*Band Cubadak Kantang Vs Erotisme Organ Tunggal, sebuah relasi social: Catatan Terhadap Tulisan Pak Jepe.*

Entah apalah yang terlintas dipikiran beliau satu ini ketika menulis tentang Band Cubadak Kantang. Beliau seorang forester, bukan pengamat seni. Beliau tidak memiliki legitimasi akademik untuk mengulas, mengupas dan menghempas dan mendebatkan seperangkat tata nilai moral yang dilekatkan perangkat alat musik, yang tiba-tiba akan menggegerkan sendi “Rumah Gadang”.

Tapi disitulah kelihaian seorang Jepe. Ketika perdebatan sebuah music dihamparkan di altar, telah dibedahnya dengan rasa. Seiring dengan seperangkat kenangan masa lalu yang semestinya telah menjadi artefak yang akan dipandangi ketika tua, ia jadikan menjadi pisau bedah, pisau analisis yang mengantarkannya pada satu kesimpulan.

Rasa dalam tata nilai Minangkabau di sandingkan dengan kata periksa, atau dalam bahasanya menjadi raso jo pareso. Raso jo pareso adalah sebuah pagar dari sebuah hubungan sosial yang terus berkembang, ialah dinding yang membatasi antara individu yang satu agar tidak menyakiti individu yang lainnya. Karena itulah ketika akan menyakiti orang lain, maka diajarkan untuk mencubit diri sendiri.

Pak Jepe mendeskripsikan sebuah kesederhanaan perhelatan tempat dimana segala mamangan tentang kegotongroyongan masyarakat komunal dibuktikan. Ketika sebuah bakti kepada komunitas diupacarai dengan ritual, meminjam bahasanya “Cepak Cepong Gulai Cubadak dan Kentang”. Sebagai sebuah masakan sederhana, kedua menu tersebut sangat-sangat biasa, tetapi yang luar biasa dari itu adalah proses terwujudnya kedua gulai itu membuahkan sebuah perekat social yang tumbuh dari “Raso jo Pareso.

Saat ini ketika uparacara perkawinan menjadi industry, in efisiensi sebuah prosesi tradisonal dari kacamata pasar, telah berganti dengan kecanggihan mekanik event organizer, semua kerumitan teknis sebuah perkawinan telah terselesaikan. Akan tetapi, uparacara perkawinan sebagai media perekat social telah kehilangan rohnya.

Organ tunggal sebagai sebuah produk teknologi, telah berhasil menyederhanakan proses kelahiran sebuah nada dalam sebuah disket yang kemudian akan memandu para pemula untuk meramu sebuah music yang dalam kasus Ban Cubadak Kantang harus dilahirkan oleh seorang maestro. Karena itulah “Bang Zaitun” sebagai seorang pimpinan Orkes Melayu Pasar Ikan Belok kiri dalam “Sang Pemimpi”, kemudian berubah profesi menjadi sopir omprengan. Kelahiran music dalam kasus organ tunggal tidak lagi berangkat dari kehalusan rasa, memadukan sitar dan gendang, menyandingkan biola dan tamborin, tidak lagi melibatkan emosi hubungan komunalisme para pemusik, dimana satu nada gitar lari akan melarikan nada jauh dari rasa indah.

Ketika organ tunggal secara mekanik mengubah selera music dan tontonan di tanah dimana telah dipancangkan “syara’ mangato, adat mamakai”, kemanakah jawaban akan di cari, apakah ke tambo ?. Apakah tambo yang akan disidangkan ataukah proses social orang Minangkabau menantang zaman yang harus dibedah.

Organ tunggal sebagai sebuah media, dia akan sama dan sebangun dengan sebuah gasing yang ditakuti. Sebagai sebuah alat, kedua benda ini akan mengabdi pada maksud para pemegangnya yang mengabdi pula pada sebuah tata nilai. Para pemain akan berubah menjadi zombie ketika ia memainkan alat itu tampa maksud yang dituntun oleh tata nilai itu. Ia akan berubah menjadi juke boox, mesin music pada film-film barat yang tidak melibatkan emosi, relasi social dan tata nilai, kecuali pasar.

Ditengah histeria massa pada Erotisme Organ Tunggal, siapakah pemegang legitimasi untuk memenggalkan ketajaman tata nilai. Kaum positifistik akan menjawab bahwa undang-undanglah yang paling memiliki legitimasi dan kekuatan konstitusional untuk menghentikan. Tetapi sejarah mengajarkan, hokum tidak bekerja pada ruang hampa, ia hidup pada ruang yang penuh tarikan kepentingan actor yang ada didalamnya, sehingga ia kerap kali tersesat, dan semakin jauh dari cita-citanya.

Pada situasi itulah Pak Jepe menawarkan sebuah formula, relasi dan jaring social-lah yang akan menjaga tata nilai hidup dan tumbuh, dimana para tokoh informal masyarakat komunal menjadi sentral dan ukuran dari tata nilai itu. Ketika bangunan itu runtuh, maka masyarakat komunal akan tergelincir pada individualisasi, ada atau tidak adanya tarikan tata nilai baru dari eksternalnya.



Jakarta, 24 Januari 2010



Andiko Sutan Mancayo




        

“Band Cubadak Kantang versus Organ Tunggal

 By : Jepe

Dunsanak Palanta RN nan ambo Muliakan

Menarik juga membaca, menyimak dan memahami diskusi tentang Organ Tunggal di palanta RN, beragam pendapat disampaikan apakah melalui kajian-kajian social, agama, adat, budaya dan melalui karya sastra seperti puisi, pantun dan cerpen, dari yang saya simak rata-rata memang mengutuk atau katakanlah tidak setuju dengan Organ Tunggal di Ranah Minang dengan segala ekses negatifnya dilihat dari sisi norma-norma kehidupan yang berlaku di ranah minang yang bersendikan ABS-SBK. Ini hanya sekedar berpendapat saja atau pandangan pribadi saya saja berdasarkan pengalaman-pengalaman masa kecil sampai saat ini melihat sebuah acara tradisi di ranah minang terutama pesta perkawinan atau baralek yang dikait-kaitkan dengan acara hiburan tanda kemeriahan pesta baralek tersebut , bukan acara-acara music seperti Organ tunggal yang terkadang memang “gila-gilaan” dengan aksi panggung para penyanyinya (wanita) yang mengumbar aurat dengan gerakan erotis (porno aksi) dan itu memang sebuah fenomena social umumnya di kota-kota besar di Indonesia dalam sebuah pertunjukan misalnya promosi sebuah merek rokok, even-even hiburan memperingati HUT RI dan lain sebagainya.

Saya akan coba dulu tarik mundur kebelakang masa “romantisme” baralek di ranah minang dengan segala tradisi dan adat yang berlaku dimasing-masing kampung atau nagari di ranah minang ketika saya berusia anak-anak menjelang remaja sekitar awal tahun 70 an sampai akhir tahun 70 an, dimana jaman boleh dikatakan belum se modern sekarang dengan teknologi informasi multi media dan musiknya yang serba digital dengan peralatan-peralatan alat music modern.

Di Kampung  (Nagari)

Jika pesta barakek diadakan tentunya semangat gotong royong serta kebersamaannya sangat menonjol jika ada anak kemenakan yang mau berjodoh dengan segala prosesi adat dan agamanya sehingga perkawinan anak kemanakan ini syah secara adat dan agama lalu dimeriahkan dengan berbagai acara kesenian atau hiburan sesuai dengan kemampuan yang punya hajat (Alek) kalau dikampung saya di salah satu kenagarian Tanah Data, bagi keluarga yang sedikit berada dari segi hiburan biasanya malamnya ada acara mengundang kesenian tradisi rata-rata Basaluang (karena adat darek sepertinya seingat saya tidak ada mengundang Rabab), bisa juga berandai. Lalu saat pesta perkawinan paling-paling ada acara kesenian sekedar meramaikan suasana talempong pacik dan gendang yang dipukul biasanya agak heboh ketika marapulai datang, selebihnya adem ayem saja tamu silih berganti datang naik turun rumah makan dan minum dengan acara-acara adat sambah manyambah dan lain-lain, jikapun ada hiburan dikampung saya paling memutar tape recorder sebuah barang mewah dan cukup langka hasil pekiriman dunsanak yang merantau di Jawa dengan lagu-lagu minang seperti Elly Kasim atau kaset saluang yang disambungkan pada speaker bermerek Toa yang ujungnyo lancip. Intinya baralek dikampung jaman saya kecil dulu memang terasa sekali “nikmat” serta ketenangannya tidak ada hal-hal yang sekiranya perbuatan-perbuatan yang melanggar norma-norma adat istiadat dan agama, tentunya yang paling saya nikmati aneka menunya yang wawww..selama pesta dikampung membuat lidah bergoyang tak terkendali dengan masakan-masakan hasil gotong royong kebersamaan para amai-amai, etek-etek dan bundo-bundo dikampung sebut saja gulai merah, gulai putih (korma) pergedel sebesar tinju saya (anak-anak), ayam goreng belah empat dengan cabe berminyak-minyak tanggung yang harumnya selalu menggoda selera..ampunnn, belum lagi parabuangnya yang “ueeedan” enaknya sebut saja lapek bugih, kue sapik, bolu kampuang yang harum dan khas, paniaram, pisang kaliang yang montok-montok pendek, lamang,

Suasana “romantisme” baralek dikampuang jaman saya anak-anak dan remaja dulu memang tidak akan pernah saya lupakan dengan segala dinamikanya serta dengan segala prosesi adat istiadat seperti makan bajamba sambah manyambah diatas rumah gadang.. Masih terngianglah “nasehat atau peringatan” yang sangat penting dari Etek saya jika mau ikut makan berjamba sambah manyambah, ananda sebaiknya “dialas dulu perut” artinya jangan terlalu lapar berharap makan dengan segera, saya memang ingin mengikuti acara itu diatas rumah gadang dengan duduk menyudut disisi mamak –mamak kampung (kaum lelaki) yang “bakuhampe” baretong satu sama lain yang durasinya cukup lama sambil mendenar “etongan sambah manyambah” mata saya cukup liar melihat segala jamba dalam talam yang enak-enak dan jika kelak telah selesai “pamer cakap” para mamak-mamak kampung saya sudah bisa memastikan ditalam mana Ayam kampung bekah empat yang enak itu “tabalingkang” diatas piriang yang bersusun didalam talam ..ehemmm..!

Apaboleh buat ini sebuah adat dan tradisi banyak kearifan didalamnya sejak kecil saya sudah terlatih mendengarkan “tahu di kato nan ampek” itu (kata menurun, mendaki, malereng dan mendata) yang penuh perumpamaan pada fenomena alam serta “membalikan” logika cara berpikir dengan nalar yang sehat seperti kata-kata “hati-hati nan diateh dibawah nan ka maimpok” yang tahu dengan bayang kata sampai ini sangat mengasyikan bagi saya mendengarnya serta bertanya-tanya pada tetua kampung apa arti kalimat tersirat (malereang) itu, masih terngiang ibu saya berkata dan bercanda kalau sambah manyambah menjelang makan diatas rumah gadang sebenarnya yang dibicarakan itu sudah tahu kita ujungnya tapi begitulah Nak yang namanya adat, perlu di “belok-belok” kan kesana sini dulu “pamer cakap” untuk mencari kesepakatan yang memang pada umumnya dimasing-masing pihak ujung-ujungnya pasti sepakat, diibaratkan oleh ibu saya “ndak labiah ndak kurang sambah manyambah ka makan diateh rumah gadang tu mambahas “bungkuak pungguang sabuik” artinya puggung sabuik itu memang sudah dari sononya bungkuk kok masih dibahas dan dianalisa juga he he he

Semua prosesi acara baralek dikampung itu memang dilalui tanpa music atau kemeriahan yang “memekakan” gendang telinga dengan segala ekses negative nya seperti jaman sekarang .

Di Kota (Padang dan sekitarnya)

Nah inilah pesta baralek yang cukup meriah dan heboh dijaman saya anak-anak menjelang remaja tersebut, suasana dan gairahnya kebersamaan serta gotong royongnya juga sangat kental, saya tinggal diawal 70 an di Air Tawar boleh dikatakan masih perkampungan atau pinggir kota padang, mungkin terbantu ramainya suasana karena kampus IKIP dan UNAND berada disini, keluarga saya berbaur dengan penduduk asli Air tawar yang punya karib kerabat saling ada hububungan dengan kampung-kampung lainnya di Kota Padang sebut saja kampung Ulak Karang, Tabiang Koto Tangah, Lubuk Buayo, Lubuk Minturun dan daerah perkampungan lain. Jika ada baralek tak pelak lagi mulai dari hari Kamis sampai Senin semuanya satu kampung turun tangan membantu segala persiapan baralek mulai menyiapkan masakan-masakan buat pesta (hari H) serta juadah-juadah, begitu sibuk kaum hawa dibelakang rumah meracik dan meramu segala bumbu-bumbu serta memasaknya dalam kuali besar (kancah) dengan tungku tigo sajarangan bukan kata malereang tapi kata mendatar kalau tungku untuk menyangga wajan besar dari 3 buah batu kali yang besar. Kalau orang berada semisalnya ketika jaman kejayaan ikan di pantai Air Tawar anak juragan yang punya bagan dan payang maka tergeletaklah seekor sapi dibantai untuk pesta baralek perkawinan, jika keluarga sederhana satu ekor kambing lebih dari cukup.

Masakan berbahan dasar Cubadak (Nangka) dan Kantang (Kentang) ini yang paling penting dalam jamuan tersebut, jika kambing di potong maka “perancah” atau bukan perancah lagi ya, tapi yang paling dominan dalam piring hidangan buat menjamu tamu ya cubadak dan kantang tersebut sedangkan dagingnya tidak terlalu menonjol dalam piring tersebut kalau tidak dikatakan potongannya sangat kecil dengan jumlah yang terbatas dalam piring . Dua saja menu paling utama satu gulai merah (gulai kambing dengan cubadak) satu gulai putih (korma) dengan kentang, maka marilah kita masuk kepesta perkawinan jaman saya kecil dulu di Kota Padang dengan sebutan “Baralek Cubadak Kantang” sungguh meriah, seru dan heboh dengan semangat kebersamaan dan gotong royong yang luar biasa saat itu yang saya rasakan, nikmati, ikut terlibat paling tidak ikut-ikutran “manyulo” kelapa untuk diparut oleh kaum ibu dengan kukuran atau sekedar mengumpulkan kayu bakar bekas kayu-kayu bahan bangunan (coran semen yang kami kumpulkan di kampus-kampus IKIP dan UNAND yang baru selesai di Bangun)

Lalu bagaimana dengan hiburannya, khusus yang satu ini terasa hambar orang padang sesederhana apapun kalau tidak dikatakan miskin jika malam sebelum hari H di atas rumah yang rata-rata mengundang kesenian tradisi Rabab Pesisir,biasanya malam minggu dimulai lepas Isya dan berakhir menjelang subuh dan saya yang masih anak-anak ikut juga larut menikmati si tukang rabab bakaba, luar biasa dengan kisah-kisah terutama tentang “parasian iduik dan cinta” sungguh saya ketika itu masih anak-anak menjelang remaja ikut larut..mmmm kisah rabab “The Long and winding road”, saya menaruh salut dan respek kepada si Tukang rabab ini yang didudukan diatas kasur kapuk yang empuk beralaskan kain panjang batik jawa yang harum bunga melati, kain panjang simpanan “emak-emak” didalam lemari yang berlipat rapi ditaburi kembang melati, begitu mempesona cerita yang dikabakan tanpa “contekan” atau buku cerita didepannya yang dia baca, bahkan para penikmat rabab golongan tua yang duduk mengelilingi si tukang rabab sambil mengisap rokok nipah dan mengunyah “kepahitan” daun rokok nipah ini ketika apinya padam, hati dan pikirannya menerawang larut haru biru karena kisah kaba si tukang rabab yang bisa jadi derita yang pernah dialami Pak Tua yang menyandar ..”anrah lah yuanggg oiii ndak panyakik nan mambunuah deyen do..cinto nan indak sampai” walah..jika anda pernah menyaksikan berbagai versi film cinta Romeo dan Juliet saya pikir tidak akan kalah kisah cinta romantis yang di kabakan si Tukang Rabab..mmmm…really so blue Bro.

Minggunya saat pesta perkawinan menjamu tamu dan undangan ketika anak daro dan marapulai bersanding maka terasa hambar dan ada kurangnya hiburan tanpa Band saat itu terkenal pmiliknya bernama Pak Amat (logat Padang tentunya Pak Amaik), karena makanan baralek orang kampung pinggiran Kota Padang menu utamanya Cubadak Kantang, maka kelakar dan garah kami mengasih nama Band Pak Amaik ini adalah BAND CUBADAK KANTANG, ehem faktanya memang begitu alat music Drumnya “badantang-dantang” ketika dimainkan. Saat itu kampung Air Tawar tempat saya tinggal belum masuk listrik maka Band Cubadak kantang dimainkan dengan catu daya listrik yang berasal dari beberapa aki 12 Volt yang disimpan dalam kotak sedemikian rupa. Band Cubadak Kantang Pak Amaik terdiri dari alat music standar sebagaimana layaknya Band pada saat itu yang lagi popular dan melegenda The beatles terdiri satu set drum Bass Gitar, Melodi Gitar dan Rhytim Gitar nah jika masuk genre music gamat maka Pak Amat juga menyediakan saxophone dan akordion.

Lagu-lagu yang dibawakan Band Cubadak Kantang oleh biduannya umumnya lagu-lagu minang popular saat itu atau lagu-lagu gurauan ala Syamsi Hasan begitu juga lagu-lagu gamat yang popular, sekali-kali juga ada lagu pop nasional seperti yang saya ingat ketika ada undangan yang menymbangkan suara emasnya diiringin Band Cubadak Kantang membawakan lagu Tirik Sandora dan Muksin begini kira-kira

“mari bermain tali, bawah rumpun bambu, pegang lah disini.” Ahh..saya lupa selanjutnya, bisa anda teruskan lagu itu..asyik..asyik. atau lagu Dang Dut ala Ellya Kadham…”Bineka cantik dari india, boleh dilihat tak boleh di pegang” ahaaa..mantap.

Tidak ada goyangan erotis yang menjurus porno aksi seperti “ngebor” ala Inul, goyang gergaji ala Dewi Persik atau goyang sambil mutar-mutar kepala dengan gilanya ala Trio Macan, waduh jika sempat pesta sekarang organ tunggal ada yang goyang ala Trio Macam sepertinya saya siap-siap sambil menikmati hidangan menyambut kepala yang mau lepas dari leher hiiiii, parahnya lagi Trio Macan ini saya pikir over dosis dalam berekspresi diatas panggung bergoyang mau-maunya ngorbanin temen dengan nginjak-nginjak punggung macan lain yang sedang membungkuk atauy duduk, eeedaannn !!!

Ketika masuk ke genre music Gamat maka kaum lelaki akan bergoyang dengan sapu tangan atau selendang dengan jogged yang khas, sepertinya syahdu banget ya betul merem-merem melek menikmati alunan music gamat berlenggang lenggok diatas panggung yang berlantai papan yang disangga oleh Drum-Drum minyak tanah yang dipinjam dari kedai-kedai kebutuhan sehari-hari masyarakat dikampung Air Tawar. Tiba –tiba sekitar jam 3 an kok suara music Band Cubadak kantang Pak Amat “maleo-leo” ya, ohooo rupanya aki-aki 12 Volt Band Cubadak Kantang sudah soak (drop), Pak Amat naik panggung

“Mohon maaf para tamu dan undangan kami, sampai disini penampilan Band kami dulu karena Aki sudah soak”

Berakhir sudah hiburan baralek yang “sensasional” dengan Band Cubadak kantang Pak Amat yang serba bisa, anak Band menggulung semua kabel dan memasukan segala peralatan Band dalam kotaknya, sampai jumpa lagi Band Cubadak Kantang Pak Amaik pada baralek Minggu depannya ditempat yang lain seputar kampung air tawar dan sekitarnya, sebelum pulang kepada anak Band dan crew silahkan makan dengan menu utama Gulai Merah Cubadak dan Gulai Putih Korma Kantang..habis itu silahkan minum kopi panas serta parabuangan yang telah disediakan tak lupa rokok yang ditarok didalam gelas, mantapppp.

***

Lalu yang digugat sekarang dan meresahkan di Ranah Minang pesta Baralek dengan Organ Tunggal tentunya dengan segala ekses negatifnya dengan bernyanyi Dang Dut atau music jingkrak jinkrik berbagai genre dengan goyangan “maut” mengumbar aurat yang erotis memancing syahwat berdenyut, jika saya melihat Organ Tunggal saja sebagai sebuah instrument atau alat music modern dengan sebuah alat ini sudah ada semua jenis alat music yang dipakai “band cubadak kantang pak Amat” bahkan sangat komplit apa saja jenis alat music sudah terpadu dan dirancang sedemikian rupa bunyinya dalam sebuah organ elektrik tinggal memencet beberapa tombol baik secara manual dan otomatis maka sipemain organ telah menampilkan berbagai aliran music mulai pop, dang dut, rock, house music, reggae dan lain sebagainya.

Apaboleh buat Organ Tunggal ini tidak ubahnya juga sebuah band Cubadak Kantang Pak Amat yang dipadatkan dalam sebuah alat music, menjadi hujatan dari sisi-sisi norma kehidupan baik dari adat istiadat dan agama di ranah minang yang ABS-SBK ketika para penyanyinya beraksi dipanggung tidak sperti biduan Band Pak Amat lagi, tapi yang saya lihat dikampung-kampung jika ada pesta baralek jika memang dari keluarga yang berada atau katakanlah punya uang cukup agar pesta meriah memang menampilkan Organ Tunggal tapi masih dalam batas-batas yang wajar seperti bernyanyi tanpa bergoyang berlebihan mengumbar aurat, mulai lagu pop minang, lagu pop nasional yang kagi hits, lagu Dang Dut , lagu nostalgia dan lain sebagainya, bahkan para tamu seperti ibu-ibu berkebaya atau berbaju kurung berjilbab dengan tampilan menarik serta islami ikut keatas panggung menyumbangkan suaranya untuk berdendang.

Begitu juga ketika menjelang Azan sholat Dzuhur Organ Tunggal istirahat sejenak, lalu skitar jam 13.30 WIB mulai lagi menghibur tamu yang datang silih berganti sampai menjelang azan Ashar menjelang. Tapi jika Organ tunggal tampil dikeramaian umum di kota-kota di Ranah Minang seperti acara-acara promosi rokok, peringatan hari besar nasional dengan segala ekses negatifnya, kalau yang satu ini saya tidak mau berkomentar entah dimana salahnya jikapun ada salahnya, saya hanya menikmati organ tunggal saat pesta baralek di ranah minang saat ini tidak lebih tidak kurang sebagaimana Band Cubadak Kantang Pak Amaik faktanya dari jaman dulu di ranah minang memang tekah ada hiburan music dengan alat-alat modern seperti Drum dan Gitar, kebulan saja Band Cubadak Kantang jadul ini dipadatkan pada alat music yang bernama Organ Tunggal, tapi yang berbeda memang lagak, ragam dan gaya penyanyinya yang jika dikembalikan kepada tatanan kehidupan masyarakat suku Minangkabau yang ABS-SBK memang sepertinya harus “dibumi hangus” bukan Organ Tunggalnya sebagai sebuah alat music tapi bentuk acara atau hiburannya yang memang lagi marak dengan biduan-biduannya dengan goyangan maut porno aksinya

Pekanbaru, 24 Januari 2009


        


------------------------------------------------------------------------
Apa dia selingkuh? <http://id.answers.yahoo.com/question/index;_ylt=AvBZVi6lFVNDeCdqvOFQRQzJRAx.;_ylv=3?qid=20080415021033AAesuEj>
Temukan jawabannya di Yahoo! Answers! --
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ <http://groups.google.com/group/RantauNet/%7E>
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe



--
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
 1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama ===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

Kirim email ke