Ryan, kan memang seharusnya demikian. Islam adalah untuk dunia akhirat, 
sedangkan adat hanya untuk dunia saja. ABS SBK bermakna hanya adat yang 
dilegalisir oleh syarak yang boleh kita pakai. Yang bertentangan harus 
ditinggalkan.


Wassalam,
Saafroedin Bahar
(Laki-laki, masuk 73 th, Jakarta) 


--- On Fri, 3/12/10, Ryan Firdaus <[email protected]> wrote:


From: Ryan Firdaus <[email protected]>
Subject: Re: [...@ntau-net] Manga musti harus diubah? ---> KETERANGAN AWAL BUYA 
MA'OED ABIDIN TENTANG NASAB KA BAPAK
To: [email protected]
Date: Friday, March 12, 2010, 11:59 AM






Pak Syaf yang di mauliakan...
 
ryan membaca sesuatu yg tersirat dlm tulisan bapak kali ini...ada sedikit 
kekecewaan dlm realita adat yg di amalkan oleh mamak2 suku keluarga bapak..tapi 
salut betul saya karena bapak begitu antusias memperjuangkan adat Minang
 
satu lagi..bapak lebih antusias kepada amalan Islam sebagai Way of 
Life...seolah2 tidak menyetujui sebagian praktical adat minang itu sendiri
 
maafkan anaknda kalau terkasar bahasa, cuma melahirkan pertanyaan yg mengganjal 
saja
 
wassalam ryan pilliang Ipoh





From: Dr.Saafroedin BAHAR <[email protected]>
To: [email protected]
Cc: Keluarga Besar Saafroedin Bahar <[email protected]>
Sent: Fri, March 12, 2010 8:02:13 AM
Subject: RE: [...@ntau-net] Manga musti harus diubah? ---> KETERANGAN AWAL BUYA 
MA'OED ABIDIN TENTANG NASAB KA BAPAK






Ananda Iffah dan para sanak sapalanta,
Dalam usia setua saya sekarang memang sudah seharusnya saya memikirkan harta 
yang dapat saya kumpulkan selama ini. Beberapa anak saya juga sudah 
mengingatkan saya akan hal itu. Walaupun saya agak sedikit risi untuk 
menjelaskan hal yang bersifat pribadi ini, tetapi baik juga sebagai salah satu 
kasus bagaimana saya sebagai orang Minangkabau  menyelesaikan masalah ini.

Sebagai 'starting point', saya mengingatkan anak-anak saya  untuk  memusatkan 
perhatian pada pendidikan mereka sendiri. Sampai tingkat S1 saya jamin -- walau 
dengan termehek-mehek mengingat penghasilan saya yang terbatas -- kalau mau 
lanjut ke S2 merupakan tanggung jawab mereka sendiri. Dua orang sudah 
menyelesaikan S2.
Saya minta mereka untuk tidak terlalu memperhatikan harta warisan dari saya, 
oleh karena hal itu bukan saja akan menyebabkan saling curiga dan silang 
sengketa sesama mereka bersaudara -- seperti ternyata dari demikian banyak 
masalah waris mewaris di Minangkabau -- tetapi juga akan menghambat ikhtiar 
mereka sendiri untuk 'manaruko' sendiri harta yang mereka inginkan. 
Saya sendiri mempraktekkan apa yang saya ajarkan kepada anak-anak saya: saya 
tidak terlalu peduli, baik kepada harta dari jurai suku Tanjung di Pariaman 
yang merupakan hak ibu saya atau harta dari jurai suku Koto Ayah saya di Padang 
Panjang [yang sekarang malah sudah dijual habis oleh Datuk nan Basa yang 
sekarang.]  Saya mengerahkan seluruh tenaga dan fikiran saya untuk memberi 
nafkah bagi anak isteri saya. Saya tidak pernah menyuruh isteri saya meminta 
bantuan kepada suku Koto atau kepada datuknya. [Setahu saya, memang sama sekali 
tak ada perhatian atau bantuan dari Datuk Kayo, datuk dari suku Koto isteri 
saya.] Saya adalah kepala keluarga dan saya yang bertanggung jawab atas 
keluarga saya. Syukur Alhamdulillah, Allah saw memberkati ikhtiar saya.
Bagaimana dengan kemenakan-kemenakan saya ? Sudah barang tentu mereka adalah 
tanggung jawab ayah-ibu mereka masing-masing, sesuai dengan ajaran Islam. Oleh 
karena saya sama sekali tidak menerima amanah harta pusaka tinggi, saya tidak 
punya kewajiban membiayai mereka. Sesekali kalau mereka benar-benar kekurangan, 
dan bila saya kelebihan rezeki, mereka saya bantu melalui bapak atau ibu 
mereka, yaitu adik-adik kandung saya. Nasehat sudah barang tentu selalu saya 
berikan. [Yang umumnya tidak demikian didengar, he he.]
Saya punya beberapa rumah, di Padang dan di Jakarta. Satu rumah saya di Padang 
dipakai oleh anak saya yang tertua, dan satu lagi akan saya jual, karena tak 
ada yang memerlukannya. Di Jakarta saya juga punya beberapa rumah. Dua di 
antaranya dipakai oleh anak-anak saya, yang belum sempat punya rumah sendiri. 
Satu rumah saya di Depok sudah saya jual, dan semua uangnya saya berikan kepada 
isteri saya, sebagai tanda kasih telah mendampingi saya demikian lama, dalam 
suka dan duka. [Tentu saja dia senang sekali.] Anak-anak saya yang lain -- 
Alhamdulillah -- sudah punya rumah mereka masing-masing, di Jakarta dan di 
Surabaya.
Rumah yang saya tinggali, di komplek Setneg Cidodol Baru, adalah yang terbesar, 
saya gunakan sebagai perpustakaan pribadi dan sebagai 'rumah gadang' untuk 
berkumpul anak cucu selama libur Lebaran. Btw puteri saya beserta suaminya yang 
tinggal mendampingi saya, menggunakan ruang garase rumah saya untuk usaha 
warnet, yang cukup laris, oleh karena rumah saya terletak antara dua sekolah 
menengah, SMP dan SMA. Asyik.
Bagaimana dengan buku-buku saya yang banyak itu ? Pengalaman menunjukkan bahwa 
buku yang diwariskan tidak akan ada yang mengurusnya. Sehubungan dengan itu, 
saya telah menghubungi Perpustakaan Nasional dan menyampaikan keinginan saya 
bahwa seluruh buku saya nanti akan saya hibahkan kepada Perpustakaan Nasional, 
dengan syarat tetap disatukan dengan nama 'Koleksi Saafroedin Bahar'. 
Sampai disini dahulu. Baik juga bila para`sanak di RN bisa mengisahkan 
pengalaman mereka bagaimana mencegah dan mengatasi sengketa soal waris mewaris 
ini, yang demikian marak di Ranah sana.


Wassalam,
Saafroedin Bahar
(Laki-laki, masuk 73 th, Jakarta) 


--- On Thu, 3/11/10, hanifah daman <[email protected]> wrote:


From: hanifah daman <[email protected]>
Subject: RE: [...@ntau-net] Manga musti harus diubah? ---> KETERANGAN AWAL BUYA 
MA'OED ABIDIN TENTANG NASAB KA BAPAK
To: [email protected]
Date: Thursday, March 11, 2010, 9:21 PM






Amin YRA

Bagus juga kalau membayangkan konsep tanah Ulayat (pusako tinggi) dengan kasus 
yang mungkin akan terjadi di keluarga bapak nanti.
Kan anak-anak dan cucu bapak sudah banyak. Alhamdulillah merekapun sudah banyak 
yang mapan.

Nah persoalan mungkin timbul ketika rumah yang bapak tempati sekarang dengan 
puluhan ribu judul buku harus diwariskan.
Coba bapak bayangkan bagaimana cara Bapak membaginya ?
Andai dibagi kepada semua anak-anak  ... kabara surang dapek ? 
Kalau di jua? ondeh mandapekkan rumah dun indak gampang... banyak kenangan di 
rumah dun, indak mungkin di jua ..

Nah jangan-jangan akhirnya bapak memutuskan .. RUMAH TIDAK UNTUK DIMILIKI oleh 
siapa-siapa. Rumah dijadikan tempat berkumpul anak dan cucu semua. Buku juga 
begitu, kapan perlu disewakan saja buku-bukunya oleh yang menjaga rumah ... 
Pengelola rumah jatuh kepada seorang anak lelaki (mamak rumah)
Nah berarti bapak sudah punya tanah ulayat untuk anak cucu bapak. 

Mudah-mudahan hanifah tidak salah memberikan contoh
Mohon maaf kalau tidak berkenan ya pak

Wass

Hanifah

--- On Thu, 3/11/10, Dr.Saafroedin BAHAR <[email protected]> wrote:


From: Dr.Saafroedin BAHAR <[email protected]>
Subject: RE: [...@ntau-net] Manga musti harus diubah? ---> KETERANGAN AWAL BUYA 
MA'OED ABIDIN TENTANG NASAB KA BAPAK
To: [email protected]
Date: Thursday, March 11, 2010, 1:58 PM







Waalaikumsalam ww Ananda Iffah dan para sanak sapalanta,
Yang sudah berlalu tentu tidak bisa diperbaiki lagi. Yang dapat kita perbaiki 
adalah untuk masa datang, dan itulah maksudnya kita adakan KKM 2010 bulan 
Agustus nanti. Yang sudah baik -- termasuk sistem kekerabatan matrilineal -- 
kita pelihara, yang kurang baik, kita perbaiki, dengan memanfaatkan fasilitas 
yang demikian banyak dari NKRI yang ikut kita dirikan dan kita bangun bersama.

Dalam draft 10 Kesepakatan Kongres sudah termasuk gagasan dan  rencana 
pendidikan untuk selruh fihak terkait: bapa. ibu, mamak, anak. Bahkan untuk 
para ninik mamak/penghulu diacarakan jaminan penghasilan agar beliau-beliau 
dapat melaksanakan tugasnya yang berat itu.
Kalau terlaksana -- dengan izin Allah swt -- rasanya akan banyak kemajuan kita 
orang Minangkabau di masa`datang. Indak bakatumbeh taruih saroman nan taralah 
doh.  

Wassalam,
Saafroedin Bahar
(Laki-laki, masuk 73 th, Jakarta) 


--- On Thu, 3/11/10, hanifah daman <[email protected]> wrote:


From: hanifah daman <[email protected]>
Subject: RE: [...@ntau-net] Manga musti harus diubah? ---> KETERANGAN AWAL BUYA 
MA'OED ABIDIN TENTANG NASAB KA BAPAK
To: [email protected]
Date: Thursday, March 11, 2010, 12:35 PM






Assalammualaikum Wr Wb bapak Saaf dan dunsanak sapalanta Yth

Alhamdulillah akhirnya bapak jawab juga pertanyaan hanifah, walau untuk 
pertanyaan tentang PRRI yang tentunya bapak jagoannya disamping karena bapak 
tentara NKRI (tentara pusek) bapak juga menulis disertasi tentang PRRI. Untung 
sobat bapak, bapak Jacky mau berbagi .. lumyan kan ilmu kami jadinya ?

Bapak Saaf

Sudah tampak dampaknya kan pak, kalau hanya berdasarkan adat dimana adat yang 
dipakai tidak sesuai dengan ajaran Islam, yah membikin nggak enak hati jadinya.
Agak disayangkan kenapa ayah bapak yang bersekolah di Thawalib, kok tidak 
menerapkan ajaran Islam ya ? Tapi bisa dimaklumilah waktu itu,  ajaran Islam 
tentu masih dalam tahap syiar ... dan sepertinya syiar tsb belum sampai ke 
seluruh lapisan ?  Sehingga siapa yang kuat itu yang menang ??? I

Oh ya bapak. Kakek hanifah yang terkenal dengan sebutan Nyiak Djalil dengan 
temannya Nyiak Ibrahim Musa adalah guru-guru di sekolah Thawalib Parabek. Kata 
bapak Akhiarly Djalil, Inyiak-inyiak tersebut merupakan pembaharu pengajaran 
Islam di Sumbar. Beliau-beliaupun sudah haji yang tentunya ketika di Mekah 
banyak pula ilmu yang beliau dapat. Haji jaman baheula, tidak semudah jaman 
sekarang.

Di adat Banuhampu mungkin adat Minang umumnya.
Kita mengenal dunsanak sasuku dan bako.
Perkawinan di adat Banuhampu terutama di jaman dahulu yang bersifat tertutup 
(kawin salingka Nagari). Ada yang disebut dunsanak sasuku, ada yang di sebut 
bako. Bako ini adalah suku papa dan dunsanaka sesukunya. 
Kalau terjadi perkawinan, maka yang bertambah kerabatnya, bukan saja pada 
keluarga yang berbesan, tetapi juga dengan keluarga sesuku.
Kedua suku yang di ikat oleh perkawinan salah seorang anggota suku, ketika suka 
maupun duka saling berhimbauan dan saling berhamburan. Waktu dulu, kita 
kunjungan ber suku-suku. Apalagi waktu itu tak ada kendaraan, nah dijalan 
kelihatan itu kelompok suku apa ... 
Jadi ketika satu keluarga tak ada dunsanak perempuannya, maka yang jadi 
dunsanak dari lelaki tersebut adalah perempuan di suku-suku tersebut. Kami 
kebetulan tidak punya mamak kandung, tetapi kami punya mamak sesuku. Begitu 
puila dengan seorang mamak sesuku kami, beliau tidak punya saudara perempuan, 
maka kamilah yang jadi saudara perempuannya. Kalau kami pulang, beliau datang 
menemui kami dan menyakan keadaan kami di rantau. Kalau ada pesta mamak-mamak 
ini ikut terlibat sebagai tuan rumah ..
Indah sekali sebenarnya adat di Banuhampu tersebut.

Mungkin karena ayah bapak tinggalnya tidak dikampung, tapi di kota yang 
heterogen dan ayah bapak juga sangat sibuk sekali tidak sempat berkunjung 
kekampung. jadi Bapak tidak bisa merasakan indahnya budaya Minang. Nah terakhir 
ayah bapak bersengketa dengan adiknya ... Hilanglah silaturrahim anatar bapak 
dengan bako, dengan keluarga bako otomatis tidak kenal. 
Suratan nasib bapak yang tidak menikmati indahnya budaya Minang.

Bersyukurlah anak-anak bapak yang mempunyai bapak orang kaya ... tetapi 
sepertinya bapak merasakan sendiri .. kaya saja tidak cukup, harus ada ikatan 
kekeluargaan juga ...
Mumpung bapak masih hidup
Bagaimana kalau anak-anak dan cucu bapak yang juimlahnya buanyak tersebut, 
belajar pula budaya Minang. Anak perempuan menjadi bako untuk cucu dari anak 
laki-laki bapak. Bapak penghulunya he he he Akan terasa kalau bapak sudah punya 
cicit nanti, sudah jadi satu suku baru.

Wass

Hanifah







Udah dulu ya pak










-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe


-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe


-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe



      

-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

Kirim email ke