"...yang dimaksud bukan hanya pegawai negeri 
saja, tapi juga termasuk aktivis partai, anggota DPR/DPRD, termasuk organisasi 
yang 
punya kaitan dengan bidang pemerintahan

persyaratan yg masih bisa disiasati, Jupe CS masuk ke parpol kemudian aktif 
dalam kegiatan parpol terutama dlm event2 yg ada hiburan musiknya, atau ikutan 
nyaleg dulu saja, nah dengan kondisi spt ini berarti Jupe cs berhak dong untuk 
maju dalam pilkada, kan syarat terpenuhi ?? 
peraturannya hanya sedikit menghambat/memperlambat tapi tidak menutup celah 
mereka untuk nyalon pilkada. atau bisa dibilang, peraturannya hanya sebatas 
meng-upgrade pengetahuan mereka ttg ilmu politik dan pemerintahan tapi urusan 
goyang sambil unjuk kebolehan 'bupati" BUka PAha TInggi2" n SEKWILDA mah tetep  
 


wassalam,
harman



________________________________
From: Syafroni (Engineering) <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Fri, April 16, 2010 9:02:26 AM
Subject: [...@ntau-net] Kini, Artis Porno dan Seronok Tak Bisa Nyalon Bupati &  
Walikota

 
Sipak tarajang
awa urang awak di cabinet…. Syukurlah…
 
Ats Tsaqofah– Ini kabar gembira sekaligus kabar buruk. Kabar gembira bagi para 
pecinta moral bangsa, tapi kabar buruk bagi para artis panas. Para artis 
serorok dan pezina yang biasa pamer aurat seperti Maria Eva, Ayu Azhari, "Jupe" 
Julia Perez, Inul Daratista dll, tak bisa lagi mencalonkan diri dalam Pilkada. 
Mereka terganjal Revisi Undang-undang Pilkada.

Menteri Dalam Negeri, Gamawan Fauzi mengajukan satu syarat tambahan untuk calon 
Kepala-Wakil Kepala Daerah. Sejumlah artis akan terganjal.
Saat ini, pemerintah sedang mengajukan RUU Revisi UU Nomor 32 tahun 2004 
tentang Pemerintahan Daerah. Di dalamnya, ada 16 syarat bagi calon Kepala 
Daerah dan Wakil Kepala Daerah. Satu persyaratan lagi diajukan untuk calon 
Kepala-Wakil Kepala Daerah, yaitu harus pengalaman di bidang pemerintahan.
Mendagri Gamawan Fauzi menjelaskan, dengan persyaratan yang ada sekarang ini, 
mendorong banyak orang berminat maju di pilkada, terutama yang merasa dirinya 
populer.
 
Dengan latar belakangan yang beragam, hal ini ke depan malah bisa memperlemah 
pemerintahan. Padahal, agar pemerintahan kuat, maka harus dipimpin orang-orang 
yang layak.

"Pemerintah itu mesti diisi dengan orang-orang yang qualified. Maksud kita 
seperti itu untuk menambahkan syarat itu. Jangan semua orang yang merasa 
populer merasa sudah bisa jadi kepala daerah," papar Gamawan Fauzi di 
kantornya, Senin (12/4/2010).

Dijelaskan Gamawan, seorang kepala daerah punya kewajiban yang tidak ringan. 
Dia harus mewujudkan visi dan misinya, yang kemudian dituangkan dalam Rencana 
Pembangunan Jangka Menengah (RPJM ) menjadi visi daerah. "Tidak mudah," 
tegasnya.

Yang lebih mengkhawatirkan, sejumlah artis yang maju di pilkada, justru untuk 
pilkada tingkat kabupaten/kota. Padahal, lanjut Gamawan, pemerintah 
kabupaten/kota itu kewenangannya besar.
 
Jika bupati atau walikota dijabat orang yang tak punya pengalaman di 
pemerintahan, kata Gamawan, maka visi pembangunan daerah tersebut menjadi tidak 
jelas.

"Jadi ini justru untuk memperkuat pemerintahan ini. Jangan demokrasi semakin 
kuat, pemerintah justru lemah," kata mantan gubernur Sumbar itu.

Lantas, apa kriteria pengalaman di bidang pemerintahan itu? Gamawan 
menjelaskan, yang dimaksud bukan hanya pegawai negeri saja, tapi juga termasuk 
aktivis partai, anggota DPR/DPRD, termasuk organisasi yang punya kaitan dengan 
bidang pemerintahan.
"Kalau nol sama sekali, di organisasi tidak pernah, di partai tidak pernah, 
tiba-tiba karena populer semua orang berhak menjadi kepala daerah. Ini kan 
pertaruhan kita terlalu berat untuk kemajuan sebuah daerah," papar Gamawan.
Gamawan tidak membantah persyaratan tambahan ini dipicu banyaknya artis maju di 
pilkada.  
 
Resiko Demokrasi porno
Di alam demokrasi, kaidah yang berlaku adalah kultus selebritis, di mana para 
artis dituntut populer kalau mau memenangkan pilkada. Karena semakin tinggi 
popularitas, maka semakin tinggi kemungkinan memenangkan pilkada. Di sinilah, 
para artis panas yang biasa dijuluki “bom seks” itu menempuh segala cara untuk 
mendongkrak popularitas, termasuk menabrak norma ketabuan dengan mengobral 
foto-foto seronok yang memperontonkan aurat hingga foto bugil bahkan video 
adegan zinah sekalipun. Inilah resiko demokrasi porno.
Kini, popularitas di lembah pornografi itu tidak ada gunanya dalam pilkada, 
karena undang-undang pilkada siap direvisi dengan tambahan syarat “pengalaman 
di bidang pemerintahan, ” bukan pengalaman di bidang pornografi. Paham?

Sumber : voa-Islam 
 
-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe



      

-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

Kirim email ke