Alaikumsalam sanak,

kalau alah candoko dima posisi tuanku, alim ulama dikampuang awak tu.
Apo ikuik pulo bagoyang....Antahlah paniang awak mamikiakan.



2010/1/24 Muhammad Dafiq Saib <[email protected]>

> Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu
>
> Dari sebuah diskusi dengan pambayan ambo nan tingga di Sawahlunto, ano
> mancaritoan, nana bahaso orgen tunggal tu sudah sedemikian rupo
> pelaksanaanno kini yoitu untuak acara di malam harino, nan dihiasi jo
> minuman alkohol. Istilah pambayan ambo tu, kalau alah pukuah sapuluah malam
> hari, mako lah muloi mareka tu *maneleang*, bajoged jo gerakan-gerakan
> erotis, jantan batino. Baitu muloi tangah malam baransua ado nan rabah
> ciek-ciek dek talampau mabuak. Apo sajo nan diminum mareka tu? Sagalo macam,
> sajak dari anggur kolesom cap urang tuo, jo babagai macam merek minuman
> kareh. Indak ado nan malarang? Sia nan ka malarang, baitu jano. Sabab kok di
> larang biko kalua sombongno, aden jo pitih den manga awak nan ebek......
>
> Bagian iko nan indak disingguang dek Jepe agakno....
>
> Wassalamu'alaikum,
>
> Lembang Alam
>
>
>>          “Band Cubadak Kantang versus Organ Tunggal
>>
>>  By : Jepe
>>
>> Dunsanak Palanta RN nan ambo Muliakan
>>
>>
>>
>> Menarik juga membaca, menyimak dan memahami diskusi tentang Organ Tunggal
>> di palanta RN, beragam pendapat disampaikan apakah melalui kajian-kajian
>> social, agama, adat, budaya dan melalui karya sastra seperti puisi, pantun
>> dan cerpen, dari yang saya simak rata-rata memang mengutuk atau katakanlah
>> tidak setuju dengan Organ Tunggal di Ranah Minang dengan segala ekses
>> negatifnya dilihat dari sisi norma-norma kehidupan yang berlaku di ranah
>> minang yang  bersendikan ABS-SBK. Ini hanya sekedar berpendapat saja atau
>> pandangan pribadi saya saja berdasarkan pengalaman-pengalaman masa kecil
>> sampai saat ini melihat sebuah acara tradisi di ranah minang terutama pesta
>> perkawinan atau baralek yang dikait-kaitkan dengan acara hiburan tanda
>> kemeriahan pesta baralek tersebut , bukan acara-acara music seperti Organ
>> tunggal yang terkadang memang  “gila-gilaan” dengan aksi panggung para
>> penyanyinya (wanita) yang mengumbar aurat dengan gerakan erotis (porno aksi)
>> dan itu memang sebuah fenomena social umumnya di kota-kota besar di
>> Indonesia  dalam sebuah pertunjukan misalnya promosi sebuah merek rokok,
>> even-even hiburan memperingati HUT RI dan lain sebagainya.
>>
>>
>>
>> Saya akan coba dulu tarik mundur kebelakang masa “romantisme” baralek di
>> ranah minang dengan segala tradisi dan adat yang berlaku dimasing-masing
>> kampung atau nagari di ranah minang  ketika saya berusia anak-anak
>> menjelang remaja  sekitar awal tahun 70 an sampai akhir tahun 70 an,
>> dimana jaman boleh dikatakan belum se modern sekarang  dengan teknologi
>> informasi  multi media dan musiknya yang serba digital dengan
>> peralatan-peralatan alat music modern.
>>
>>
>>
>> Di Kampung  (Nagari)
>>
>>
>>
>> Jika pesta barakek diadakan tentunya semangat gotong royong serta
>> kebersamaannya sangat menonjol jika ada anak kemenakan yang mau berjodoh
>> dengan segala prosesi adat dan agamanya sehingga perkawinan anak kemanakan
>> ini syah secara adat dan agama lalu dimeriahkan dengan berbagai acara
>> kesenian atau hiburan sesuai dengan kemampuan yang punya hajat (Alek) kalau
>> dikampung saya di salah satu kenagarian Tanah Data, bagi keluarga yang
>> sedikit berada dari segi hiburan biasanya  malamnya ada acara mengundang
>> kesenian tradisi  rata-rata Basaluang (karena adat darek sepertinya  seingat
>> saya tidak ada mengundang Rabab), bisa juga berandai. Lalu saat pesta
>> perkawinan paling-paling ada acara kesenian sekedar meramaikan suasana
>> talempong pacik dan gendang yang dipukul biasanya agak heboh ketika
>> marapulai datang, selebihnya adem ayem saja tamu silih berganti datang naik
>> turun rumah makan dan minum dengan acara-acara adat sambah manyambah dan
>> lain-lain, jikapun ada hiburan dikampung saya paling memutar tape recorder
>> sebuah barang mewah dan cukup langka hasil pekiriman dunsanak yang merantau
>> di Jawa dengan lagu-lagu minang seperti Elly Kasim atau kaset saluang yang
>> disambungkan pada  speaker bermerek Toa yang ujungnyo lancip. Intinya
>> baralek dikampung jaman saya kecil dulu memang terasa sekali “nikmat” serta
>> ketenangannya tidak ada hal-hal yang sekiranya perbuatan-perbuatan yang
>> melanggar norma-norma adat istiadat dan agama, tentunya yang paling saya
>> nikmati aneka menunya yang wawww..selama pesta dikampung membuat lidah
>> bergoyang tak terkendali dengan masakan-masakan hasil gotong royong
>> kebersamaan para  amai-amai, etek-etek dan bundo-bundo dikampung sebut
>> saja gulai merah, gulai putih (korma) pergedel sebesar tinju saya
>> (anak-anak), ayam goreng belah empat dengan cabe berminyak-minyak tanggung
>> yang harumnya selalu menggoda selera..ampunnn, belum lagi parabuangnya yang
>> “ueeedan” enaknya sebut saja lapek bugih, kue sapik, bolu kampuang yang
>> harum dan  khas, paniaram, pisang kaliang yang montok-montok pendek,
>> lamang,
>>
>>
>>
>>
>>
>> Suasana “romantisme” baralek dikampuang jaman saya anak-anak dan remaja
>> dulu memang tidak akan pernah saya lupakan dengan segala dinamikanya serta
>> dengan segala prosesi adat istiadat seperti makan bajamba sambah manyambah
>> diatas rumah gadang.. Masih terngianglah “nasehat atau peringatan” yang
>> sangat penting dari Etek saya jika mau ikut makan berjamba sambah manyambah,
>> ananda sebaiknya “dialas dulu perut” artinya jangan terlalu lapar berharap
>> makan dengan segera, saya memang ingin mengikuti acara itu diatas rumah
>> gadang dengan duduk menyudut  disisi mamak –mamak kampung (kaum lelaki)
>> yang “bakuhampe” baretong satu sama lain yang durasinya cukup lama sambil
>> mendenar “etongan sambah manyambah” mata saya cukup liar melihat segala
>> jamba dalam talam yang enak-enak dan jika kelak telah selesai “pamer cakap”
>> para mamak-mamak kampung saya sudah bisa memastikan ditalam mana Ayam
>> kampung bekah empat yang enak itu “tabalingkang” diatas piriang yang
>> bersusun didalam talam ..ehemmm..!
>>
>>
>>
>> Apaboleh buat ini sebuah  adat dan tradisi banyak kearifan didalamnya
>> sejak kecil saya sudah terlatih mendengarkan  “tahu di kato nan ampek”
>> itu (kata menurun, mendaki, malereng dan mendata) yang penuh perumpamaan
>> pada fenomena alam serta “membalikan” logika cara berpikir dengan nalar yang
>> sehat seperti kata-kata “hati-hati nan diateh dibawah nan ka maimpok”   yang
>> tahu dengan bayang kata sampai ini sangat mengasyikan bagi saya mendengarnya
>> serta bertanya-tanya pada tetua kampung apa arti kalimat tersirat
>> (malereang) itu, masih terngiang ibu saya berkata dan bercanda kalau sambah
>> manyambah menjelang makan diatas rumah gadang sebenarnya yang dibicarakan
>> itu sudah tahu kita ujungnya tapi begitulah Nak yang namanya adat, perlu di
>> “belok-belok” kan kesana sini dulu “pamer cakap” untuk mencari kesepakatan
>> yang memang pada umumnya dimasing-masing pihak ujung-ujungnya pasti sepakat,
>> diibaratkan oleh ibu saya “ndak labiah ndak kurang sambah manyambah  ka
>> makan  diateh rumah gadang tu mambahas “bungkuak pungguang sabuik”
>> artinya puggung sabuik itu memang sudah dari sononya bungkuk kok masih
>> dibahas dan dianalisa juga he he he
>>
>>
>>
>> Semua prosesi acara baralek dikampung itu memang dilalui tanpa music atau
>> kemeriahan yang “memekakan” gendang telinga dengan segala ekses negative nya
>> seperti jaman sekarang .
>>
>>
>>
>> Di Kota (Padang dan sekitarnya)
>>
>>
>>
>> Nah inilah pesta baralek yang cukup meriah dan heboh dijaman  saya
>> anak-anak menjelang remaja tersebut, suasana dan gairahnya kebersamaan serta
>> gotong royongnya juga sangat kental, saya tinggal diawal  70 an di Air
>> Tawar boleh dikatakan masih perkampungan atau pinggir kota padang, mungkin
>> terbantu ramainya suasana karena kampus IKIP dan UNAND berada disini,
>> keluarga saya berbaur dengan penduduk asli Air tawar yang punya karib
>> kerabat saling ada hububungan dengan kampung-kampung lainnya di Kota Padang
>> sebut saja kampung Ulak Karang, Tabiang Koto Tangah, Lubuk Buayo, Lubuk
>> Minturun dan daerah perkampungan lain. Jika ada baralek tak pelak lagi mulai
>> dari hari Kamis sampai Senin semuanya satu kampung turun tangan membantu
>> segala persiapan baralek mulai menyiapkan  masakan-masakan buat pesta
>> (hari H) serta juadah-juadah, begitu sibuk kaum hawa dibelakang rumah
>> meracik dan meramu segala bumbu-bumbu serta memasaknya dalam kuali besar
>> (kancah) dengan  tungku tigo sajarangan bukan kata malereang tapi kata
>> mendatar kalau tungku untuk menyangga wajan besar dari 3 buah batu kali yang
>> besar. Kalau orang berada semisalnya ketika jaman kejayaan ikan di pantai
>> Air Tawar anak juragan yang punya bagan dan payang maka tergeletaklah seekor
>> sapi dibantai untuk pesta baralek perkawinan, jika keluarga sederhana satu
>> ekor kambing lebih dari cukup.
>>
>>
>>
>> Masakan berbahan dasar Cubadak (Nangka) dan Kantang (Kentang) ini yang
>> paling penting dalam jamuan tersebut, jika kambing di potong maka “perancah”
>> atau bukan perancah lagi ya, tapi yang paling dominan dalam piring hidangan
>> buat menjamu tamu ya cubadak dan kantang tersebut sedangkan dagingnya  tidak
>> terlalu menonjol dalam piring tersebut kalau tidak dikatakan potongannya
>> sangat kecil dengan jumlah yang terbatas dalam piring . Dua saja menu paling
>> utama satu gulai merah (gulai kambing dengan cubadak) satu gulai putih
>> (korma) dengan kentang, maka marilah kita masuk kepesta perkawinan jaman
>> saya kecil dulu di Kota Padang dengan sebutan “Baralek Cubadak Kantang”
>> sungguh meriah, seru dan heboh dengan semangat kebersamaan dan gotong royong
>> yang luar biasa saat itu yang saya rasakan, nikmati, ikut terlibat paling
>> tidak ikut-ikutran “manyulo” kelapa untuk diparut oleh kaum ibu dengan
>> kukuran atau sekedar mengumpulkan kayu bakar bekas kayu-kayu bahan bangunan
>> (coran semen yang kami kumpulkan di kampus-kampus IKIP dan UNAND yang  baru
>> selesai di Bangun)
>>
>>
>>
>> Lalu bagaimana dengan hiburannya, khusus yang satu ini terasa hambar orang
>> padang sesederhana apapun kalau tidak dikatakan miskin jika malam sebelum
>> hari H di atas rumah  yang rata-rata mengundang kesenian  tradisi Rabab
>> Pesisir,biasanya malam minggu dimulai lepas Isya dan berakhir menjelang
>> subuh dan saya yang masih anak-anak ikut juga larut menikmati si tukang
>> rabab bakaba, luar biasa dengan kisah-kisah terutama tentang “parasian iduik
>> dan cinta” sungguh saya ketika itu masih anak-anak menjelang remaja ikut
>> larut..mmmm  kisah rabab “The Long and winding road”, saya menaruh salut
>> dan respek kepada si Tukang rabab ini yang didudukan diatas kasur kapuk yang
>> empuk beralaskan kain panjang batik jawa yang harum bunga melati, kain
>> panjang simpanan “emak-emak” didalam lemari yang berlipat rapi ditaburi
>> kembang melati, begitu mempesona cerita yang dikabakan tanpa “contekan” atau
>> buku  cerita didepannya yang dia baca, bahkan para penikmat rabab
>> golongan tua yang duduk mengelilingi si tukang rabab sambil mengisap rokok
>> nipah dan mengunyah “kepahitan” daun rokok nipah ini ketika apinya padam,
>>  hati dan pikirannya menerawang larut haru biru karena kisah kaba si
>> tukang rabab yang bisa jadi derita yang pernah dialami Pak Tua yang
>> menyandar ..”anrah lah yuanggg oiii ndak panyakik nan mambunuah deyen
>> do..cinto nan indak sampai” walah..jika anda pernah menyaksikan berbagai
>> versi film cinta Romeo dan Juliet saya pikir tidak akan kalah kisah cinta
>> romantis yang di kabakan si Tukang Rabab..mmmm…really so blue Bro.
>>
>>
>>
>> Minggunya saat pesta perkawinan menjamu tamu dan undangan ketika anak daro
>> dan marapulai bersanding maka terasa hambar dan ada kurangnya hiburan tanpa
>> Band saat itu terkenal  pmiliknya bernama Pak Amat (logat Padang tentunya
>> Pak Amaik), karena makanan baralek orang kampung pinggiran Kota Padang menu
>> utamanya Cubadak Kantang, maka kelakar dan garah kami mengasih nama Band Pak
>> Amaik ini adalah BAND CUBADAK KANTANG, ehem faktanya memang begitu alat
>> music Drumnya “badantang-dantang” ketika dimainkan. Saat itu kampung Air
>> Tawar tempat saya tinggal belum masuk listrik maka  Band Cubadak kantang
>> dimainkan dengan catu daya listrik yang berasal dari beberapa aki 12 Volt
>> yang disimpan dalam kotak sedemikian rupa. Band Cubadak Kantang Pak Amaik
>> terdiri dari alat music standar sebagaimana layaknya Band pada saat itu yang
>> lagi popular dan melegenda The beatles terdiri satu set drum Bass Gitar,
>> Melodi Gitar dan Rhytim Gitar nah jika masuk genre music gamat maka Pak Amat
>> juga menyediakan saxophone dan akordion.
>>
>>
>>
>> Lagu-lagu yang dibawakan Band Cubadak Kantang oleh biduannya umumnya
>> lagu-lagu minang popular saat itu atau lagu-lagu gurauan ala Syamsi Hasan
>> begitu juga lagu-lagu gamat yang popular, sekali-kali juga ada lagu pop
>> nasional seperti yang saya ingat ketika ada undangan yang menymbangkan suara
>> emasnya diiringin Band Cubadak Kantang membawakan lagu Tirik Sandora dan
>> Muksin begini kira-kira
>>
>> “mari bermain tali, bawah rumpun bambu, pegang lah disini.” Ahh..saya lupa
>> selanjutnya, bisa anda teruskan lagu itu..asyik..asyik. atau lagu Dang Dut
>> ala Ellya Kadham…”Bineka cantik dari india, boleh dilihat tak boleh di
>> pegang” ahaaa..mantap.
>>
>>
>>
>> Tidak ada goyangan erotis yang menjurus porno aksi seperti “ngebor” ala
>> Inul,  goyang gergaji ala Dewi Persik atau goyang sambil mutar-mutar
>> kepala dengan gilanya ala Trio Macan, waduh jika sempat pesta sekarang organ
>> tunggal ada yang goyang ala Trio Macam sepertinya saya siap-siap sambil
>> menikmati hidangan menyambut kepala yang mau lepas dari leher hiiiii,
>> parahnya lagi Trio Macan ini saya pikir over dosis dalam berekspresi diatas
>> panggung bergoyang mau-maunya ngorbanin temen dengan nginjak-nginjak
>> punggung macan lain yang sedang membungkuk atauy  duduk, eeedaannn !!!
>>
>>
>>
>> Ketika masuk ke genre music Gamat maka kaum lelaki akan bergoyang dengan
>> sapu tangan atau selendang dengan jogged yang khas, sepertinya syahdu banget
>> ya betul merem-merem melek menikmati alunan music gamat  berlenggang
>> lenggok diatas panggung yang berlantai papan yang disangga oleh Drum-Drum
>> minyak tanah yang dipinjam dari kedai-kedai kebutuhan sehari-hari masyarakat
>> dikampung Air Tawar. Tiba –tiba sekitar jam 3 an kok suara music Band
>> Cubadak kantang Pak Amat “maleo-leo” ya, ohooo rupanya aki-aki 12 Volt Band
>> Cubadak Kantang sudah soak (drop), Pak Amat naik panggung
>>
>>
>>
>> “Mohon maaf para tamu dan undangan kami, sampai disini penampilan Band
>> kami dulu karena Aki sudah soak”
>>
>>
>>
>> Berakhir sudah hiburan baralek yang  “sensasional” dengan Band Cubadak
>> kantang Pak Amat yang serba bisa, anak Band menggulung semua kabel dan
>> memasukan segala peralatan Band dalam kotaknya, sampai jumpa lagi Band
>> Cubadak Kantang Pak Amaik pada baralek Minggu depannya ditempat yang lain
>> seputar kampung air tawar dan sekitarnya, sebelum pulang kepada anak Band
>> dan crew silahkan makan dengan menu utama Gulai Merah Cubadak dan Gulai
>> Putih Korma Kantang..habis itu silahkan minum kopi panas serta parabuangan
>> yang telah disediakan tak lupa rokok yang ditarok didalam gelas, mantapppp.
>>
>> ***
>>
>> Lalu yang digugat sekarang dan meresahkan di Ranah Minang pesta Baralek
>> dengan Organ Tunggal tentunya dengan segala ekses negatifnya dengan
>> bernyanyi  Dang Dut atau music jingkrak jinkrik berbagai genre dengan  
>> goyangan
>> “maut” mengumbar aurat yang erotis memancing syahwat berdenyut, jika saya
>> melihat Organ Tunggal saja sebagai sebuah instrument atau alat music modern
>> dengan sebuah alat ini sudah ada semua jenis alat music yang dipakai “band
>> cubadak kantang pak Amat” bahkan sangat komplit apa saja jenis alat music
>> sudah terpadu dan dirancang sedemikian rupa bunyinya dalam sebuah organ
>> elektrik  tinggal memencet beberapa tombol baik secara manual dan
>> otomatis maka sipemain organ telah menampilkan berbagai aliran music mulai
>> pop, dang dut, rock, house music, reggae dan lain sebagainya.
>>
>>
>>
>> Apaboleh buat Organ Tunggal ini tidak ubahnya juga sebuah band Cubadak
>> Kantang Pak Amat yang dipadatkan dalam sebuah alat music, menjadi hujatan
>> dari sisi-sisi norma kehidupan baik dari adat istiadat dan agama di ranah
>> minang yang ABS-SBK ketika para penyanyinya beraksi dipanggung tidak sperti
>> biduan Band Pak Amat lagi, tapi yang saya lihat dikampung-kampung jika ada
>> pesta baralek jika memang dari keluarga yang berada atau katakanlah punya
>> uang cukup agar pesta meriah memang menampilkan Organ Tunggal tapi masih
>> dalam batas-batas yang wajar seperti bernyanyi tanpa bergoyang berlebihan
>> mengumbar aurat, mulai lagu pop minang, lagu pop nasional yang kagi hits,
>> lagu Dang Dut , lagu nostalgia dan lain sebagainya, bahkan para tamu seperti
>> ibu-ibu berkebaya  atau berbaju kurung berjilbab dengan tampilan menarik
>> serta islami ikut keatas panggung menyumbangkan suaranya untuk berdendang.
>>
>>
>>
>> Begitu juga ketika menjelang Azan sholat Dzuhur Organ Tunggal istirahat
>> sejenak, lalu skitar jam 13.30 WIB mulai lagi menghibur tamu yang datang
>> silih berganti sampai menjelang azan Ashar menjelang. Tapi jika Organ
>> tunggal tampil dikeramaian umum di kota-kota di Ranah Minang  seperti
>> acara-acara promosi rokok, peringatan hari besar nasional dengan segala
>> ekses negatifnya, kalau yang satu ini saya tidak mau berkomentar entah
>> dimana salahnya jikapun ada salahnya, saya hanya menikmati organ tunggal
>> saat pesta baralek di ranah minang saat ini tidak lebih tidak kurang
>> sebagaimana Band Cubadak Kantang Pak Amaik faktanya dari jaman dulu di ranah
>> minang memang tekah ada hiburan music  dengan alat-alat modern seperti
>> Drum dan Gitar, kebulan saja Band Cubadak Kantang jadul ini dipadatkan pada
>> alat music yang bernama Organ Tunggal, tapi yang berbeda memang lagak, ragam
>> dan gaya penyanyinya yang jika dikembalikan kepada tatanan kehidupan
>> masyarakat suku Minangkabau yang ABS-SBK memang sepertinya harus “dibumi
>> hangus”  bukan Organ Tunggalnya sebagai sebuah alat music tapi bentuk
>> acara atau hiburannya yang memang lagi marak dengan biduan-biduannya dengan
>> goyangan maut porno aksinya
>>
>>
>>
>> Pekanbaru, 24 Januari 2009
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
> --
>  .
> Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat
> lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
> http://groups.google.com/group/RantauNet/~
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
> - DILARANG:
> 1. Email besar dari 200KB;
> 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
> 3. One Liner.
> - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
> - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
> - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
> - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan
> keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
>



-- 
Wassalaamu'alaikum
Dutamardin Umar (aka. Ajo Duta),
gelar Bagindo, suku Mandahiliang,
lahir 17 Agustus 1947.
Nagari Gasan Gadang, Kab. Pariaman. rantau Deli-Sumut, Jakarta, USA.
sekarang Sterling, Virginia-USA

-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

Kirim email ke