Pak Abraham, terima kasih atas syair tentang PRRI di bawah ini, yang menurut 
penglihatan saya telah dengan jujur melihat timpangnya perbandingan antara 
kekuatan militer urang awak nan memberontak  -- yang terutama terdiri dari TP 
dan parewa --  dengan TNI yang datang menyerbu. Memang demikianlah 
keadaannya.Setelah lebih dari setengah abad berlalu, kita memang sudah saatnya 
merenungkan kembali sisi sosio-kultural dari pemberontakan tersebut, yaitu 
sikap yang memandang PRRI sebagai suatu pemberontakan seluruh orang 
Minangkabau. Sebabnya sederhana saja, yaitu oleh karena rasanya lebih banyak 
mudharatnya dari manfaatnya. Sekedar sebagai perbandingan, mari kita renungkan 
hal-hal sebagai berikut.1)  Orang Batak yang juga ikut PRRI tidak pernah 
menganggap PRRI tersebut sebagai pemberontakan seluruh orang Batak. Salah 
seorang tokoh mereka malah mengambil alih komando -- dalam hal ini Letkol 
Djamin Gintings -- sehingga orang Batak tidak pernah jatuh semangat
 seperti jatuh semangatnya orang Minang. Sekarang ini terlihat orang Batak 
malah berada di barisan depan dalam hampir semua lini kehidupan berbangsa dan 
bernegara. Bandingkanlah dengan kita orang Minang, yang walaupun masih tetap  
membanggakan hebatnya peranan tokoh-tokoh Minang pada masa lampau namun 
bersamaan dengan itu juga  bersedih-sedih terus tentang banyaknya korban yang 
jatuh dalam kurun pemberontakan PRRI itu. Selain itu, dapat dikatakan bahwa 
kita kehilangan peran dalam bidang-bidang yang dahulu merupakan 'titik kuat' 
kita, khususnya dalam bidang politik. Pertanyaan saya secara pribadi adalah: 
apakah belum diperhitungkan bahwa menantang perang berarti siap menanggungkan 
jatuhnya korban ? Jika belum, itu jelas suatu kesalahan juga. Jika sudah 
diperhitungkan, tidak perlu bersedih. Konsekuensinya harus dipikul sepenuhnya, 
dengan kepala tegak. Sungguh tidak nyaman melihat pihak yang kalah perang 
menyesali diri secara terus menerus. Kelihatannya
 'kurang jantan' [Sekali lagi, maaf]. 2)  Seperti orang Minang, orang Menado 
mungkin  menganggap Permesta sebagai pemberontakan seluruh orang Manado, tetapi 
mereka tidak terlihat patah semangat dan tidak 'baibo-ibo' terus sewaktu 
Permesta ditundukkan secara militer. Jatuhnya korban di kalangan mereka 
dipandang sebagai suatu konsekuensi yang harus`dipikul tanpa banyak keluh 
kesah. [Saya pernah dua kali menjadi panelis bersama Letkol Ventje Sumual 
mengenai PRRI ini, satu kali di UI dan  satu kali di The Habibie Center. Saya 
tidak melihat gejala bersedih-sedih pada beliau.]
Jadi dimana letak salahnya ? Menurut penglihatan saya -- didukung oleh adanya 
pesan Bung Hatta dan Bung Sjahrir kepada Letkol Barlian dan Letkol Ahmad Husein 
untuk tidak melanjutkan rencana pemberontakan -- sesungguhnya 'proklamasi PRRI' 
adalah suatu 'strategic blunder', suatu kesalahan strategis dalam mencapai 
tujuan politik yang [mungkin] baik. Tujuan politik yang ingin dicapai justru 
semakin jauh dengan melakukan pemberontakan itu. Jangan dilupakan, bahwa justru 
setelah dilancarkannya pemberontakan PRRI tersebut, kekuatan PKI yang ingin 
ditiadakan itu, malah menjadi semakin besar, atas dukungan Soekarno yang juga 
semakin kuat kedudukannya.Apa kita harus mengabaikan jatuhnya demikian banyak 
korban di kalangan urang awak ? Sudah barang tentu tidak. Manusia beradab harus 
menghormati setiap korban yang gugur, terlepas dari fihak mana. [Demikian 
pelajaran yang saya dapat selama berdinas militer]. Kita harus menghormati dan 
menundukkan kepala mengenangkan
 arwah tentara PRRI, baik dari unsur TNI, unsur TP, maupun dari unsur 
parewa.Lantas bagaimana selanjutnya ? Memperhatikan berlarut-larutnya suasana 
'baibo-ibo' dan menafsirkan PRRI sebagai pihak telah menang perang [?] ini, ada 
tiga saran saya secara pribadi, yaitu:1)   adakanlah suatu seminar sejarah yang 
secara komprehensif membedah keseluruhan peristiwa PRRI ini, pada empat tataran 
(internasional, nasional, regional, lokal) dan pada aspek politik, ekonomi, 
sosial budaya, serta militer; Usaha pak Abraham mengumpulkan pantun-pantun 
sekitar PRRI dapat dilanjutkan untuk menampung aspek lokal dari PRRI. Mungkin 
baik jika Fakultas Sastra Jurusan Sejarah Universitas `Andalas bisa mengambil 
prakarsa.2) ambillah suatu kesimpulan obyektif, apakah proklamasi PRRI tersebut 
memang dilancarkan  'by design' dengan penuh perhitungan; ataukah suatu 
keputusan yang 'talongsong', dengan akibat  demikian banyak korban ? 
Pertimbangkanlah juga pandangan Bung Hatta dan
 Bung Sjahrir sebelum terjadinya PRRI.3)  apa masih ada manfaatnya 
'menghangat-hangatkan' juga peristiwa PRRI sebagai 'pemberontakan orang 
Minangkabau', yang sesungguhnya -- maaf -- merupakan suatu 'strategic blunder' 
belaka ? Jika dirasa masih bermanfaat, silakan dilanjutkan, tapi jangan 
'baibo-ibo' juga. [Pepatah berkata: 'tangan mancancang bahu memikul'].  Jika 
dirasa tidak ada manfaatnya, ambillah sikap obyektif dan hikmah dari pengalaman 
pahit tersebut.Sekali lagi, maaf jika ada pendapat saya ini yang tidak berkenan 
di hati.
Wassalam,
Saafroedin Bahar(Laki-laki, masuk 73 th, Jakarta) 


--- On Tue, 2/16/10, Abraham Ilyas <[email protected]> wrote:

From: Abraham Ilyas <[email protected]>
Subject: Re: [...@ntau-net] DAMPAK PRRI ---> SINDROM URANG KALAH
To: [email protected]
Date: Tuesday, February 16, 2010, 12:48 AM

Manuruik panglihatan ambo, karano kito maanggap pemberontakan PRRI tu sabagai 
'pemberontakan Minangkabau melawan Pusat' dan kekalahan PRRI tu sebagai 
'kekalahan Minangkabau'.


Pak Saaf yth.

Manuruik ambo Ketika terjadi perang saudara di Indonesia (peristiwa PRRI tahun 
1958 -1961) hampir seluruh anak nagari Minang Kabau terlibat berjuang.

Sebagai bukti tertulis, seluruh Wali nagari ikut membubuhkan cap di setiap uang 
kertas yang beredar ketika itu.

Sayang ambo indak punyo bukti peninggalan pitih nan dicap oleh para wali nagari 
tersebut. Apakah ado urang gaek gaek di kampuang nan punyo pitih tersebut, 
kalau bisa tolong dicopykan untuak milis kito. Tarimo kasih 


PRRI kalah dalam pertempuran
Dapat dianalisa, bisa dijelaskan
Saat perang tanpa persiapan
Ibarat petinju tidak latihan

Tehnik pertandingan tidak dikenal
Lawan yang dihadapi sangat handal
Pukulannya keras walaupun kidal

Awak amatir belum profesional

Tentara PRRI muda mentah
Kebanyakan mereka pelajar sekolah
Atau mahasiswa meningalkan kuliah
Hanya dilatih sebulan setengah

Termasuk yang pulang dari Jawa
Jumlahnya 400 para mahasiswa

Bergabung PRRI secara sukarela
Pena diganti dengan senjata

Ada juga parewa kampung
Buta huruf tak bisa berhitung
Diberi perintah dia tersinggung
Maunya bebas ibarat burung

Tanpa disiplin seperti tentara

Ke tempat musuh sendiri saja
Sering menyusup ke dalam kota
Dia bisa merusak citra

Senjata PRRI lebih moderen
Dari Bazoka sampai Bren
Dilengkapi LMG serta Sten
Nilainya sepuluh kalau diponten

Perlengkapan diselundupkan oleh CIA

Amerika membantu ibarat keluarga
Untuk menghadapi musuh bersama
Bahaya Komunis dari utara

Jadi prajurit, menjadi tentara
Pilihan hidup suka suka
Semua profesi sangat berguna
Termasuk algojo pemenggal kepala


Ini tidak pantas dilakukan
Pemimpin negeri bergaya komandan
Presiden Soekarno pernah lakukan
Demokrasi terpimpin dia katakan

Kalau nak menang dalam pertempuran

Ingat: The man behind the gun
Senjata moderen memang dibutuhkan
Tapi disiplin yang diutamakan


Parewa kampung dan mahasiswa pelajar
Disiplin kurang, semangat berkobar
Diserang musuh sering menghindar
Lalu mengganggu sebentar sebentar

Mungkin ini disebut taktik gerilya
Terbukti mangkus melawan Belanda

Kini musuh sangat berbeda
Kekalahan bertempur sudah diduga

Tentara Pusat menduduki kota
Pasukan PRRI di pinggir rimba
Sering mereka kontak senjata
Orang kampung yang menderita

VIII. Tentara Pusat berdisiplin dan profesional


Tentara pusat sangat berdisiplin
Patuh dan taat kepada pemimpin
Mereka bertempur ibarat mesin
Semua perintah dikerjakan yakin

Tidak membantah instruksi komandan
Disuruh berkelahi tidak segan
Susah dan senang ditanggung badan

Itulah dia prajurit teladan

Salam

Abraham Ilyas
www.nagari.org




-- 

.

Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~

===========================================================

UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:

- DILARANG:

  1. Email besar dari 200KB;

  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 

  3. One Liner.

- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet

- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting

- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply

- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 

===========================================================

Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe




      

-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

Kirim email ke