Terima kasih Dnda Jupardi Andi untuak info pemakaian organ tunggal dalam pesta pernikahan di kampuang.
Memang tehnologi itu akan selalu berdampak negatif bila penggunanya *indak tahu di nan Ampek (adat).* Pengalaman ambo menikmati acara hiburan orgen tunggal di ranah, iolah kutiko menghadiri acara resmi/nagari di kampuang ambo. Suaro mikropon dari hiburan orgen tunggal itu alah mandominasi suara lainnya dalam acara nan penting tersebut. Orang orang nan ingin berbincang-bincang dengan kerabat/kawan yang sudah lama tak berjumpa *sangat terganggu* oleh bunyi musik overdosis tsb. Penggunaan orgen tunggal dalam pesta perkawinan di kota-kota banyak juo nan sarupo itu. Persis seperti suaro orgen tunggal nan diperdengarkan pada acara hiburan yang disponsori rokok. Merusak kendang pendengaran, terutama para balita yang sengaja/tidak sengaja ikut mendengar hiburan tsb. *Diskusi:* Memang niniak niniak awak alah maingekkan: *nan baiak ditarimo jo mufakat, nan buruak ditulak jo etongan* [?] Salam Abraham Ilyas 2010/1/24 jupardi andi <[email protected]> > “Band Cubadak Kantang versus Organ Tunggal > > By : Jepe > > Dunsanak Palanta RN nan ambo Muliakan > > > > Menarik juga membaca, menyimak dan memahami diskusi tentang Organ Tunggal > di palanta RN, beragam pendapat disampaikan apakah melalui kajian-kajian > social, agama, adat, budaya dan melalui karya sastra seperti puisi, pantun > dan cerpen, dari yang saya simak rata-rata memang mengutuk atau katakanlah > tidak setuju dengan Organ Tunggal di Ranah Minang dengan segala ekses > negatifnya dilihat dari sisi norma-norma kehidupan yang berlaku di ranah > minang yang bersendikan ABS-SBK. Ini hanya sekedar berpendapat saja atau > pandangan pribadi saya saja berdasarkan pengalaman-pengalaman masa kecil > sampai saat ini melihat sebuah acara tradisi di ranah minang terutama pesta > perkawinan atau baralek yang dikait-kaitkan dengan acara hiburan tanda > kemeriahan pesta baralek tersebut , bukan acara-acara music seperti Organ > tunggal yang terkadang memang “gila-gilaan” dengan aksi panggung para > penyanyinya (wanita) yang mengumbar aurat dengan gerakan erotis (porno aksi) > dan itu memang sebuah fenomena social umumnya di kota-kota besar di > Indonesia dalam sebuah pertunjukan misalnya promosi sebuah merek rokok, > even-even hiburan memperingati HUT RI dan lain sebagainya. > > > > Saya akan coba dulu tarik mundur kebelakang masa “romantisme” baralek di > ranah minang dengan segala tradisi dan adat yang berlaku dimasing-masing > kampung atau nagari di ranah minang ketika saya berusia anak-anak > menjelang remaja sekitar awal tahun 70 an sampai akhir tahun 70 an, > dimana jaman boleh dikatakan belum se modern sekarang dengan teknologi > informasi multi media dan musiknya yang serba digital dengan > peralatan-peralatan alat music modern. > > > > Di Kampung (Nagari) > > > > Jika pesta barakek diadakan tentunya semangat gotong royong serta > kebersamaannya sangat menonjol jika ada anak kemenakan yang mau berjodoh > dengan segala prosesi adat dan agamanya sehingga perkawinan anak kemanakan > ini syah secara adat dan agama lalu dimeriahkan dengan berbagai acara > kesenian atau hiburan sesuai dengan kemampuan yang punya hajat (Alek) kalau > dikampung saya di salah satu kenagarian Tanah Data, bagi keluarga yang > sedikit berada dari segi hiburan biasanya malamnya ada acara mengundang > kesenian tradisi rata-rata Basaluang (karena adat darek sepertinya seingat > saya tidak ada mengundang Rabab), bisa juga berandai. Lalu saat pesta > perkawinan paling-paling ada acara kesenian sekedar meramaikan suasana > talempong pacik dan gendang yang dipukul biasanya agak heboh ketika > marapulai datang, selebihnya adem ayem saja tamu silih berganti datang naik > turun rumah makan dan minum dengan acara-acara adat sambah manyambah dan > lain-lain, jikapun ada hiburan dikampung saya paling memutar tape recorder > sebuah barang mewah dan cukup langka hasil pekiriman dunsanak yang merantau > di Jawa dengan lagu-lagu minang seperti Elly Kasim atau kaset saluang yang > disambungkan pada speaker bermerek Toa yang ujungnyo lancip. Intinya > baralek dikampung jaman saya kecil dulu memang terasa sekali “nikmat” serta > ketenangannya tidak ada hal-hal yang sekiranya perbuatan-perbuatan yang > melanggar norma-norma adat istiadat dan agama, tentunya yang paling saya > nikmati aneka menunya yang wawww..selama pesta dikampung membuat lidah > bergoyang tak terkendali dengan masakan-masakan hasil gotong royong > kebersamaan para amai-amai, etek-etek dan bundo-bundo dikampung sebut > saja gulai merah, gulai putih (korma) pergedel sebesar tinju saya > (anak-anak), ayam goreng belah empat dengan cabe berminyak-minyak tanggung > yang harumnya selalu menggoda selera..ampunnn, belum lagi parabuangnya yang > “ueeedan” enaknya sebut saja lapek bugih, kue sapik, bolu kampuang yang > harum dan khas, paniaram, pisang kaliang yang montok-montok pendek, > lamang, > > > > > > Suasana “romantisme” baralek dikampuang jaman saya anak-anak dan remaja > dulu memang tidak akan pernah saya lupakan dengan segala dinamikanya serta > dengan segala prosesi adat istiadat seperti makan bajamba sambah manyambah > diatas rumah gadang.. Masih terngianglah “nasehat atau peringatan” yang > sangat penting dari Etek saya jika mau ikut makan berjamba sambah manyambah, > ananda sebaiknya “dialas dulu perut” artinya jangan terlalu lapar berharap > makan dengan segera, saya memang ingin mengikuti acara itu diatas rumah > gadang dengan duduk menyudut disisi mamak –mamak kampung (kaum lelaki) > yang “bakuhampe” baretong satu sama lain yang durasinya cukup lama sambil > mendenar “etongan sambah manyambah” mata saya cukup liar melihat segala > jamba dalam talam yang enak-enak dan jika kelak telah selesai “pamer cakap” > para mamak-mamak kampung saya sudah bisa memastikan ditalam mana Ayam > kampung bekah empat yang enak itu “tabalingkang” diatas piriang yang > bersusun didalam talam ..ehemmm..! > > > > Apaboleh buat ini sebuah adat dan tradisi banyak kearifan didalamnya > sejak kecil saya sudah terlatih mendengarkan “tahu di kato nan ampek” itu > (kata menurun, mendaki, malereng dan mendata) yang penuh perumpamaan pada > fenomena alam serta “membalikan” logika cara berpikir dengan nalar yang > sehat seperti kata-kata “hati-hati nan diateh dibawah nan ka maimpok” yang > tahu dengan bayang kata sampai ini sangat mengasyikan bagi saya mendengarnya > serta bertanya-tanya pada tetua kampung apa arti kalimat tersirat > (malereang) itu, masih terngiang ibu saya berkata dan bercanda kalau sambah > manyambah menjelang makan diatas rumah gadang sebenarnya yang dibicarakan > itu sudah tahu kita ujungnya tapi begitulah Nak yang namanya adat, perlu di > “belok-belok” kan kesana sini dulu “pamer cakap” untuk mencari kesepakatan > yang memang pada umumnya dimasing-masing pihak ujung-ujungnya pasti sepakat, > diibaratkan oleh ibu saya “ndak labiah ndak kurang sambah manyambah ka > makan diateh rumah gadang tu mambahas “bungkuak pungguang sabuik” artinya > puggung sabuik itu memang sudah dari sononya bungkuk kok masih dibahas dan > dianalisa juga he he he > > > > Semua prosesi acara baralek dikampung itu memang dilalui tanpa music atau > kemeriahan yang “memekakan” gendang telinga dengan segala ekses negative nya > seperti jaman sekarang . > > > > Di Kota (Padang dan sekitarnya) > > > > Nah inilah pesta baralek yang cukup meriah dan heboh dijaman saya > anak-anak menjelang remaja tersebut, suasana dan gairahnya kebersamaan serta > gotong royongnya juga sangat kental, saya tinggal diawal 70 an di Air > Tawar boleh dikatakan masih perkampungan atau pinggir kota padang, mungkin > terbantu ramainya suasana karena kampus IKIP dan UNAND berada disini, > keluarga saya berbaur dengan penduduk asli Air tawar yang punya karib > kerabat saling ada hububungan dengan kampung-kampung lainnya di Kota Padang > sebut saja kampung Ulak Karang, Tabiang Koto Tangah, Lubuk Buayo, Lubuk > Minturun dan daerah perkampungan lain. Jika ada baralek tak pelak lagi mulai > dari hari Kamis sampai Senin semuanya satu kampung turun tangan membantu > segala persiapan baralek mulai menyiapkan masakan-masakan buat pesta > (hari H) serta juadah-juadah, begitu sibuk kaum hawa dibelakang rumah > meracik dan meramu segala bumbu-bumbu serta memasaknya dalam kuali besar > (kancah) dengan tungku tigo sajarangan bukan kata malereang tapi kata > mendatar kalau tungku untuk menyangga wajan besar dari 3 buah batu kali yang > besar. Kalau orang berada semisalnya ketika jaman kejayaan ikan di pantai > Air Tawar anak juragan yang punya bagan dan payang maka tergeletaklah seekor > sapi dibantai untuk pesta baralek perkawinan, jika keluarga sederhana satu > ekor kambing lebih dari cukup. > > > > Masakan berbahan dasar Cubadak (Nangka) dan Kantang (Kentang) ini yang > paling penting dalam jamuan tersebut, jika kambing di potong maka “perancah” > atau bukan perancah lagi ya, tapi yang paling dominan dalam piring hidangan > buat menjamu tamu ya cubadak dan kantang tersebut sedangkan dagingnya tidak > terlalu menonjol dalam piring tersebut kalau tidak dikatakan potongannya > sangat kecil dengan jumlah yang terbatas dalam piring . Dua saja menu paling > utama satu gulai merah (gulai kambing dengan cubadak) satu gulai putih > (korma) dengan kentang, maka marilah kita masuk kepesta perkawinan jaman > saya kecil dulu di Kota Padang dengan sebutan “Baralek Cubadak Kantang” > sungguh meriah, seru dan heboh dengan semangat kebersamaan dan gotong royong > yang luar biasa saat itu yang saya rasakan, nikmati, ikut terlibat paling > tidak ikut-ikutran “manyulo” kelapa untuk diparut oleh kaum ibu dengan > kukuran atau sekedar mengumpulkan kayu bakar bekas kayu-kayu bahan bangunan > (coran semen yang kami kumpulkan di kampus-kampus IKIP dan UNAND yang baru > selesai di Bangun) > > > > Lalu bagaimana dengan hiburannya, khusus yang satu ini terasa hambar orang > padang sesederhana apapun kalau tidak dikatakan miskin jika malam sebelum > hari H di atas rumah yang rata-rata mengundang kesenian tradisi Rabab > Pesisir,biasanya malam minggu dimulai lepas Isya dan berakhir menjelang > subuh dan saya yang masih anak-anak ikut juga larut menikmati si tukang > rabab bakaba, luar biasa dengan kisah-kisah terutama tentang “parasian iduik > dan cinta” sungguh saya ketika itu masih anak-anak menjelang remaja ikut > larut..mmmm kisah rabab “The Long and winding road”, saya menaruh salut > dan respek kepada si Tukang rabab ini yang didudukan diatas kasur kapuk yang > empuk beralaskan kain panjang batik jawa yang harum bunga melati, kain > panjang simpanan “emak-emak” didalam lemari yang berlipat rapi ditaburi > kembang melati, begitu mempesona cerita yang dikabakan tanpa “contekan” atau > buku cerita didepannya yang dia baca, bahkan para penikmat rabab golongan > tua yang duduk mengelilingi si tukang rabab sambil mengisap rokok nipah dan > mengunyah “kepahitan” daun rokok nipah ini ketika apinya padam, hati dan > pikirannya menerawang larut haru biru karena kisah kaba si tukang rabab yang > bisa jadi derita yang pernah dialami Pak Tua yang menyandar ..”anrah lah > yuanggg oiii ndak panyakik nan mambunuah deyen do..cinto nan indak sampai” > walah..jika anda pernah menyaksikan berbagai versi film cinta Romeo dan > Juliet saya pikir tidak akan kalah kisah cinta romantis yang di kabakan si > Tukang Rabab..mmmm…really so blue Bro. > > > > Minggunya saat pesta perkawinan menjamu tamu dan undangan ketika anak daro > dan marapulai bersanding maka terasa hambar dan ada kurangnya hiburan tanpa > Band saat itu terkenal pmiliknya bernama Pak Amat (logat Padang tentunya > Pak Amaik), karena makanan baralek orang kampung pinggiran Kota Padang menu > utamanya Cubadak Kantang, maka kelakar dan garah kami mengasih nama Band Pak > Amaik ini adalah BAND CUBADAK KANTANG, ehem faktanya memang begitu alat > music Drumnya “badantang-dantang” ketika dimainkan. Saat itu kampung Air > Tawar tempat saya tinggal belum masuk listrik maka Band Cubadak kantang > dimainkan dengan catu daya listrik yang berasal dari beberapa aki 12 Volt > yang disimpan dalam kotak sedemikian rupa. Band Cubadak Kantang Pak Amaik > terdiri dari alat music standar sebagaimana layaknya Band pada saat itu yang > lagi popular dan melegenda The beatles terdiri satu set drum Bass Gitar, > Melodi Gitar dan Rhytim Gitar nah jika masuk genre music gamat maka Pak Amat > juga menyediakan saxophone dan akordion. > > > > Lagu-lagu yang dibawakan Band Cubadak Kantang oleh biduannya umumnya > lagu-lagu minang popular saat itu atau lagu-lagu gurauan ala Syamsi Hasan > begitu juga lagu-lagu gamat yang popular, sekali-kali juga ada lagu pop > nasional seperti yang saya ingat ketika ada undangan yang menymbangkan suara > emasnya diiringin Band Cubadak Kantang membawakan lagu Tirik Sandora dan > Muksin begini kira-kira > > “mari bermain tali, bawah rumpun bambu, pegang lah disini.” Ahh..saya lupa > selanjutnya, bisa anda teruskan lagu itu..asyik..asyik. atau lagu Dang Dut > ala Ellya Kadham…”Bineka cantik dari india, boleh dilihat tak boleh di > pegang” ahaaa..mantap. > > > > Tidak ada goyangan erotis yang menjurus porno aksi seperti “ngebor” ala > Inul, goyang gergaji ala Dewi Persik atau goyang sambil mutar-mutar > kepala dengan gilanya ala Trio Macan, waduh jika sempat pesta sekarang organ > tunggal ada yang goyang ala Trio Macam sepertinya saya siap-siap sambil > menikmati hidangan menyambut kepala yang mau lepas dari leher hiiiii, > parahnya lagi Trio Macan ini saya pikir over dosis dalam berekspresi diatas > panggung bergoyang mau-maunya ngorbanin temen dengan nginjak-nginjak > punggung macan lain yang sedang membungkuk atauy duduk, eeedaannn !!! > > > > Ketika masuk ke genre music Gamat maka kaum lelaki akan bergoyang dengan > sapu tangan atau selendang dengan jogged yang khas, sepertinya syahdu banget > ya betul merem-merem melek menikmati alunan music gamat berlenggang > lenggok diatas panggung yang berlantai papan yang disangga oleh Drum-Drum > minyak tanah yang dipinjam dari kedai-kedai kebutuhan sehari-hari masyarakat > dikampung Air Tawar. Tiba –tiba sekitar jam 3 an kok suara music Band > Cubadak kantang Pak Amat “maleo-leo” ya, ohooo rupanya aki-aki 12 Volt Band > Cubadak Kantang sudah soak (drop), Pak Amat naik panggung > > > > “Mohon maaf para tamu dan undangan kami, sampai disini penampilan Band kami > dulu karena Aki sudah soak” > > > > Berakhir sudah hiburan baralek yang “sensasional” dengan Band Cubadak > kantang Pak Amat yang serba bisa, anak Band menggulung semua kabel dan > memasukan segala peralatan Band dalam kotaknya, sampai jumpa lagi Band > Cubadak Kantang Pak Amaik pada baralek Minggu depannya ditempat yang lain > seputar kampung air tawar dan sekitarnya, sebelum pulang kepada anak Band > dan crew silahkan makan dengan menu utama Gulai Merah Cubadak dan Gulai > Putih Korma Kantang..habis itu silahkan minum kopi panas serta parabuangan > yang telah disediakan tak lupa rokok yang ditarok didalam gelas, mantapppp. > > *** > > Lalu yang digugat sekarang dan meresahkan di Ranah Minang pesta Baralek > dengan Organ Tunggal tentunya dengan segala ekses negatifnya dengan > bernyanyi Dang Dut atau music jingkrak jinkrik berbagai genre dengan > goyangan > “maut” mengumbar aurat yang erotis memancing syahwat berdenyut, jika saya > melihat Organ Tunggal saja sebagai sebuah instrument atau alat music modern > dengan sebuah alat ini sudah ada semua jenis alat music yang dipakai “band > cubadak kantang pak Amat” bahkan sangat komplit apa saja jenis alat music > sudah terpadu dan dirancang sedemikian rupa bunyinya dalam sebuah organ > elektrik tinggal memencet beberapa tombol baik secara manual dan otomatis > maka sipemain organ telah menampilkan berbagai aliran music mulai pop, dang > dut, rock, house music, reggae dan lain sebagainya. > > > > Apaboleh buat Organ Tunggal ini tidak ubahnya juga sebuah band Cubadak > Kantang Pak Amat yang dipadatkan dalam sebuah alat music, menjadi hujatan > dari sisi-sisi norma kehidupan baik dari adat istiadat dan agama di ranah > minang yang ABS-SBK ketika para penyanyinya beraksi dipanggung tidak sperti > biduan Band Pak Amat lagi, tapi yang saya lihat dikampung-kampung jika ada > pesta baralek jika memang dari keluarga yang berada atau katakanlah punya > uang cukup agar pesta meriah memang menampilkan Organ Tunggal tapi masih > dalam batas-batas yang wajar seperti bernyanyi tanpa bergoyang berlebihan > mengumbar aurat, mulai lagu pop minang, lagu pop nasional yang kagi hits, > lagu Dang Dut , lagu nostalgia dan lain sebagainya, bahkan para tamu seperti > ibu-ibu berkebaya atau berbaju kurung berjilbab dengan tampilan menarik > serta islami ikut keatas panggung menyumbangkan suaranya untuk berdendang. > > > > Begitu juga ketika menjelang Azan sholat Dzuhur Organ Tunggal istirahat > sejenak, lalu skitar jam 13.30 WIB mulai lagi menghibur tamu yang datang > silih berganti sampai menjelang azan Ashar menjelang. Tapi jika Organ > tunggal tampil dikeramaian umum di kota-kota di Ranah Minang seperti > acara-acara promosi rokok, peringatan hari besar nasional dengan segala > ekses negatifnya, kalau yang satu ini saya tidak mau berkomentar entah > dimana salahnya jikapun ada salahnya, saya hanya menikmati organ tunggal > saat pesta baralek di ranah minang saat ini tidak lebih tidak kurang > sebagaimana Band Cubadak Kantang Pak Amaik faktanya dari jaman dulu di ranah > minang memang tekah ada hiburan music dengan alat-alat modern seperti > Drum dan Gitar, kebulan saja Band Cubadak Kantang jadul ini dipadatkan pada > alat music yang bernama Organ Tunggal, tapi yang berbeda memang lagak, ragam > dan gaya penyanyinya yang jika dikembalikan kepada tatanan kehidupan > masyarakat suku Minangkabau yang ABS-SBK memang sepertinya harus “dibumi > hangus” bukan Organ Tunggalnya sebagai sebuah alat music tapi bentuk > acara atau hiburannya yang memang lagi marak dengan biduan-biduannya dengan > goyangan maut porno aksinya > > > > Pekanbaru, 24 Januari 2009 > > > > > > > > > > ------------------------------ > Apa dia selingkuh? > <http://id.answers.yahoo.com/question/index;_ylt=AvBZVi6lFVNDeCdqvOFQRQzJRAx.;_ylv=3?qid=20080415021033AAesuEj> > Temukan jawabannya di Yahoo! Answers! > > -- > . > Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat > lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet > http://groups.google.com/group/RantauNet/~<http://groups.google.com/group/RantauNet/%7E> > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: > - DILARANG: > 1. Email besar dari 200KB; > 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; > 3. One Liner. > - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet > - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting > - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply > - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan > keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe > -- . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
<<814.gif>>
