Destarata
Bersama sama kaum Kurawa

Pandawa dan Kurawa berdunsanak
Mereka sepermainan waktu kanak kanak
Saat menggembala binatang ternak
Bersuka ria sambil tergelak gelak

Ternak digembalakan di hutan belukar
Di ranah luhak Tanah Datar
Kalau Jawi sudah besar
Lalu dijual di dalam pasar

Sapi dihargai lima ratus
Lembu yang gemuk sangat rakus
Tanduknya panjang agak lurus
Kulitnya licin sangat halus


Salam.
Abraham Ilyas 64 th.
Webmaster/admin www.nagari.org





On 11/27/09, Dr.Saafroedin BAHAR <[email protected]> wrote:
>
>   Rancak bana gagasan ko mah, pak Abraham. Baa kok dibuek pulo untuak
> manjalehkan ABS SBK ? Kalau jadi, bisa kito sumbangkan ka Kongres Kebuayaan
> Minangkabau nan insya Allah  direncanakan Gebu Minang diadokan bulan Mei
> atau Juni 2010.
>
> Wassalam,
> Saafroedin Bahar
> (Laki-laki, masuk 73 th, Jakarta)
>
>
> <http://us.mc575.mail.yahoo.com/mc/showMessage?fid=Inbox&mid=1_26691132_AFFkxEIAAAvzSoF%2FLw4GFX2qLAk&sort=date&order=down&enc=auto&startMid=50&pSize=25&filterBy=&clean=&acrumb=7D5fWXteb99&.rand=236325964&cmd=msg.scan&pid=2&fn=08082009134.jpg>
>
> --- On *Fri, 11/27/09, Abraham Ilyas <[email protected]>* wrote:
>
>
> From: Abraham Ilyas <[email protected]>
> Subject: [...@ntau-net] Orang Minang memahami budaya Jawa, Luhak bapangulu,
> rantau barajo
> To: [email protected]
> Cc: "Abraham Ilyas" <[email protected]>, [email protected]
> Date: Friday, November 27, 2009, 9:28 AM
>
>
> Dunsanak di palanta nan ambo hormati.
> Ketek indak disabuikkan namo, gadang indak dipanggiakan gala.
>
> Kutiko mambaco postingan Bapak Mochtar Naim tentang budaya Jawa, mako ambo
> ingek jo kota Jogyakarta, *pusat kebudayaan Jawa*.
> Tahun 1964 – 1966,  tahun-tahun nan penuh pergolakan/baparang (!) jo
> kekuasaan rejim Soekarno di pusat kebudayaan Jawa, kota Jogyakarta (*
> rantau*).
> Sebagai mahasiswa  tentunya kito tidak bisa tinggal diam saat ibu pertiwi
> sedang hamil tua (istilah PKI ketika akan melakukan kudeta)
>
> Perang tanpa badia ini berupa demonstrasi-demonstrasi, diskusi-diskusi
> (sebagai kelanjutan kekalahan bertempur di kampuang  (*luhak*) nan
> dilakukan oleh datuk-datuk, bapak-bapak/uda-uda kita tahun 1961 di kampuang,
> lihat kisahnya di: http://www.nagari.or.id/?moda=menang/)
>
> Menurut pandapek ambo budaya Jawa yang baik, santun, *hormat kepada
> rajo/penguasa* diformat oleh cerita-cerita wayang yang sangat disukai oleh
> masyarakatnyo (kini, antahlah !).
> Sebagai urang Minang nan barasa dari luhak, mako keyakinan ambo bahwa: *Luhak
> bapangulu, rantau barajo*; adalah benar adanya.
>
> Saat itu ada upaya untuk menghubungkan peristiwa pemberontakan gestapu/pki
> dengan cerita wayang, dalam bentuk kisah perang Barata Yudha, tapi ini tidak
> begitu berhasil.
> Mungkin karano kepatuhan kepado rajo Soekarno (nama wayangnya: Karna)
> sangat kuat (kredonya: pejah gesang nderek Bung Karno. Kini praktek yang
> serupa juga pernah dilakukan dengan cap jempol darah).
> Kutiko itu ambo lagi senangnyo senangnya mambaco carito wayang, mancubo
> manyusun penggalan-penggalan kisah peperangan antara raja-raja/perwira dalam
> bentuk syair.
>
> Kini ambo manamukan sebagian naskah syair tersebut di dalam tumpukan
> catatan buku kuliah lamo, dan ingin membaginyo jo dunsanak-dunsanak karano
> mambaco postingan Bapak Mochtar Naim nan menuliskan tentang budaya J dan M).
>
> Karano naskah aslinyo dalam tulisan tangan, mako paralu diketik
> kembali/tambahan dan akan ambo sampaikan sesudah diketik lembar per lembar
> (alun baitu banyak nan dibuek jadi syair). Iko lembar nan partamo:
>
> *Kisah Mahabarata
> *
>
> Inilah kisah Mahabarata
> Cerita berasal dari tanah India
> Sudah memasyarakat di pulau Jawa
> Dalam cerita wayang tentu saja
>
> Kisah dimulai dari Keluarga *Pandawa*
> Punya kerajaan bernama Astina
> Disebut pula negeri Astinapura
> Oleh *Kurawa* akan diambil paksa
>
> Pandawa segera menegakkan yang hak
> Melawan Kurawa yang sangat tamak
> Kurawa melupakan ikatan dunsanak
> Pikirannya dikuasai duri dan onak
>
> Terjadilah perang yang sangat besar
> Dari subuh hingga waktu asyar
> Banyak korban mati terkapar
> Yang luka menggelepar-gelepar
>
> Perang besar bernama *Barata Yudha*
> Mengambil tempat di medan Kurusetra
> Padang yang luas tiada batasnya
> Ibarat hati dan perasaan manusia
>
> Banyak tokoh yang diceritakan
> Untuk contoh anak kemenakan
> Yang baik-baik dijadikan teladan
> Sedangkan yang buruk supaya dihindarkan
>
> Kita ambil suri tauladan
> Agar selamat jiwa dan badan
> Dari godaan Jin dan Setan
> Yang mengintai di setiap kesempatan
>
> *Silsilah keluarga kelompok Astina*
>
>
> Pandudewanata raja negeri Astina
> Bapaknya bernama Bagawan Abyasa
> Pandu memiliki lima putera
> Semuanya disebut Pandawa Lima
>
> Putera Pandu dengan Dewi Kunti
> *Puntadewa, Bima* dan *Arjuna* yang sakti
> Lalu Madrim diperisteri lagi
> *Nakula* dan *Sadewa* anaknya kini
>
> Suatu waktu Pandu membuat keliru
> Di hutan rimba ketika berburu
> Memanah Kijang yang sedang bercumbu
> Kijang itu, pendeta yang menyaru
>
> Akibatnya Dewa sangatlah murka
> Karena Pandu membunuh pendeta
> Badan kasarnya diambil dewata
> Dewi Madrim ikut pula
>
> Padawa lima kehilangan Bapak
> Menjadi yatim bukanlah kehendak
> Takdir dewata tak bisa ditolak
> Begitu ucapan orang bijak
>
> Kini Pandawa dipelihara Kunti
> Diasuh petang dan pagi
> Diberi makan nasi dan roti
> Serta makanan yang cukup gizi
>
> Bila diare diberi oralit
> Pertolongan mencret yang tak sulit
> Obat manjur tidak pahit
> Cara meminumnya sedikit sedikit
>
> Tidak lupa diberi imunisasi
> Agar Pandawa kebal piradan besi
> Jauh penyakit yang ditakuti
> Semisal tetanus dan diphteri
>
> Ketika Pandu tak lagi di dunia
> Pimpinan diserahkan kepada Destarata
> Kakak kandung yang matanya buta
> Juga anak dari Bagawan Abyasa
>
> Anak Destarata ada seratus
> Ada yang cantik dan bagus
> Banyak pula seperti seperti bulus
> Kalau berkumpul seperti anai-anai bubus
>
> Nanti disambung lagi ......dengan judul
>
> *Kelahiran keluarga Kurawa*
>
>
> Salam.
> Abraham Ilyas 64 th.
> Webmaster/admin www.nagari.org
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> >
>

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke