salam,
anak-anak SMA jo SMP alah salasai ujian akhir.
sabanta lai heboh lo jo urusan NEM sarato masuak ka jenjang pendidikan
berikutnya.
takana dek ambo kejadian ampia sataun lalu. ambo share di siko, semoga
ado ibrah nan dapek samo-samo wak ambiak.

========

SEBUAH INTEGRITAS
http://vayenukman.multiply.com/journal/item/87/1_Sebuah_Integritas

Minggu pagi, terdengar bunyi pintu diketuk. Terheran kudapati seorang
remaja berdiri di sana dengan raut wajah gundah.  "Bu, maaf. Ibu punya
waktu sebentar?" ujar gadis itu setelah berucap salam.

Maya (bukan nama sebenarnya) pun bercerita, tentang namanya yang
terdepak dari daftar nama siswa baru yang akan diterima di SMA negeri
pilihannya. Angka NEM-nya bukan pas-pasan, rata-ratanya 9,25 lebih.
Tetapi nilai 9 ternyata tak lagi istimewa, begitu banyaknya siswa lain
memiliki nilai yang dulu dianggap luar biasa ini. Artinya, ada 234
calon siswa yang nilai rata-ratanya di atas 9,3 pada satu sekolah itu
saja! (Tetapi bukan itu yang ingin kubicarakan.)

Maka Maya (dan orangtuanya) terpikir untuk mempertimbangkan SMA swasta
yang bagus, daripada masuk ke SMA Negeri yang tidak favorit. Itulah
alasannya mendatangiku, menanyakan sekolah swasta mana yang bagus
menurutku.

Maya juga menuturkan betapa dia bertahan dari godaan kunci soal yang
kasak-kusuk dibicarakan (dan disalin) teman-temannya. Aku tahu, kalau
harus membayar pun, orangtuanya mampu untuk itu. Tetapi tidak, bagi
Maya nilai yang didapat bukan dari hasil kerja kerasnya sendiri adalah
suatu kebohongan. "Orangtua mana yang tidak senang kalau anaknya lulus
dengan nilai tinggi, tetapi saya tidak mau membohongi orangtua saya."
Dengan getir Maya menambahkan, "Yah, memang ada harga yang harus
dibayar untuk sebuah kejujuran."

Wow!

Di luar saran-saran yang bisa kuberikan sejauh yang kumampu, di luar
"ketakjubanku" akan "cerdasnya" anak-anak sekarang sehingga sebaran
nilai ujiannya tidak mengikuti kaidah statistik normal, aku angkat
topi untuk anak ini.

Pertama, Maya datang sendiri menemuiku. Dia tidak ditemani
orangtuanya, tidak pula si orangtua yang datang mewakili anaknya
sebagaimana yang lazim terjadi. Maya punya keberanian, punya sikap,
punya kemauan untuk menentukan masa depannya sendiri. Apalagi kalau
mengingat latar belakang dia tumbuh, aku semakin terkesan.

Yang kedua, di tengah maraknya "penggadaian" integritas demi
kebanggaan semu pada selembar kertas, dia bergeming dengan prinsipnya.
Aku percaya masih ada Maya-Maya lain yang teguh mengedepankan
nilai-nilai yang lebih hakiki. Mungkin saat ini mereka dapat
tersisihkan oleh orang-orang yang mendewakan nilai angka di atas
kertas padahal bukan merupakan cerminan pencapaian pribadi, tetapi
akan ada masanya nanti mereka berjaya karena pada merekalah
bibit-bibit manusia seutuhnya (insan kamil) itu bersemi.

Saat meninggalkan rumah kami, kegundahan itu sudah menghilang dari
wajahnya. Kini  sorot matanya memancarkan tekad.[va]

eva y. nukman
cimahi coret, 6 juli 09

-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

To unsubscribe, reply using "remove me" as the subject.

Kirim email ke