Dunsanak Ramadhanil Pitopang yth.
Salam kenal, assalamualaikum wr. wb.

Karano alun ado nan menjawab pertanyaan angku dotor, mako ambo copykan
sebagian dari penjelasan dari (http://nagari.or.id/?moda=palanta&no=88)
tentang istilah *manggaleh*.

Tentang *bajojo*, dalam prakteknya barang dipromosikan dari *rumah/orang ke
rumah/orang*.
Mungkin asa katonyo dari "*ta jaja*". Misalnyo di dalam kalimat: si Usuik
kapatang jatuah tajaja di tapi jalan. Kakinyo luko.
Tapi bagaimana kok bisa dipakai untuak men *jaja* kan barang dagangan?
Mungkin ado dunsanak nan akan manjalehkan/mangamukokan pandapek pulo.
Yakinlah pandapek kito iko pandapek urang pasa (nan badan diri ambo iko juo
alah pernah manggaleh di kaki limo), jadi lai indak ka sarupo nan
disabuikkan dek Dian Pisesa itu doh !!
Saudagarr, Manggaleh, badagangoleh: [email protected]

Manggaleh, Badagang, Saudagar, Wirausaha/Entrepreneur/Investor dan Budaya.
Kusuik bao manyalasai, karuah bao mampajaniah, gayuang basuruikkan ka
balabeh, kato basuruikkan ka mulonyo


1. Manggaleh (dari kata: menggalas) yang berarti membawa barang dagangan
dengan menggunakan tongkat di bahu, berjualan masuk kampung ke luar kampung.

Kata dasar galeh dari galas (tongkat), bukan gelas dari cangkir atau kaca.

Galas -----> galeh
Panas------> paneh
Kapas------>kapeh

Dahulu, ketika alat transportasi belum maju, maka para retailer barang
kebutuhan rumah tangga (yang tidak diproduksi sendiri), masuk kampung ke
luar kampung berjalan kaki menjajakan barang.

Mereka memikul tongkat yang dibebani buntelan barang di bahunya sambil
menjajakan barang dagangannya.
Orang-orang inilah yang disebut sebagai urang manggaleh.

2. Sedangkan penggaleh yang lebih banyak membawa barang dagangannya ke
pasar-pasar (hanya diramaikan sekali dalam sepekan) menggunakan alat
transportasi kuda-beban atau pedati.
Mereka ini berpindah dari satu pasar ke pasar lainnya.
Para pedagang ini sering tidur di lapau-lapau (yang bukan di kampungnya)
bila kemalaman.

Selanjutnya kata dagang ini meluas pemakaiannya untuk menyebut orang luar
nagari/warga-asing yang tak punya sanak-famili di kampung tersebut menjadi
anak dagang.
Tempat penginapannya disebut sebagai *surau dagang.*

Ketika itu barang-barang yang diperjual-belikan hanyalah hasil-hasil perburuan,
pertanian, peternakan dan kerajinan tangan/perhiasan dibuat secara manual .
Pengumpul hasil perburuan, pertanian, peternakan dan kerajinan berskala
besar (untuk diperjual-belikan) disebut sebagai *saudagar*.
Dalam sejarah Islam sangat dikenal "saudagar-saudagar Quraish" yang
berpergian dengan untanya membawa barang dagangan melintasi gurun
pasir.........


Salam

Abraham Ilyas

-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

Kirim email ke