2010/3/16 Reni Sisri Yanti <[email protected]>: > Bapak taufik dan bpk ridha > mohon maaf sebelumnya, cerita ini tdk bermaksud mengharamkan yg dihalalkan > islam, > > cerita ini tak lebih tak kurang cuma mengambarkan sebab akibat sebuah hasil > dr polygami dr pernihahan siri. >
Uni Reni (maaf kalau salah), hmm, maaf, kenapa jadi terkesan defensif? Saya melihat cerita itu memang kumpulan opini orang awam yang banyak muncul terutama karena termakan misinformasi masa kini, bukan pendapat pribadi Uni Reni. Sebagaimana banyak laki-laki yang kurang cerdas dalam menilai kemampuannya untuk berpoligini, begitu juga banyak perempuan yang kurang paham duduk permasalahannya. > Bpk ridha mengatakan jaman dulu bundo kanduang manirimo wakatu beliau di madu, > lalu apo jaman kini bundo2 kanduang di ranah masih nio di madu? > Mohon maaf, ketika perempuan Minang sekarang menuntut dirinya ditempatkan seperti Bundo Kanduang di masa lalu dengan matrilineal yang kuat, kenapa mesti jengah dengan sesuatu yang tidak dipermasalahkan di masa lalu? > Cerita ini memaparkan akibat2 hal tsb di jaman skr bukan dulu? Dulu seorg > anak bisa masuk sekolah dgn cukup > melingkarkan tangan ke kepala sampai ke telinga, sekarang? Bukan sajo umur yg > harus cukup tp harus punyo akte > kelahiran, apakah akte kelahiran bs diperoleh dr sebuah nikah siri? > Itu baru salah satu contoh , lalu dicerita tsb mengatakan pula akibat > diceraikan oleh suami siri, bagaimana hak nafkah > anak? Dijaman skr aja hak anak dr perceraian resmi saja byk yang tak menerima > haknya, apalagi dgn perceraian dr > pernikahan siri? > Apakah poligini hanya bisa dengan nikah sirri? Kan tidak. Tanggapan saya pun tidak pula mendorong nikah sirri. Justru yang harus dibenahi adalah kekonyolan peraturan tentang poligini. Yang harus dikerasi adalah perzinaan. Sangat ironis melihat banyak ibu masa kini yang akan menolak poligini, tapi tenang saja melihat anak, adik, dan kerabat perempuan lainnya berpacaran. > aturan agama dan undang2 negara setidaknya seiring sejalan demi kesempurnaan > hidup kaum hawa, demi teman > perempuan,sodara perempuan,ponakan dan anak nantinya, > apakah anda rela sodara perempuan bahkan anak perempuan anda tidak memperoleh > kesempurnaan dalam suatu hidup > terutama dalam hal "perkawinan" ? > Maaf saya kurang paham kesempurnaan yang dimaksud. Saya harap bukanlah yang dimaksud bahwa dengan dimadu menjadi tidak sempurna. Saya lebih bangga jika kerabat perempuan saya dengan teguh mengikuti aturan Allah dan tidak menempatkan aturan buatan makhluq setara atau lebih tinggi dari aturan Allah. Saya rasa mestinya perempuan Minang yakni muslimah setuju dengan itu. Wabillahit taufiq. -- Abu 'Abdirrahman, Ahmad Ridha bin Zainal Arifin bin Muhammad Hamim (l. 1400 H/1980 M) -- . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
